
Kontrak jiwa.
Satu dari tiga mantra terlarang yang dikutuk surga dan ditabukan di dunia manusia.
Dulu, saat perang dingin masih berlangsung, bangsawan maupun rakyat jelata, rela mengorbankan sesuatu yang paling berharga dalam hidup mereka untuk mendatangkan suatu sosok gelap mengerikan yang kejam, lebih brutal dari iblis sekalipun.
Sosok itu adalah Dewi Alianora, sang dewi pembunuh sekaligus pencipta mantra Kontrak Jiwa.
Namun ketika Dewi Alianora jatuh tertidur dalam penjara dunia bawah dan kegelapan dunia sudah mulai sirna, mantra itu juga lenyap dari permukaan bumi, seakan tidak pernah tercipta sebelumnya. Tidak ada yang membicarakan atau menulis informasi tentang mantra itu, jadi banyak yang beranggapan kalau mantra itu hanya mitos belaka.
Tidak ada yang tahu dari mana seorang putri bangsawan yang terkenal lugu dan bodoh, bisa menggunakan mantra terlarang yang keberadaanya masih menjadi misteri itu.
"Tolong, selamatkan keluargaku!"
Alianora membuka mata, menampilkan kembali gambaran kamar tidur luas dan juga dua orang yang sedang menghakiminya sekarang. Dengan kerpet lantai yang dipenuhi cairan bubur kering yang baunya memenuhi seisi ruangan, serta piring berserakan dan pelayan yang terduduk kaku di sampingnya, Alianora yang berdiri diantara mereka merasa seperti menonton sebuah drama picisan yang sering ditayangkan di panggung teater.
Dalam hati, dia menhela nafas panjang. Permintaan kontraktornya memang sangat menyusahkan, tapi dia sudah terlanjur menyetujuinya, tidak ada yang bisa dia lakukan selain berusaha mengabulkannya, meskipun dalam kondisi seperti saat ini. Tidak bisa dipungkiri lagi, sekarang dia benar-benar berada dalam tubuh kontraktornya, Thalia La Sheridan, yang saat ini masih bocah. Untuk alasannya, dia masih tidak tahu, tapi dia bisa memikirkan itu nanti, sekarang dia sepertinya harus menyelesaikan masalah yang ada di hadapannya ini.
"Thalia La Sheridan, apa kau tidak mendengar pertanyaanku? Apa yang terjadi disini?"
Suara yang tajam dan dingin, penuh dengan amarah membuat Alianora menoleh ke arah wanita cantik dan elegan didepannya.
Paras cantik dan elegan, kalau tidak salah wanita ini dipanggil Nyonya Duchess...berarti aku sekarang berada di kediaman keluarga duke?
Heh, jadi wanita lugu seperti Thalia ini putri duke, hm?
Alianora terdiam sejenak kemudian membungkukan badannya dengan sopan dihadapan wanita itu, sambil menyapa dengan lembut.
"Ibu, aku minta maaf karena sudah memperlihatkan kamarku yang berantakan seperti ini. Tadi, ketika pelayan itu membawa nampan makanannya, aku mencium bau yang tidak enak dari makanan itu, jadi aku tidak sengaja menepis nampannya karena tidak tahan dengan bau makanan itu."
Alianora mengakhiri omongannya dengan senyuman sepolos yang dia bisa layaknya seorang gadis berumur 10 tahun. Dia tidak tahu karakteristik bocah Thalia ini seperti apa, jadi dia hanya menebak-nebak cara bicara anak seusianya itu seperti apa. Semoga saja, identitasnya sebagai Thalia palsu tidak terbongkar.
Akan tetapi, suasana kamar itu tiba-tiba jadi sunyi, ketiga orang di ruangan itu melihat Alianora dengan tatapan terkejut dan bingung. Alianora balas memandang mereka, berusaha untuk tetap tenang dan mempertahankan senyumannya agar tetap natural, meski dalam pikirannya dia sudah bertanya-tanya apakah yang dia katakan salah, atau aktingnya salah.
Alianora menjadi semakin yakin kalau apa yang dia lakukan tadi bukan hal yang biasa dilakukan Thalia ketika dia melihat wajah gadis kecil dibelakang wanita cantik didepannya, yang menatapanya seolah-olah dia baru saja melakukan hal paling tidak masuk akal di dunia.
Gadis kecil itu bergumam pelan, "Kakak...?"
Alianora mengangguk cepat, "Pelayan ini yang harusnya disalahkan, ibu."
Wajah gadis kecil itu bukannya berubah jadi makin biasa, namun malah menjadi semakin horor.
Apa ada yang salah?
Alianora mencoba melirik ke arah wanita yang dipanggil Nyonya Duchess tadi, dan melihat sorot mata amethyst yang menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan.
Ah, sepertinya dia benar-benar telah melakukan kesalahan.
"Nyonya Duchess, s-saya...itu semua-", gadis pelayan itu sempat ingin menyangkal tuduha Alianora kepadanya, namun ketika dia melirik ke arah Alianora yang menatapnya dengan tajam, dia seketika memalingkan wajahnya dan meringkuk, "Nyonya...tolong...m-maafkan saya, saya...tidak sengaja...saya minta maaf nyonya...."
Namun, wanita itu sama sekali tidak melirik ke arah pelayan itu dan menghiraukannya seperti dia tidak pernah ada di sana. Dia hanya menatap lurus ke arah Alianora.
__ADS_1
"Hm, menumpahkan sarapanmu sendiri, sungguh perilaku yang memalukan untuk seorang putri bangsawan."
Lalu, wanita itu bergumam kecil, yang masih bisa didengar oleh Alianora, "Sungguh tidak tahu etika."
Mendengar itu membuat Alianora segera menoleh ke arah wanita itu dengan tajam.
Apa barusan, wanita ini menghina putrinya sendiri dengan sengaja seperti itu? Setelah menemukan kalau putrinya di beri makanan basi?
Alianora cukup terkejut menerima reaksi dari wanita didepannya ini. Bukankah wanita ini ibu Thalia, yang termasuk dari 'keluarga' yang ingin dilindungi oleh Thalia sendiri meski dengan bayaran nyawa?
"Thalia La Sheridan, karena kau yang membuat kekacauan ini, maka sebagai hukumannya, kau yang harus membersihkan ini semua. Mary, kau dan pelayan lain tidak boleh membantunya, biarkan dia sendiri yang melakukannya."kata wanita itu ketika hendak berjalan keluar.
Alianora mengangkat sebelah alis, saking terkejutnya dia sampai lupa untuk berakting, "Hah? Tunggu,tapi aku baru saja diberi makanan basi!"
"Lalu?"
Sorot mata amethyst wanita itu sangat dingin dan tajam, sangat tidak berperasaan, tidak ada ekspresi. Alianora yang melihat itu sampai tidak bisa berkata-kata.
Alis mata wanita itu mengkerut, "Satu hal lagi, Thalia La Sheridan, kuharap ini terakhir kalinya kau berbicara tanpa etika dihadapanku. Jangan sampai kau memperlihatkan latar belakangmu yang tidak jelas dimuka umum, dan mengotori nama Sheridan."
Setelah itu kedua orang itu pun meninggalkan pelayan itu dan Alianora yang masih bengong menatap ke arah pintu, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dia saksikan.
****
Alianora membuka mata. Pemandangan kamar yang luas layaknya putri bangsawan namun biasa saja, terpampang dihadapannya. Kamar dimana dia terbangun menjadi seorang putri manusia.
Alianora memandangi sekelilingnya, semuanya tidak berwarna, hitam dan putih saja. Pohon-pohon diluar jendela tidak bergerak. Waktu seakan berhenti.
Alianora merasa aneh tapi ketika dia ingin bergerak, tidak ada yang bisa digerakan. Tubuhnya diam terduduk kaku di pinggiran tempat tidur.
Layar berganti. Kali ini Alianora berada dalam sebuah ruangan luas yang diterangi oleh lampu-lampu kristal disana-sini. Alianora tidak bisa melihat warna lain selain hitam dan putih, begitu juga dengan sosok-sosok di sekelilingnya yang berpakaian bagus tapi wajahnya hanya bisa dilihat sebagian. Mereka berdiri mengelilinginya sambil berbisik-bisik, dan Alianora bisa mendengar semuanya dengan jelas.
'Heh, jadi itu putri Sheridan yang terbuang'
'Oh, jadi dia putri angkat Duke Sheridan yang berasal dari rakyat jelata?'
'Hahaha, memang pantas. Dari awal aku sudah curiga, tidak ada bangsawan yang tidak bisa sihir kecuali dia.'
'Benar, apalagi dengan Nona Estelle yang bakatnya sangat luar biasa. Berbeda sekali kan?'
'Ha, penampilannya saja sudah seperti gembel, Nona Estelle dengan dia bagai langit dan bumi!'
'Hahaha!'
Layar demi layar berganti, gambaran demi gambaran baru terus bermunculan satu persatu menammpilkan berbagai adegan seperti klise hidup yang selalu membuatnya merasakan perasaan sulit.
Sampai tibalah dia dalam ruangan putih bersih dan kosong. Satu-satunya tempat yang hadir dalam ingatannya.
Dihadapan seorang wanita muda nan cantik yang sedang menangis tersedu-sedu, dia bisa mendengar suaranya sendiri bergema memenuhi seisi ruangan tanpa batasan waktu.
"Menyelamatkan? Siapa? Aku? Hei nona muda, apa kau tidak salah orang?"
__ADS_1
"Kumohon! Saya, saya sangat butuh kekuatan! Namun tidak peduli apapun yang saya lakukan, tidak peduli seberapa sering saya berdoa kepada Dewa Ilios, saya tidak pernah mendapatkan apa-apa. Anda adalah satu-satunya harapan terakhir saya. Jadi tolonglah saya!"
"Lalu, apa yang membuatmu berpikir kalau aku akan menolongmu?”
"Saya...akan memberikan jiwa saya pada Anda."
"Dan apa gunanya jiwamu untukku?"
"Saya akan memberikan jiwa saya...Jiwa Apostle."
****
Dalam kamarnya, Alianora kembali membuka mata yang langsung disambut oleh pemandangan atap tempat tidurnya yang lusuh. Dia mengerjap-ngerjapkan mata, seolah pikirannya belum bisa terlepas dari adegan demi adegan yang baru saja dia saksikan. Mimpi adalah sesuatu yang terlalu abstrak untuk mendeskripsikan gambaran-gambaran itu. Mereka terlalu jelas dan nyata, Alianora merasa seperti dirinya baru saja pulang dari perjalanan waktu ke masa lalu. Masa lalu siapa? Alianora sudah bisa menebaknya, bahkan berkat ini, kebingungannya dengan perlakuan orang-orang disekitarnya tadi menjadi jelas.
Ah, jadi seperti itu.
Thalia La Sheridan, kehidupannya sebagai putri duke memang sangat tidak biasa.
Alianora menghela napas sebelum bangkit dari tempat tidurnya, untuk melihat lantainya yang masih berantakan. Piring makan dan sendok yang masih tergeletak, serta kuah bubur yang mengering di karpet, mengeluarkan bau yang tidak sedap.
"Ha, sepertinya menyelesaikan misi ini akan merepotkan. Pantas saja tadi mereka terlihat seperti melihat hantu saja."
Dia harus memerankan seorang putri yang tertindas, tidak bisa terlalu banyak melawan jika dia tidak ingin orang-orang disekitarnya curiga padanya. Apa yang tidak lebih menyusahkan dari itu?
Walaupun Alianora menganggap kalau hidup sebagai manusia untuk pertama kalinya adalah sesuatu yang menarik dan boleh dicoba, tapi dia juga tidak ingin hidup sebagai manusia yang menyedihkan begini.
Akan tetapi, demi mendapatkan esensi mana suci dari Jiwa Apostle, apapun akan dia lakukan.
Mengingat kembali kontrak yang dia buat dengan kontraktornya Thalia La Sheridan, dia masih tidak menyangka. Sungguh dia tidak mengira bahwa wanita lemah seperti itu ternyata adalah sebuah potongan emas yang tidak sengaja dia temukan di pinggir sungai.
Bagaimana dia bisa melewatkan Jiwa Apostle yang sudah mempersembahkan diri padanya?
Jiwa Apostle dengan mana suci ilahi, yang muncul setiap seribu tahun sekali.
Bila Alianora ingin terbebas dari penjara dunia bawah, dia harus mengumpulkan kembali esensi keilahiannya secara utuh, dan mana suci dalam Jiwa Apostle adalah satu-satunya alat yang bisa membantu mengumpulkan esensi itu dalam sekejap mata.
Bagaimana dia bisa melewatkan kesempatan berharga itu?
Tentu saja tidak.
Walaupun dia harus bersusah payah menjadi anak kecil menyedihkan, dan melakukan misi penyelamatan mengganggu, dia tidak akan menyesal. Ini adalah bayaran untuk Jiwa Apostle itu. Lagipula, didunia ini tidak ada yang gratis kan?
Alianora menepuk kedua pipinya.
Jika dia ingin misinya ini cepat selesai, dia harus cepat menemukan sumber permasalahannya dan mencegah itu terjadi, meskipun dia harus terus berakting dan menahan dirinya sendiri.
“Oke, sekarang apa yang akan kulakukan, hm?”
Permintaan Thalia adalah untuk menyelamatkan keluarganya dari ambang kehancuran, dan hal yang paling utama yang harus Alianora lakukan adalah untuk mencegah faktor utama penyebab hancurnya keluarga Thalia.
Harusnnya semua ini tidaklah sulit, jika Alianora memang bisa dengan bebas melakukan apapun dengan caranya. Tapi masalahnya disini, Thalia tidak menginginkan dia untuk membunuh siapapun di dunia ini, dan karena aturan Kontrak Jiwa yang ketat Alianora terpaksa harus menurutinya. Sangat disayangkan, padahal jika dia boleh saja melakukan ini dengan caranya yang biasa, pastinya dia sudah bersantai saat ini.
__ADS_1
"Sayang sekali. Padahal, itu adalah cara yang paling cepat dan tepat."
Terpaksa, Alianora harus menyusun rencana panjang lebar dan secara bertahap dengan menganalisa ingatan Thalia yang baru saja dia saksikan.