Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke

Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke
Chapter 30 : Kecurigaan


__ADS_3

"Nona, bagaimana dengan koleksi terbaru yang keluar musim semi ini, apa Anda tidak ingin melihatnya dulu?"


Alianora yang saat itu sedang melihat beberapa buku desain di depannya, hanya menoleh sedikit dan langsung merasa tidak tertarik sama sekali.


Alianora langsung memalingkan wajahnya ke arah sang desainer, untuk mendorong kembali buku tebal itu ke arahnya, sambil berkata dengan senyum, "Maaf, sepertinya saya masih ingin lihat yang lain."


Namun desainer itu tidak menyerah, dia kembali membawa buku desain yang lain ke hadapan Alianora.


"Kalau yang ini nona? Ini adalah koleksi terbatas kami, sangat populer di kalangan remaja bangsawan seperti Anda, nona."


"Maaf, apakah masih ada yang lain?"


"Bagaimana kalau ini? Koleksi terpopuler kami?


"Maaf, kalau yang lain?"


"Um, yang ini, nona?


"Maaf, yang lainnya?


Lalu, desainer itu kembali membawa koleksi-koleksi lainnya kehadapan Alianora, begitu terus sampai Alianora merasa bosan.


Kira-kira ada empat puluh lima menit sejak kedatangannya di kamar duchess untuk melihat-lihat baju, mungkin ada lima kali Alianora berkata seperti itu, namun baju-baju yang dia lihat semuanya sama, dan itu semua membuat matanya sedikit ngilu.


Entah ini sengaja atau tidak, tapi Alianora mulai beranggapan mungkin duchess sengaja melakukan ini agar Alianora mulai capek dan tidak jadi beli baju, agar nanti dia bisa bilang, "Oh itu salahmu, siapa suruh punya selera yang terlalu tinggi, maka tahu dirilah!"


Memang itu agak kekanak-kanakan dan mustahil jika dipikir dengan logika, namun Alianora sudah tidak tahan lagi. Batin dan pikirannya begitu lelah melihat baju-baju yang tak bermodel dihadapannya ini.


Dia sampai meragukan selera manusia zaman sekarang, apakah jatuh serendah itu?


Alianora mengerti, bahwa memang kadang baju itu disesuaikan dengan gender, tapi bagaimana bisa semua gaun-gaun mahal didepannya ini semuanya berwarna merah muda terang, kalau tidak merah mencolok, putih, atau biru muda yang norak. Dia tidak habis pikir.


Ditambah lagi, semua gaun gaun itu tidak memiliki desain yang simpel, semuanya memiliki pola rumit dengan permata sebesar koin logam warna-warni, dan juga renda-renda yang menutupi hampir semua bagian baju, Alianora hanya berpikir satu hal, bahwa dia tidak akan pernah memakai baju yang akan membunuhnya itu.


"Apakah, kau masih belum menemukan yang kau suka?"


Annabeth menaruh cangkir tehnya di atas meja, sambil menoleh ke arah Alianora yang duduk di sofa panjang di sebelahnya. Nada suaranya sedikit ketus, dan Alianora tahu kalau wanita yang selalu tidak sabar padanya ini, mulai kehabisan seluruh kesabarannya untuknya. Tapi Alianora pura-pura tidak sadar saja, siapa suru dia mengundang Alianora dari awal?


"Ah, belum ibu. Sepertinya, masih belum ada yang cocok untuk saya."


Hah, kau pikir aku mau pakai sampah ini didepan umum? Kalau kau mau, pakai saja sendiri, aku tidak!


"Haa, kalau begitu cepatlah, jangan terlalu banyak memilih."


Alianora tersenyum.


"Baik ibu, sedikit lagi."


Tch, makanya jangan memanggil desainer jelek begini. Membuang waktuku saja.


Menampilkan gaun-gaun seperti ini, Alianora yakin pasti mata bangsawan-bangsawan di negeri ini begitu buta sehingga mereka mau memakainya.

__ADS_1


Kalau ujung-ujungnya gaun baru yang seharusnya dia pakai seperti ini? Mending Alianora memakai gaun lama Thalia yang usang, itu terlihat lebih baik.


Memalukan, dan apa desainer itu bilang tadi? Gaun-gaun ini yang sedang populer sekarang? Apa dunia benar-benar terbalik?


Bila Estelle kemarin membeli gaun di sini, dan dia membeli gaun-gaun 'populer' seperti ini, Alianora hanya bisa membayangkan betapa menjijikannya Estelle akan terlihat nanti.


Dalam pangkuannya, Alianora terus membalik halaman demi halaman buku desain itu. Beragam pola-pola gaun yang norak dia lewati tanpa tunggu-tunggu, itu membuat suara nyaring 'srak!srak!' memenuhi ruangan, sampai wajah desainer muda itu sedikit mengeluarkan keringat.


Lalu, sampailah Alianora pada laman terakhir buku tersebut dan dia tetap saja kecewa.


Haa, sepertinya di sini juga sama dekilnya. Ah, sudah cukup, lebih baik aku pakai saja gaun yang ada dilemari, toh sama saja, dari pada berlama-lama disini, kepalaku jadi tambah pusing.


Alianora hendak menutup buku itu, namun sebuah desain gaun di pojok halaman, mengambil perhatiannya. Dia memerhatikan desain gaun itu sebentar yang hanya merupakan garis-garis kasar yang belum diberi detail dan warna, gambarnya juga kecil dan sepertinya merupakan desain yang tidak jadi.


Desainer muda itu menatap Alianora dengan bingung, lalu mengikuti arah pandang Alianora ke pola desain itu, seketika matanya melebar dan mengambil buku itu dari tangan Alianora untuk mendekapnya erat-erat.


Dengan wajah yang memerah, desainer itu berbicara sambil terbata-bata, "N-nona, uhm, itu, anu, d-desain itu, desain itu belum jadi, nona!"


Namun Alianora seperti menemukan secerca cahaya dalam kegelapan. Menurutnya, alih-alih belum jadi, desain itu malah seratus kali lipat lebih bagus dari ratusan desain yang dia lihat sejak tadi.


Tentu saja, Alianora tidak akan membiarkan gaun bagus itu lolos dari hadapannya begitu saja, meski ekspresi desainer didepannya seperti hendak menangis.


"Belum jadi? Tapi sejauh yang kulihat, itu sudah pas. Aku mau yang itu."


"T-tapi, nona, ini, ini desainnya di-dibuat oleh desainer kami yang, yang belum berpengalaman, nona."


Alianora menatap sosok desainer didepannya yang terlihat kasihan itu dengan tatapan datar. Menurutnya, gaun yang norak dan tidak bermodel itulah yang didesain oleh desainer amatiran, dan gaun yang dia pilih ini di desain oleh desainer profesional.


Annabeth melirik Alianora, "Terserah kau saja, yang penting cepat dan jangan buang waktu lagi."


Seharusnya aku yang bilang begitu padamu!


"N-nona...."


"Pestanya masih satu minggu lagi, pasti kamu bisa membuatnya tepat waktu kan?"


Alianora tersenyum puas akan penemuannya. Dia senang akhirnya bisa mendapatkan gaun yang tidak hanya cocok, namun bagus juga.


Dengan ini, dia tidak perlu menginjak harga dirinya karena menggunakan gaun usang, atau mempermalukan mukanya karena memakai gaun norak yang membuatnya muntah.


*******


Setelah dia selesai memilih gaun, Alianora baru sadar kalau dia kira-kira menghabiskan waktu kurang lebih satu jam-an, jadi dari kamar duchess, dia harus buru-buru menuju perpustakaan untuk memulai kelas teologinya.


Untunglah ketika dia sampai di perpustakaan, Kardinal Luxio juga baru tiba, dan hanya memberinya senyuman hangat. Kelaspun berlangsung seperti biasa.


Dari kelas teologi, Alianora hanya memiliki waktu satu jam sampai Marchioness Rocheleau tiba, dan memulai pelajaran dansanya. Dengan waktu sesingkat itu, Alianora hanya sempat untuk sarapan sebentar, sebelum kembali sibuk.


Untunglah dia sedikit terhibur dengan gaun barunya tadi pagi, tapi tetap saja dia tetap saja merasa penat.


Alianora tidak bisa untuk tidak mengeluh, apalagi kehidupanya sejak dulu tidak pernah disibukan sampai seperti ini.

__ADS_1


Sejak alur takdir tidak lagi sama, semuanya jadi diluar kendali, itu membuatnya lelah untuk memikirkan bagaimana cara mengontrolnya. Tapi apalah yang bisa dia lakukan selain menjalaninya?


"Mary, bagaimana? Apa sudah ada balasan?"


Mary yang saat itu sedang membereskan piring makan Alianora hanya menggeleng.


"Belum, nona. Tadi malam saya tidak melihatnya."


Alianora memutar matanya, dan menghela nafas, sambil memakan puding mangganya dengan malas di meja makan.


"Hah, masih belum juga ya? Tch, entah apa yang orang itu lakukan. Sudahlah Mary, terus pantau saja ya."


Sudah empat hari sejak dia mengirim surat kepada Archmage Othima, tapi masih belum ada kabar apa-apa. Jelas, ini semakin membuat Alianora terburu-buru.


Dia tidak bisa melupakan bagaimana wajah para pendeta itu di ruangan Kalisto waktu itu, pokoknya dia sangat tidak ingin mengikuti keinginan mereka semua.


Jika dia terlambat, maka semuanya akan berakhir.


Alianora sama sekali tidak memiliki firasat baik tentang itu.


Semakin hari, Alianora semakin merasakan ada sesuatu yang aneh dengan itu semua.


Semuanya betul-betul salah, namun dia masih tidak bisa menyebutkan dimana kesalahannya.


Katedral, tidak, gereja, sepertinya ada sesuatu yang tidak beres di sana, tapi sejauh ini, dia masih belum menemukan hal-hak ganjil dengan gereja.


Alianora tidak akan menurunkan kewaspadaanya.


Dalam tiga kematian Thalia, tiga-tiganya itu di dukung oleh gereja, namun mengapa demikian?


Jika Thalia adalah Jiwa Apostle, sebagai gereja, mereka harusnya melindunginya, tapi kenapa?


Apa yang dilakukan tokoh tertinggi gereja saat itu, Pope Galatea lakukan?


Sekarang saat dipikir-pikir lagi, kenapa saat itu yang menjatuhkan hukuman pada Thalia dan keluarganya adalah Kardinal 'itu', bukan Pope Galatea? Bukankah hukuman sebesar itu harus di sahkan olehnya?


"Dimana dia?"


Alianora bergumam pada dirinya sendiri sambil menyantap puding mangganya.


"Nona, sebentar lagi Marchioness Rocheleau akan tiba. Apa Anda tidak ingin bersiap-siap dulu?"


Suara Mary membangunkan Alianora dari lamunannya yang panjang, dan dia langsung tersenyum.


Benar juga, dia lebih sering mengkhawatirkan sesuatu yangbelum tentu terjadi di masa depan, sampai melupakan kalau sebentar lagi, kepalanya akan kembali sakit.


Entah itu rumor atau bukan, Marchioness Rocheleau sepertinya orang yang sedikit esentrik, tapi Alianora tetap berharap kalau dia orang yang tidak seperti itu.


Sebaiknya dia mempersiapkan mental dan kesabaran saja.


Ah,kira-kira bagaimana kelas dansa pertamanya nanti akan dimulai?

__ADS_1


__ADS_2