
Sehari semenjak kejadian itu, para anak bangsawan sudah jarang membuat pertemuan-pertemuan dengan Alianora.
Namun, mereka tetap mengirim Alianora surat berisi hal-hal biasa yang pada umumnya di bicarakan oleh anak-anak seumurannya.
Alianora menganggapnya biasa saja, dia hanya melihat surat-surat itu sekilas, lalu menyuruh Mary membalasnya.
Selain itu, Alianora juga sudah tidak pernah berkunjung ke Katedral lagi, tetapi, sesuai dengan perjanjian, Alianora harus menerima pembelajaran teologi di rumah.
Oleh karena itu, setiap hari, kecuali hari sabtu dan minggu, Kastil Nauchwanstein selalu kedatangan seorang pendeta dari Katedral.
Pendeta itu bernama Luxio. Luxio, putra sulung Count Beratrè, adalah pendeta termuda yang berhasil dilantik menjadi Kardinal.
Dengan keahliannya dalam teologi dan filsafat, serta kemampuan sihir penyembuh elemen airnya, Luxio cukup memiliki pamor yang bagus dimata masyarakat.
Karena itu, wajar bagi dirinya untuk dipilih menjadi tutor pribadi teologi untuk Alianora, menggantikan Kardinal George yang saat itu harus ditugaskan ke daerah lain.
Alianora cukup puas akan hal itu, daripada diajar oleh seseorang yang belum pernah dia lihat sebelumnya, paling tidak Kardinal Luxio ini bukan orang asing lagi baginya, dan di hari pertama pembelajarannya bersama Kardinal Luxio, Alianora sudah membuktikannya.
Kalau memang wajah dan karakteristik umum orang ini persis sama dengan yang dia lihat dalam ingatan Thalia.
Jadi, meski hari ini Alianora juga ada sesi pembelajaran teologi, Alianora tidak merasa terlalu terbebani.
Pagi ini, seperti biasa, Alianora menjalani proses belajar teologinya bersama Kardinal Luxio, dan seperti biasa pula, Alianora selalu bisa menjawab dan mengerjakan kuis-kuis kecil yang diberikan oleh Kardinal Luxio dengan benar.
Maklum, bukannya Alianora sombong, dia memang nyatanya adalah seorang jenius yang bisa mengingat apapun yang dia lihat atau baca dalam sekali lihat saja.
Meskipun itu sesuatu yang sangat enggan untuk dia ingat.
"Jadi, Nona Thalia, coba sebutkan apa saja berkat cahaya yang diberikan oleh Dewa Ilios kepada manusia."
Kardinal Luxio bertanya kepada Alianora sambil membalikan halaman buku didepannya.
Tanpa berpikir terlalu lama, Alianora segera menjawabnya dengan acuh tak acuh.
"Pengharapan, cinta, kesetiaan, dan kedamaian."
Kardinal Luxio yang duduk diseberang Alianora, langsung tersenyum ke arah Alianora sambil menepuk kepalanya sedikit.
Rambut kelabunya yang disisir kesamping terlihat cocok dengan wajahnya.
Kacamata bundar berwarna emas pada wajahnya bersinar dibawah cahaya lampu ruangan perpustakaan.
"Wah, nona Thalia sangat berbakat. Anda sudah bisa menghafal isi dari dua bab pertama dalam dua hari saja. Benar-benar permulaan yang bagus, nona."
Alianora membalas senyum Kardinal Luxio dengan anggukan.
"Itu semua berkat Kardinal Luxio yang mengajari saya dengan baik, jadi saya cepat mengerti."
"Hm, kalau begitu saya bisa mengajar dengan baik seperti ini karena saya mendapat murid yang cerdas seperti, nona."
Kardinal Kalisto tersenyum ramah kepada Alianora, dan Alianora bisa melihat bahwa diantara sorotan mata rose goldnya tidak menyembunyikan kepalsuan sama sekali.
Alianora merasa terharu, karena dari semua orang yang dia temui selama dia menjadi Thalia, kecuali Archmage Othima, sorotan mata yang dia lihat sekarang merupakan yang paling tulus yang dia lihat.
"Begitu kah? Kalau begitu, kita sama-sama orang yang jenius kan Kardinal?"
Kardinal Luxio pun hanya tertawa kecil, lalu mengembalikan buku pelajaran yang dia pegang tadi kepada Alianora.
"Ahaha, nona, Anda tidak perlu memanggil saya dengan hormat seperti itu. Anda bisa memanggil saya dengan sebutan 'kakak', saja tidak apa-apa."
Alianora memiringkan kepalanya.
"Kalau begitu, kakak juga tidak usah memanggilku dengan sebutan 'Nona'. Cukup 'Thalia' saja."
Memang sebenarnya begitu, karena Alianora tahu sebenarnya keluarga Kardinal Luxio dengan Keluarga Sheridan itu bukanlah sekedar kenalan biasa.
Ibu Kardinal Luxio, Countess Isabella merupakan sepupu dari Duchess Annabeth, ibu tiri Thalia.
Jadi sebenarnya, Luxio dan Thalia bisa dianggap sepupu jauh.
Orang tua Kardinal Luxio juga sering berkunjung ke kediaman Sheridan saat usia Thalia lebih kecil dari sekarang, tapi Luxio selalu tidak hadir karena kesibukannya bersekolah dan juga pelatihannya menjadi pendeta.
Jadi, meskipun sepupu, Thalia dan Luxio tidak pernah bertemu sebelumnya.
Di kehidupan Thalia yang kedua, pertama kali Thalia bertemu dengan Luxio harusnya saat Thalia berusia 17.
Saat itu, Thalia yang sedang menemani Estelle berkunjung ke Katedral, tidak sengaja bertemu dengan Luxio yang saat itu berusia sekitar 25 tahun.
Alianora bisa melihat interaksi diantara dua orang ini, dimana Kardinal Luxio sepertinya memiliki sedikit perasaan pada Thalia.
Berbeda dengan para biarawati, para pendeta tidak diwajibkan untuk tidak menikah.
Mereka masih diberi kebebasan untuk memilih soal itu, dan banyak pendeta-pendeta memilih untuk menikah, tapi ada juga yang tidak.
Sepertinya, Kardinal Luxio juga akan memilih untuk menikah, jika sesuatu tidak terduga tidak terjadi kemudian.
Sayangnya sebelum Kardinal Luxio bisa menyatakan perasaanya, Thalia sudah menemui ajalnya.
__ADS_1
Alianora melihat bagaimana wajah orang ini ketika melihat kepala Thalia di bawah pisau pemenggal, itu sangat-sangat menyedihkan sampai hati Alianora sedikit merasa sesak waktu itu.
Lalu sekarang, takdir sudah berubah. Sekarang bukannya menunggu sampai usianya 17, Kardinal Luxio dengan wajah tampannya khas pemuda berumur 18 tahun, ada di depannya saat ini memandanginya dengan tatapan seorang kakak pada adiknya. Alianora hanya bisa menonton itu semua sambil berandai-andai.
Ah, apakah nanti pandangan orang ini padanya akan berubah?
Alianora tidak bisa membayangkannya.
Apa yang membuat orang ini tertarik pada Thalia dari awal?
Alianora tidak tahu sebab itu tidak pernah ditunjukan dalam memori Thalia. Dia hanya melihat cuplikan-cuplikan adegan Thalia bersama Kardinal Luxio yang sepertinya sudah menyukainya.
Melihat ekspresi Kardinal Luxio yang waktu itu, dia tidak bisa untuk tidak membanding-bandingkannya dengan orang yang ada dihadapannya saat ini.
Itu membuat Alianora semakin penasaran.
"Kakak, apakah saat ini kakak sudah mempunyai tunangan?"
Pertanyaan itu keluar dari mulut Alianora dengan spontan. Pandangan Alianora tetap serius dan cenderung datar menanyakan hal ini, sedangkan Kardinal Luxio hanya bisa memasang ekspresi terkejut.
Tapi Kardinal Luxio malah sebaliknya. Dia hanya berdiri didepan Alianora sambil memandanginya dengan kaku.
Untuk sesaat dia terdiam, namun sedetik kemudian wajahnya yang putih langsung memerah seperti tomat.
Sontak Alianora terkejut melihat reaksinya, dan sedikit merasa lucu, jika Alianora tidak pandai berakting, dia pasti sudah tertawa.
"M-mana mungkin! Ah, maksutku, T-thalia kenapa, kenapa kau... tiba-tiba bertanya begitu...?"
"Hm, aku hanya ingin tahu saja, sebab kakak sepertinya tipe pria yang populer di kalangan wanita."
Wajah Kardinal Luxio semakin memerah, Alianora berusaha keras mengatupkan bibirnya.
"A-apa? Tidak, tidak. B-bukan seperti itu...? Lagipula...aku...itu tidak benar, Thalia."
katanya sambil tersenyum kaku pada Alianora.
"Apanya yang tidak benar? Kakak tidak punya tunangan? Atau orang yang disukai?"
"A-ah, bukan...begitu...."
"Jadi, kakak punya?"
Kardinal Luxio mengalihkan pandangannya dari Alianora sebentar.
Eskpresinya rumit, dan untuk sesaat Alianora tidak bisa membacanya, itu antara gabungan dari berbagai ekspresi.
"Aku punya...."
Alianora membelalakan matanya tidak percaya.
Dia tidak menyangka kalau Kardinal Luxio memiliki tunangan, tapi itu malah menjadi semakin aneh.
Kardinal Luxio adalah orang yang menyukai Thalia di kehidupan sebelumnya, dan dia mempunyai tunangan?
Apakah tunangannya masih ada pada saat itu?
Apa yang terjadi?
Ini bukan karena Alianora ingin tahu masalah percintaan seseorang, apalagi manusia, tapi sekarang masalah itu melibatkan 'dia' juga.
Dia jadi ingin tahu apa yang terjadi, tapi ternyata itu malah menjadi sesuatu yang tidak terduga.
Tapi sebelum Alianora bisa berpikir yang aneh-aneh, Kardinal Luxio menjawab semua pertanyaan di kepalanya.
"Tunanganku...dia adalah wanita yang sangat berharga dalam hidupku...sosok yang tidak tergantikan...tapi aku...sepertinya...tidak bisa memilikinya."
Alianora, "...."
Huh? Maksutnya? Tunangannya sudah memiliki pria lain atau bagaimana?
Alianora sama sekali tidak mengerti, namun melihat wajah kebingungan Alianora, Kardinal Luxio hanya tersenyum pahit.
Kardinal Luxio mengangkat wajahnya untuk menatap Alianora.
Wajahnya tidak lagi memerah, tidak lagi dipenuhi rasa malu, tapi pucat dengan segala sesuatu yang terpendam.
Dia tersenyum lirih.
"Dewa Ilios sepertinya akan memilihnya."
...*****...
Hari sudah menjelang siang ketika Alianora menyelesaikan kelas teologinya.
Setelah mengantar Kardinal Luxio sampai ke depan gerbang, Alianora langsung kembali ke kamarnya untuk istirahat.
Meski kelasnya tidak se-membosankan dan se-melelahkan pertemuan-pertemuannya dengan para anak-anak bangsawan, pikirannya tetap saja terasa berat.
__ADS_1
Untuk belajar sesuatu yang dibenci, memang sangat memberi dampak bagi tubuh Alianora.
Tidak disangka bahwa dia se-anti ini dengan hal-hal yang berbau Dewa Ilios musuhnya itu.
Membaca tulisan-tulisan yang menganggungkan apa yang telah dia buat.
Membaca semua tulisan tentang kata-katanya yang sangat melebih-lebihkan. Alianora merasa jijik.
Betapa munafiknya. Sama seperti seribu tahun lalu.
Kenapa dewa busuk seperti itu bisa disembah oleh manusia lurus seperti Kardinal Luxio?
Ah, mengingat orang itu lagi, Alianora sedikit merasa kasihan.
Orang itu begitu mencintai tunangannya, tapi takdir tidak mempersatukan mereka.
Bukan karena tunangannya tidak mencintainya atau apa, bukan, itu masih lebih baik.
Namun realita selalu lebih pahit.
Tunangannya, putri dari Baron Whaler, Kristania Whaler, dari kecil memang mengidap penyakit langka yang menyebabkan kondisi tubuhnya semakin melemah setiap tahunnya.
Ditambah lagi dengan aliran mana yang tidak stabil, semakin memperburuk keadaan.
Semenjak mereka bertunangan, kali terakhir Kardinal Kalisto melihat tunangannya adalah sekitar 1 tahun lalu, setelah itu tunanganya hanya bisa berbaring di tempat tidur tanpa bisa bergerak lagi.
Tapi untungnya, dia masih bisa membuka mata untuk menghibur Kardinal Luxio agar tidak sedih.
Mendengar semua cerita Kardinal Luxio membuat Alianora menyadari akan sesuatu, tapi juga bingung secara bersamaan.
Kemungkinan, tunangannya itu sudah meninggal ketika dia bertemu dengan Thalia pertama kali di kehidupan sebelumnya.
Tapi jika dia begitu mencintai tunangannya, kenapa dia bisa jatuh cinta pada Thalia?
Tidak masuk akal.
Alianora memegang kepalanya.
Sudahlah, tidak ada gunanya untuk memikirkan itu sekarang. Lagipula, dia paling tidak bisa mengerti perasaan manusiawi seperti ini. Itu di luar logikanya.
Lebih baik dia menikmati saja aliran takdir sekarang, dan melihat apa yang terjadi nanti. Mungkin dengan itu dia jadi bisa mengerti.
Sembari duduk bersantai di kursi sambil menghadap jendela, tiba-tiba Mary masuk membawa sebuah nampan berisi puding mangga dan beberapa kue-kue kecil, dan juga secangkir teh.
Dia meletakannya di atas meja kecil di depan Alianora.
"Nona, silahkan."
Mary menarik nampan, lalu berdiri didepan Alianora yang sedang menyeruput tehnya.
"Terima kasih, Mary."
Mary membungkuk dengan hormat lalu melangkah dan berdiri disebelah pintu, menanti Alianora selesai menghabiskan makanannya.
Sambil menyanyap pudingnya, Alianora kembali memikirkan soal surat yang dia tulis dua hari lalu.
Mary sudah mengirimkan surat yang dia tulis untuk Archmage Othima dengan baik, sekarang dia tinggal menunggu dengan tenang sampai ada kabar dari Archmage Othima.
Dia berharap semoga saja, dia bisa menerima berita yang bagus.
Tapi tentu saja dia tidak bisa duduk manis saja tanpa berbuat apa-apa bukan?
Alianora menatap kedua lengannya secara bergantian. Dia memencet sedikit lengannya, mengepalkan telapak tangannya sekuat tenaga.
Alisnya mengekerut, matanya menyipit, lalu dia menggeleng pelan dengan wajah pasrah.
Sepertinya aku harus melakukan sedikit latihan fisik lagi.
Alianora memasukan potongan puding terakhir dalam mulutnya sebelum berdiri, dan berjalan menuju pintu.
Mary yang dari tadi menunggu Alianora selesai makan, hendak merapikan meja yang ditinggalkan Alianora, tapi dia lebih dulu mencegat Alianora.
"Maaf, Nona? Anda mau kemana? Apakah Anda ingin berganti baju dulu sebelum berangkat?"
Alianora menggeleng.
Dia melirik ke arah tubuhnya sesaat, memeriksa dress simpel warna hijau tua yang dia kenakan dengan lengan pendek berwarna putih.
Baju itu sederhana dan ringan, Alianora menyukainya karena dia bisa bergerak lebih fleksibel, cukup sesuai dengan kegiatan yang akan dia lakukan setelah ini.
Walaupun dia lebih suka pakai celana, tapi dia tahu seorang putri bangsawan seperti Thalia yang tertutup ini tidak mungkin memilikinya, jadi dress ini saja sudah cukup.
"Tenang saja, Mary. Aku tidak pergi kemana-mana, hanya berjalan-jalan sebentar di taman. Kau tidak perlu ikut."
Kata Alianora sebelum dia membuka pintu, namun dia berhenti ketika dia sudah akan keluar, lalu berbalik menatap Mary kembali.
"Oh ya, Mary, aku akan kembali saat makan siang jadi, tidak usah menungguku di sini. Dan juga, untuk kue-kue itu," Alianora menunjuk ke arah sepiring kue-kue kecil di atas mejanya yang tidak dia sentuh, "lain kali jangan bawa itu ke sini, karena aku tidak akan memakannya. Oke, Mary?"
__ADS_1
setelah itu, Alianora pun menghilang.