Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke

Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke
Chapter 11


__ADS_3

Michelle Laurent. Dia adalah putri kebanggan ayahnya, Marquess Laurent, pewaris sihir Lidah Api Kerajaan Agris. Dari kecil dia sudah dijuluki sebagai salah satu anak jenius dengan bakat sihir tinggi, dan orang-orang menyanjunginya, namun sekarang ditempat seperti ini dia ditampar tepat di pipi oleh putri bangsawan rendahan kotor yang tidak bisa merasakan mana.


Thalia, putri angkat duke bodoh dan ‘cacat’, yang mereka permalukan habis-habisan di acara ulang tahunnya waktu itu.


Bagaimana bisa Thalia yang dianggapnya bodoh itu berbuat demikian pada mereka? Pada dia?


Gadis rendahan ini berani-beraninya!? batin Michelle.


“KAU! KAU PIKIR APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN HAH?! KAU BERANI-”


Michelle hendak bergerak menjambak rambut Alianora tapi tangan Alianora lebih cepat melayang pada pipinya, PLAK!


Tubuh Michelle berguncang, “K-KAU…!”


Michelle mengangkat tangannya ke atas, siap untuk membalas tamparan Alianora, namun tangan Michelle berhasil dipegang erat oleh Alianora. Michelle spontan mencoba menarik tangannya dari genggaman Alianora tapi semakin dia berusaha, pergelangan tangannya semakin terasa akan patah.


“AH! LEPASKAN AKU! KAU PIKIR KAU SIAPA HAH? CEPAT LEPASKAN AKU!!”


“Heh? Bukankah itu harusnya kalimatku? Kau pikir kau ini siapa? Beraninya kau dan teman-temanmu melakukan hal yang tidak hormat padaku, hm?”


Alianora mendekatkan diri ke arahnya.


“Dan ini? Kau pikir apa yang kau lakukan? Berterima kasihlah padaku karena sudah menghentikan tanganmu tepat waktu, kalau satu jarimu sampai menyentuh wajahku, ucaplah selamat tinggal untuk lenganmu ini.”, bisik Alianora dengan nada suara sekejam mungkin yang dia bisa, sambil melemparkan tangan Michelle dengan kasar.


“Anggap saja ini juga balasanku yang sempat tertunda untuk yang waktu itu.”


Sontak semua anak-anak bangsawan mulai berbisik-bisik di antara mereka, membincangkan apa yang baru saja dikatakan Alianora.


'Yang waktu itu'? Maksudnya kejadian di Ulang tahun Nona Michelle?


Ah, iya benar juga, waktu itu Nona Michelle juga agak kelewatan kan?


Biar bagaimana pun, Nona Thalia itu putri Duke sedangkan dia hanyalah putri Marquess, harusnya dia tidak berbuat begitu.


Aneh sekali, apa dia tidak belajar etiket di rumahnya?


Iya, dasar tidak tahu malu.


Bisikan demi bisikan jelek tentang Michelle semakin bertubi-tubi, dan Michelle tidak bisa berbuat apa-apa selain mendengarkannya.


CETAS!


Urat kesabaran Michelle putus seutuhnya.


Tubuh Michelle berguncang karena amarah yang meluap-luap.


Dia sudah tidak peduli lagi tentang etiket maupun penampilannya lagi dan berteriak histeris.


“Kau…AKU, AKU TIDAK AKAN MEMAAFKANMU!”, dengan kasar, Michelle mengangkat tanganya ke atas, dan segera sebuah lingkaran sihir yang menyala seperti api, terbentuk di ujung jarinya.


Alianora terbelalak.


Huh? Apa itu...sihir?!


Michelle Laurent, pada hari pembaptisan telah menggunakan sihir bola api kepada Thalia La Sheridan.


Bukan hanya Alianora, bahkan seluruh kerumunan termasuk Estelle dan teman-temannya juga terkesiap melihat apa yang akan terjadi dihadapan mereka.


Di Kerajaan Agris ada peraturan yang melarang semua anak bangsawan yang belum dibaptis untuk menggunakan sihir di tempat publik tanpa izin dan pengawasan walinya. Sepengetahuan Alianora, dia belum pernah melihat ada yang pernah melanggar peraturan ini sebelumnya, dan sekarang peraturan itu dengan mudahnya dilanggar oleh bocah didepannya.


Sungguh dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan, apalagi tubuhnya saat ini hanya tubuh manusia biasa yang lemah. Bahkan sihir sekecil dan sesimpel apapun mungkin bisa membahayakan tubuhnya.


Aduh, ini gawat.


“Michele!”, tiba-tiba seorang pria paruh baya mendesak masuk ke dalam kerumunan bersama dengan dua orang pria yang mengenakan setelan jas mahal khas bangsawan .


Terkejut karena namanya dipanggil, Michelle seketika menghilangkan sihirnya dan menoleh ke asal suara. Alianora juga ikut menoleh sambil dalam hati bersyukur atas siapapun orang yang menginterupsi mereka.


“A-Ayah!?”


Pria paruh baya tadi, dengan perut gendutnya, melangkah cepat dan menarik Michelle.


“Apa yang kau lakukan!?”


“D-dia yang mulai duluan ayah! Dia yang menamparku. Lihat!”, Michelle menunjukan bekas lima jari berwarna merah yang masih sangat jelas di kedua sisi pipinya. Tidak hanya Michelle, tetapi Aster dan Rachell akhirnya juga menemukan keberanian untuk mengadu hal yang sama kepada dua pria bangsawan tadi yang adalah ayah kandung mereka masing-masing.


Wajah ayah Michelle langsung  berubah kaku. Matanya terbelalak tak percaya dan kulit wajahnya agak memerah, dia juga sedikit menggigit bibirnya.


“Apa-apaan ini?! Apa yang telah kau lakukan pada putriku Michelle!? Lihat, wajahnya jadi seperti ini!”


Ayah dari Aster dan Rachell juga melontarkan kalimat yang sama sambil menatap tajam ke arah Alianora.


Alianora memutar bola matanya. Ha, ayah, anak, sama saja.

__ADS_1


“Tunggu sebentar tuan Marquess Laurent, tuan Count Vincentia, dan tuan Count Groudon, sepertinya disini ada suatu kesalah pahaman.”, Alianora memandang kedua kepala keluarga bangsawan dengan lurus.


“Saya tidak bermaksud untuk menganiaya mereka dari awal, melainkan saya hanya melakukan hal yang pantas saya lakukan kepada orang yang menghina saya secara langsung.”


“Menghina Anda?”, Count Groudon membalas.


“Tepat sekali. Mengabaikan saya secara sengaja, memotong pembicaraan saya, dan berteriak dengan kata-kata kasar yang tidak sopan, apakah itu tidak termasuk aksi penghinaan pada saya? Apalagi itu dilakukan oleh putri bangsawan yang berstatus lebih rendah. Benarkan, Count Groudon?”


Mendengar pengakuan Alianora di depan umum, para anak-anak bangsawan lain di sekitar mereka kembali berbisik-bisik, membenarkan perkataan Alianora.


Count Groudon membuang muka ke arah anaknya sambil berusaha menyeka keringatnya.


Marquess Laurent menggertakan giginya dengan jengkel, lalu dia mendengus dengan senyuman kesal.


“Nona Sheridan, memang apa yang Anda katakan benar, tapi apa benar putri saya telah bertindak demikian? Michelle adalah anak yang sangat patuh terhadap etiket keluarga bangsawan, tidak mungkin baginya untuk melakukan hal seperti itu.”


Alianora mengelus dagunya sambil memasang ekspresi polos, “Hm, benarkah? Jadi maksud Anda, saya menampar putri Anda tanpa alasan? Tapi ayah saya, Duke Sheridan juga sudah membesarkan saya dan adik saya dari kecil, dengan aturan etika bangsawan yang sama, dengan berkata seperti itu, Marquess Laurent yang terhormat, Apakah Anda meragukan didikan ayah saya?”


Seketika wajah Marquess Laurent berubah pucat pasi. Ekspresinya yang percaya diri kini hilang seperti tidak pernah ada di wajahnya. Dalam hati Alianora sudah tertawa terbahak-bahak. Dia begitu puas, setelah menampar ketiga bocah kurang ajar itu sampai mampus, dia juga berhasil membuat ayah mereka tidak berkutik.


Marquess Laurent yang sudah kehilangan muka itu hanya bisa menggertakan gigi, dan memelototi orang-orang yang memandangnya dengan tatapan menghina.


Tiba-tiba dia menoleh tajam pada Alianora, dan berbisik, "Tch, dasar anak pungut tidak tahu diri!"


Alianora hendak membuka suara untuk menyambar Marquess Laurent, tapi sebuah suara yang tidak asing muncul begitu saja, dan mengejutkan Alianora.


"Estelle?"


Oh tidak, bagaimana dia bisa lupa akan dua orang ini?


Dari arah belakang Estelle, Kalisto dan istrinya muncul memecah keheningan.


“Ada apa ini?”


Semua mata tertuju pada sosok Kalisto yang tiba-tiba muncul di belakang Estelle, bersama dengan istrinya Annabeth.


“A-ayah?”, kata Estelle yang terkejut melihat ayahnya yang balas menatapnya dengan tatapan serius.


Dari posisinya, Alianora hanya bisa menyumpahi nasib buruknya itu.


Tidak bisa dipungkiri bahwa, dengan adanya pasangan Sheridan disini keadaannya bisa saja berbalik, terutama jika mereka bersama dengan Estelle.


“Ah, Yang Mulia Duke dan Duchess Sheridan, haha, ini bukan masalah besar, hanya pertengkaran biasa diantara anak-anak. Hanya saja, uh, anak saya ini, Michelle, sempat mengeluh kepada saya tentang Nona muda pertama Sheridan….”


Dengan liciknya, Marquess Laurent melirik ke arah Alianora sambil sedikit menyunggingkan bibirnya, yang tentunya tidak dapat terlihat oleh Kalisto dan Annabeth.


Annabeth melirik Alianora dengan setengah wajah ditutupi kipas dan alis sedikit bertaut.


Alianora terdiam sejenak. Dia menarik napas lalu mulai menjelaskan dengan tenang.


"Saya tidak melakukan kesalahan, ayah, ibu. Dari awal, saya hanya melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh putri bangsawan di situasi yang sama.”


“BOHONG, KAU! KAU! KAU! KAU BERANINYA MENGELAK!”, teriak Michelle yang sudah tidak tahan dengan sikap tidak bersalah Alianora.


Mendengar teriakan Michelle, Annabeth yang berdiri disamping Kalisto langsung menatap putri tunggal Marquess Laurent itu, dari atas ke bawah dengan saksama, mata amethystnya menipis dan alisnya semakin menikam ke bawah.


Michelle yang tidak sadar akan perubahan sikap Annabeth terus saja menunjuk-nunjuk Alianora yang memutar bola matanya.


"NYONYA SHERIDAN DIA, DIA-"


"Nona Laurent, apa Anda tidak pernah diajarkan untuk tidak memotong pembicaraan orang lain, apa lagi yang berstatus lebih tinggi darimu?"tegur Annabeth.


Michelle langsung diam seribu bahasa. Bibirnya yang basah, nampak bergetar dan dahinya yang pucat sudah kembali bercucuran keringat. Dia tidak berani menatap Annabeth, apalagi Kalisto yang dengan sekali tatapannya saja, Michelle sudah merasa mau pingsan.


"Saya yakin Keluarga Laurent adalah keluarga yang terhormat jadi sebaiknya, Nona Laurent, Anda harus mencerminkan itu dalam tingkah laku Anda."


Annabeth melanjutkan.


Melihat putrinya yang agak kasihan itu, Marquess Laurent menggosok keningnya yang berkeringat sambil tersenyum bersalah kepada Annabeth dan Kalisto.


"Ah, m-maafkan putri saya Tuan Duke dan Nyonya Duchess. Dia tadi tidak bertindak dengan akal sehatnya, tapi tentu saja, Michelle adalah anak yang sopan dan tahu akan etiket, baru pertama kali saya melihat dia seperti tadi dan itu membuat saya kaget juga. Mungkin kejadian, uhm, barusan membuat dia sedikit syok."


“B-benar! Dia, ah maksutnya, N-nona Sherdian, t-tadi, dia yang sudah menampar kami!”


sahut Rachel yang seketika dilirik tajam oleh ayahnya, membuatnya otomatis menutup mulut dengan gugup.


“Menampar? Thalia La Sheridan, jelaskan.”, kali ini pertanyaan datang dari Kalisto yang membuat orang-orang lebih tegang.


Sementara itu, Alianora hanya menjawab dengan tenang,  “Aku menampar mereka karena itulah yang pantas mereka dapatkan atas penghinaan langsung kepada Sheridan. Katakan ayah, apakah aku sebagai salah satu dari Sheridan, pantas untuk membiarkan orang lain menginjak-injak martabat keluarga kita?”


Dengan amarah, rasa takut, dan cemas, Marquess Laurent langsung membantah, “Omong kosong! Tuan duke, jangan percaya omonganya! M-mana mungkin saya, mana mungkin kami berani….,”


“A-ayah…?”, Estelle mundur ke belakang Kalisto sambil meraih ujung lengan jas hitamnya.

__ADS_1


Melihat wajah Estelle yang terlihat takut, Kalisto langsung melirik tajam ke arah Marquess Laurent yang masih saja berceloteh.


“...Jadi Tuan duke saya—”


“Tch, bisa diam sedikit, tidak?”, seketika itu juga Marquess Laurent memucat dan menutup mulutnya rapat-rapat.


Alianora memasang sengiran kecil melihat wajah Marquess Laurent yang berubah pucat seperti tikus disiram air. “Ayah bisa melihat sendiri kan? Saya sudah tidak perlu menjelaskan lagi, Tuan Marquess sudah menunjukannya. Itu didepan ayah, bayangkan jika itu didepan saya."


Marquess Laurent, "Tsk! K-kau...!"


Sebelum dia bisa menyelesaikan kalimatnya, Kalisto lagi-lagi memberikannya lirikan tajam yang otomatis mengunci mulutnya.


“Mereka sudah tahu bahwa aku juga bagian dari Sheridan tapi mereka tetap melakukan itu. Apakah itu tidak berarti mereka meremehkan seseorang yang berasal dari Sheridan?” lanjut Alianora dengan lancar.


"Aku yakin ayah sudah melihat sendirikan? Betapa tidak sopannya perilaku Nona Laurent kepada ibu, tapi, seperti kata Tuan Marquess, itu mungkin adalah tindakan yang tidak disengaja. Namun, apa yang sudah Nona Laurent, Nona Groudon, dan Nona Vincentia lakukan padaku itu jelas bukan suatu ketidaksengajaan. Katakan ayah, jika seperti itu, apakah aku seharusnya diam saja dan membiarkan mereka melakukan apa yang mereka suka pada salah satu anggota keluarga Sheridan?"


Kalisto terlihat seperti benar-benar merenungkan perkataan Alianora barusan. Matanya yang biru langit nampak mempertimbangkan sesuatu.


Dalam hati, Alianora bersyukur karena Kalisto tidak langsung menyalahkannya begitu saja.


Padahal dia tadi sudah siap-siap memasang serangan balik apabila Kalisto tidak mau mendengarkannya, dilihat dari sikap sehari-harinya kepada 'Thalia'.


Aneh juga sebenarnya, padahal dia bisa saja langsung menghukum Thalia saat itu juga, namun, ternyata itu tidak terjadi.


Tapi saat ini, Alianora tidak punya waktu untuk memikirkan hal itu, masalah didepannya ini belum selesai, apalagi bos terakhir juga belum dia lawan.


“Elle, apa benar itu yang kau lihat?”, dari sebelah Kalisto, Annabeth bertanya kepada Estelle.


“Huh…?”


Estelle menatap balik ke arah Alianora yang masih memasang senyum manis seperti sedang tidak terjadi apa-apa, tapi dibelakang, Alianora merasa sedikit panik.


Estelle, ya Estelle.


Dari tadi Alianora sudah melirik ekspresi Estelle di seberang yang dari tadi tidak mengeluarkan sepatah katapun. Jujur, dia khawatir kalau adik tirinya ini yang menurutnya sangat licik ini mencoba memfitnahnya, sebab jika dia buka suara, kemungkinan besar situasi akan berubah.


Maksudnya, bagi Alianora, apa yang tidak mungkin dilakukan oleh anak itu untuk memperburuk keadaan untuknya?


“Elle?”


Estelle tidak langsung menjawab ibunya, tampak bingung dan tidak tahu harus berkata apa. Namun ketika pandangannya jatuh pada Alianora, mulutnya perlahan terbuka.


“Aku...aku memang melihat Nona Michelle, Nona Aster, dan Nona Rachel...sengaja mengabaikan kakak meskipun sebelumnya mereka sudah melihat bahwa kakak ada di sana...mereka tetap pura-pura tidak melihatnya.”


.


.


.


.


Apa?


Michelle, “....Apa? Elle…Anda…apa yang baru saja—”


Estelle memotong, “Tidak hanya itu, mereka juga, mereka juga berkata kasar pada kakak, mereka bahkan secara tidak langsung mengatakan bahwa gaun kakak tidak layak dipakai oleh keluarga bangsawan.”


Aster, “Apa…!?”


Rachell, “A-aku tidak mengatakan itu…!”


Michelle, “E-Elle, kau, kenapa kau berkata seperti itu!? Aku tidak, aku tidak....A-ayah…!”


Michelle menoleh kepada ayahnya dengan wajah memohon tapi jelas ayahnya tidak bisa melakukan apa-apa selain bertambah pucat dan menyapu keringat dinginnya.


“E-Elle, k-kita teman kan…? Kau tahu aku tidak begitu. Katakan itu semua salah.”


Michelle menggenggam bahu Estelle, dan sedikit mengguncangnya.


Estelle hanya menatap Michelle dengan tatapan horor, dan menepis tangan Michelle.


“T-tidak! Aku, aku waktu itu ingin membantu kakak, tapi belum sempat aku melakukannya, kakak sudah mengatasinya sendiri. S-sampai…N-nona Michelle…pada kakak…d-dia…menggunakan sihir….”


Mendengar pengakuan ini, Kalisto dan Annabeth sedikit terkejut. Count Groudon dan Count Vincentia tidak bisa berkata-kata, sedang Marquess Laurent tidak tahu harus menyembunyikan mukanya dimana.


MIchelle selaku anak bangsawan yang belum masuk akademi, bukan hanya dia menggunakan sihir tanpa izin, dia juga menggunakannya pada seorang putri bangsawan yang lebih tinggi statusnya daripada dirinya. Itu sudah merupakan kesalahan fatal.


Tidak disangka bahwa poin itu tidak keluar dari mulut Alianora, melainkan dari mulut seseorang yang dia pikir akan mengkhianatinya.


Ada apa dengan anak ini? Apa dia salah minum obat, hm?


“...A-aku…itu…aku, aku tidak sengaja, Elle. Aku tidak bermaksud melakukannya…kau, kau paham kan, Elle?”, dengan semakin panik Michelle terus mencengkeram bahu Estelle.

__ADS_1


Namun , Kalisto menarik Estelle ke arahnya, lalu memberikan tatapan menusuk ke arah Michelle.


“Bukan cuma menghina keluarga Sheridan, kalian juga berani menggunakan sihir.”, Kalisto berjalan mendekati tiga bangsawan itu beserta putri mereka, “Kalau sampai putriku terluka, kau tahu apa yang bisa kulakukan.”


__ADS_2