Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke

Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke
Chapter 19 : Masalah Tak Terduga


__ADS_3

Brak.


Alianora membantingkan tubuhnya di kasur, dan seketika sendi-sendinya langsung terasa lemas. Kepalanya terbenam di atas bantal empuk yang membuat matanya sudah tak sabar menutup.


Usai menghadiri undangan-undangan dari para bangsawan itu, rasanya telinga Alianora seperti mau meledak.


Hari ini merupakan hari yang paling melelahkan bagi dirinya. Bukan hanya melelahkan fisik, tapi juga mental.


Untung saja dia masih bisa memasang topeng 'anak bangsawan'nya yang maksimal sampai semuanya selesai.


Walaupun ada suatu musibah yang datang entah darimana, yang hampir membuatnya muntah darah.


Dia betul-betul tidak bisa berkata apa-apa.


Rasanya orang-orang disekitarnya ingin sekali melihat dia kehilangan kesabaran. Jika mereka berani berbuat begini kepadanya yang masih menjadi dewi pembunuh, mereka benar-benar cari mati.


Entah apa yang dipikirkan manusia jaman sekarang.


Terlebih lagi Kalisto. Orang yang hampir membuatnya mati tersedak.


Alianora sangat tidak mengerti dengan jalan pikiran pria yang satu itu.


Apa maksutnya melakukan semua itu? Alianora masih tidak paham.


Masuk akal jika dia tiba-tiba misalnya, menikahkan Alianora dengan anak bangsawan lain untuk menjalin sebuah hubungan bisnis, seperti yang dilakukan oleh kebanyakan bangsawan lainnya.


Meskipun bagi Alianora itu tidak wajar, tapi kelakuannya masih bisa dipahami. Nah, kalau tiba-tiba memaksa putrinya untuk masuk ke biara? Apa Kalisto sudah benar-benar gila?


Apa untungnya juga baginya jika Alianora masuk biara? Yang ada paling hanya kerugian, karena Alianora tidak bisa lagi dimanfaatkan untuk jadi jembatan penghubung antara dua keluarga, sewaktu-waktu dia membutuhkannya.


Hanya karena para pendeta itu mengatakan kalau seorang Jiwa Apostle sebaiknya masuk biara, karena status mereka yang akan menjadi saint, Kalisto langsung setuju.


Apakah dia begitu inginnya melihat putri angkatannya pergi dari rumahnya?


Tidak peduli seberapa keras Alianora mencoba berpikir, dia masih tidak bisa mengerti Kalisto.


Membayangkan kalau tadi siang dia hampir saja dijebloskan ke katedral untuk memulai hidup barunya sebagai hamba Dewa Ilios yang setia, lebih baik dia kembali tertidur saja untuk seribu tahun kedepan.


Namun, Alianora sangat bersyukur bahwa itu tidak terjadi, meski untuk menggagalkan rencana itu, sangatlah susah.


Kalisto memang memiliki niat kuat untuk memasukannya ke biara, sampai Alianora hampir kehilangan alasan yang bisa membuat Kalisto berubah pikiran.


Alianora bahkan sudah mencoba untuk mengatakan kalau dia masih ingin menikah, dengan harapan itu bisa membawa sedikit pencerahan dalam otak Kalisto kalau Alianora itu lebih berguna untuk jadi gadis bangsawan daripada biarawati yang harus terus suci.


Tapi tetap saja rencana Alianora gagal.


Sampai akhirnya, karena dia sudah terdesak, dia akhirnya terpaksa membuat sebuah kesepakatan dengan Kalisto. Sebuah kesepakatan yang membuat kepalanya pusing sekarang.


'Ayah dengarkan aku. Aku tidak ingin masuk biara, itu karena aku masih ingin diterima di akademi!'


'Akademi? Kau masih berharap itu terjadi? Lebih baik kau jangan mempermalukan nama keluarga ini, dan masuklah ke biara.'


'Aku yakin aku pasti akan diterima. Aku akan masuk ke Aethergarde. Aku jamin itu.'


'Apa kau sudah gila?'


'Tidak, aku yakin itu akan terjadi, dan jika aku tidak diterima di Aethergarde, maka aku akan masuk biara.'


'....Apa kau yakin?'


'Yakin.'


'Bila kau tidak masuk ke Aethergarde?'


'Maka aku akan masuk biara.'


'Baiklah. Aku beri kau waktu sampai bulan depan, jika kau belum menerima surat undangan, maka kau harus masuk biara. Tidak ada penolakan.'


Setelah itu, kedua pendeta itu juga sepertinya tidak ada yang keberatan akan hal itu.

__ADS_1


Mereka nampak tenang-tenang saja, bahkan terlalu tenang seperti mereka sudah menduga semuanya.


Mereka juga memberi permintaan agar Alianora paling tidak bisa memulai belajar teologi dasar, sebab Jiwa Apostle yang akan menjadi saint, itu memang diharuskan untuk itu, dan Alianora terpaksa menyetujuinya.


Meski dia juga ingin protes, tapi dia tahu bahwa tidak ada ruang kompromi lagi baginya, jadi dengan sangat berat hati, Alianora terpaksa diam saja, toh dia juga tidak bisa melawan mereka sekarang.


Sekarang, yang lebih Alianora khawatirkan adalah perjanjiannya dengan Kalisto.


Alianora membenamkan wajahnya di atas bantal dan mengacak-acak rambutnya.


"Argh, kenapa aku tidak minta dua bulan saja, tiga minggu ini terlalu mepet mana bisa aku melakukannya?"


Setidaknya dia harus bisa memperbaiki tubuhnya sebelum bulan depan, kalau tidak dia tidak mungkin diterima.


Tapi masalahnya, sekarang dia baru saja mendapat sekutu, dan baru saja memulai proses mencari tahu apa yang salah dengan tubuhnya, memikirkan bagaimana cara menyembuhkannya saja dia masih belum apa-apa.


Semoga saja sekutu archmagenya kali ini bisa cepat membawa berita bagus untuknya.


Ah, omong-omong soal Archmage Othima.


Alianora menggulingkan badanya sampai kepalanya menatap langit-langit kamarnya.


"Hm, kalau aku memintanya untuk memasukanku ke Aethergarde...ah tidak, tidak. Dia mungkin bisa melakukannya jika kupaksa, tapi masalahnya nanti saat di akademi, aku yakin aku pasti ketahuan kalau tidak punya sihir."


Memang di awal, dia pasti bisa berhasil masuk ke Aethergarde, tapi untuk selanjutnya, dalam pembelajaran nanti dan juga hal-hal lain yang akan berhubungan dengan sihir, dia pasti tidak bisa berpura-pura lagi.


Terlebih lagi, status Thalia yang tidak berkemampuan sihir sudah tersebar di seluruh kalangan anak bangsawan, jadi tidak ada seorangpun yang tidak tahu kalau Thalia ini, 'cacat'.


Untuk tiba-tiba melihat seorang Thalia yang mereka anggap tidak mungkin bisa berada di Aethergarde, pasti menuai banyak kecurigaan.


Sudahlah, Alianora tidak perlu memikirkannya dalam-dalam, dia pasti tidak akan berhasil.


Satu-satunya jalan adalah dengan dia segera menemukan cara untuk memperbaiki tubuhnya ini.


Pokoknya, dia tidak boleh masuk biara.


Tidak, dia betul-betul mengutuk hal itu sepenuh hatinya, tapi juga, entahlah, ada sebagian kecil dari perasaannya yang mengatakan kalau dia tidak boleh sampai masuk ke sana.


Ketika dia melihat mata kelabu dari pendeta yang sudah tidak asing lagi di ingatannya, mata yang sama yang pernah dia lihat, wajah tirusnya yang mengukirkan senyum ramah, serta rambut hitamnya yang mirip tinta.


Semua itu memang terlihat normal, tapi Alianora juga memiliki pengalaman selama ribuan tahun menghadapi berbagai macam orang, jadi dia bisa merasakan bahwa dibalik semua kehangatan yang terpancarkan itu, ada sesuatu yang membuat orang itu berbeda dari pendeta-pendeta yang dia lihat biasanya.


Bukan karena fakta bahwa Alianora sudah tahu kalau dia akan berubah menjadi pria busuk dihadapannya nanti, tapi itu karena, hal lain.


Tapi Alianora masih tidak tahu pasti itu apa, jadi dia tidak terlalu memikirkannya.


Dia hanya berusaha untuk memusatkan semua pikirannya pada hal-hal yang paling penting saja saat ini.


Alianora kemudian bangkit dari tempat tidurnya lalu menuju ke arah mejanya.


"Aku harus memberitahukan ini pada archmage itu."


gumam Alianora sambil menarik laci mejanya untuk mengambil kertas.


Namun ketika dia menarik laci itu, pandangannya langsung menangkap sebuah buku tua tebal bersampul coklat, terletak diatas tumpukan kertas-kertas surat.


Alianora melebarkan matanya.


Segala hiruk-pikuk yang terjadi dari kemarin sampai hari ini membuatnya lupa akan buku mantra terlarang itu.


Oh iya, kenapa tidak aku tanyakan saja pada archmage itu tadi?


Alianora merasa sedikit menyesal.


Mungkin saja Archmage Othima mengetahui sesuatu tentang buku ini, dimana Thalia mendapatkannya.


Mungkin dia bisa menemukan sesuatu dari tempat asal buku ini juga.


Alianora hendak meraih buku itu, tapi sebuah ketukan tiba-tiba terdengar dari balik pintu kamarnya, membuat Alianora dengan refleks menarik tangannya.

__ADS_1


"Kakak? Apa kakak didalam?"


Setelah menghembuskan nafas panjang, Alianora menutup lacinya kembali, lalu melangkah menuju pintu.


"Iya Elle, sebentar."


Ketika pintu kamarnya dibuka, tampak sosok gadis kecil lucu dengan rambut terurai sepinggang, yang mengenakan gaun tidur merah muda, menatapanya dengan senyum manis yang sering dia lihat.


"Elle? Sedang apa kau disini?"


"Hehe, kak, aku membawakanmu ini."


Estelle mengankat kedua tangannya yang memegang sebuah piring berisi puding mangga.


Alianora yang terkejut cuma bisa diam menatap makanan itu.


Estelle yang melihat kakaknya tidak berbicara apa-apa, meraih tangan kakaknya lalu menempatkannya ke piring tersebut.


"Kak saat makan malam tadi, Elle tahu kalau kakak sedang marah pada ayah. Kakak bahkan pergi tanpa memakan makanan penutup dulu. Jadi, ini Elle bawakan kesukaan kakak."


Alianora menatap Estelle yang tersenyum kepadanya, lalu ke arah piring, dan kembali ke arah Estelle.


Ekspresinya datar, tapi sorot matanya menyiratkan sedikit kecurigaan.


Dia tidak tahu kalau, mata polos Estelle bisa menangkap itu semua dengan jelas.


"Ini kak, makanlah."


"Hm, terima kasih, Elle."


Alianora akhirnya membalas senyum Estelle.


"Sama-sama kak! Omong-omong, apakah sekarang kakak sedang sibuk? Apakah Elle mengganggu?"


"Ah, oh, tidak, tidak. Tadi aku sedang tiduran sebentar, mungkin aku agak sedikit ngantuk. Sini, masuklah, Elle."


Jangan, jangan masuk. Mending kau pergi tidur sana, anak kecil sudah harus tidur sekarang.


batin Alianora dalam hati, meski wajahnya menampakan senyum.


"Ah, tidak apa-apa, kak. Aku kembali ke kamarku saja. Kakak makanlah itu, lalu istirahatlah yang banyak, oke? Selamat malam, kak."


kata Estelle sebelum berjalan menuju ke koridor seberang, tempat kamarnya berada.


Setelah memastikan kalau Estelle sudah tidak nampak lagi, Alianora kemudian masuk kembali.


Dia menaruh piring berisi puding mangga itu di meja tulisnya, lalu duduk di kursi.


"Hah, bikin kaget saja, si Estelle itu. Hm, tadi aku sampai dimana ya...oh, ya, suratnya."


Alianora membuka laci mejanya kembali untuk mengambil selembar kertas surat.


Dia lalu mulai menulis tentang apa yang dia alami tadi siang, tidak lupa juga dia menanyakan soal buku tua dalam lacinya itu.


Benerapa menit berlalu, Mary datang dan mengetuk pelan pintu kamar Alianora.


"Permisi, nona. Maaf mengganggu, apakah saya boleh masuk?"


Dari dalam, Alianora yang baru saja selesai menulis suratnya, langsung mempersilahkan Mary untuk masuk.


"Oh, kebetulan sekali, Mary. Masuklah."


Kemudian, Mary masuk sambil membawa sekeranjang penuh berisi baju bersih.


"Permisi, nona. Apa nona memerlukan saya?"


"Ya, aku ingin menitipkan ini padamu, apakah kau bisa mengirimnya?"


kata Alianora sambil menyerahkan surat beramplop putih kepada Mary.

__ADS_1


__ADS_2