
"S-selamat pagi, Nona Estelle."
"Nona Estelle!"
Suara sapaan dari para prajurit yang sedang berlatih, ketika Estelle melewati pinggiran area pelatihan mereka.
Para ksatria itu melihat Estelle dengan tatapan seperti melihat sesuatu yang sangat berharga, sehingga ketika Estelle lewat, mereka otomatis menghentikan apapun yang sedang mereka kerjakan, untuk sekedar menyapa nona tercinta mereka, dan Estelle juga balas memberi mereka senyum ceria yang membuat wajah mereka semua memerah.
Ah, sepertinya mereka tidak menyadari keberadaan Alianora yang sedari tadi sudah memasang wajah jijik kepada mereka.
"Nona, kenapa nona bisa ada di sini? Apa nona sudah selesai latihan?"
Estelle menggeleng pelan, lalu menarik tangan Alianora.
"Tidak, tidak. Elle belom selesai latihan, lebih tepatnya Estelle sedang istirahat sekarang, sambil membawa kakak berkeliling-keliling, iya kan kak?"
Barulah saat Estelle menoleh kepadanya, barulah para prajurit itu sadar akan kehadiran Alianora.
Ekspresi mereka menampakan keterkejutan, tapi mereka tidak langsung menyapa Alianora.
Mereka malah saling berbisik-bisik satu sama lain sambil memandangi Alianora dari atas sampai bawah.
"Eh, 'kakak' yang dimaksut Nona Estelle...apa dia Nona Thalia yang 'itu'?"
"Huh, Nona Thalia yang hampir tidak pernah terlihat itu?"
"Sedang apa dia di sini?"
Mereka terus saja berceloteh tanpa peduli kalau suara mereka itu cukup keras untuk Alianora dengar.
"Apa dia datang ke sini untuk berlatih juga?"
"Tidak mungkin, mana ada orang yang berlatih menggunakan dress begitu?"
"Haha benar, lagipula itu mustahil. Nona Thalia itu kan tidak memiliki sihir. Paling-paling dia di sini untuk melihat kehebatan nona kita saja."
Alianora yang sudah mulai muak dengan ocehan para prajurit yang seperti tiada akhir, berniat untuk menutup mulut mereka satu-satu, namun sebuah suara berat dan tegas tiba-tiba muncul dari arah belakangnya.
"Hei, sedang apa kalian di sini? Apa aku pernah menyuruh kalian untuk berhenti?"
Alianora menoleh kebelakang dan nampaklah sosok pria jangkung dengan dada bidang dan tubuh kekar, berjalan ke arahnya.
Rambut biru gelap dengan aksen putih di pangkas pendek dan rapi, terlihat cocok dengan wajah tirusnya.
Biarpun Alianora tidak melihat secara lansgung tapi dia tahu, kalau pria paruh baya didepannya ini pasti sangat tampan dimasa mudanya.
"Apa yang kalian tunggu, cepat kembali!"
"S-siap komandan!"
Pria itu tidak lain adalah Sir Gallahan, komandan dari pasukan prajurit Sheridan.
Setelah memastikan anak buahnya sudah kembali berlatih, Sir Gallahan langsung baralih pandang ke arah Alianora.
Dengan hormat dia membungkuk, "Maaf atas sikap tidak sopan anak buah saya barusan, Nona Thalia, Nona Estelle. Saya berjanji akan mendidik mereka agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi."
Memang, dari seluruh Ksatria Keluarga Sheridan, hanya Sir Gallahan saja yang memperlakukan Thalia dengan sungguh-sungguh seperti nonanya.
Meskipun di awal, Thalia jarang bertemu dengannya, tapi dia tetap setia pada Thalia.
Mau itu kehidupan pertama, kedua, dan ketiga, Sir Gallahan selalu melindungi Thalia dari bahaya apapun, dan bahkan sampai kehilangan nyawanya demi Thalia.
Dia menghormati sekaligus menyayangi Thalia dari kecil.
Dia lebih seperti seorang ayah bagi Thalia, daripada Kalisto.
Alianora sangat menyayangkan Thalia yang mengabaikan orang seperti ini. Padahal orang yang setia seperti Sir Gallahan sangat jarang ditemukan, tapi Thalia tidak melihat itu.
Dia lebih memilih untuk mendapatkan perhatian dari orang yang tidak pantas.
Hah, sungguh pilihan yang tidak tepat.
Maka dari itu, sekarang karena Alianora ada di sini, dia tidak akan menyia-nyiakan orang seperti ini.
__ADS_1
Alianora membalasnya dengan senyum tulus.
"Tidak apa-apa, Sir Gallahan. Itu bukan salah Anda, Anda tidak perlu meminta maaf. Mungkin mereka terkejut melihat kedatanganku yang tiba-tiba seperti ini."
"Tapi kak, para prajurit itu memang sedikit tidak sopan, mereka bahkan tidak menyapa kakak."
Oh, apakah itu saja yang berhasil kau tangkap, Elle? Apanya yang 'sedikit' hm?
Alianora melambaikan tangannya.
"Tak apa, Elle. Aku baik-baik saja. Oh ya, omong-omong, apakah Sir Gallahan guru Elle?"
"Hehe, iya kak. Sir Gallahan ini yang mengajari Elle seni pedang selama ini! Kakak tahu, Sir Gallahan hebat sekali! Apa yang diajarkan mudah dimengerti. Elle jadi cepat paham!"
"Haha, terima kasih atas pujiannya, Nona Estelle, meski saya sendiri masih merasa kurang. Tapi jika Anda betul-betul berpikir demikian, saya berharap Anda bisa menerapkan ilmu yang telah Anda pelajari untuk mengalahkan Eathen."
Eathen? Hm, dimana aku pernah mendengar nama itu?
Mendengar godaan Sir Gallahan, Estelle mengembungkan pipinya dengan kesal.
"Hmph! Eathen itu yang tidak masuk akal, tapi lihat saja, aku pasti akan mengalahkannya nanti."
"Um, Elle, siapa Eathen?"
"Huh? Oh iya, aku lupa memberitahu kakak. Eathen itu, putra Sir Gallahan. Dia juga kebetulan ikut berlatih pedang denganku."
Entah sudah berapa kali Alianora memutar ulang ingatannya tapi sepertinya dia masih belum bisa mengingat dimana terkahir kali dia mendengar nama Eathen. Jelas nama itu familiar tapi dia tidak tahu siapa.
Ketika Alianora, Estelle dan, Gallahan sudah kembali ke area pelatihan Estelle, tepat di samping area pelatihan para prajurit lainnya.
Mata Alianora langsung tertuju pada sosok bocah laki-laki yang tingginya tidak jauh berbeda darinya.
Bocah itu sedang mengayunkan pedangnya ke arah boneka-boneka jerami.
Dia melakukannya dengan berbagai macam gaya, dan sebagai ahli pedang sendiri, Alianora tidak bisa untuk tidak menganggumi teknik bocah itu.
Hm, gerakannya lincah, posisinya sempurna. Tidak ada gerakan yang berlebih, untuk anak sekecil ini, melakukan itu dengan benar sudah sangat luar biasa.
Estelle berteriak kesal sambil menghampiri bocah itu yang terlihat sedikit kaget.
Bocah itu membalikan badannya, memperlihatkan sepasang mata ungu muda tanzanite, senada dengan ayahnya, dibawah rambut biru gelapnya.
"Nona Elle. Anda yang meminta istirahat sendiri, bukan berarti saya harus ikut."
"Makanya Eathen curang, kalau kau terus saja berlatih, aku akan semakin tertinggal. Harusnya Eathen ikut istirahat juga bersamaku."
Eathen memicingkan matanya dengan tajam ke arah Estelle, dengan alisnya yang sedikit menukik ke bawah.
"Hah? Itu bukan urusanku."
"Eathen! Jangan bersikap tidak sopan pada Nona Estelle."
Sir Gallahan menegur Eathen yang hanya dia balas dengan memutar bola matanya.
Lalu sorot mata itu jatuh pada manik perak biru Alianora. Seketika kedua alisnya sedikit terangkat.
Dia memandangi Alianora dalam diam untuk beberapa saat, sebelum mulutnya perlahan terbuka.
"Siapa kau?"
Hening.
Alianora terkejut mendengar pertanyaannya, apa bocah itu betul-betul tidak mengenalinya?
Namun Alianora kembali teringat kalau dia adalah putri duke yang anti sosial, jadi maklum kalau wajahnya tidak begitu dikenali oleh banyak orang, apalagi oleh anak kecil.
Sir Gallahan yang melihat anaknya menunjuk ke arah Alianora, langsung memberitahukan identitas Alianora pada Eathen.
"Nona Thalia, perkenalkan ini adalah putra saya Eathen. Eathen ini adalah Nona Thalia, kakak dari Nona Estelle."
"Kakak? Hm...oh, jadi kau adalah Nona Thalia."
Eathen memberikan Alianora tatapan menyelidik.
__ADS_1
"Eathen, kalau kau sudah tau identitas Nona Thalia, jangan bersikap tidak sopan begitu dengannya. Ayo cepat minta maaf."
Alianora yang melihat itu hanya tertawa kecil.
"Ahaha, tidak apa-apa, Sir Gallahan. Tidak perlu terlalu formal sampai seperti itu. Oh ya, Elle, apakah istirahatmu masih lama? Kapan kau akan kembali berlatih?"
"Ah, tentu saja habis aku sarapan sebentar, hm, tapi pelayan yang membawa camilan tidak kunjung datang. Kalau begitu, aku akan memeriksanya sebentar, oke? Tunggu di sini kak!"
Mendengar itu, Sir Gallahan hanya tertawa sambil melihat Estelle menghilang dari area pelatihannya.
"Kalau begitu, aku akan pergi sebentar untuk mempersiapkan beberapa hal. Nona Thalia, tidak apa-apa kan saya tinggal sebentar?"
Alianora hanya menggeleng pelan.
"Tidak apa-apa, Sir Gallahan. Saya di sini saja sambil menunggu Elle kembali."
"Baiklah kalau begitu, nona. Jika Anda membutuhkan sesuatu, Anda bisa memanggil Eathen. Eathen, kau temani Nona Thalia, oke?"
Alianora dan Eathen menjawab bersamaan. "Baik, Sir Gallahan.", "Iya, iya."
Setelah Sir Gallahan menghilang, di area pelatihan hanya tinggal Alianora dan Eathen sendiri.
Mereka masih saling tidak berkomunikasi.
Alianora memikirkan kira-kira apa yang bisa digunakan untuk memulai pembicaraan dengan bocah di sebelahnya. Sedangkan Eathen sendiri, hanya memandangi Alianora dengan tatapan menyelidik.
"Um, Eathen kan? Salam kenal ya?"
Alianora memasang senyum manis yang biasa dia gunakan tiap kali bertemu dengan para anak-anak bangsawan seumurannya, sambil mengulurkan tangannya hendak mengajak Eathen bersalaman.
Tapi Eathen hanya melihat tangan Alianora yang terjulur ke arahnya, lalu balik ke arah Alianora lagi.
Raut wajahnya seperti berkata, 'apa kau serius?', sebelum berpaling untuk mengambil pedang nya dari tanah.
"Kau sudah tahu namaku, untuk apa bertanya? Tidak usah berbasa-basi."
Eathan memegang pedangnya dan melanjutkan latihan yang dia lakukan sebelumnya, tanpa mempedulikan Alianora yang ada dibelakangnya, yang masih menjulurkan tangan sambil tersenyum kaku, tapi kali ini ada perempatan segi empat muncul di pelipisnya.
Sabar Alianora, sabar, toh dia bukan tokoh antagonis yang harus dibasmi. Anggap saja tingkah bocah.
Sudahlah, dari pada dia berdiri sendiri disini dengan bocah tidak sopan tanpa melakukan apa-apa, lebih baik dia melanjutkan keinginan awalnya datang ke area pelatihan.
"Um, hei Eathen, apa kau tahu dimana gudang penyimpanan peralatan latihan?"
Eathan, berhenti mengayunkan pedang lalu menatap Alianora. Sorot matanya menatap Alianora dalam-dalam.
"Untuk apa kau kesana?"
"Aku hanya akan melihat-lihat sebentar."
"Lihat-lihat? Mau lihat-lihat apa memangnya?"
"Ya, mau lihat-lihat saja. Memangnya tidak boleh?"
Eathen menjawab Alianora hampir tanpa jeda.
"Tidak. Disana bukan tempat untuk putri lemah sepertimu berada."
Tinggal sedikit lagi sampai topeng 'anak bangsawan'nya yang sempurna, hancur berkeping-keping.
Dan Alianora masih berusaha sekuat tenaga, untuk menelan perasaan jengkel itu kembali ke dalam perutnya.
Akhirnya, Alianora menggaruk kepalanya sedikit, sambil menghela nafas. Eathen di depannya cuma memiringkan kepalanya dan menatap Alianora dengan bingung.
"Hei," Alianora memulai, kepalanya masih menunduk, "Sir Gallahan bilang jika aku membutuhkan sesuatu, aku bisa memanggilmu. Sekarang aku butuh ke gudang penyimpanan peralatan latihan, jadi sudah seharusnya kau menemaniku, bukan? Kalau tidak."
Eathen memandang Alianora dengan curiga. Melihat perubahan nada bicara Alianora membuat dia sedikit bingung, tapi dia tetap mendengarkan.
"Kalau tidak? Apa yang akan kau lakukan?"
Alianora kemudian mengangkat kepalanya. Senyumnya telah hilang, digantikan oleh raut wajah gelap, dan pandangan tajam yang melotot ke arah Eathan.
"Aku akan mengadukannya kepada ayahmu."
__ADS_1