Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke

Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke
Chapter 2: Siapa aku?


__ADS_3

"Mmhn...."


Alianora dengan tubuhnya yang berbaring terlentang, perlahan membuka mata.


Cahaya keemasan sebuah lampu kristal besar menggantung di langit-langit, terpantulkan di maniknya yang biru muda bak permata.


Cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela dan menembus tirai putih transparan, jatuh mengenai wajah Alianora. Kilau sinar yang hangat itu membuatnya perlahan membuka matanya yang terpejam dan mendapati sebuah pemandangan asing. Untuk sesaat, dia hanya berbaring di sana tanpa melakukan apa-apa.


Hm, api...dalam kristal? Kristal...dalam api? Eh, tapi ini terlalu menyilaukan untuk api....Sihir? Hm, menarik juga.


Setelah ratusan tahun terkurung dalam dunia bawah, gambaran Alianora tentang dunia manusia itu tidak sejelas dulu, tapi dia masih bisa menangkap beberapa detail umumnya. Tanpa diduga, setelah kembali untuk pertama kalinya ke dunia manusia lagi, banyak hal-hal disekitarnya yang tidak dia kenal.


Alianora hanya bisa sedikit kagum dengan itu, ratusan tahun berlalu dan semuanya telah berubah. Waktu terlalu cepat berlalu.


Ketika dia hendak bangkit dari posisinya, pandangannya tak sengaja jatuh pada sebuah pola rumit yang terukir tepat diatas lantai dimana dia berbaring. Tangannya menyapu pola itu, matanya menjelajahi setiap sudut ruangan.


Ruangan yang luas dan seperti berlapis emas. Meja dan kursi-kursi berbantal empuk, tempat tidur berukuran king size dengan kain kelambu tebal berwarna merah muda terang, lengkap dengan meja rias berwarna silver di pojok ruangan.


Alianora terkekeh pelan.


Ingatannya kembali melayang ke sosok wanita yang telah memanggilnya dan membuat kontrak dengannya sebelum ini. Wanita muda bangsawan yang berparas cantik dan juga terlihat rapuh itu, Alianora tidak menyangka bahwa makhluk lemah sepertinya memiliki tekad yang kuat hingga mampu memanggilnya kembali. Benar-benar luar biasa.


Heh, wanita yang berani. Meskipun dia adalah putri bangsawan tapi melakukan ritual terlarang dalam rumahnya sama saja cari mati. Sepertinya dia benar-benar sudah tak peduli dengan nasibnya. Hahaha.


Sembari mengamati ruangan, Alianora seperti menangkap sesuatu yang menarik dari sudut matanya. Sebuah buku tua dengan sampul coklat yang bagian dalamnya terbalik menghadap permukaan lantai.


Alianora menyipitkan mata dan hendak meraih buku itu tapi matanya tiba-tiba menangkap suatu hal yang ganjil, membuat tanganya berhenti diudara.


Huh?


Wajahnya seketika berubah pucat. Matanya yang biru langit hanya bisa terbelalak, tak percaya dengan apa yang baru saja dia sadari.


Tenggorokannya kering karena terpapar udara yang masuk dari mulutnya yang menganga, Alianora spontan menelan ludah.


Apa mungkin dia berhalusinasi? Pikirannya belum sepenuhnya sadar sehabis siuman, jadi entah bagaimana dia sampai bisa melihat hal yang bukan-bukan.


Alianora menampar pipinya, mengucak matanya, dan mencubiti lengannya, namun alih-alih menghilangkan halusinasi, dia malah semakin menyadari bahwa ada sesuatu yang benar-benar tidak beres.


Tangannya....


Kenapa tangannya terlihat kecil?


Melihat bahwa dia tidak berhalusinasi, Alianora segera menengok kaki-kakinya, meraba-raba perutnya, lengannya, dan wajahnya.


Semuanya, semuanya aneh!


"Kenapa...semuanya kecil!?"


Bahkan suaranya juga terdengar tinggi dan lembut. Apa-apaan ini?!


Apa...terjadi kesalahan? Tidak, itu tidak mungkin, dia sudah ribuan kali melalukan ini dan tidak pernah terjadi kesalahan.


Atau....


!!!


Dalam hitungan detik, Alianora sudah berlari menuju cermin besar berukuran satu badan yang terletak disamping meja rias.


Dia melihat pantulan refleksinya dan seketika terkejut sampai kehilangan kata-kata.


Bagaimana sesuatu yang tidak masuk akal begini adalah kenyataan?!


Saat ini, di dalam cermin, terpampang seorang anak kecil yang tidak lebih dari 10 tahun, sedang menatap balik kearahnya dengan mata melotot dan mulut menganga. Rambut perak kebiruan yang dipangkas sebahu, terurai kusut dari kepalanya.


Kulit wajahnya yang halus dan bersih, serta matanya yang besar dan bulat, mau dilihat dari sisi manapun, anak yang mirip boneka bayi ini, jelas bukanlah dirinya!


Alianora menepuk pipinya dan juga menggerakan kepalanya ke samping. Seperti yang harusnya terjadi, anak dalam cermin itu juga melakukan hal yang sama, bahkan juga meniru ekspresinya yang terlihat agak bodoh.


Dia tidak ingin mengakuinya tapi anak dalam cermin ini betul-betul dirinya!


Kenapa ini bisa terjadi?!


Kalau dia ada dalam tubuh ini, dimana tubuh aslinya?


Apa yang sebenarnya terjadi?!


Apa takdir sedang menertawakannya sekarang?


"Hahaha...!"


Dengan posisi dahinya yang menyentuh cermin, Alianora tertawa pahit.


"Haa...apa kau bercanda", katanya sambil menatap cermin dengan wajah gelap.


Dia tidak tahu.


Benar-benar diluar dugaan.

__ADS_1


Dia tidak menyangka bahwa kejadian seperti ini akan terjadi, dan ini pertama kali baginya untuk menemukan hal yang tidak berada dalam kendalinya sama sekali.


Sembari terus menatap dirinya di cermin, Alianora tersenyum lebar.


Membuatnya, seorang dewi terkuat sepanjang sejarah, terkejut...? Haa...apa yang harus dia lakukan?


"Heh, aku tidak menyangka kalau aku akan mengatakan ini tapi...haha...ini sungguh menarik!"


GUBRAK!


Tiba-tiba pintu kamarnya dibanting dengan kasar menampilkan seorang wanita muda dengan menggunakan seragam pelayan.


Alianora yang sedang dalam mood bagus, merasa sedikit jengkel. Siapa yang begitu tidak sopan terhadap dirinya, Dewi Alianora?


Mereka sungguh ingin cari mati.


Namun, seperti tidak menyadari tatapan membunuh dari Alianora, wanita pelayan itu seenaknya masuk tanpa mengucapkan permisi padanya, dan berdiri memandanginya sambil memegang nampan.


Apa-apaan ini?


"Ini, ambil." pelayan itu menyodorkan nampan kepadanya.


Alianora menatap nampan berisi sepiring bubur dihadapannya dengan alis berkedut. Masih tidak mengerti dengan tindakan yang dilakukan oleh gadis pelayan ini padanya.


Apa karena paras anak kecil yang lugu membuat manusia tidak lagi mengenalnya?


Perasaan Alianora langsung berubah jelek.


"Tsk. Nona Thalia, cepat ambil makanannya dan jangan membuang waktuku!"


wanita itu mendorong nampan yang dia pegang ke arah Alianora, menyebabkan cairan bubur tumpah membasahi gaun putih yang dia kenakan.


Huh?


Tunggu.


Thalia?


Thalia La Sheridan?


Kenapa wanita ini memanggilnya Thalia?


Tanpa memperdulikan pelayan didepannya, Alianora berbalik ke arah cermin untuk melihat refleksinya kembali.


Ha! Sekarang ketika dilihat kembali, paras ini...rambut perak...mata perak biru yang seperti kristal serta kulit putih mulus...ini jelas sama seperti wanita itu!


Alianora tidak merespon. Dia hanya berdiri dengan kepala yang masih tertunduk.


"Nona-"


"Haa...", dengan sekali gerakan kasar, Alianora menepis tangan pelayan itu dari bahunya. Nampan yang berisi bubur dihadapannya tumpah berserakan dimana-mana.


Wanita itu terkejut sambil menatap Alianora dengan tatapan yang tak bisa dideskripsikan.


Tak bisa dipercaya, bahwa nona mudanya yang itu, baru saja menepis tangannya sampai berdarah.


"Apa yang kau lakukan?!", teriak pelayan itu dengan nada marah.


Namun bagai tidak mendengar wanita pelayan itu, Alianora memungut sehelai sapu tangan bersih di lantai, dan menggunakannya untuk membersihkan tangannya yang terkena tumpahan bubur.


"Siapa aku?"Alianora memotong dengan nada tak sabaran.


"Maaf?"


"Tch, siapa aku? Jawab saja."


Pelayan itu merasa heran dengan pertanyaan Alianora, tapi tanpa berpikir panjang dia menjawabnya dengan spontan.


"Namamu adalah Nona Thalia La Sheridan, putri pertama dari Duke Sheridan."


Aha, yang benar saja.


Dugaan yang Alianora takuti sejak dia pertama kali mendengar pelayan itu memanggil dirinya, ternyata benar-benar menjadi kenyataan.


Seperti takdir yang mengirim wanita bernama Thalia La Sheridan itu tanpa dia sangka-sangka.


Sekarang, takdirpun juga ingin kembali mengejutkannya dengan membuatnya masuk ke dalam tubuh kontraktornya sendiri?


Alianora menepuk dahinya dan tiba-tiba tersenyum lebar.


Dia sekali lagi tidak tahu harus berkata apa. Semuanya terlalu lepas kendali, dan terjadi terlalu cepat.


Ah, bagaimana ini...? Aku...tidak bisa menahan senyumku....


Dari sudut pandangnya, pelayan itu, yang melihat Alianora tersenyum dengan aneh menjadi semakin bingung.


"Nona, kenapa kau menanyakan hal-hal seperti ini?"

__ADS_1


Tapi Alianora mengabaikan pertanyaan pelayan itu, dan terus tenggelam dalam pikirannya sendiri.


"Nona, apa yang salah denganmu? Aku tidak mengerti lagi. Lihat kekacauan yang kau perbuat, semuanya jadi berantakan seperti ini karena nona. Apa yang akan kau lakukan sekarang?"


Walaupun sudah menggunakan suara tinggi, Alianora masih tidak merespon, membuat pelayan itu semakin jengkel.


"Nona, ayo jawab, atau aku akan memberitahukan ini kepada Nyonya Duchess."


Alianora, "...."


"Nona!"


Alianora, melirik pelayan itu dengan tatapan yang sangat mencekam. Kilatan merah dimata perak birunya terlihat berbahaya dan menyesakkan, setidaknya itu yang pelayan itu rasakan ketika melihat sorot matanya.


"Tch, kau sungguh banyak omong untuk ukuran seorang manusia rendahan. Apa kau tidak lihat aku sedang sibuk sekarang?"


Pelayan itu terkejut sampai tidak bisa berkata-kata.


Dia hanya berdiri di sana sambil memandangi Alianora dengan raut wajah tidak percaya,  dan hanya mampu melihat Alianora yang bergerak menuju tumpahan bubur dilantai.


Suasana dalam kamar itu langsung berubah derastis, pelayan itu seperti bisa merasakan suhu yang turun serendah-rendahnya dan itu membuat bulu badannya menegang. Dingin yang menusuk tulang mengunci setiap pergerakan tubuhnya hingga menjadi kaku.


Ada apa ini, perasaan semuanya normal, tapi kenapa? Kenapa aku...merasa...seperti ini?, batin pelayan itu.


Alianora berjongkok didepan tumpahan bubur itu, memandanginya sebentar. Ekspresinya tidak jelas dilihat sebab sebagian wajahnya tertutupi rambut ketika dia menunduk, membuat pelayan itu malah semakin takut.


"Kau pikir kau siapa, berani-beraninya menyodorkan makanan hina ini padaku? Kau pikir aku siapa?"


"N-nona Thalia...a-apa yang kau-"


"Thalia? Heh...Thalia, Thalia, aku bukan Thalia."


Alianora mengatakannya sambil terkekeh pelan, tapi si pelayan hanya bisa merasakan bulu badanya seakan mau rontok semua. Apa yang baru saja dia dengar, sama sekali tidak dia mengerti.


Nona Thalia yang didepannya saat ini memang sangat berbeda dari pada biasanya.


Nona Thalia yang kikuk dan pemalu yang bahkan tidak berani menatap mata pelayannya sendiri.


Nona Thalia yang penyendiri, polos dan bodoh.


Jelas kalau dibandingkan dengan itu semua, orang yang berdiri dihadapannya saat ini tidak lebih dari orang asing, tapi tentu saja itu tidak mungkin. Mau dilihat dari sisi manapun, dari ujung rambut sampai ujung kaki, anak ini adalah Nona Thalianya. Lalu, apa yang baru saja dikatakan nonanya ini?


"Oho, aku tahu,"


Alianora mengambil sendok yang tergeletak dilantai untuk menyendok cairan bubur bau itu.


"Manusia jaman sekarang sudah menganggap sampah sebagai makanan, bukan? Heh, tidak heran."


Alianora kemudian beranjak mendekati pelayan itu dengan sendok ditangannya. Ekspresinya tidak jelas, wajahnya hanya menampakan senyum miring.


"Aku pikir, kapan ini akan terjadi, tak kusangka mereka cukup sadar diri juga."


Alianora kemudian berdiri dihadapan pelayan itu, memperlihatkan wajahnya yang masih melukiskan senyum miringnya. Seketika dia menarik kerah baju pelayan itu dengan kencang sampai membuat pelayan itu sedikit menunduk. Untungnya pelayan muda itu tidak terlalu tinggi sehingga Alianora bisa melakukannya dengan mudah.


"Nah, sekarang buka mulutmu untuk menerima sarapan istimewa ini, hm?"


Pelayan itu menatap horor ke arah sendok dan juga ke arah Alianora. Dengan susah payah dia memaksakan tubuhnya untuk mundur. Apapun yang ada dipikirannya saat itu langsung hilang semua.


"N-nona...apa yang...apa yang...t-tunggu...n-nona...!"


"Aaaa...ayo buka mulutnya...."


kata Alianora sambil menarik kerah baju pelayan itu mendekatinya.


"N-nona...t-tunggu...ma-maafkan...tidak!"


"Ada apa ini?"


Alianora melirik ke arah pintu kamarnya untuk mendapati dua sosok asing sedang berdiri di sana memandanginya. Sosok yang satunya merupakan seorang wanita dewasa, yang cantik dan elegan, sedangkan sosok satunya adalah seorang gadis kecil berwajah lucu, dengan rambut pirang yang mencolok.


"Ah! Kakak, kenapa bisa sampai berantakan begini?", ucap gadis kecil itu sambil melihatnya dengan terkejut.


Huh, siapa lagi ini?


"Ny-nyona Duchess...."


"Apa yang kau lakukan?"


wanita itu menatap lurus ke arah Alianora, alisnya mengkerut.


Alianora menjatuhkan sendok yang dia pegang ke lantai. Dia tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap lurus ke arah wanita itu.


Dalam hati Alianora hanya bisa menggerutu.


Ah yang benar saja.


Baru saja dia ingin menyesuaikan diri dengan kondisinya sekarang, tapi sepertinya takdir tidak ingin dia bersantai ria.

__ADS_1


Dihadapkan langsung dengan tokoh-tokoh yang tidak dia kenal, apa yang harus dia lakukan sekarang?


__ADS_2