
Satu kata yang berhasil keluar dari bibir Alianora ketika mendengar kata-kata Estelle.
"Hah?"
Tunggu, apakah anak ini barusan bilang Aethergarde? Dan surat? Aethergarde mengirim 'ku' surat? Buat apa?
Jika dia sekarang bukan berada dalam tubuh Thalia, melainkan dalam tubuh anak bangsawan lain, mungkin tidak aneh jika dia menerima surat itu, sebab memang dalam kurun waktu satu sampai dua bulan ini adalah waktunya anak-anak bangsawan yang sudah dibaptis untuk menerima undangan penerimaan siswa baru dari akademi-akademi.
Tapi masalahnya, Alianora sekarang adalah Thalia disini.
Entah bagaimanapun otaknya berputar, dia tidak bisa mengingat bahwa ada adegan dimana Aethergarde yang tersohor itu pernah mengirimi Thalia sepucuk surat.
Tidak pernah dalam tiga kehidupan!
Alianora berpikir antara dia yang salah dengar atau memang kepala sekolah atau apalah yang memimpin segenap pegawai Aethergarde itu yang betul-betul tidak waras.
"Kakak, apa kau tidak ingin melihatnya?"
Lalu adapula Estelle yang membuat Alianora semakin tidak paham dengan tingkahnya akhir-akhir ini. Contohnya saja sekarang, kenapa dibanding
Alianora, dialah yang terlihat lebih antusias?
Eh tunggu, antusias?
"Kenapa, Elle? Memangnya apa isi suratnya?"
"Er, aku tidak tahu. Amplop itu diberi sihir yang tidak akan bisa dibuka oleh siapapun kecuali kakak. Aku hanya sempat lihat amplop luarnya saja, warnanya merah dan ada tulisan nama kakak. Kata ayah itu amplop panggilan, tapi aku juga tidak tahu."
katanya sambil tersenyum manis.
Alianora mengamati raut wajah Estelle untuk sementara, sebelum akhirnya menggeleng.
Tidak, rasanya Estelle mengatakan yang sebenarnya, bahwa dia tidak tahu apa-apa soal isi didalamnya.
Kalau dilihat dari tingkah Estelle, surat dari Aethergarde itu sangat menarik perhatiannya sampai seperti ini, tidak mungkin dia tidak membacanya terlebih dahulu kalau memang dia bisa.
"Oh, ah tentu saja Elle, dimana suratnya?"
ujar Alianora sambil menaiki tangga mengikuti Estelle, berusaha untuk tetap tenang.
"Di ruangan ayah, kak."
"Di ruangan ayah? Kenapa bisa? Kenapa tidak diantar langsung ke kamarku?"
"Kata ayah, ayah mau sekalian bicara dengan kakak, jadi sekalian saja kakak bukanya di ruangan ayah."
Estelle menjawab dengan polos.
"Ah, begitu rupanya."
Dalam pikirannya, Alianora masih terus menerka-nerka apa kiranya isi surat itu.
Seingatnya, meski identitas Thalia sebagai Jiwa Apostle akhirnya terungkap saat dia berusia kurang lebih 17 tahun, Thalia tidak pernah di masukan atau di latih secara khusus dalam bidang magis.
Para pendeta yang mengambil semua waktunya dan memperalatnya, sedangkan Aethergarde sama sekali tidak menghiraukannya.
Yah, itu maklum, sebab saat itu Thalia masih tidak memiliki kemampuan sihir apa-apa, jadi meskipun statusnya adalah Jiwa Apostle selama dia tidak mempunyai bakat, maka mustahil baginya untuk bisa masuk ke dalam Aethergarde.
Setelah menyusuri koridor panjang panjang Alianora akhirnya bisa melihat sepasang daun pintu raksasa berwarna hitam tepat di depan mata.
Alianora menatap pintu itu dengan pandangan malas. Dia tidak menyangka jika dia harus berurusan lagi dengan Kalisto secepat itu, rasanya baru kemarin dia harus bersusah payah untuk mempertahankam topengnya didepan orang itu, dan kali ini dia harus melakukannya lagi.
Memang berurusan dengan manusia satu ini benar-benar merepotkan.
Setelah berada didepan pintu, dua orang pengawal langsung membungkuk ke arah Alianora dan Estelle dengan hormat, yang hanya dibalas Alianora dengan tatapan dingin.
Setidaknya para pelayan di sini sudah mulai memberinya penghormatan yang pantas, pasti karena mereka tidak berani macam-macam kepada calon saint Kerajaan Agris.
Bukan berarti Alianora memperdulikannya, tapi kalau boleh jujur, dia merasa lebih nyaman ketika melihat orang-orang tidak tahu diri itu sudah bisa bersikap semestinya.
Ketika mereka hendak memasuki ruangan Alianora melirik ke samping dan mendapati Estelle yang mengikutinya dari belakang sambil tersenyum. Alianora mengernyit.
"Elle, untuk apa kau mengikutiku?"
Estelle yang mendengar ini hanya memiringkan kepalanya sedikit sambil memasang ekspresi yang mengatakan 'memangnya kenapa?'.
__ADS_1
"Oh, aku juga ingin melihat isi suratnya, kak! Habisnya, aku juga penasaran! Mungkin saja itu benar-benar undangan penerimaan siswa baru untuk kakak!"
Dengan jawaban Estelle tadi, Alianora jadi tidak bisa berkata-kata.
Dia hanya melongo memandangi Estelle dari atas sampai bawah, anak ini apakah dia tidak bisa mendengar ucapan tidak tahu malunya sendiri?
Melihat wajah Alianora yang kaku, ekspresi Estelle langsung berubah menjadi memelas.
"Atau, apa kakak tidak ingin aku bersama kakak?"
Alis Alianora semakin teratut, dan dia hampir kehilangan kendali atas ekspresinya.
Dia harap raut wajahnya sama sekali tidak menunjukan kata hatinya.
Tentu saja, bocah. Jadi, tahu dirilah dan cepat menyingkir.
Tapi sayangnya, sebelum Alianora bisa menyusun kata-kata yang halus untuk mengusir Estelle, pintu didepannya sudah terbuka lebar, menampakan sosok Kalisto yang duduk di kursi kerjanya sambil melipat tangan dengan tampan.
Rambut perak abu-abunya yang berkibar diterpa angin malam, terlihat berkilau dibawah sinar lampu yang kekuningan. Sepasang mata kebiruannya yang menatap Alianora, menambah kedinginan suhu ruangan itu.
Dari belakangnya, Estelle langsung melompat kegirangan dan berlari ke ayahnya yang menangkapnya kedalam pelukan hangat.
Alianora memutar bola matanya.
Sungguh ayah-anak yang tidak tahu diri.
"Ayah," Alianora membungkuk sopan, "saya mendengar bahwa ada sebuah surat yang ditujukan pada saya dari Aethergarde. Apakah saya boleh melihatnya?"
Oh Alianora tidak bermaksud untuk blak-blakkan, tapi dia sama sekali tidak berminat untuk berlama-lama disana.
"Thalia."
Nada suaranya terdengar agak lebih dingin dari biasa, entah itu perasaan Alianora saja atau bukan.
Ah, kalau Alianora pikir-pikir lagi, tadi sorot matanya juga lebih kaku dan menusuk. Dia terlihat lebih seperti akan memakannya hidup-hidup.
"Apa yang kau lakukan kali ini?"
lanjut Kalisto tanpa berkedip sekalipun.
Alianora berdeham pelan, "Uh, saya sepertinya kurang paham maksud ayah. Sebenarnya, apa yang tertulis dalam surat itu?"
Wajah Estelle di pangkuannya terlihat khawatir, tidak, daripada khawatir itu kebih ke arah penasaran juga.
Kalisto menghela napas dan segera menurunkan Estelle, lalu mengambil sepucuk amplop dari dalam laci meja. Amplop itu berwarna merah maroon seutuhnya, tapi ketika Kalisto menyentuhnya, dalam sekejap mata ada semacam kilatan cahaya berbentuk rantai kuning menyala mengelilingi amplop itu.
Ah itu pasti sihirnya.
"Ini adalah surat panggilan. Pimpinan Aethergarde, Archmage Othima, secara khusus memanggilmu. Apa kau membuat masalah dengannya?"
Lagi-lagi Alianora tercengang mendengar nama itu, nama yang bahkan tidak masuk ke dalam daftar memorinya.
Archmage Othima? Siapa lagi orang ini?
Tidak peduli seberapa keras Alianora berusaha mengobrak-abrik ingatannya, tapi nama 'Othima' itu sama sekali tidak terdata.
Siapapun orang ini, dia adalah orang baru bagi Alianora dan juga bagi Thalia.
Estelle yang berdiri disamping hanya bisa terpaku memandangi amplop itu dengan mata terbelalak, yang menurut Alianora, bukanlah ekspresi yang dibuat-buat.
"Archmage... Archmage...Othima...kenapa bisa...." gumam Estelle pada dirinya sendiri.
Alianora jelas tidak tahu apa hebatnya orang ini, tapi dari gelarnya yang merupakan Archmage, dan juga pemimpin Aethergarde, rasanya dia memiliki reputasi yang lumayan.
Entah urusan apa yang membuat orang ini mau menemuinya.
"Ayah, bolehkah saya melihat isi suratnya, mungkin saya bisa mendapatkan jawaban dari sana."
Kalisto melihatku sebentar, lalu menyodorkan amplop itu kepada Alianora.
"Aku tidak peduli apa yang kau buat diluar sana, tapi kalau kau sampai mencemarkan nama baik keluarga ini, maka aku tidak akan mengampunimu lagi."
cetus Kalisto dengan menekankan kalimat terakhirnya, dan menatap lurus ke arah Alianora.
Dari sudut pandangnya, wajah Alianora hanya kelihatan setengah, sedangkan matanya tertutup oleh poninya, jadi Kalisto tidak bisa melihat bahwa ekspresi Alianora saat itu sama sekali tidak menunjukan kalau dia menyimak perkataannya barusan.
__ADS_1
Alianora mengamati amplop ditangannya.
Tulisan emas terang yang tertera dihadapannya memang mengukir namanya dengan jelas, dan dibelakangnya, segel ungu tua dengan kaligrafi huruf 'A' yang dicetak emas, menempel di sana dengan rapi.
Alianora menyentuh segel ungu tua itu dan seketika cahaya berbentuk rantai emas itu pecah berkeping-keping, lalu lenyap begitu saja.
Alis Alianora sedikit terangkat.
Oh, sepertinya sihir jaman sekarang ini sangat praktis, hm?
Lalu, Alianora mengeluarkan selembar kertas dan membacanya.
'Yang Terhormat, Nona Thalia La Sheridan.
Dikarenakan suatu hal, maka, kami mengharapkan kehadiran saudari di Akademi Tinggi Sihir Aethergarde, besok pukul 9 pagi. Kami berharap agar saudari bisa datang tepat waktu. Terima kasih.
Tertanda, Archmage Othima.'
Bahkan isi suratnya tidak sampai satu paragraf!
Dikarenakan suatu hal apa?
Orang ini tidak menjelaskan apa-apa!
Namun sebelum Alianora sempat berkomentar lebih, dia melihat dibawah isi surat itu, samar-samar munculah beberapa goresan tinta yang membentuk sebuah kalimat tambahan.
'Ps: Aku tahu apa yang kau cari. Bila kau tertarik, maka datanglah kemari Nona 'Thalia''
Mata Alianora langsung terbelalak. Jantungnya berdetak lebih cepat setiap detiknya seiring dengan gerakan bola matanya yang terus menyusuri kalimat itu sebanyak tiga kali lagi.
Hasilnya tetap sama. Dia betul-betul tidak salah baca.
Tapi alih-alih membuatnya senang, Alianora malah merasa curiga.
Orang ini, yang menulis surat padanya, Archmage Othima, jelas adalah orang yang tidak pernah dia lihat batang hidungnya.
Sedangkan orang ini, dalam suratnya mengatakan bahwa dia tahu apa yang Alianora cari?
Apa dia sungguhan tahu, atau cuma pura-pura saja?
Kalau dia betulan tahu, dia tahu dari mana?
Alianora tidak pernah menceritakan kepada siapa-siapa soal masalah tubuhnya ini, bahkan tidak dengan Mary. Jadi mustahil bagi orang itu untuk mengetahui sesuatu yang dia tidak tahu untuk apa itu dicari.
Kalau dia berbohong, apa alasannya?
Meskipun Alianora meremehkan manusia seperti kutu, tapi dia tahu kalau manusia yang memiliki gelar Archmage itu berbeda dari manusia biasa.
Selain dalam hal kekuatan, pikiran mereka juga lebih tercerahkan, setidaknya dia belum pernah melihat ada Archmage yang mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal sebelumnya. Tidak sebelum ini.
Estelle yang dari tadi diam menunggu reaksi Alianora, sudah tidak sabar lagi, dia pergi ke arah Alianora untuk menengok isi suratnya.
"Apa itu kak? Apa yang tertulis didalamnya?"
Tapi sebelum Estelle sempat mendekatinya, Alianora sudah menutup kembali surat itu, memasukannya kembali ke dalam amplop, dan menutupnya rapat-rapat.
Espresinya datar dan tenang, seperti apa yang tertulis barusan dalam surat itu sama sekali tidak menganggunya.
"Bukan hal penting, Elle. Aku juga tidak tahu apa yang Archmage Othima inginkan dariku, dia tidak menyampaikannya dalam surat."
Estelle menatap Alianora lurus-lurus. Mulutnya sedikit menganga tidak percaya, dan matanya melebar. Dia hendak menanyakan pertanyaan lebih namun Alianora memotongnya dengan halus.
"Ayah, seperti yang saya katakan sebelumnya, saya tidak merasa melakukan kesalahan apa-apa. Tapi sepertinya, dari surat ini, Archmage Othima ingin membicarakan sesuatu denganku jadi, sebaiknya besok saya pergi menghadapnya saja."
"Terserah, yang penting kau tidak berbuat ulah."
balas Kalisto dengan dingin, tanpa memberikan sedikit lirikan pada Alianora.
"Tentu, ayah. Kalau begitu, saya permisi dulu."
Dengan itu Alianora segera meninggalkan ruangan agar tidak lagi di tanya-tanya oleh Estelle.
Setidaknya, tidak didepan Kalisto, karena dia pasti tidak mungkin bisa menipu atau menyangkal Estelle.
Ah, memang sangat menyusahkan.
__ADS_1