
Viscount Frederick Gallahan bukan hanya seorang pahlawan bagi Kerajaan Agris, namun dia juga merupakan penyelamat keluarga Viscount Gallahan, dan menjadikan keluarga itu menjadi satu-satunya keluarga bangsawan yang berhasil pulih dari keterpurukan.
Sebelum jadi Viscount, Frederick merupakan putra keempat dari Viscount sebelumnya, Viscount Rowan Gallahan, dengan seorang pelayan. Saat mengandung, ibunda Frederick di usir dari kediaman Viscount Gallahan, yang terletak di ujung barat Sheridan, akibatnya dia hidup sebagai rakyat miskin biasa selama lebih dari 15 tahun.
Meskipun Frederick adalah setengah bangsawan, namun dia berhasil mendapat berkah kekuatan sihir. Karena itu, saat Frederick berumur 15 tahun, ayahnya membawa dia kembali ke kediaman Keluarga Gallahan.
Selama hidup di rumah Viscount, Frederick selalu diperlakukan dengan kasar dengan ketiga saudara dan ibu tirinya, sedangkan ayahnya sendiri tidak pernah mengurusinya
Hal ini karena mereka iri dengan kemampuan dari Frederick yang melebihi mereka, tidak hanya dalam sihir, tapi dalam seni pedang juga, dia bisa dibilang jenius.
Rasa iri berubah menjadi rasa benci, entah sudah berapa kali saudara-saudara dan ibu tirinya berusaha untuk membunuhnya, apalagi di tambah saat ayahnya sudah jatuh sakit dan segala urusan Keluarga Gallahan dipegang oleh sang putra pertama.
Akan tetapi, untungnya setelah melalui acara pembaptisannya yang terlambat, Frederick berhasil di terima di Aethergarde bagian akademi ksatria. Setelah 6 tahun menempuh pendidikan ksatria, pada usianya yang ke 22, Frederick berhasil di angkat menjadi ksatria di salah satu dari 4 divisi pasukan ksatria kerajaan, yaitu pasukan yang dipimpin oleh Duke Sheridan sendiri.
Satu tahun setelah bergabung, dia menunjukan prestasi yang gemilang dan berhasil membunuh seekor monster chimera raksasa yang dulu sempat meneror kerajaan. Berkat itu, Frederick meraih dukungan tinggi dari rakyat, bangsawan, dan juga raja sendiri.
Di sisi lain, Keluarga Gallahan semakin terpuruk. Semenjak Vicount Rowan meninggal karena sakit, keuangan keluarga semakin menipis, apalagi ketiga putra dan Viscountess sendiri hidup berfoya-foya, akibatnya Keluarga Viscount Gallahan tidak bisa membayar hutang yang menumpuk, dan harus jatuh dari hirarki bangsawan.
Ketika Frederick sudah terkenal, dan mendapat banyak hadiah dari raja, dia akhirnya kembali ke kediaman Viscount Gallahan untuk kemudian mengambil alih gelar Viscount. Dengan dirinya menjadi Viscount, dia berhasil membangun ulang keluarga Viscount Gallahan menggunakan modal kerja kerasnya, hingga membuat keluarganya bisa kembali berjaya seperti sekarang.
Mendengar cerita Mary tentang Sir Gallahan, Alianora perlahan mulai sedikit mendapat pencerahan pada ingatannya. Perasaannya kali ini terbukti benar kembali, tentang Eathen yang sepertinya bukan hanya seorang tokoh biasa.
Walaupun sebenarnya Thalia tidak pernah bertemu dengan Eathen di tiga kehidupannya secara lansgung, namun dia pernah mendengar orang-orang di sekitarnya membahas tentang seorang ksatria muda jenius yang merupakan salah satu ksatria pribadi Pangeran Noah. Kalau Alianora tidak salah ingat, mereka juga bilang kalau identitas ksatria itu setengah bangsawan, tapi Alianora tidak tahu bangsawan yang mana, sebab keluarga bangsawan di Kerajaan Agris sangat banyak.
Siapa yang tahu, kalau kstaria jenius yang popular di kalangan wanita bangsawan, yang biasa dikenal dengan julukan Silver Sword, itu adalah bocah tidak sopan yang sering latihan di samping rumahnya?
Dan Alianora merasa beruntung karena itu.
Seseorang yang akan menjadi salah satu orang terdekat Pangeran Noah, bahkan menjadi salah satu yang terpercaya, ternyata ada di dekatnya, itu merupakan sebuah awal yang bagus.
Semakin dia cepat bertemu dengan semua orang-orang terpercaya Pangeran Noah, semakin dekat juga dia dengan tujuan awalnya.
Oleh karena itu, Alianora tidak menyesal sama sekali telah berurusan dengan bocah itu, hanya saja mungkin sikapnya kemarin kurang baik, tapi itu masih bisa diperbaiki. Lagipula, bocah itu juga nampak tidak terlalu jengkel dengannya.
Sekarang, Alianora sudah tidak sabar lagi untuk bertemu bocah itu lagi.
Pokoknya dia harus berteman dengannya.
"Mary, menurutmu kita sebaiknya ke toko mana dulu, nanti?"
Alianora memasukan potongan puding mangga ke dalam mulutnya sambil duduk di depan meja rias. Pagi itu, Alianora sedang bersiap-siap untuk pergi ke kota untuk membeli seragam latihannya. Untung saja hari ini dia tidak memiliki sesi kelas teologi, jadi dia bisa pergi kapan saja dan pulang kapan saja, tidak ada yang melarang.
"Hm, saya berpikir sebaiknya kita mencoba ke Toko Butik Miah saja dulu, jika Anda tidak berpikir untuk membeli yang terlalu mahal, namun masih memiliki kualitas bagus. Tapi jika Anda berpikir untuk memilih yang mahal, Anda bisa ke Butik Artemis, yang saat ini sedang tenar di kalangan wanita bangsawan."
jawab Mary, sambil memasangkan topi baret di atas kepala Alianora.
Alianora berpikir sejenak.
Jelas dia tidak mungkin pergi ke Butik Artemis, kalau dia tidak ingin perhiasannya terjual habis.
Berarti satu-satunya pilihan yang dia punya adalah Butik Miah itu.
Hah, apakah itu bisa disebut pilihan?
Terkutuklah Keluarga Duke pelit ini, bahkan seorang putri sah mereka sendiri saja miskin begini.
__ADS_1
"Baiklah, Butik Miah kalau begitu, aku tidak butuh yang bagus-bagus amat, yang penting murah saja."
Alianora pun bangkit dari tempat duduknya ketika Mary sudah selesai meriasnya. Dia melihat pantulan refleksinya di kaca untuk melihat penampilannya. Gaun coklat muda dengan motif kotak-kotak, yang dilapisi dengan cape pendek dan pita coklat tua di tengahnya.
Alianora ber-'hm' tanda setuju. Dengan begini saja cukup, toh dia juga akan memakai mantel gelap dari luar agar tidak terlalu menarik perhatian.
Setelah itu, dia mengambil menatelnya serta sekantung penuh perhiasan dan batu-batu permata yang akan dia jual, dan beranjak keluar.
*****
"Nona, apakah Anda perlu menjual semuanya?"
Alianora mengambil satu buah permata kemudian menerawangnya untuk beberapa saat sebelum menggososknya sedikit lalu ditaruh kembali kedalam kantong.
"Ya, mungkin. Pokoknya sampai aku mendapat paling tidak 10.000 sol."
Sol adalah mata uang resmi Kerajaan Agris, yang berupa koin emas dengan lambang Kerajaan Agris terukir di sana. Biasanya untuk harga barang barang kebutuhan sehari-hari untuk rakyat biasa berkisar sekitar ratusan sol saja, ada juga yang menyentuh angka ribuan tapi itu sudah termasuk mahal. Bila ada rakyat jelata yang memegang atau membeli barang senilai ribuan sol, mereka biasanya adalah para pedagang kaya, dan juga pebisnis-pebisnis tajir.
Namun lain halnya dengan bangsawan. Bagi para bangsawan, makanan mereka setiap hari saja bisa habis sampai ribuan bahkan puluhan ribu sol sehari. Belum lagi pakaian serta perhiasan mereka, itu bisa saja bernilai ratusan ribu sol tiap barangnya.
Tentu saja, Alianora tidak ingin menghabiskan uang sebanyak itu. Meski dia bilang kalau dia akan menyiapkan uang sebanyak 10.000 sol, sebenarnya dia hanya akan membeli seragam latihan yang harganya maksimal separub dari jumlah itu atau lebih sedikit. Dia tidak ingin menghabiskan uang yang terbatas ini dengan cepat, siapa tahu nanti di masa depan dia membutuhkannya untuk hal yang lebih penting.
Ah, tapi sepertinya dia juga perlu memikirkan bagaimana cara menambah uangnya jika Kalisto tidak memberikannya uang seprti sekarang.
Mary yang saat itu duduk di depannya, dan memberi tahu pak kusir yang akan mengantar mereka nanti.
"Baiklah, nona. Kalau begitu kita akan ke toko perhiasan terlebih dahulu."
Perjalanan ke lokasi pasar kota tidak jauh. Hanya beberapa menit saja, Kereta Alianora sudah terparkir di tempat parkir kereta tepat di sebelah pasar.
Alianora turun dari kereta setelah Mary, tidak lupa dengan memakai tudung mantelnya dengan rapi.
Beberapa dari warga di sana ada yang memakai pakaian biasa, ada juga yang terlihat mahal, ada juga yang mengenakan tudung seprtinya. Semuanya saling sibuk dengan urusan mereka sendiri-sendiri, ada yang berjualan di pinggir jalan, ada juga yang berbelanja. Pemandangan ramai seperti ini sudah biasa bagi rakyat Sheridan, berhubung Kota Sheridan sendiri merupakan pelabuhan dimana, para pedagang asing dari kerajaan lain juga ada.
Makanya, Kota Sheridan juga disebut dengan pusat perdagangan Kerajaan Agris.
Alianora melangkah menyusuri tiap toko-tokokecil yang menjual macam-macam barang, sampai dia menemukan sebuah toko yang tidak terlalu kecil, yang terletak di dalam sebuah lorong. Di depan toko itu, ada sebuah papan gantung yang bertuliskan 'TOKO PERHIASAN DAN BATU MULIA'.
Alianora dan Mary pun masuk.
Ketika bel pintu berbunyi, seorang pria tua gembul yang pendek langsung melirik ke arah mereka dari atas sampai bawah.
"Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu, nona?"
tanya pria itu dengan suara serius.
Alianora maju ke depan lemari kaca berisi perhiasan-perhiasan mewah, lalu mengeluarkan beberapa perhiasan dan batu permatanya dari dalam kantong.
"Saya ingin menjual ini. Berapa semuanya?"
Pria itu melihat Alianora dan Mary sebentar dengan tatapan penuh arti, sebelum mengambil salah satu cincin emas dengan permata merah, lalu menerawanginya dengan sebuah kaca pembesar.
"Hm, kalau di lihat dari kualitas emasnya, kelas menengah ke bawah, tapi batunya merupakan batu ruby asli. 5000 sol."
Kemudian dia mengambil kembali sebuah kalung emas putih dengan liontin berbentuk diamond dengan permata biru. Dia mengernyit sedikit, lalu menatap Alianora dengan ekspresi agak kesal.
__ADS_1
"Nona, aku tidak bisa menjual yang ini, kualitasnya sudah terlalu rendah. Lihat, ada bercak hitam dimana-mana. Ckckck, apakah wanita bangsawan seperti Anda masih menggunakan perhiasan imitasi."
Mendengar itu, Mary langsung tersinggung dan membalas omongan pria itu.
"Permisi Tuan, Anda tidak bisa bicara seperti itu terhadap nona-"
Tapi, sebelum Mary bisa berdebat serius dengan orang itu, Alianora langsung menhadangnya. Itu karena dia tidak ingin membuang waktu di sana.
"Apa itu sama sekali tidak bisa? Saya akan menerima berapapun harga yang tuan beri."
Pria itu terlihat menimbang-nimbang, kemudian dia melirik ke arah batu permata biru kecil pada lionntin itu.
"Ya sudah, batu permata ini ternyata batu safir dengan kualitas menengah, saya masih bisa beri harga 2500 sol."
Sepakat.
Lalu, pria itu mengambil perhiasan terakhir Alianora. Itu berupa sebuah kalung emas berlapis intan, dengan tiga batu permata kecil berwarna emas. Setelah menerawang untuk beberapa saat, pria itu nampak terkejut seketika berubah pucat. Dia melihat Alianora dengan mata terbelalak, dan keringat yang membasahi keningnya.
"Nona, saya tidak tahu kenapa Anda melakukan ini pada saya. Tadi, Anda memberi saya perhiasan yang sudah tak layak jual, sekarang Anda memberi saya perhiasan yang tidak bisa saya jual, apa-apaan ini?"
Mary, "Tuan, sekali lagi saya-"
Alianora kembali memotong Mary, dia juga sama bingungnya dengan pria tua itu.
"Maksut Anda?"
"Kalung ini, untuk rantainya saja, saya tidak tahu ini intan jenis apa, tapi yang saya bisa lihat adalah intan ini berkadar tinggi berumur mungkin sekitar 2 sampai 5 juta tahun lalu, sedangkan untuk tiga permata ini, harganya jauh lebih tinggi dari intan itu."
Alianora jelas terkesiap mendengar itu.
Selama ini dia menyangka kalau perhiasan-perhiasannya ini tidak terlalu berharga.
Dilihat dari bentukannnya yang sebagian besar sudah kusam, Alianora sama sekali tidak memiliki ekspetasi tinggi.
Apalagi dilihat dari orang tua Thalia yang sama sekali tidak mempedulikannya, mana bisa dia memiliki perhiasan mahal yang harganya tak ternilai?
Itu sama sekali tidak mungkin. Lalu, apa pria tua itu berbohong padanya?
Tidak, jika dia ingin berbohong dia tinggal beritahu saja kalau perhiasan itu tidak layak jual seperti kalungnya sebelumnya, bukan dengan mengaku kalau dia tidak bisa membelinya.
Alianora mengamati kalung itu, kalungnya memang terlihat seperti kalung biasa saja, dengan rantai tipis dengan tiga batu permata yang tidak terlalu besar dan mencoolok.
"Anda bisa menjual yang lain kecuali kalung itu, nona."
cetus pria itu.
Alianora pun mengeluarkan beberapa perhiasan lagi dari kantongnya dan memberikannya pada pria itu, sedangkan kalung misterius tadi, dia simpan kembali.
"Ya sudah, yang ini saja. Berapa?"
Akhirnya, setelah sekitar 15 menit dalam toko perhiasan, Alianora berhasil mendapatkan uang sebanyak 11.000 sol, dengan menjual tiga perhiasannya. Sekarang perhiasan di kantungnya tinggal 4 atau 5 lagi termasuk dengan kalung misterius itu, yang sejak tadi masih dia pikirkan.
Betul-betul kalung yang aneh.
Setelah itu, Alianora dan Mary siap menuju ke toko pakaian, namun suasana pasar menjadi semakin ramai, sehingga Mary dan Alianora tidak bisa memperhatikan satu sama lain.
__ADS_1
Dan ketika mereka hendak berbelok ke toko pakaian, mereka tidak sengaja melewati toko peralatan senjata, dan Alianora melihat seseorang yang sepertinya dia kenal.
Ketika dia masih melihat orang itu, tiba-tiba dia menabrak sesuatu didepannya.