
Malam itu setelah selesai makan malam, Alianora kembali ke kamarnya untuk memikirkan tentang pertemuannya besok dengan Archmage Othima. Apa yang kiranya harus dia persiapkan, barang kali sesuatu yang tidak di sangka-sangka akan muncul besok. Setidaknya dia sudah harus mempersiapkan diri.
Dalam hati Alianora sedikit cemas untuk bertemu dengan tokoh yang sama sekali tidak dikenalnya.
Biasanya, bila dia ingin bertemu orang baru, dia tidak pernah kaget atau takut, karena dia merasa itu tidak perlu.
Walaupun dia tahu, bahwa demi menjaga reputasi Thalia, dan untuk menjaga agar identitasnya sendiri tidak terbongkar, Alianora harus ekstra hati-hati ketika bertemu dengan orang baru, dan berkat ingatan Thalia yang sangat jelas, Alianora sudah bisa menebak kira-kira orang-orang yang akan dia temui itu karakteristiknya kurang lebih seperti apa, dan apa yang mungkin mereka lakukan padanya .
Apalagi bila mereka adalah orang-orang yang gampang ditebak isi otaknya, katakan saja seperti Michelle dan teman-temannya, Alianora tidak perlu susah-susah memikirkan cara untuk mengatasi mereka, ambil saja cara yang simpel dan semua beres.
Tapi kali ini sedikit berbeda. Orang yang akan dia temui kali ini sama sekali asing baginya, bahkan dalam tiga kehidupan, Thalia sama sekali tidak pernah berurusan, maupun hanya sekedar berpapasan dengan orang ini di jalan. Jadi, Alianora sama sekali tidak bisa membayangkan apa yang ada dalam pikirannya. Contohnya saja, Alianora masih tidak paham apa yang orang ini, Archmage Othima, rencanakan dengan membuat sebuah pertemuan denganya? Apa yang ingin dia dapatkan dari 'Thalia'?
Sungguh sesuatu yang sangat acak sekali.
Dari kursi mejanya, Alianora memijiti pangkal hidungnya untuk meredakan sedikit sakit kepalanya.
Ah, hidup sebagai bangsawan dengan segala drama dan aturan sana-sini memang betul-betul menguras tenaganya.
Dari kursinya, Alianora membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah amplop. Amplop merah maroon dengan logo huruf kaligrafi 'A' dibelakangnya. 'Surat Panggilan'. Alis Alianora bertaut ketika dia membaca kembali isi surat didalamnya.
Menurut apa yang ditulis dalam surat ini, Alianora dapat menyimpulkan dua kemungkinan.
Kemungkinan pertama, adalah kalau Archmage Othima ini sudah tahu pasti tentang identitasnya, dan juga tentang masalah pada tubuhnya ini. Jika ini benar, maka Alianora tidak berniat untuk menyangkalnya dimuka orang itu, malah dia akan berusaha untuk membawa orang itu ke sisinya.
Dia yakin, Archmage Othima ini orang yang pintar dan kalkulatif, layaknya archmage-archmage yang dia tahu dulu. Tidak mungkin bagi seorang archmahmge untuk melakukan sesuatu tanpa ada maksud, dan dengan merencanakan sebuah pertemuan pribadi dengan Alianora, terlepas dari fakta bahwa dia mengetahui identitas asli 'Thalia', berarti ada sesuatu yang dia inginkan dari Alianora.
Maksutnya, jika dia ingin membeberkan identitas Alianora dari awal, untuk apa dia susah-susah memasukan mantra ke dalam amplop surat, yang membuat surat itu hanya bisa terbaca oleh Alianora? Dia bisa saja langsung mengirim surat ke Kalisto, atau membuat konferensi bersama pendeta-pendeta untuk menyusun rencana demi menyingkirkan Alianora.
Karena itu, Alianora berniat untuk mencari tahu apa yang archmage itu inginkan darinya, lalu membuat sebuah kontrak, bahwa dia akan senantiasa memberikan apa yang archmage itu minta, dengan syarat, archmage itu harus menjadi sekutunya selamanya dan berjanji untuk tidak mengkhianatinya. Bila perlu dia akan melakukan kontrak darah dengannya.
Alianora tahu ini sedikit beresiko tergantung permintaan yang akan diajukan oleh archmage itu, namun setelah dipikir-pikir lagi, kemungkinan archmage itu akan memintanya untuk melakukan sesuatu. Mengabulkan permintaan, membalas dendam, membunuh, apapun itu jelas bisa dikabulkan oleh dewi sepertinya. Lagipula, permintaan yang tidak masuk akal sekalipun seperti, menyelamatkan manusia ini masih bisa dia kabulkan, kan?
Lalu untuk kemungkinan kedua, ini mungkin kemungkinan yang menurutnya tidak mungkin dilakukan oleh seorang archmage, sebab bagi Alianora, tidak mungkin seorang archmage melakukan hal sebodoh ini.
Tapi karena Alianora juga tidak bisa membaca masa depan, dia tidak tahu kemungkinan apa saja yang akan terjadi, jadi tidak ada salahnya jika dia mempertimbangkan yang ini juga. Jadi, menurutnya, sebenarnya Archmage Othima ini tidak tahu pasti tentang identitasnya.
Dia sepertinya tahu bahwa jiwa yang ada dalam tubuh Thalia bukanlah jiwa Thalia saja, tapi dia tidak tahu bahwa jiwa Alianora juga ada di dalamnya. Mungkin karena ini, archmage itu sengaja mengumpan Alianora dengan mengatakan bahwa dia tahu apa yang Alianora cari sebenarnya, tapi sebenarnya dia tidak tahu apa-apa. Mungkin saja, dia tidak sengaja berpapasan atau melihat Alianora yang sedang sibuk di perlustakaan waktu itu, jadi dia bisa berpura-pura seperti itu. Tapi tentu saja, ini tidak mungkin kan?
Iya, kemungkinan yang kedua ini tidak mungkin terjadi. Jadi lupakan saja, mari fokus ke kemungkinan pertama.
"Oke, masalah selesai. Tinggal tunggu besok sa-hoaamm."
Alianora menguap dan meregangkan tubuhnya yang pegal di atas kursi. Pandangannya menyapu jam di mejanya yang sudah menunjukan pukul 10 malam.
"Huh, padahal baru jam 10 tapi aku sudah ngantuk saja. Haa...."
__ADS_1
Pasti karena dia terlalu banyak menghabiskan waktu di perpustakaan siang tadi. Biar bagaimanapun, tubuh yang sekarang dia gunakan adalah tubuh anak kecil berumur 10 tahun.
"Waktunya anak kecil untuk tidur. Sisanya biar dipikir besok saja, hm?"
Alianora beranjak dari kursinya, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya yang empuk. Saat kepalanya menyentuh bantal, matanya langsung terasa berat. Rasanya dalam hitungan detik dia akan dibawa ke alam mimpi.
Ah, sekarang kalau di pikir-pikir, aku tidak melihat si bocah Estelle itu, padahal aku sudah menebak bahwa dia akan datang untuk bertanya macam-macam.
Kelakuan Estelle akhir-akhir ini juga membuat Alianora kepikiran. Semakin hari adiknya itu semakin aneh saja, kadang menunjukan hal yang tidak bisa dia tebak. Seperti tadi ketika dia melihat surat itu. Dia jelas sudah tahu kalau itu dari Aethergarde, tapi kenapa dia masih kaget?
Namun, Alianora tidak akan memikirkannya malam ini. Dia sudah terlalu lelah untuk melakukannya.
Ah, kapan kiranya dia terakhir kali merasa kan perasaan mortal seperti ini? 500 tahun? 1000 tahun lalu? Dia tidak bisa untuk tidak mendapati hal itu lucu, dan terus membayangkanya sampai dia terlelap.
...*****...
Keesokan paginya, Alianora kembali dibangunkan oleh Mary seperti biasa. Tanpa disangka tidur malamnya cukup menyegarkan, sehingga dia bisa bangun pagi tepat waktu, tanpa kehilangan semua yang telah dia pikirkan tadi malam.
Saatnya dia bersiap-siap untuk menuju medan perang, nanti.
"Nona, baju apa yang Anda ingin kenakan hari ini?"
Alianora memandangi lemari pakaian yang terbuka lebar didepannya. Dress-dress yang ada didalamnya tidak terlalu banyak, dan warnanya sudah kebanyakan memudar.
"Mary, yang ini saja, ya."
Mary mengambil dress biru tua itu dan segera membantu Alianora mengenakannya.
Setelah selesai, Alianora melihat penampilannya di cermin.
Dress biru tua selutut dengan lengan panjang berwarna putih terlihat cocok dengan warna kulitnya yang putih porselen. Pita biru tua dan putih yang mengikat kerah bajunya, aksesoris topi baret dengan warna senada yang menghiasi rambut peraknya yang digerai, serta kaos kaki panjang berenda dan sepatu, meski penampilannya sederhana dan aksesoris yang dia pakai juga sudah terlihat usang, tapi refleksinya dicermin masih terlihat seperti boneka.
Alianora memang bukan penggemar sesuatu yang lucu begini, tapi tetap saja dia bersyukur setidaknya masih memiliki wajah yang cantik.
"Hm, baiklah sudah cukup. Ayo Mary, saatnya berangkat."
Perjalanan ke Aethergarde tidak selama perjalanan dari Sheridan ke ibu kota, Aghrian. Ini karena, Akademi Aethergarde itu berada di Kota Vale, yang terletak tepat diantara Kota Aghrian dan Kota Sheridan. Hanya butuh satu jam saja dan Alianora sudah bisa tiba di gerbang luar Aethergarde. Untunglah sebelum berangkat, Kalisto dan Annabeth tidak memperlambatnya. Mereka hanya duduk makan di meja, seperti biasa, mengabaikannya, paling-paling Kalisto hanya berpesan agar Alianora mengurusi urusannya dengan baik dan jangan sampai berbuat ulah dan menjadi masalah besar. Alianora hanya mengiyakan, dan langsung pergi begitu saja bersama Mary.
Selama duduk di kereta, Alianora dan Mary tidak bicara banyak. Alianora kebanyakan fokus memikirkan kira-kira Archmage Othima yang akan dia temui itu akan menanyakan hal apa saja padanya, nanti. Sedangkan Mary, yang duduk didepan Alianora, hanya memandangi nonanya dengan bingung dan sedikit khawatir.
"Nona, apakah nanti nona akan baik-baik saja di sana?"
Alianora beralih pandang ke arah Mary, lalu tersenyum dengan percaya diri.
"Tenang saja, Mary. Memang apa yang bisa dilakukan archmage itu padaku?"
__ADS_1
Mary menggeleng pelan, keningnya masih mengkerut, "Tapi, nona, Archmage Othima adalah sosok yang sangat penting di Aethergarde. Jika beliau sampai memberikan surat panggilan secara khusus bagi Anda, dan juga-"
"Tenanglah, Mary. Aku sudah mempersiapkan segala sesuatu, dan jika ada sesuatu yang tidak di sangka, muncul, maka aku sudah siap."
Daripada gugup sekarang, Alianora lebih merasa tidak sabar untuk bertemu dengan Archmage itu. Dia ingin cepat-cepat mengajak archmage itu bergabung bersama, dan jika dia berhasil maka, tujuannya akan semakin mudah dia capai. Lagipula, dengan adanya archmage tersohor dalam timnya, Alianora juga bisa semakin leluasa untuk bergerak dengan memanfaatkan reputasi archmage itu. Lumayan, kan?
Jadi ketika, Alianora sudah tiba di depan gerbang Aethergarde, dia sudah langsung semangat. Segera dia menuju ke bagian pengawas, untuk menunjukan surat yang dia terima dan menyebutkan identitasnya.
Pengawas itu lalu mengarahkannya ke sebuah gedung lain yang berada disebelah gedung utama akademi. Gedung itu lumayan besar, terlihat seperti sebuah mansion mewah, dan tingginya sekitar tiga tingkat. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan gedung utama akademi, gedung ini sama sekali tidak ada artinya.
Alianora melangkah masuk ke dalam, dan seketika di sambut oleh berbagai macam barang-barang aneh yang memenuhi ruangan itu. Mulai dari berbagai macam kepala hewan yang menggantung, cairan warna-warni di rak-rak, tangan manusia yang di letakan dalam tabung kaca, sepasang bola mata, dan masih banyak lagi.
Alianora hanya melihatnya dengan tatapan jijik.
Apa harus kukatakan, 'seperti yang diharapkan dari rumah seorang archmage'?
Untunglah ada seorang butler yang bertugas di rumah itu, yang mengantar Alianora ke ruang kerja Archmage Othima, sehingga dia tidak perlu berlama-lama berada di lantai bawah.
"Kita sudah sampai, nona. Ini adalah ruang kerja Master Othima. Saat ini, Master Othima sedang menanti Anda di dalam. Harap tunggu sebentar, nona."
kata butler itu sembari membungkuk di hadapan Alianora, lalu mengetuk pintu kayu besar berukiran emas didepannya.
Tok.Tok.Tok.
"Permisi, tuan, mohon maaf mengganggu. Nona Thalia La Sheridan sudah tiba di sini."
Dan suara seorang pria dari dalam pun terdengar.
"Oh, benarkah? Suruh dia masuk."
"Baik, tuan. Nona Thalia, Anda sudah boleh masuk sekarang. Silahkan, nona."
Alianora menonton ketika butler itu membuka pintu perlahan. Samar-samar gambaran sebuah ruangan kerja simpel terpampang didepannya. Beberapa rak buku ada di sisi kanan dan kiri ruangan dengan lantai kayu yang beralaskan karpet merah. Didepannya ada sepasang sofa yang di letakan berhadapan, dan ditengahnya terdapat sebuah meja kaca pendek.
Alianora mendapati ruangan itu, anehnya, terlihat normal-normal saja. Seperti milik bangsawan pada umumnya.
Lalu pandangan Alianora pun beralih ke arah sosok yang sedang duduk di kursi di belakang meja, tepat lurus didepannya. Sosok seorang pria berusia 20-an dengan rambut ungu gelapnya yang pucat disisir rapi sebahu. Manik emasnya menatap lurus ke arah Alianora, dari balik monocle nya.
Alianora yang melihat itu hanya bisa terkejut sambil membelalakan mata. Sebuah ingatan langsung terukang dalam benaknya.
Orang ini...bukannya...yang waktu itu...?
Namun pria itu, seakan puas dengan reaksi Alianora, berdiri dari tempat duduknya, lalu memberi Alianora senyum tipis.
"Selamat pagi, Nona Thalia La Sheridan. Terima kasih telah datang tepat waktu, memenuhi panggilan saya pada pagi hari ini. Seperti yang sudah saya cantumkan dalam surat itu, saya pikir kita akan mendiskusikan banyak hal, namun sebelum itu, biarkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Perkenalkan, nama saya Othima Suchenteau, pemimpin Akademi Aethergarde, meski kali ini bukan kali pertama kita bertemu tapi, salam kenal."
__ADS_1