Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke

Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke
Chapter 8 : Minum Teh Dengan Estelle


__ADS_3

Thalia adalah anak yang tertutup.


Hampir tidak pernah sekalipun dia menginjakan kaki keluar dari kamarnya, dan alasan dia melakukan itu karena dia tidak sanggup melihat kedua orang tuanya yang selalu saja memberi perhatian kepada adiknya Estelle, sedangkan dia sendiri terabaikan.


Setidaknya, itulah yang orang lain kira selama ini.


Tapi, itu tidak semuanya benar.


Iri hati bukanlah faktor utama, melainkan tatapan, bisikan, dan perlakuan kasar yang terus saja dia terima dari orang-orang yang tidak tahu diri.


Seperti orang didepannya ini, seorang pelayan senior, Dolores.


Pelayan yang paling memperlakukan Thalia bagai sampah.


Heh, kantung sampah raksasa ini tidak sadar diri rupanya.


Alianora membalikan badannya sepenuhnya menghadap Dolores, "Huh? Dan, kenapa aku tidak boleh kemari?"


Dolores menyipitkan matanya pada Alianora, dan menggenggam tangannya lebih erat, "Itu bukan urusanmu."


"Apa aku juga tidak boleh masuk ke dalam perpustakaan rumahku sendiri?"


Dolores membungkuk kebawah sampai Alianora bisa melihat jelas kerutan di wajahnya yang tua.


"Rumah? Kastil Nauchwanstein ini hanya milik tuan duke dan nyonya duchess, serta nona Estelle. Orang rendahan seperti dirimu tidak pantas menyebut kastil ini sebagai rumah. Ini bukan tempatmu, tahu dirilah. Jadi cepat menyingkir dari sini."


"Kalau aku tidak mau?"


"Jika kau tidak mau, maka aku akan menyeretmu sampai kekamarmu."


Alianora tahu pelayan ini tidak sekedar bicara. Jika dia bilang akan menyeret, maka dia akan menyeret Thalia sungguhan. Berbeda dengan pelayan lain, Dolores sudah sering melakukan berbagai macam tindakan lancangnya pada Thalia. Dulu, dia pernah sampai menampar Thalia hanya karena tidak sengaja menumpahkan segelas susu pada gaunnya. Thalia saat itu sampai terguncang, dan tidak berani keluar kamar sampai beberapa hari.


Sejak saat itu, setiap kali melihat Dolores, Thalia selalu diselimuti ketakutan sampai tubuhnya bergetar, itu membuat Dolores puas, bahwa tampang seorang putri rendahan seperti Thalia harusnya seperti itu.


Alianora mengangkat sebelah alis, sama sekali tidak melirik kearah tangannya yang diremas Dolores sampai agak biru. "Menyeret? Pfft...."


Alianora tiba-tiba tertawa sambil menutupi mulutnya.


Dolores mengernyitkan dahinya, "Nona Thalia, apa kau sudah tidak waras?"


"Wah...hahah...maaf, maaf...hah...aku hanya sedikit...pfft....menyeret...."


"Nona Thalia!-"


"Sshh," Alianora menempelkan satu jari ke bibirnya, "jangan berteriak dikoridor, apakah nyonya pelayan keluarga duke tidak tahu akan tata krama dasar ini? Orang rendah sepertiku saja tahu. Pfft..."


Melihat ekspresi Alianora yang seperti mengejeknya, membuat darahnya sampai ke ubun-ubun. Dia melirik ke tangan Alianora yang masih dia genggam dan meremasnya semakin keras sampai Alianora menoleh kearahnya lagi.


"Nona Thalia, kau pikir apa yang sedang kau lakukan sekarang?!"


"Apa? Ya jelas menertawakanmu lah. Menertawakanmu atas hal bodoh yang kau katakan tadi, kau tahu?"


"Apa?!"


"Sepertinya kau belum sadar ya. Selama ini aku selalu mengabaikan kelakuan lancangmu terhadapku. Kau menamparku, menjambakku, mengata-ngataiku, menghinaku, dan oh masih banyak lagi. Kau pikir karena aku tidak bertindak, berarti aku tidak berani? Ha! Biar kukatakan padamu satu hal, aku bisa saja melenyapkanmu dari rumah ini kapan saja, itu tidak sulit. Hanya saja aku masih ingin melihat tingkahmu lebih lama lagi."


Dolores menatap wajah Alianora dengan mata terbelalak, dahinya semakin mengkerut.


"Aku ingin melihat tingkah bodohmu yang sudah berasa seperti nyonya pemilik rumah karena berhasil menindas nona muda yang harusnya kau layani. Ha! Lucu sekali. Asal kau tahu, siapapun aku dulu, sekarang aku adalah bagian dari keluarga Sheridan yang sah, berarti aku majikanmu. Kau yang harusnya sadar diri, dasar rendahan."


PLAK!


Dolores melayangkan tamparannya pada wajah Alianora dengan emosi.


Kepala Thalia berpaling kesamping, dan rambut peraknya berhamburan menutupi pipinya yang sudah memerah


"Sepertinya, sudah lama aku tidak menghukumu hingga kau jadi lancang seperti ini."


Tapi, alih-alih merasa takut, Alianora malah tersenyum lebar sambil sedikit cekikikan.


"Heheh...lihat dirimu, tua bangka hanya berani dengan anak kecil, menyedihkan."


Dolores sudah siap melayangkan tangannya lagi pada Alianora, dan pintu perpustakaan disampping mereka terbuka. Estelle dan kedua pelayan pribadinya muncul dari balik pintu.


Dolores cepat-cepat menyingkir dari Thalia sebelum Estelle bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi.


Estelle melihat Alianora dan Dolores secara bergantian.


“Hm? Kakak? Dolores? Kalian sedang apa disini?”


“A-ah, Nona Estelle…ini…s-saya tadi baru saja tiba disini, dan tidak sengaja berpapasan dengan…dengan Nona Thalia.”, jawab Dolores dengan terbata-bata.

__ADS_1


“Dengan kakak?”


Estelle menoleh pada Alianora yang masih terdiam. Mata biru Estelle menangkap sedikit bercak kemerahan pada pipi Alianora yang tertutupi oleh rambut. Sedikit terkejut, tapi dia tidak mengatakan apa-apa.


“Benarkah? Eh, aku tidak tahu kalau kalau kakak dari tadi disini, kenapa kakak tidak masuk saja ke dalam?”


Alianora memandangi Estelle yang sedang tersenyum polos seperti biasa, seperti tidak terjadi apa-apa.


Apa dia buta atau pura-pura tidak tahu?


Alianora yang sudah tidak bisa menahan lagi akhirnya mengeluarkan tawa kecil, lebih ke arah dengusan. Oh, pipinya sedikit nyeri.


“Oh, ya tadi aku berniat masuk, tapi tiba-tiba ada nyamuk yang datang entah dari mana dan menempel pada pipiku, dan aku menepuknya.”


Estelle mengedipkan mata, “E-eh? Nyamuk? Ah, jadi karena itu pipi kakak memerah?”


Alianora tersenyum sambil mengangguk.


Disisi lain, Dolores nampak sama bingungnya dengan Estelle. Dia sudah yakin kalau, Alianora akan mengadukannya kepada Estelle, tapi nyatanya, Alianora malah mengatakan hal yang tidak masuk akal seperti itu.


Dolores lebih bingung dari pada lega.


Apa yang sebenarnya yang dipikirkan anak ini?


‘Tidak, aku pasti terlalu banyak berpikir, mana mungkin anak tolol ini bisa melakukan sesuatu.’ pikir Dolores.


Namun, tanpa dia sadari, Alianora meliriknya sambil tersenyum kecil.


Anggap saja hari ini kau beruntung, tapi jangan berpikir kalau hal ini akan terulang lagi.


“Kakak, kau ingin masuk kan? Kalau begitu masuklah, kebetulan aku baru saja selesai mengerjakan PR. Aku bisa menemani kakak di dalam.”


Alianora menoleh pada Estelle lalu tersenyum, “Tentu, ayo masuk.”


*****


“Tadaa! Ayo masuklah kak!”


Alianora tidak pernah berhenti melihat-lihat sekitar sambil melangkah mengikuti Estelle yang sudah menaruh buku-bukunya di atas meja belajarnya.


Jika kamar Thalia saja sudah dia anggap seperti anak bangsawan, maka bentuk ruangan ini malah sudah seperti kamar putri raja.


Tentu saja, kenapa juga dia harus kaget?


Kamar luas, ramai akan pernak-pernik mahal mengkilap, ranjang yang empuk, perhiasan yang berlimpah, serta boneka-boneka bertumpukan, sudah seharusnya dimiliki oleh putri kesayangan tuan duke, bukan?


Hanya saja, Alianora sedikit tertegun, setelah melihat kamar ini rasanya kamar miliknya itu mirip kubangan lumpur.


“Uh-huh, aku juga.”, Alianora menjawab sambil duduk di sofa.


Ya, Thalia memang sudah beberapa kali masuk ke kamar ini, tentu saja dengan urusan macam-macam. Biasanya, Thalia selalu ke sini untuk menyampaikan keluh-kesahnya pada Estelle, dan Estelle selalu menghiburnya.


Namun itu akan terjadi beberapa tahun kemudian, untuk sekarang, bisa dibilang Thalia belum terlalu sering kemari. Sehari sebelum Hari Pembaptisan dulu, Thalia juga tidak mengunjungi Estelle seperti sekarang, melainkan dia menghabiskan waktu di kamarnya sendiri untuk meratapi nasibnya pada esok hari.


Alianora sebenarnya menyendiri juga di perpustakaan sambil mencari informasi terkait keanehan pada tubuhnya, tapi tentu saja dia tidak bisa menolak ajakan Estelle. Apalagi, jika dia bersikeras untuk menemaninya seharian di perpustakaan.


Entah apa lagi yang direncanakan anak ini, Alianora sama sekali tidak bisa menebaknya.


“Hilda, kemarilah,” panggil Estelle pada seorang pelayan yang berdiri di pojok ruangan, “bawa beberapa camilan dan kue-kue kesini, dan juga…kakak mau minum apa?”


“Apa saja yang kau inginkan.”


“Oke, kalau begitu, Assam tea untuk Elle dan kakak.”


Setelah itu, pelayan bernama Hilda keluar meninggalkan Estelle dan Alianora.


“Haa, akhirnya. Belajar beberapa jam membuat kepala Elle pusing.”


Keluh Estelle sambil bersandar malas pada sofa diseberang Alianora.


“Semelelahkan itu kah? Memangnya, Elle tadi belajar apa?”


“Banyak hal kak! Hari ini, Elle belajar matematika dasar dan juga sejarah, setelah itu Elle tadi sempat mengulang beberapa materi pelajaran geografi untuk tes besok. Lalu setelah ini, Elle harus berlatih sihir dan pedang. Melelahkan sekali.”


“Memang melelahkan, tapi sebagai bangsawan, sudah kewajiban kita untuk mengetahui banyak hal, bukan?”


Estelle tersenyum, “Tentu saja, kak. Sudah kewajiban Elle untuk menguasai banyak hal. Lagipula, Elle harus mempersiapkan diri untuk jadi penerus ayah.”


Alianora balas tersenyum.


Tentu saja dia akan mengatakan hal itu.

__ADS_1


“Tentu saja. Elle pasti akan jadi penerus yang hebat.”


“Hehe, makasih kak.”


Kemudian, pelayan bernama Hilda tadi masuk membawa kereta makanan, lalu menaruh beberapa kue-kue dan manisan ke atas meja.


Estelle dan Alianora mulai mengambil beberapa kue, dan juga meminum teh mereka.


“Oh ya kak, bagaimana persiapan kakak buat besok?”


“Tentu saja sudah. Apapun yang terjadi besok, aku sudah mempersiapkan diri dengan baik.”


“Hehe, baguslah kak. Uhh, aku tidak sabar untuk besok kak! Elle sudah mempersiapkan baju apa yang akan kupakai besok, pokoknya harus bagus, kan besok hari istimewa. Oh ya, omong-omong, besok kakak pakai baju apa?


Alianora teringat dengan pakaian-pakaian usang yang ada pada lemari pakaiannya tadi pagi, jelas tidak ada yang layak dipakai seorang putri bangsawan.


“Iya, sudah ada kok. Aku lebih memilih gaun yang simpel dan tidak terlalu berlebihan. Berlebihan itu terlalu norak, gaun-gaun yang aku punya sudah cukup bagus menurutku.”


Alianora juga tidak berbohong.


Meski gaun-gaun itu usang, tapi jika itu dipakai oleh rakyat biasa, maka gaun itu masih bisa dibilang sangat bagus. Malah kadang, gaun-gaun yang dipakai para bangsawanlah yang mencolok, dan Alianora memang dari dulu tidak suka hal yang mencolok.


Mendengar jawaban jujur Alianora, Estelle nampak terkejut. Dia menatap Alianora sebentar sebelum akhirnya tertawa geli.


“Hahaha, kak, Elle tidak percaya apa yang kayak katakan barusan. Hahaha…maaf kak, tapi Elle merasa aneh saja. Bukannya Elle tidak suka gaya kakak yang simpel, tapi kan Elle ingat, gaun kakak itu sudah kakak pakai sejak awal kakak tinggal disini. Meskipun simpel, tapi itu terlalu usang kan? Lalu kakak mau memakai itu? Hahaha, kayak jangan membuat Elle sakit perut.”


Estelle tertawa terbahak-bahak sampai susah berhenti, itu sudah membuat darah Alianora sedikit naik, tapi melihat kedua pelayan pribadi Estelle yang berdiri di pojok juga menertawakannya, hampir membuat Alianora melempar gelas tehnya pada wajah mereka.


Dia tidak percaya, apa adik ‘kesayangan’nya ini baru saja menghinanya secara terang-terangan? Jika sekarang yang ada ditempat ini Thalia, apa dia juga akan melakukan hal yang sama?


Eh, tapi dia sekarang kan Thalia, dan bocah ini tahu itu.


Tanpa bicara dan senyum sedikitpun, Alianora menunggu sampai mereka selesai tertawa sambil meminum tehnya.


Sabar Alianora, kau tidak boleh hilang kesabaran disini. Kau sudah terlalu tua untuk termakan ejekan bocah.


“...Haha…ha…kakak ini lucu sekali…ha…,” Estelle menggosok air mata pada ujung matanya, “Huft, hm, sebenarnya kak, Elle mangajak kakak ke kamar Elle untuk ini. Elle tahu pasti kakak tidak punya gaun untuk dipakai besok kan?”


Ah, lanjutkan, hm?


“Iya, lalu.” tanya Alianora datar.


“Hehe, kemarilah kak!”


Estelle menarik tangan Alianora untuk mengikutinya. Alianora dengan enggan mengikuti Estelle menuju ke ruangan riasnya yang dikelilingi oleh lemari pakaian raksasa dan juga cermin.


Estelle membuka sebuah lemari pakaian yang ada di tengah, “Tara! Kak Lihatlah!”


Alianora menatap isi lemari itu dengan mata melebar. Didalam sana mungkin ada puluhan, tidak, mungkin ratusan gaun dengan berbagai macam warna dan pernak-pernik.


“Kakak bisa pilih gaun apa saja didalam sini kak, aku akan meminjamkannya pada kakak.”


“Huh?”


“Iya kak, daripada kakak memakai gaun kakak, gaun disini lebih bagus kan?”


Disitu, Alianora melihat wajah Estelle, topeng ‘adik baik’ yang selama ini kenakan sudah luntur entah kemana, menyisakan senyuman licik dan mengejek. Begitu juga dengan dua pelayan dibelakangnya, mereka melihat Alianora seperti melihat gembel di jalanan.


Wah, Alianora hanya bisa terkejut dalam hati.


Thalia oh Thalia, bagaimana bisa matamu begitu buta, sayangku?


“Jadi, kakak pilih yang mana?”


Alianora kembali menunjukan senyum formalitasnya pada mereka.


“Oh Elle, terima kasih karena sudah mengkhawatirkan aku. Hm, tapi maaf ya, sepertinya aku akan tetap memakai gaun ku.”


Senyum Estelle langsung hilang, digantikan dengan wajah bingung, tidak percaya apa yang baru saja dia dengar.


“Hah? Apa kayak yakin? Kakak bercanda kan?”


Alianora menggeleng, “Tidak kok, aku sungguhan akan memakai gaunku saja.”


“Tapi kenapa kak? Kakak bukannya tidak menyukai gaun Elle kan?”


Kali ini, gantian Alianora yang tersenyum puas, “Tidak, aku sungguhan tidak menyukai gaunmu Elle.”


Alianora beranjak meninggalkan mereka yang masih melongo menatapnya, menuju ke pintu keluar.


“Maaf ya, Elle. Aku kan sudah bilang baju yang berlebihan itu terlalu norak, dan itu tidak akan cocok denganku.”

__ADS_1


__ADS_2