Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke

Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke
Chapter 4 : Mary dan Thalia


__ADS_3

Dalam mimpi tadi, gambaran-gambaran yang dia lihat menunjukan kalau Thalia adalah seorang yang telah mengulang hidupnya sebanyak tiga kali. Kehidupan pertama dimulai dengan normal, dari bayi sampai ketika dia meninggal di umur dua puluh dua tahun.


Setelah itu di kehidupan kedua dia secara tidak masuk akalnya, kembali ke saat ketika dia berumur sepuluh tahun, lalu meninggal di umur yang sama, begitu juga dengan kehidupan ketiganya.


Sedangkan di kehidupan keempatnya ini, sepertinya dia memutuskan untuk keluar dari lingkaran takdirnya, dan disinilah Alianora sekarang.


Di ketiga kehidupannya, Thalia adalah putri angkat dari salah satu dari empat keluarga Duke dari Kerajaan Cahaya Agris, keluarga Duke Sheridan. Ayah angkatnya, Kalisto Le Sheridan, adalah sepupu dari Raja Agris sekarang, Raja Tyrion Lex Lumiere Di Agris. Ibunya, Annabeth Rocheleau, putri kedua dari keluarga Marquees Rocheleau yang merupakan keluarga bangsawan terkaya di seluruh penjuru Agris.


Sebelum diangkat menjadi putri duke, Thalia adalah seorang putri dari seorang teman dekat keluarga Sheridan yang merupakan seorang rakyat biasa. Waktu dia masih bayi, ayah Thalia meninggal karena kecelakaan, akibatnya dia harus dibesarkan seorang diri oleh ibunya. Namun, ketika dia berumur 8 tahun, Kalisto menemukannya di jalanan lalu kemudian mengangkatnya sebagai anak, untuk memenuhi janjinya kepada temannya. Inilah yang dulu Thalia tahu tentang dirinya, dan tentu saja ini tidak sepenuhnya benar.


Keluarga Sheridan sama sekali tidak memiliki teman dekat seorang rakyat biasa, dan Thalia La Sheridan bukanlah anak dari teman Kalisto, melainkan anak kandungnya sendiri bersama dengan seorang perempuan biasa. Thalia sama sekali tidak pernah mengetahui kebenaran ini, tidak sampai dia tidak sengaja mendengar pembicaraan ayah dan ibunya dalam kehidupan ketiga.


Memang susah dipercaya, namun inilah yang sebenarnya terjadi.


Dalam ingatan Thalia, ketiga kehidupannya semua memiliki akhir yang sama, yaitu kematiannya bersama keluarganya.


Saat itu hampir seluruh Kerajaan Agris hancur yang disebabkan oleh kekuatan sihir hitam dunia bawah yang mengamuk tak terkendali.


Raja Tyrion, Raja Kerajaan Agris, meninggal dunia akibat itu, dan pangeran pertama kerajaan, Pangeran Roberto Lex Lumiere Di Agris, selaku orang yang bertanggung jawab atas meluapnya sihir hitam di ibu kota, menjadi gila dan akhirnya dipenggal di depan umum sebagai dalang pemberontakan.


Sedangkan dirinya dan keluarganya, karena mereka merupakan salah satu keluarga dalam fraksi pendukung Pangeran Roberto, mereka juga tidak luput dari hukuman mati.


Di kehidupan pertama, Thalia bersama keluarganya ditangkap dan dibawa ke tempat pemenggalan umum di ibu kota. Dari situ, Thalia menonton kedua orang tuanya dipenggal langsung di hadapannya, sebelum akhirnya gilirannya tiba.


Di kehidupan keduanya, Thalia memutuskan untuk mencegah kematian Raja Tyrion. Untuk itu, dia berpikir untuk menjadi pelayan pribadi Estelle, adik tirinya, yang waktu itu sudah menjadi istri Pangeran Roberto.


Akan tetapi, bukan hanya dia terlambat menyelamatkan Raja Tyrion, dia malah dituduh membunuhnya. Setelah itu, sama seperti kehidupan sebelumnya, dia sekeluarga dihukum mati.


Kali ini dikehidupan ketiganya, Thalia sudah bertekad untuk meninggalkan Kerajaan Agris. Tepat saat Pangeran Roberto menjadi gila dan situasi ibu kota masih dalam keadaan kacau balau akibat serangan dari monster-monster dunia bawah, dia berhasil meyakinkan keluarganya dan mempersiapkan segala sesuatu untuk mereka melarikan diri.


Dia bersama dengan keluarganya sempat berhasil keluar dari wilayah Sheridan sebelum para prajurit mengepung kediaman mereka.


Sayangnya, sebelum mereka bisa meninggalkan perbatasan luar Kerajaan Agris, sederet pasukan kesatria keluarga kerajaan menghadang mereka, dan tanpa basa-basi, dirinya sekeluarga dipenggal di bawah sebilah pedang bermata biru milik pemimpin pasukan kesatria itu.


Pangeran Noah Lex Lumiere Di Agris.


Alianora masih mengingat jelas bagaimana raut wajah pria itu ketika menatap 'dirinya', tanpa ekspresi tapi sorot mata emasnya memberi kesan seolah dia menatap sebuah serangga. Benar-benar dingin dan tajam.


"Heh, aku bisa merasakan bagaimana tubuh ini bergetar di bawah tatapan haus darah itu. Hm, apa ini yang dulu dirasakan manusia-manusia itu saat melihatku?", gumam Alianora sambil terkekeh pelan.


“Hm, tapi mata emas itu…mereka benar-benar mirip.” Mata emas yang sama seperti milik seorang dewa yang hanya membayangkannya saja menimbulkan rasa pahit di lidah Alianora, Dewa Ilios sang Dewa Cahaya yang dipuja Kerajaan Cahaya Agris.


Plop!


"Haa…," Alianora menjatuhkan badannya diatas tempat tidur dengan mata perak birunya yang menatap lurus ke atas langit-langit, "Roberto, dasar cecunguk tidak berguna."


Kekacauan ini, semuanya, berawal dari Pangeran Roberto. Ambisinya untuk memiliki takhta, kesombongannya, keserakahannya, telah membuatnya nekat menggunakan ilmu hitam untuk membunuh ayahnya sendiri.


Menurut Alianora, cara yang diambil Thalia di kehidupan keduanya itu tidak buruk.


Dia bisa melihat bagaimana keluarganya memperlakukan Thalia, dan bagaimana orang-orang disekitarnya memperlakukannya. Dia adalah anak yang tidak dianggap, ayah kandungnya sendiri pura-pura tidak tahu kalau dia itu anak kandungnya juga. Anak yang tidak berguna, bahkan cenderung terkucilkan dalam pergaulan kelas atas karena identitasnya yang rendah.


Jadi, tidak peduli seberapa keras dia berusaha untuk meyakinkan ayahnya untuk tidak bersekutu dengan Pangeran Roberto, suaranya tidak akan didengar.


Mau tidak mau dia harus melakukan semuanya sendiri, dan cara yang paling benar saat itu ialah dengan mencegah kematian Raja Tyrion. Bila Raja Tyrion tidak mati, tidak ada alasan bagi Pangeran Roberto yang bahkan belum berstatus sebagai Putra Mahkota, untuk mengambil alih takhta, namun permasalahannya sekarang tentang bagaimana cara dia menjalankannya.


Dengan cara Thalia yang menjadi pelayan pribadi adiknya yang saat itu berstatus sebagai istri pangeran itu sebenarnya tidak salah, tapi dia tetap saja tidak bisa bebas melakukan apa saja tanpa pikir panjang. Dia tidak bisa bertindak secara gegabah, yang ada dia pasti dijadikan kambing hitam oleh dalang sesungguhnya, dan mati sia-sia.


Kalau begitu bila Alianora ingin menyelamatkan sang raja, dia harus memikirkan cara lain.


Tapi apa?


"Hahh! Merepotkan! Padahal, akan lebih mudah jika aku langsung saja membunuh si cecunguk Roberto itu, dari pada harus susah-susah begini!"


Seandainya Thalia mengizinkannya untuk membunuh.


Seandainya dia tidak terikat dengan aturan Kontrak Jiwa, permintaan Thalia pasti sudah diselesaikan dari tadi!


Dirinya tidak perlu melewati hal yang sama dengan Thalia asli, mati di bawah pisau pancung, atau mati dipenggal secara memalukan oleh Pangeran Noah yang tanpa ekspresi itu.


.


.


.


.


.


.


Tunggu, Pangeran Noah?!

__ADS_1


Kenapa dia tidak memikirkannya dari awal?


Pangeran Roberto tidak pernah menjabat sebagai Putra Mahkota, terlepas dari identitasnya yang merupakan pangeran pertama kerajaan. Artinya, Raja Tyrion masih meragukan kemampuan Pangeran Roberto untuk memimpin dikarenakan kepribadiannya yang sombong dan serakah. Disisi lain, ada juga Pangeran Noah yang dingin tapi sangat loyal kepada Agris dan juga pada ayahnya.


Dari kedua pangeran ini, sudah jelas siapa yang akan dipilih Raja Tyrion sebagai penerusnya, tetapi, tentu saja, dia belum bisa menetapkannya. Hal itu karena, berdasarkan ingatan Thalia, Pangeran Noah yang tidak memiliki keinginan untuk naik takhta.


Akibatnya, Raja Tyrion yang sudah tua bangka itu, terpaksa terus menjabat sebagai raja.


Alianora, Alianora.


Mengapa dia begitu bodoh?


Kalau memang akar permasalahannya adalah aksi Pangeran Roberto yang membunuh ayahnya dengan sihir hitam, daripada susah-susah memikirkan bagaimana cara melindungi Raja Tyrion, kenapa dia tidak berpikir untuk menghilangkan ide itu sama sekali dari kepala Pangeran Roberto?


Oke, bagaimana caranya?


Dari tempat tidurnya, Alianora bangkit serentak lalu berlari ke arah meja belajarnya untuk mengeluarkan secarik kertas, pena, dan tinta. Dia mulai menulis dengan cepat.


"Tentu saja dengan Noah Lex Lumiere Di Agris! Dia harus jadi Raja! Setidaknya dia harus dinobatkan sebelum si sampah Roberto itu berhasil menyentuh sihir hitam. Dengan ini sampah bau itu tidak memiliki alasan untuk membunuh Tyrion tua!", kata Alianora dengan bersemangat sambil menulis nama Pangeran Noah diatas kertas.


Dia betul-betul senang sekaligus bangga pada dirinya.


Otaknya yang dulu dia sangka sebagai segumpal otot saja, ternyata dapat berfungsi dengan baik.


Ah, kalau saja dia nantinya berhasil membuat Pangeran Noah menjadi calon raja yang lebih meyakinkan dari pada Pangeran Roberto, keluarga Sheridan pasti dengan sendirinya akan beralih mendukung Pangeran Noah.


Dengan demikian, meski ujung-ujungnya Pangeran Roberto menggunakan sihir hitam yang sama untuk melakukan kudeta, apapun hasil akhirnya, dirinya dan juga keluarga Thalia tidak akan dituduh macam-macam. Akhirnya keluarga Thalia akan hidup dengan bahagia sampai akhir. Lagipula, Pangeran Noah juga tidak mungkin mati, selama Alianora ada di sisinya. Oke, Misi selesai.


"Oho, apakah itu bukan akhir yang bagus, hm?" , gumam Alianora sambil melingkari nama Pangeran Noah.


"Ah, tapi...bagaimana caranya membujuk bocah itu untuk naik takhta?"


Tok. Tok. Tok.


"S-selamat siang nona, ini saya Mary...datang untuk membawa makan siang Anda."


Pelayan muda yang tadi pagi membawa sarapan untuk Alianora, kini datang lagi untuk membawa makan siang Alianora.


Siang?


Alianora menatap ke arah jendela yang diterangi oleh cahaya matahari putih yang terik.


"Ah, iya, masuklah."


Perlahan pintu kamar terbuka, menampilkan sosok Mary dengan gaun pelayannya, mendorong sebuah kereta silver berisikan berbagai macam makanan. Ekspresinya tegang, tak bisa dijelaskan.


Disisi lain, melihat senyum itu, Mary malah merasa dingin pada kulitnya.


"Ah, Mary, kau datang di saat yang tepat. Kemarilah, aku ingin menanyakan beberapa hal padamu."


*****


'Aku bukan Thalia.'


Tidak peduli berapa kali dia memutar kembali kata-kata itu dalam kepalanya, Mary masih tidak mengerti. Apa yang sebenarnya terjadi?


Dalam tiga tahun semenjak dia bekerja di kediaman keluarga Sheridan, Mary selalu menganggap bahwa nona mudanya, Thalia La Sheridan, adalah seseorang paling menutup diri dari banyak orang. Bahkan saat Mary pertama kali bertemu dengan Thalia waktu usia anak itu baru tujuh tahun, dia sudah memiliki kesan bahwa anak ini pendiam, penakut, dan polos.


Putri yang haus akan cinta kasih tapi tidak pernah bisa mendapatkannya.


Setiap hari Mary harus melihat bagaimana duke dan duchess Sheridan mengabaikan Thalia begitu saja seperti dia hanyalah udara. Bagaimana mereka membeda-bedakannya dari Estelle, adiknya, yang selalu menerima perhatian dan cinta. Bagaimana tatapan mereka kepada Thalia yang dingin dan jauh bagai menatap seekor serangga.


Selain itu, para pelayan juga tidak ada yang menghormatinya. Mereka cenderung mengabaikannya, memberikannya makanan yang lebih buruk dari makanan pelayan, mencemooh nya, sampai mencuri darinya.


Tidak ada satupun orang yang ada dalam rumah itu yang berpihak padanya. Tidak ada. Bahkan adiknya, Estelle, yang terlihat seperti satu-satunya yang memperlakukan Thalia seperti manusia, sebenarnya mungkin adalah dalang dari sebagian besar kemalangannya. Anak itu memang semunafik itu, dan Mary bisa melihatnya.


Jujur, Mary merasa sedikit kasihan padanya. Biar bagaimanapun juga, mereka tidak boleh memperlakukan anak yang baru berusia tujuh tahun seperti itu.


Akan tetapi, semakin hari, perasaanya itu semakin hilang digantikan oleh rasa benci dan muak.


Nona mudanya terlalu polos dan bodoh.


Meskipun sudah terang-terangan dihina, tapi Thalia tidak melakukan satu hal pun untuk melawan. Meski sudah jelas ditipu oleh adik tirinya yang munafik itu, dia tetap tidak menyadarinya. Thalia tetap saja, seperti orang bodoh, berusaha mengemis cinta dari orang-orang yang tidak pantas.


Tidak peduli asli atau tidak, Thalia tetaplah putri bangsawan sah dimata masyarakat, dia seharusnya bisa memanfaatkan gelarnya untuk membuat orang-orang yang menghinanya itu, mendapat balasannya, dengan caranya sendiri. Yang dibutuhkan hanyalah usaha, tekad, dan juga strategi.


Berbeda dengan dirinya, rakyat jelata yang harus bekerja banting tulang setiap hari di jalan untuk dapat sesuap nasi, bahkan kadang sampai harus mengais di tempat sampah. Untuk bisa bekerja di keluarga bangsawan elit seperti ini saat usia 13 tahun saja, dia sudah merasa sangat beruntung. Kalau dia adalah Thalia, dia tidak akan hidup mengenaskan sepertinya.


Bagi Mary, Thalia tidak pantas menjadi seorang bangsawan, dan untuk apa dirinya susah-susah melayani seseorang yang tidak pantas seperti Thalia? Oleh karena itu, Mary mulai mengikuti para pelayan lain untuk memperlakukan Thalia dengan buruk.


Lalu sekarang, untuk melihat perubahan drastis nona mudanya,  dia merasa seperti sedang bermimpi. Tidak, mungkin nona muda yang dia tahu, pendiam dan kikuk itu selama ini hanyalah mimpi yang dia lihat, sekarang dia baru terbangun dan menghadapi nona mudanya yang asli.


'Kau terkejut? Hah, aku juga sama bingungnya, tapi disinilah aku sekarang, ditubuh anak kecil ini.'

__ADS_1


Atau bukan.


Walaupun dia mencoba membuang jauh-jauh pikiran itu di dasar kepalanya, sebagian kecil dari dirinya sebenarnya mempercayai omongan ‘nona mudanya’.


Bahwa, orang yang ada dalam tubuh nona mudanya saat ini bukanlah nona muda yang dia kenal, melainkan orang asing yang tak diketahui identitasnya.


Takut. Itulah yang dia rasakan ketika pertama kali mendengar kebenaran. Orang yang tidak diketahui latar belakangnya, tujuannya.


Orang yang mungkin saja bukan manusia. Lagipula, apa ada manusia yang memiliki kekuatan aneh seperti itu?


Tidak bisa dipungkiri lagi, orang ini, atau sosok ini, sangatlah berbahaya. Firasatnya mengatakan bahwa ‘nona mudanya’ ini bisa saja menghabisi nyawanya kapan saja yang dia inginkan.


“Mary? Apa kau mendengarku?”


Mendengar suara nona mudanya, Mary seketika menundukan kepalanya untuk menatap Thalia yang sedang duduk manis sambil menikmati puding mangganya.


Mata biru peraknya terbuka lebar, menatap manik coklatnya dengan polos. Tatapan yang tidak pernah dia dapatkan dari nona mudanya yang selalu menghindari sorot matanya.


Mary menggigit bibirnya, “M-maafkan saya nona, ada hal…yang mengusik pikiran saya tadi,uhm, a-apa nona bisa mengulanginya lagi?”


“Hm, baiklah. Aku tadi bertanya,” dia melahap potongan puding,  “apa yang kau ketahui tentang Pangeran Noah? Apa dia seumuran denganku?”


Mary memalingkan wajahnya dari Alianora.


“Ah? Uhm, s-saya tidak tahu pasti tapi sepertinya iya…selain Yang Mulia Pangeran Roberto, saya belum pernah melihat potret wajah Pangeran Noah sebelumnya, jadi kemungkinan beliau belum melakukan debutnya.”


“Hm, masuk akal juga. Bagaimana tentang rumor-rumor disekitarnya?”


“S-saya tidak banyak mendengar rumor tentang Yang Mulia Pangeran Kedua selain mengetahui bahwa beliau membenci pergaulan kelas atas.” Jawab Mary sambil menunduk, tidak berani menatap wajah nona mudanya.


Mary tidak tahu apa yang saat ini diinginkan nona mudanya, atau bukan, untuk menanyakan perihal keluarga kerajaan, terutama tentang pangeran kedua yang tidak terkenal. Diam-diam, Mary menjadi gugup, kalau orang di dalam tubuh nonanya ini merupakan orang yang berniat jahat, maka mungkin saja alasan dia menanyakan perihal keluarga kerajaan ada hubungannya dengan tujuannya. Mungkin saja orang ini berniat untuk...menghancurkan Kerajaan Agris?


Lalu jika dia menolak untuk membantunya, apa yang akan dilakukan orang ini padanya? Bagaimana nasibnya nanti?


“Hm, Mary, apa yang sebenarnya kau pikirkan? Wajahmu terlihat sedikit tegang. Ada apa?” suara Alianora terdengar seperti seseorang yang sedang mengkhawatirkan orang lain, tapi di telinga Mary, suara itu sampai membuat bulu badannya berdiri.


Mary dengan cepat menggeleng, “B-bukan apa-apa, uhm, nona. Saya, saya mungkin hanya sedikit kecapekan.”


Alianora kembali memberi tatapan diam pada Mary. Dia melihat sosok Mary yang seperti tikus basah yang pura-pura tegar dihadapan kucing, Alianora sudah tidak tahan lagi.


Memang dia akui, tingkahnya tadi pagi itu sedikit kasar, itu karena dia terbawa emosi sesaat. Habisnya, pelayan muda didepannya ini saat itu lebih tidak tahu diri dari yang dia bayangkan, jadi dia kelepasan saja.


Ya, kalau dia masih Dewi Alianora yang jahat, mungkin dia tidak sepeduli ini dengan apa yang orang lain rasakan tentang dirinya, tapi sekarang dia hanya seorang anak kecil biasa, dan untuk membuat orang lain takut secara berlebihan itu bukan tujuannya. Untuk sekarang.


Selain itu, Mary adalah pelayannnya, daripada menjadikan dia musuh, lebih baik Alianora memancingnya agar menjadi bawahan yang setia. Tidak ada salahnya mencari kawan mulai dari sekarang, itu karena dia tahu kalau untuk kedepannya, jika dia ingin main aman, dia pastinya tidak bisa melakukan rencananya sendiri, untuk itu dia harus membutuhkan bawahan yang banyak yang bisa membantunya, dan mungkin Mary adalah salah satu orangnya.


Lagipula, ketika dia lihat-lihat lagi, terlepas dari sikapnya yang tidak tahu diri tadi, Mary kemungkinan adalah orang yang menurutnya pas untuk jadi bawahannya.


Dengan wajah yang masih menyiratkan sebuah senyum tipis, Alianora merespon, “Oya? Kalau begitu kau benar-benar kecapekan sekali hingga membuat wajahmu pucat pasi dan berkeringat seperti habis melihat hantu. Sebagai majikan, aku harusnya menyadari dari awal, apa kereta makananku terlalu berat, hm?”


Keringat di dahinya yang seperti air hujan, menetes cepat dan mengalir melalui dagunya. Tubuhnya terguncang, buku-buku jarinya terasa sedingin es dalam genggamannya. Jantungnya serasa ingin meloncat dari rongga dadanya. Ketakutan dalam dada yang dia tahan, telah memuncak.


Mary tidak berani mengangkat kepala, dia merasa bila dia melihat barang sedikit saja ke arah orang atau sosok di depannya ini, dia pasti akan menangis.


“S-saya…saya….”


“Oke, aku mengerti. Mary, apakah kau perlu setakut ini denganku?”


“A-ah! S-saya, bukan maksut saya-”


“Kau tidak perlu takut. Aku sudah bilangkan, meskipun aku ini bukan Thalia yang asli, aku bukan orang jahat yang memiliki maksut tersembunyi. Aku tidak akan melakukan hal-hal berbahaya, itu terlalu merepotkan.” Alianora bersenandung kecil, memuji kelezatan puding mangga yang meleleh di mulutnya sebagai sesuatu yang belum pernah dia raskan sebelumnya.


Alianora memang bertekad untuk mengubur rahasia tentang identitas aslinya dalam-dalam, namun dia tidak bisa menguburnya sendirian, tidak, dia bisa tapi dia memilih untuk tidak melakukannya. Itu karena dia merasa bahwa setelah ini sebagian besar waktu dalam hidupnya akan dia gunakan untuk menghadapi publik sebagai Thalia, otomatis dia akan selalu mengenakan topeng, dan pastinya itu sangat menguras energi. Dia membutuhkan waktu untuk menjadi dirinya sendiri, dan karena itu dia butuh orang-orang yang kelihatannya bisa dipercaya untuk berada di sisinya, Mary adalah salah satu kandidatnya, da firasatnya tidak pernah salah.


“Lagipula, kau adalah tangan kananku. Aku tidak akan pernah memperlakukan bawahanku dengan buruk, percayalah, selama mereka tidak mengkhianatiku, aku tidak akan menyakiti mereka. Jadi kau tenanglah.”


Setiap kata yang terlontar dari mulut Alianora semuanya lembut dan penuh sentuhan kebaikan. Mendengar ini, tubuh Mary perlahan berhenti bergetar dan perasaannya agak tenang. Dia memberanikan diri untuk menengok wajah nona mudanya yang menatapnya dengan senyum ramah.


Melihat itu, Mary merasa kegugupannya mulai sirna, dia mengangguk sebelum menjawab.


“B-baik, nona.”


Meskipun rasa takutnya belum sepenuhnya menghilang, dan masih ada sedikit keraguan dalam hati Mary, dia tidak punya pilihan lain selain mencoba melupakannya untuk sementara waktu. Dia memilih untuk percaya pada penglihatannya sekarang, bahwa siapapun yang ada dalam tubuh nona mudanya, tidak membahayakan seperti yang dia kira.


Bila orang itu tidak ingin dia bersikap terlalu was-was, maka itu yang akan dia lakukan. Semua yang dia perintahkan akan sepenuhnya dan sebisanya Mary turuti, dia tidak akan cukup berani untuk mencoba keberuntungannya dengan bertindak melawan orang ini. Jika dia sampai melakukan itu, siapa tahu apa yang akan dilakukan oleh ‘nona mudanya’ ini kepadanya, dan tidak akan ada yang bisa menolongnya. Tidak akan ada yang mau.


Maka mulai sekarang, dia akan berjalan mengikuti arus saja, tetapi tetap waspada.


“Iya begitu. Bicaralah santai saja, selama kau tidak melakukan apa yang kau lakukan pagi ini padaku, aku tidak akan marah.”


Wajah Mary langsung berubah pucat kembali.


“A-ah! A-ampuni saya nona! Saya, saya sudah lancang-”

__ADS_1


“Hn, Sudah cukup. Lebih baik sekarang kita kembali pada topik sebelumnya. Masih banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu.”


Mary harus terus berjuang agar bisa terus berada di sisi ‘nona mudanya’ ini.


__ADS_2