
“Wah! Indah sekali!”
Estelle menatap pilar-pilar kristal raksasa katedral itu, yang menjulang tinggi bak kastil es, dengan mata berbinar. Itulah hal pertama yang dia lakukan setelah turun dari kereta, sedangkan Duke dan Duchess Sheridan sudah bergabung dalam perbincangan dengan para kepala keluarga bangsawan lainnya.
Estelle berjalan-jalan kecil dengan kepalanya melirik-lirik ke kanan dan kiri.
Matanya berbinar dan berkelap-kelip saat melihat taman luas yang rapi dan indah dipenuhi bunga-bunga di halaman depan katedral, juga air mancur raksasa berbentuk patung Dewa Ilios yang sedang membentangkan tangannya.
Sedangkan Alianora juga tidak lebih baik dari itu.
Meskipun dia tidak menunjukan ekspresinya se ekstrim Estelle, matanya yang melebar serta alisnya yang terangkat, menyatakan kekaguman yang tulus dari dalam hati.
Bangunan didepannya saat ini begitu unik dan cantik.
Tekstur dinding yang semuanya terbuat dari kaca-kaca yang berkilau warna-warni ketika diterpa sinar mentari, merupakan sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Seingat nya dulu, di dunia manusia, bahan kaca masih langka dan mahal, sehingga hanya kastil para bangsawan kaya dan keluarga kerajaan saja yang dihiasi kaca. Jadi ketika melihat bangunan modern ini, dia merasa bahwa perjalanan membosankannya tadi tidak buruk juga.
Dari tengah keramaian, perhatian Alianora sedikit terganggu oleh munculnya beberapa orang mengenakan jubah gelap yang menutupi seluruh badan mereka dari atas sampai bawah. Mereka sedang mengobrol bersama para pendeta di samping katedral sambil sesekali melihat calon-calon baptis.
Alianora menyipitkan matanya.
Dia mengenali jubah itu.
Warna ungu tuanya.
Ukiran-ukiran emas memanjang di ujungnya.
Lambang matahari dan bintang yang mencolok pada dada mereka, serta bros rantai emas bermata bintang dengan permata topaz.
Penyihir dari menara.
Ah, jadi mereka disini ya.
Alianora sudah tidak kaget lagi, lebih tepatnya dia sudah tahu kalau dia akan melihat orang-orang itu disini.
Itu karena, Thalia juga pernah melihat hal yang sama dengannya di masa lalu.
"Lihat, ditahun ini juga sama. Mereka datang lagi."
"Hah, siapa?"
"Penyihir menara, orang-orang disana. Tahun lalu ada penyihir juga datang."
Alianora menyimak perbincangan kumpulan bocah laki-laki dibelakangnya, sambil membandingkannya dengan percakapan yang ada dalam memorinya.
"Kali ini lebih banyak, bukan? Dulu hanya satu yang datang."
"Untuk apa mereka kesini?"
"Kamu tidak tahu? Mereka kesini untuk melihat apakah ada salah satu diantara kita yang memiliki bakat bagus!"
'Saat seorang bangsawan menerima pemberkatan, saat itu juga kualitas sihir mereka ditampilkan didepan umum. Mantra sihir yang akan pendeta rapalkan pada mereka nanti akan bereaksi dengan mana yang ada dalam tubuh, membuat tubuh dipenuhi oleh mana. Karena begitu banyak mana yang masuk, tubuh jadi tidak bisa menampungnya, dan mana itu secara otomatis dilepaskan oleh tubuh, sehingga menghasilkan cahaya yang terang disekitar tubuh.'
"Cahaya itu merupakan rupa mana dalam tubuh kita. Cahaya yang dihasilkan beda-beda tergantung elemen mana dalam tubuh kita. Misal, biru itu melambangkan elemen air."
'Semakin terang cahaya yang dihasilkan, maka semakin bagus juga kualitas mana kita. Orang dengan kualitas mana bagus berarti memiliki potensi yang besar untuk menjadi penyihir jenius, dan tugas penyihir-penyihir menara adalah merekrut mereka yang dianggap jenius itu.'
"Bila kualitas mananya lumayan bagus, maka mereka akan diberikan surat rekomendasi atas nama Pemimpin Menara, supaya mereka bisa langsung masuk ke akademi Aethergarde tanpa perlu melakukan tes masuk. Ada kala jika mereka menemukan anak yang sangat berbakat, mereka akan langsung merekrutnya menjadi murid pemula di Menara sihir kerajaan."
Yah kurang lebih seperti itu, masih sama persis dengan yang ada di ingatan Thalia.
__ADS_1
Saat para penyihir beranjak pergi ke belakang katedral bersama dengan para pendeta, Alianora memutuskan untuk kembali ke arah Estelle. Dia setidaknya harus kembali ke posisi sebelum kejadian selanjutnya tiba, mempersiapkan kesabaran juga lebih tepatnya, dan mempersiapkan diri untuk melaksanakan rencana tentang bagaimana dia bisa lolos tanpa harus menghabisi orang-orang disana.
Oke, sudah pas. Sekarang, mari kita hitung mundur.
10...9...8...7...6...5...4...3...2...1....
Tepat saat itu dari arah kanannya, Alianora mendengar suara beberapa anak, menghampirinya.
“Selamat pagi, Nona Sheridan.”
Haa...sudah dimulai kah?
Sontak Alianora melirik ke samping dan mendapati tiga orang anak perempuan sebayanya, mengenakan gaun simpel dan elegan berwarna biru muda, hijau muda, dan kream. Rambut mereka dikuncir lucu dengan macam-macam perhiasan kepala, kalau dilihat dari luar, mereka terlihat seperti putri dari keluarga bangsawan dengan status lumayan tinggi.
Mereka menghampiri Alianora sambil tersenyum, namun sebelum Alianora sempat bereaksi, mereka bertiga langsung berjalan melewatinya tanpa sekedar memandanginya sedikitpun, dan tidak lupa juga, bahu mereka sedikit bersenggolan dengan lengan Alinora, membuat tubuhnya sedikit bergeser kesamping.
Alianora, “....”
Oho lihat itu, tidak kah mereka terlihat sungguh percaya diri?
Dengan sikap angkuh seperti itu, tidak heran jika mereka bisa membuat Thalia mendapat 'masalah' di pesta ulang tahun salah satu diantara mereka. Hari ini juga akan sama, tiga bocah ini, bagai penjahat sejati, akan membuat masalah bagi dirinya. Alianora tidak bisa untuk tidak merasa dejà vu.
Namun, Alianora bukan Thalia. Memang dia sempat merasa sedikit lelah, tapi ketika melihat tingkah bocah-bocah amatur itu, semangatnya kembali terbakar. Dia segera merasa antusias untuk mengajari mereka, dengan siapa mereka berhadapan.
Heh...baiklah bocah-bocah nakal...apa yang harus kulakukan pada kalian hm?
“Ah! Nona Michelle, Nona Aster, Nona Rachell, selamat pagi juga. Senang bertemu dengan kalian disini.” Alianora dengan wajah yang memancarkan sengiran gelap, menoleh ke belakang, dan tepat disana, dia melihat Estelle menyambut ketiga anak perempuan itu dengan senyuman cerah seperti biasa.
Lalu pandangan Estelle, jatuh pada sosok Alianora yang masih berdiri memandang mereka dengan ekspresi tak terbaca. “Kakak! Sedang apa kakak disana? Kemarilah kak!”
Sembari Estelle melambai padanya, ketiga putri bangsawan itu juga melirik ke arahnya dengan tatapan mengejek. Meskipun mereka tersenyum, tapi Alianora bisa melihat kalau mata mereka menyiratkan seluruh perasaan menghina, dan tidak suka.
Alianora tertawa dalam hati.
Apa ini yang dia khawatirkan sejak kemarin?
Heh, memalukan sekali Dewi Alianora, sungguh bukan dirimu.
Alianora sempat merasa cemas karena apa yang dia lihat dari memori Thalia itu lumayan parah.
Thalia yang polos, tidak dapat melihat jebakan mereka.
Sebelum dia sadar, dia sudah terduduk di tanah dengan gaun dan sekujur tubuhnya dipenuhi lumpur yang di lempar oleh tiga bocah laknat yang saat itu menertawakan kemalangannya dengan sepenuh hati.
"Hahaha! Aku tidak percaya bahwa dia akan percaya semudah itu! Dia memang bodoh!"
"Kurasa kau lebih cocok seperti ini, bau dan jelek, seperti statusmu yang rendahan itu."
"Kau pikir dengan tubuh seperti itu, kau pantas disebut 'Nona Sheridan', ha! Tahu diri dikit, dasar rakyat jelata!"
Thalia terlihat menyedihkan, dan dia tahu itu. Tapi tidak ada yang bisa dia lakukan saat itu selain duduk ditanah lumpur sambil menahan tangis yang gagal, dan mencoba sebaik mungkin untuk menutup telinganya.
Dia terlihat seperti akan pinsan karena kesal dan sedih.
Tapi sekarang, kejadian itu tidak akan mungkin terulang. Oh tolonglah, mana mungkin Alianora ingin berada di posisi itu?
Putri bangsawan berambut coklat hazel yang berada ditengah, mengibaskan rok hijau mudanya dengan sombong.
“Oh, saya memberi salam kepada Nona Thalia La Sheridan. Perkenalkan, nama saya Michelle Laurent, putri pertama Marquess Laurent. Senang bertemu dengan Anda.”
__ADS_1
Dia membungkuk sedikit untuk memberi salam pada Alianora, diikuti oleh kedua anak perempuan lainnya yang berada di sebelah kanan dan kirinya, Nona Muda Aster dan Nona Muda Rachell.
Michelle Laurent, Rachell Vincentia, Aster Groudon, inilah nama tiga orang penjahat dalam kehidupan Thalia yang akan membuat hidupnya seperti neraka.
Setelah dipermalukan habis-habisan didepan calon baptis lainnya, Kalisto dan Annabeth mengetahui itu dan langsung membawa Thalia pulang. Kalisto sangat marah bahkan sampai membatalkan pembaptisan Thalia, dan melarangnya untuk mengikuti acara-acara publik bangsawan sampai selama-lamanya. Hal ini juga menjadi pemicu ketakutan Thalia terhadap acara publik.
Mulai dari saat itu, rumor-rumor buruk tentang Thalia, menjadi topik perbincangan di kalangan aristokrat, yang pada akhirnya mengakibatkan Thalia semakin dikucilkan di pergaulan kelas atas.
Memang benar-benar tiga orang bocah tidak tahu diri.
Alianora tersenyum tipis yang gagal terlihat oleh tiga bocah didepannya.
“Nama saya, Thalia-”
“Ah, sebelum itu perkenankan saya, mewakili Nona Rachell dan Nona Aster, meminta maaf sebelumnya atas tindakan kami barusan, Nona Sheridan.”, potong Michelle dengan wajah yang sama sekali tidak menunjukan rasa penyesalan sedikitpun.
Sambil melipat kedua tangan, Michelle Laurent melanjutkan, “Sepertinya tadi kami sangat bersemangat untuk bertemu dengan Nona Sheridan, ah maksut saya Nona Estelle, sehingga kami tidak bisa mengenali Nona Sheridan yang berdiri di depan kami.”
Dari belakang, Aster Groudon juga ikut mengangkat wajah dan memamerkan bintik-bintik coklat di wajahnya. “Itu mungkin karena Nona Sheridan hari ini terlihat simpel dan sederhana dibanding Nona Estelle, jadinya kami menyangka Anda adalah orang lain.”
“Dan juga kepala Pastur memang tidak mengharuskan bagi anak-anak yang dibaptis untuk memakai pakaian bagus. Jadi tentu, ini salah kami.”, Rachell Vincentia membuka kipas yang dia pegang untuk menutupi separuh wajahnya, tapi dari kedua matanya yang melengkung ke atas, Alianora tahu kalau dia melakukan itu karena sudah tidak bisa menahan tawa.
Alianora pun sama, dia menggigit bibir bawahnya demi menahan senyuman jahat yang hendak merasuki wajahnya.
Memang, yang namanya bocah tetap bocah, pemikiran mereka tetaplah simpel sampai membuat Alianora merasa sedikit lucu. Sepertinya sudah saatnya dia menunjukan kepada mereka, siapa sebenarnya yang mereka lawan.
Bocah, biarkan aku memperlihatkan pada kalian.
Bagaimana seorang penjahat asli melakukannya.
*****
PLAK!
Bunyi tamparan yang seketika membuat suasana di sekitar mereka menjadi hening. Pipi Michelle sudah merah sebelah dan gambar lima jari bisa terlihat jelas di sana. Anak-anak bangsawan di sana semuanya memandangi mereka dengan mulut menganga dan mata terbelalak, bahkan ada yang menutupi mulut mereka rapat-rapat.
Dari samping kiri, Rachell meneriaki Alianora dengan kesal.
“A-apa-apaan yang kau-”
PLAK!
Rachell mundur dengan linglung ke belakang sambil memegang pipinya yang panas, Aster berteriak dengan suara lantang, “K-kau, berani-beraninya-”
Namun lagi-lagi, suara nyaring tamparan menggema, membuat anak-anak bangsawan lain yang menonton terkesiap tanpa bisa melakukan apa-apa, ataupun berbicara apa-apa.
Beberapa orang dewasa yang berdiri tidak jauh dari situ, sudah mulai memasang wajah yang khawatir ke arah kerumunan besar anak-anak di depan mereka, bahkan sudah ada yang mencoba mendekat, termasuk gerombolan pasangan Marquess Laurent, Count Vincentia, serta Count Groudon.
Alianora menatap ketiga bocah didepannya yang masih syok, dengan senyum simpulnya yang makin merekah di wajahnya.
Bocah, biar kuberi tahu, kalian semua itu 1000 tahun terlalu cepat untuk menantangku.
"Memangnya, sejak kapan aku mengizinkan kalian bicara?"
Alianora membersihkan tangan yang dia gunakan untuk menampar tiga bocah itu dengan sapu tangan.
"Kalian dengar kan? Aku belum selesai bicara, kenapa kalian tiba-tiba memotongnya? Coba katakan alasannya?"
Semua kerumunan sontak hening, mereka hanya mampu berbisik-bisik dengan suara yang sangat kecil.
__ADS_1
Disisi lain, tiga bocah yang berhadapan dengan Alianora benar-benar tidak bisa berkutik. Wajah mereka semua merah padam menahan malu dan rasa tidak terima, terutama Michelle. Wajahnya sudah seperti tomat.