Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke

Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke
Chapter 23 : Gudang Peralatan Pelatihan


__ADS_3

Alianora berjalan menyusuri jalan setapak di sebelah area pelatihan. Sesekali dia menoleh ke samping, ke arah jalan masuknya tadi untuk mengecek apakah Sir Gallahan dan Estelle sudah tiba atau belum.


Setelah melihat bahwa area pelatihan yang tadi masih kosong, Alianora melanjutkan jalannya.


“Aku masih tidak mengerti.”


Alianora melihat kedepan, tepat ke arah bocah laki-laki yang saat ini sedang memimpinnya berjalan.


“Hm?


Eathen melirik Alianora, mata tanzanite nya


“Kau itu bodoh atau apa?”


“Hah?”


“Kau pikir dengan mengadukanku ke ayah, akan membuatku menurutimu?”


“Heh, buktinya kau disini sekarang, bukan?”


Alianora melangkah satu-dua langkah lebih cepat untuk bisa berjalan di samping Eathen  yang hanya meliriknya tajam.


Alih-alih Alianora takut melihat wajah Eathen yang seperti akan makan orang, dia malah mendapati itu sedikit lucu.


Mau dilihat dari sisi manapun, wajah imut-imut dari bocah itu sama sekali tidak memberi efek pada Alianora.


“Aku di sini karena aku kasihan pada putri duke payah yang tidak tahu area rumahnya sendiri. Nanti kalau kau hilang, malah aku yang disuruh tanggung jawab.”


Eathen memasang raut wajah menyindir ke arah Alianora yang hanya tersenyum.


“Hm, aku tidak sebodoh itu untuk hilang di rumah sendiri. Meskipun aku tidak tahu jalan, aku bisa mencari-cari sendiri sampai ketemu.”


“Lalu kenapa kau tidak pergi sendiri saja dari awal?”


Eathen memberhentikan langkahnya, lalu berbalik menghadap Alianora. Kedua alisnya semakin menukik tajam kebawah.


Namun Alianora hanya melangkah selangkah mendekati Eathen, sambil mengulurkan jarinya untuk memencet ujung hidung Eathen dengan lembut.


“Itu karena, aku bisa menghemat waktu jika bersamamu. Bocah.”


Setelah puas melihat wajah terkejut Eathen yang terlihat makin lucu, Alianora kemudian berbalik untuk kembali berjalan.


Di sisi lain, Eathen yang masih tidak bisa berkata-kata hanya diam ditempat untuk sementara sambil memandangi punggung gadis kecil didepannya yang semakin menjauh.


Dia menyentuh area hidungnya yang tadi habis di pencet, sambil bergumam,


“Tch, apa-apaan itu tadi? Dasar wanita aneh.”


Eathen pun kembali berjalan cepat untuk menyusul Alianora yang sudah memanggilnya dari depan.


Setelah berjalan beberapa langkah kemudian, Eathen dan Alianora sampai didepan sebuah bangunan kecil yang terbuat dari kayu. Meski terbuat dari kayu, bangunan itu cukup luas dan kokoh. Alianora langsung menarik gagang pintu didepannya, dan langsung disambut oleh aroma kayu dan besi di udara.


Didepannya, ada beberapa deret lemari kayu yang setiap raknya ada berbagai macam box berisi berbagai macam senjata, ada pedang kayu dan besi, anak panah dan busur yang berbeda-beda, tombak-tombak, dan lainnya.


Di samping lemari-lemari itu ada beberapa boneka jerami, papan bidik, dan juga boneka kayu yang digunakan sebagai target untuk latihan.


Alianora yang melihat itu hanya bisa kagum dengan kelengkapan peralatan latihan Keluarga Sheridan. Ini sudah seperti gudang senjata dari pada gudang peralatan latihan.


“Sudah? Sudah puas lihat-lihatnya? Kalau sudah ayo kembali.”


Eathen menyandarkan bahunya ke pintu, dan memangku tangannya sambil melihat lurus ke arah Alianora didepannya yang sudah beranjak mendekati tumpukan pedang-pedang.


“Hah? Tentu saja aku ke sini bukan cuma melihat-lihat.”

__ADS_1


Alianora melihat-lihat beberapa box pedang pada rak di atasnya, untuk mencari pedang yang dia inginkan.


“Kalau begitu, apa yang mau kau lakukan?”


Tanya Eathen dengan sedikit curiga.


“Hm? Oh, aku akan menentukan pedang mana yang cocok untukku.”


“Hah? Untuk apa kau melakukan itu?"


“Berlatih pedang, tentu saja. Apa lagi?”


Raut wajah Eathen seketika berubah dari curiga, menjadi terkejut, kemudian jadi bingung. Dari awal dia sudah heran dengan tingkah gadis yang harusnya Nona Thalia ini. Dia tidak seperti yang ada di rumor-rumor yang biasa Eathen dengar.


Dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Seorang putri angkat Duke Sheridan yang terkenal tertutup, lemah, dan kikuk itu barusan bilang kalau dia mau berlatih pedang? Apa dia tidak salah dengar?


Apa orang didepannya ini sungguhan Nona Thalia yang ‘itu’?


“Kau mau berlatih pedang? Kenapa?”


Alianora memberikan pandangan yang berkata ‘hah, tentu saja’ pada Eathen.


“Ya, itu karena aku merasa tubuhku ini lemah. Jadi aku ingin belajar sesuatu agar bisa melindungi diri sendiri. Lagipula, hal yang normal kan untuk putri bangsawan belajar pedang?”


“Tapi kau-”


“Tidak punya sihir? Ya, kau benar. Tapi berlatih pedang tidak ada hubungannya dengan sihir bukan? Bahkan orang biasa juga bisa belajar pedang.”


Eathen tidak lagi bicara. Dia hanya memandangi Alianora yang sudah kembali fokus mencari pedang yang pas untuknya.


Dari semua omongan Alianora barusan, itu sama sekali tidak membuatnya mengerti, dia malah semakin bingung.


Nona Thalia yang dia dengar jelas bukan seperti ini.


Jika dia tidak pernah tidak sengaja mendengar omongan orang tentang rambut perak kebiruan itu yang berkilauan, tentang kulit putih halus yang tidak pernah disentuh sinar matahari, serta mata biru muda keperakan yang seperti permata, menghiasi wajah kecil yang sudah seperti peri.


Dia tidak akan pernah menyangka bahwa Putri angkat duke yang tidak berguna itu adalah orang yang sama dengan seorang gadis kecil didepannya, dengan mata berbinar ketika melihat pedang.


“Putri Duke yang aneh.”, gumam Eathen.


Setelah beberapa detik kemudian, pandangan Alianora jatuh pada sebuah box berisi pedang yang tipis dan ringan. Matanya langsung terbelalak senang, dan dia mencoba untuk meraih pedang itu.


Sedangkan Eathen melihat Alianora dengan alis yang mengkerut.


“Hei, apa yang kau lakukan?”


“K-kau…tidak…lihat aku sedang…apa?”


Kata Alianora yang masih berjinjit dengan susah payah agar jari-jarinya bisa menyentuh pedang itu.


Manik ungu muda eathen beralih ke arah box pedang itu. Hanya tinggal sedikit saja, pedang itu sudah menyentuh jari Alianora, tapi sepertinya Alianora sudah tidak bisa membuat tubuhnya bertambah tinggi lagi, dan Eathen tidak memiliki niat untuk bergerak ke sana.


“Apa yang mau kau lakukan dengan itu?”


“Ugh…huh…jangan banyak tanya…kemarilah dan bantu aku…bocah!”


Mendengar itu, raut wajah Eathen berubah kesal.


Dirinya dipanggil bocah oleh seorang anak kecil yang belum tentu lebih tua darinya, memangnya itu sopan?


“Hei, kau yang bocah, hanya meraih itu saja tidak bisa.”


Namun sebelum Alianora membalas omongan Eathen, jarinya tidak sengaja menarik ujung box, alhasil membuat box itu tergelincir. Melihat itu Alianora cuma bisa terkejut.

__ADS_1


Untunglah Eathen dengan cepat bereaksi. Dia dengan cepat berlari ke samping Alianora, dan langsung menahan box itu, lalu mendorongnya ke tempat semula.


Untuk sesaat, Eathen dan Alianora berdiri di sana tanpa bergerak dan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Karena tinggi Alianora yang sedikit lebih rendah dari Eathen, dan jarak mereka berdiri cukup dekat, Alianora bisa mendengar deru nafas Eathen yang agak cepat.


Lalu, Alianora menghela nafas untuk memecah keheningan agar tidak menjadi semakin aneh.


“Huft, hampir saja.”


Eathen seketika menoleh ke arah Alianora. Untuk sesaat raut wajahnya menunjukan kekhawatiran, namun melihat wajah Alianora yang jauh dari rasa takut, Eathen langsung mengomelinya.


“Hampir saja? Kau tahu, kau hampir saja membahayakan dirimu! Hah…kau ini merepotkan sekali.”


“Itu karena kau tidak datang menolongku.”


“Itu karena kau tidak meminta dengan baik. Apa kau tidak pernah diajari tata krama di kastil mu sana, hah?”


Karena tidak ingin terus berdebat hal yang tidak berguna dengan Eathen, Alianora segera memotong pembicaraan Eathen.


“Ah, sudahlah, cepat ambilkan pedang itu.”


“Tidak, sampai kau meminta dengan sopan.”


Alianora melihat Eathen dengan tatapan tidak percaya. Apa bocah ini menyuruh Alianora untuk memohon dulu padanya?


Cih, cecunguk satu ini, hah sudahlah, terserah. Yang penting aku bisa cepat-cepat mencobanya.


Alianora menutup matanya sebntar sambil menghembuskan nafas melalui mulutnya. Kemudian dia menoleh untuk menatap Eathen kembali, tapi kali ini dia tersenyum, memakai topeng ‘anak bangsawan’nya dengan sempurna.


“Eathen, tolong ambilkan pedang itu.”


Eathen yang menyaksikan ekspresi Alianora yang tersenyum manis, hanya memandanginya untuk beberapa saat. Kedua alisnya sudah mulai rileks, meski sorotan mata tanzanite itu masih tajam, tapi tidak sedingin sebelumnya.


Dalam hati, Alianora berpikir sampai kapan lagi dia harus mempertahankan senyumnya, karena pipinya sudah mulai sakit, tapi untung saja Eathen akhirnya bergerak untuk meraih sebilah pedang yang Alianora inginkan, lalu memberikannya padanya.


Alianora mengambil pedang itu, lalu memeriksa kualitasnya untuk sesaat, dan dia merasa cukup puas dengan itu.


Hm, kalau untuk sekedar pedang latihan, kualitas ini sudah cukup bagus. Ah, seperti yang diharapkan dari keluarga Duke.


“Sekarang, bagaimana cara kau berlatih?”


Pertanyaan yang sudah jelas Eathen tahu, tapi dia tetap menanyakannya. Itu karena dia ingin melihat, hal tidak terduga apalagi yang akan di utarakan oleh gadis kecil didepannya ini.


“Hm, masih kupikirkan.”


“Apa kau pernah berlatih sebelumnya?”


“Tidak, kau tahu kan?”


Eathen menyapu poni yang menghalangi mata, dengan tangannya sambil membuang nafas.


“Apa kau mau pakai itu?


Eathen menunjuk ke arah tumpukan boneka-boneka jerami di belakang Alianora.


Alianora mengalihkan pandangannya untuk melihat boneka tersebut, tapi ekspresinya menunjukan ke-engganan.


Boneka jerami? Ah, yang benar saja. Orang sepertiku yang terbiasa menghadapi ratusan ribu orang, sekarang harus ‘melawan’ sebuah boneka?


Tiba-tiba, kedua mata Alianora melebar. Dia lalu berbalik untuk melihat Eathen dari atas sampai bawah, kemudian dia tersenyum.


“Sepertinya aku sudah mendapat ide.”


“Benarkah? Kau butuh berapa? Aku sarankan satu-”

__ADS_1


“Jadilah lawan latihanku, Eathen.”


__ADS_2