
“Hah? Apa kau sudah gila?”
Eathen memencet batang hidungnya, sedangkan Alianora hanya memiringkan kepalanya dengan polos.
“Hm, kenapa? Kau tidak mau?”
“Kau ini pemula kan? Mana bisa kau bertarung tanpa tahu pola dasar dulu?”
Bagi Alianora yang sudah terbiasa bertarung dengan pedang, jangankan pola dasar, bahkan teknik-teknik berpedangnya dulu ketika masih menjadi dewi, masih diingat sampai sekarang. Jadi sebenarnya, untuk belajar semua dari awal, bagi Alianora itu hanya membuang-buang waktunya. Toh, dia hanya mau latihan untuk membuat tubuhnya terbiasa menggunakan pedang.
Namun, tentu saja, dia tidak bisa bilang begitu di depan Eathen. Itu akan terlihat aneh.
“Pola dasar? Aku sudah pernah membacanya di buku, tinggal dipraktekan saja kan? Makanya aku membutuhkanmu untuk jadi lawanku.”
Eathen hendak menyela kata-kata Alianora, namun Alianora sudah duluan membuka mulutnya.
“Kenapa? Apa kau takut, bocah?”
Rasa kesal Eathen langsung naik ke ubun-ubun. Saking jengkelnya dia sampai tidak bisa berkata-kata, dan hanya diam di tempat.
“Ck,ck, aku tidak menyangka putra salah seorang ksatria terkuat di kerajaan tidak berani melawan seorang putri-”
“Baiklah, aku akan melakukannya.”
Alianora yang saat itu sedang menghadap ke arah lain, sontak menyunggingkan bibirnya. Dia lalu berbalik untuk melihat Eathen dengan ekspresi puas yang terang-terangan dari wajahnya.
“Ha! Aku tahu kau akan mau.”
“Iya,ya. Tapi sebelum itu,”
Eathen memandangi Alianora dari atas sampai bawah, kemudian dia mengangkat sebelah alisnya.
“Kau mau latihan sambil menggunakan itu?
Dia menunjuk ke arah dress yang sedang Alianora kenakan.
Alianora melihat dressnya sendiri, tapi dia tidak menemukan sesuatu yang salah.
Memang apa salahnya kalau memakai dress? Aku masih bisa mengayunkan pedang meski dengan baju apapun.
Lagipula, Alianora dulu sering melihat beberapa ksatria wanita, para ratu, para putri, juga ada yang memakai dress yang dilengkapi dengan baju besi di luarnya, dan mereka masih bisa bertarung dengan hebat. Oleh karena itu, alianora tidak bisa melihat permasalahannya memakai dress saat latihan berpedang.
“Apanya yang salah?”
“Apa kau masih perlu bertanya? Mana ada orang berlatih pedang menggunakan pakaian seperti itu? Apa kau tidak punya baju khusus latihan?”
“Tidak. Kenapa memangnya? Aku masih bisa bergerak dengan leluasa begini.”
Alianora menggerak-gerakan tubuhnya dan melompat dengan lincah.
Sorot mata Eathen terpaku pada Alianora untuk sesaat sebelum dia menggelengkan kepalanya.
“Tidak, aku tidak akan berlatih denganmu jika kau berpakaian seperti itu.
Alianora hanya melongo menatap Eathen.
Apa dia harus menggunakan pakaian seperti Estelle gunakan? Seragam hitam yang terlihat mewah seperti itu?
Bagaimana dia bisa mendapat uang untuk membeli seragam latihan sebagus itu? Sedangkan Kalisto saja tidak pernah memberinya apa-apa.
Kemudian dia melihat ke arah Eathen. Baju Eathen lebih simpel, hanya berupa kaos kemeja longgar, celana pendek, dan sepatu.
Rasanya jika dia menjual beberapa perhiasannya yang tidak dia pakai, dia masih bisa membeli itu.
“Baiklah, baiklah, aku akan membelinya. Tapi kau harus berjanji, kalau kau akan melawanku nanti, oke bocah?”
__ADS_1
Terpaksa Alianora harus pergi ke kota dulu untuk membeli sepasang baju untuk latihan. Meski sebenarnya itu agak menyusahkan bagi Alianora, tapi apa boleh buat kalau memang peraturannya sekarang begitu. Lagipula, Alianora juga tidak ingin dilihat dengan tatapan aneh oleh para prajurit-prajurit ketika dia berlatih nanti.
Mata Eathen menyipit ke arah Alianora dengan kesal.
“Terserah, dan untuk kesekian kalinya. Jangan memanggilku bocah.”
*****
“Kakak! Kau dari mana saja?”
Estelle berlari mendekati Aianora yang baru saja kembali ke area latihan Estelle, bersama Eathen.
“Hm? Aku hanya berjalan-jalan sekitar sini, maaf tidak memberitahumu dulu.”
Alianora tersenyum tulus sambil mengelus kepala Elle dengan lembut. Dari samping sorot mata Eathen menusuknya dengan tajam, dan Alianora tidak perlu melihatnya langsung untuk tahu apa kira-kira yang ada di pikiran Eathen saat itu.
Tentu saja itu pasti tentang perubahan sikapnya yang drastis. Didepan Estelle, dia kembali menjadi seorang putri bangsawan bermartabat, dan kakak yang penyayang.
Sedangkan sikapnya yang tidak beraturan sebelumnya, sudah hilang tanpa jejak, seperti tidak pernah ada sebelumnya.
Eathen tidak berniat untuk menatap Alianora lebih lama, dia akhirnya berbalik untuk menaruh pedang dan boneka jerami yang dia ambil dari gudang.
“Hm, kakak pergi bersama Eathen?”
Tanya Estelle setelah melihat Esthen yang berjalan melewatinya.
“Oh, aku tadi meminta Eathen untuk menemaniku, sebab aku tidak tahu area sekitar sini.”
Mendengar itu, Estelle langsung tertawa geli.
“Hahaha, ah iya, aku lupa, sejak kakak datang ke Kastil Nauchwanstein, kakak belum pernah sekalipun ke sini kan? Jelas kayak tidak mungkin tahu.”
Perkataan itu keluar dengan mulus dari mulut Estelle, seperti itu sesuatu hal yang normal.
Suatu hal yang normal untuk menegaskan di depan semua orang, kalau Thalia hanya anak angkat yang tidak tahu apa-apa.
Gadis itu, apa yang dia pikirkan?
“Bagaimana denganmu, Elle? Apakah pelayan yang kau bilang sudah sampai?”
Alianora melirik ke arah tempat duduk yang terbuat dari besi yang diukir bagus disamping, dan mendapati ada beberapa lembar handuk di sana.
Estelle mengangguk.
“Hm, iya. Tia dan Liz akhirnya ke sini tadi membawa camilan dan handuk, tapi saat kutanya kenapa mereka terlambat, mereka bilang ada sesuatu terjadi di dapur yang membuat leher Tia terluka. Apa kakak tahu sesuatu tentang itu?”
Meskipun wajah Estelle masih terlihat polos, dan senyumnya masih berseri-seri seperti biasa, namun dari matanya, menatap Alianora dalam-dalam.
Alianora menggeleng pelan.
“Tidak. Saat aku ke sini aku tidak melihat mereka sama sekali.”
“Begitukah? Ya sudahlah, mereka juga tidak apa-apa, hanya sedikit pucat saja.”
Tidak lama setelah itu, Sir Gallahan datang dari arah samping sambil menyantap sebuah roti isi daging.
Dengan itu, latihan pedang Estelle dimulai kembali, dan Alianora menyimak semua itu dengan antusias.
Teknik berpedang manusia setelah ribuan tahun berlalu, sudah banyak yang berbeda. Meskipun ada beberapa yang masih sama, tapi beberapa ayunan dan tusukan jelas berbeda, dan itu lebih bagus.
Di sisi lain, Alianora juga nampak puas melihat para generasi muda yang berbakat.
Dia sedikit terkejut ketika mendapati bahwa Estelle yang dari luar terlihat lembek itu, ternyata sangat lincah dalam menggunakan pedang jenis greatsword.
Alianora hanya bertanya, dimanakah letak kekuatan pada tangan kurus itu, untuk mengayunkan sebuah greatsword dengan efektif.
__ADS_1
Selain itu, Eathen tidak perlu ditanya lagi.
Dari awal, Alianora sudah melihat bahwa teknik pedang panjang bocah itu sudah melebihi rata-rata, jika dilihat dari umurnya yang masih belia, namun ketika melihat langsung skillnya ketika dia bertarung melawan Sir Gallahan sendiri, Alianora bisa melihat kualitas teknik berpedangnya secara keseluruhan.
Walaupun tubuhnya lebih kecil dari pada Sir Gallahan, dia sudah bisa dengan mudah mencari celah yang pas untuk menyerang. Setiap gerakannya juga sama sekali tidak terbuang percuma, dan dia juga masih bisa menutup celah-celah vital pada tubuhnya, sehingga lawan tidak mudah menargetnya.
Melihat talenta Eathen yang nyata begitu, Alianora merasa bahwa memilihnya menjadi lawan latihan sebayanya tidak salah. Dia sudah tidak sabar untuk bertarung melawan Eathen. Rasanya, Eathen akan menjadi bocah yang akan membuatnya merasakan serunya bertarung kembali.
Sungguh anak yang berbakat, tapi siapa dia sebenarnya?
Alianora masih saja kepikiran tentang identitas Eathen di kehidupan Thalia. Dia memiliki firasat kalau Eathen bukanlah tokoh sembarangan, dengan talentanya yang seperti itu, mustahil kalau orang seperti itu hanya orang biasa.
Dibelakangnya, Mary sedang membilas rambut perak Alianora, membersihkannya dari sisa shampo.
“Nona, apakah terjadi sesuatu?”
Alianora yang sedang berendam dalam bathtub, terbangun dari pikirannya.
“Ah, Mary, tidak apa. Aku hanya teringat dengan latihan Elle tadi siang. Omong-omong, apa kau sudah mendapat jawabannya?”
Mary mengambil beberapa wewangian, lalu menuangkannya ke dalam bathtub.
“Belum, nona.”
“Hm, sudah dua hari tapi masih belum ada jawaban? Cih, pria satu itu apa saja yang dia lakukan?”
Dulu, Alianora pernah membuat kesepakatan dengan Archmage Othima, tentang cara berkomunikasi agar tidak menimbulkan perhatian. Jika Alianora yang mengirim, Alianora bisa mengirimnya seperti biasa, namun jika Archmage Othima yang mengirimnya, dia harus mengutus salah satu pelayannya untuk diam-diam membawanya ke Kastil Nauchwanstein, lalu nanti akan diterima langsung oleh Alianora.
Tapi Alianora tidak punya waktu untuk menunggu surat balasan Archmage Othima, melainkan dia menyuruh Mary, dan dia bersyukur karena itu.
Kalau dia yang harus menunggu selama dua hari dengan kosong, dia bisa jadi gila.
Hah, setidaknya orang itu harus memberitahu kalau dia berhasil atau tidak, jangan di buat tidak jelas begini. Cih, dasar menyusahkan.
“Nona, bagaimana di area pelatihan tadi? Apakah nona sempat melakukan apa yang nona inginkan?”
Mary menggosok tubuh Alianora sekaligus memijitnya sedikit, membuat Alianora hampir tertidur dibuatnya.
“Oh, sayangnya tidak. Seorang bocah tidak mau menjadi lawan bertarungku, kecuali aku memiliki seragam latihan. Menyusahkan sekali, bukan?”
“Seorang bocah?”
“Oh ya, bocah itu kebetulan berlatih bersama Estelle. Estelle bilang dia itu anak Sir Gallahan, kau tahu?”
Mary mengangguk sambil tersenyum tipis.
“Iya, nona. Saya pernah mendengar dari para ksatria bahwa putra sulung Sir Gallahan cukup berbakat. Dia sudah memulai latihannya di sini setelah acara pemberkatannya bulan lalu.”
Mendengar itu, mata Alianora langsung terbelalak. Acara pemberkatan? Acara yang wajib dihadiri oleh setiap anak bangsawan di Kerajaan Agris.
Bangsawan
Sir Gallahan.
Eathen.
Dari awal dia merasa kalau kedua nama itu sudah tidak asing.
Kalau mereka adalah keluarga bangsawan, kemungkinan besar mereka juga merupakan tokoh penting di sekitar Thalia, di kehidupan sebelumnya.
Alianora berbalik untuk menatap Mary.
“Mary, Sir Gallahan itu bangsawan?”
Mary melihatnya dengan heran sebelum mengangguk.
__ADS_1
“Iya, nona. Sir Gallahan adalah seorang bangsawan. Dia memiliki gelar resmi yaitu, Viscount. Dia adalah Viscount Frederick Gallahan.”