
“Thalia La Sheridan, berbaringlah diatas altar ini.”, tanpa banyak tanya, Alianora segera melakukan apa yang diperintahkan oleh si pendeta yang sedang membaca-bacakan kalimat-kalimat doa. Alianora yang tidak fokus masih membayangkan bocah tidak sopan yang barusan dia temui.
Ah, omong-omong, wajah anak itu agak familiar, hm. Rambut gelap, sorot mata itu, di mana aku pernah melihatnya?
Pendeta itu kemudian mengambil air dalam ember kecil, dan memercikannya perlahan ke seluruh tubuh Alianora, dengan tak berhenti melantunkan doa-doa. Alianora menutup kedua matanya dengan rileks. Butiran air yang menyentuh tubuhnya terasa seperti dia sedang berada di bawah tetesan hujan gerimis yang membuatnya nyaman. Dia merasa ngantuk.
Ah, sudahlah. Siapapun anak itu, dari penampilannya dia pasti bangsawan dengan kelas yang cukup tinggi, dan jika itu benar, aku pasti akan bertemu dengannya lagi nanti. Aku akan mencoba mengingat-ingatnya kembali saat itu.
Tidak lama kemudian, sebuah lingkaran sihir raksasa di bawah altar, berpendar menyilaukan yang menyelimuti seluruh tubuh Alianora. Lingkaran sihir pembaptisan itu bercahaya keemasan yang sangat menyilaukan, sesuatu yang bahkan belum pernah terjadi, setidaknya tidak selama beberapa ratus tahun belakanngan ini.
Semua orang yang menyaksikan membelalakan mata mereka sambil menganga lebar. Para bangsawan di dalam, segera berbisik-bisik dengan cepat, sedangkan yang di luar, berbondong-bondong masuk ke dalam dengan tergesa-gesa untuk menyaksikan fenomena aneh itu.
“Cahaya emas?...jangan bilang….ah, jadi begitu ya, hm….”, kata seorang anak laki-laki berambut biru laut terang sambil tersenyum.
“W-woah, ayah! Yang di atas altar itu sungguhan putri Duke Sheridan yang 'itu' kan? Berarti dia...berarti dia….!”
“Sshh....Leon, diamlah.”
anak berambut merah tua tadi langsung terdiam ketika mendapat teguran dari ibunya.
Di pojok ruangan beberapa orang berjubah ungu tua sudah berkumpul sambil terbelalak tidak percaya.
"C-cahaya emas itu...tidak salah lagi!"
kata seorang diantara mereka.
"Whoa, whoa, aku tidak menyangka bahwa tahun ini aku akan melihat peristiwa langka seperti ini. Heh, memang aku sudah punya firasat kalau garis hidupku ini bagus."
"Sshh, Kasyim. Bisa tidak kau tidak terlalu berisik? Suaramu itu seperti pengeras suara. Dan kau Ilya, garis hidupmu itu terkutuk jadi diamlah."
"Aih, sudahlah jangan berdebat kalian! Kita laporkan dulu ini pada Master."
Kemudian mereka pun menghilang begitu saja dari sana.
*****
Selain itu, wajah keluarga Sheridan yang datar dan dingin juga pecah oleh ekspresi tercengang, terlebih untuk Estelle yang menonton kakaknya dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
Dari arah pintu keluar, seorang anak laki-laki berambut biru gelap menyaksikan dengan tenang semua yang terjadi.
"...."
Dengan tubuh masih bergetar dan keringat dingin meleleh, sang pendeta mendekati altar, “S-seorang Jiwa Apostle telah lahir! Terpujilah Dewa Cahaya Ilios!”
Sejak hari itu, berita bahwa seorang Jiwa Apostle baru telah lahir telah sepenuhnya tersebar luas ke seluruh penjuru Kerajaan Agris, dan berkat ini, ibu kota menjadi gempar.
Dalam beberapa hari saja, nama Thalia menjadi topik panas dalam setiap perbincangan kaum aristokrat.
Walaupun pihak gereja menghimbau agar tidak membicarakan tentang Jiwa Apostle sampai ada pengunguman resmi, mereka tetap tidak bisa sepenuhnya mengontrol mulut orang-orang yang menyaksikan langsung kejadian hari itu. Akibatnya, berita itu sampai di telinga keluarga kerajaan dan para bangsawan lainnya yang pada hari itu tidak hadir.
Seorang Jiwa Apostle yang dipuja seperti seorang saint, apa para bangsawan itu tidak tergiur akan kekuatan yang dimilikinya?
Karena itu, selama dua pekan ini, banyak keluarga-keluarga bangsawan terkemuka mencoba untuk mencari muka didepan keluarga Sheridan, terutama di depan Alianora, dengan cara mengirim segunung undangan acara-acara kecil, dan pertemuan-pertemuan.
Alianora benar-benar tidak punya waktu untuk sekedar bernapas.
"Uhm...Nona Sheridan? Apa semuanya baik-baik saja?"
Wanita berambut merah muda pucat, Nona Ivory menatapnya dengan cemas.
Segera ketika Alianora mengangkat kepala, pandangannya dipenuhi oleh wajah anak-anak perempuan bangsawan seumurannya dengan gaun warna-warni dan juga perhiasan sana-sini. Mereka menatapnya dengan bingung.
Ah, ya benar. Aku sedang berada di acara minum teh di…siapa tadi namanya…?
"Ah! Ya, saya baik-baik saja, maafkan saya, Nona Ivory, tadi apakah Anda mengatakan sesuatu?"
Tentu saja, acara minum teh dan bincang-bincang antar bangsawan adalah salah satu dari kesibukannya juga. Dari begitu banyak undangan yang datang, setiap harinya dia harus mengikuti paling tidak dua atau tiga acara.
Di saat seperti ini, Alianora berharap bahwa Kalisto akan melarangnya pergi, tapi sayangnya meskipun orang itu memiliki pengaruh dan kekuasaan yang disegani oleh bangsawan lain di seluruh Agris, dia tidak akan mungkin menolak undangan-undangan yang dikirimkan oleh keluarga bangsawan yang juga memiliki pengaruh penting, seperti keluarga Marquess Ivory.
Marquess Ivory adalah salah satu keluarga bangsawan yang paling kaya di Kerajaan Agris. Kekayaan mereka mungkin hanya sebelas-dua belas dengan Marquess Rocheleau, yang bahkan hampir sekaya keluarga kerajaan.
__ADS_1
Mereka memiliki usaha perdagangan rempah-rempah terbesar dan jangkauannya sampai ke kerajaan-kerajaan lain.
Berkat ini juga, mereka mempunyai banyak koneksi dengan aristokrat-aristokrat negara lain yang membuat mereka menjadi salah satu keluarga berpengaruh di antara kalangan bangsawan. Selain itu, Keluarga Duke Sheridan juga sudah lama menjalin kerja sama dengan Keluarga Marquess Ivory, dan menganggap mereka sebagai partner bisnis yang penting sekali.
Sudah jelas bahwa Alianora tidak boleh mengabaikan undangan minum teh bersama dari putri keluarga ini kan?
Nona Ivory, yang duduk di seberang Alianora, membalas dengan senyum tulus, "Tidak apa, Nona Sheridan, saya hanya ingin tahu apakah teh Yellow Mountain Fur Peak Green Tea ini cocok dengan selera Anda."
Alianora kembali memandangi cairan hijau muda transparan di dalam cangkir keramik putih di hadapannya yang sama sekali belum tersentuh. Dia dengan cepat namun berusaha tenang, menyeruput teh itu sedikit.
Uh...memang apa yang dia ingin aku katakan? Bahwa teh blablabla Vulpix ini sungguh terasa seperti...teh?
Alianora memasang senyum tipis yang dibuat-buat,“Tentu saja Nona Ivory, teh…ini sungguh terasa unik dan aromanya juga beda dari teh lain. Mungkin teh ini bisa menjadi salah satu teh favorit saya.”
Tch, berapa lama lagi aku akan berada disini?
“Ah, Nona Sheridan benar. Teh ini sangat enak dan menyegarkan!" sahut anak perempuan disebelah Alianora.
"Anda mendapat teh seperti ini dari mana? Saya belum pernah melihat teh ini sebelumnya." , tambah anak perempuan lain di seberangnya.
Meja bundar ini penuh dengan hal yang tidak berguna.
Nona Ivory tertawa kecil melihat reaksi anak-anak lain. Pipinya yang putih menampilkan rona merah tipis dan mata hijau emerald nya penuh dengan kegirangan.
"Oh, teh ini dibelikan oleh ayahku sewaktu dia berkunjung ke daerah bagian timur untuk urusan bisnis. Ayahku bilang, daun tehnya yang dilapisi oleh semacam serat kapas, hanya tumbuh di sekitar Pegunungan Kuning di sana. Karena itu, orang-orang timur biasa menyebutnya Huangshan Maofeng atau Yellow Mountain Fur Peak Green Tea.Teh ini sangat populer di kalangan bangsawan timur, jadi ayahku membelinya sebagai oleh-oleh."
“Wow, unik sekali ya?”
“Kalau bisa aku ingin mengajak ayahku untuk berwisata ke timur karena ini!”
“Nona Ivory sangat beruntung dapat mencoba berbagai macam barang-barang unik dari luar negeri.”
Nona Ivory mengibaskan tangannya sambil tersenyum, “Hm, ini semua berkat ayahku. Tiap daerah berbeda, dia setidaknya membawa oleh-oleh khas daerah itu. Jadinya, meskipun aku tidak berkunjung sendiri, aku bisa merasakan suasana daerah itu lewat barang-barang tersebut.”
Alianora memutar bola matanya.
Dia sudah benar-benar muak mendengarkan ocehan bocah-bocah dihadapannya ini. Omongan mereka sungguh tidak berguna sampai hampir membuat kepalanya pecah. Apakah mereka tidak memiliki topik lain yang lebih bermutu untuk dibicarakan.
“Oh, tapi kalau tidak salah, kata ayahku, seorang Jiwa Apostle nanti setelah resmi dinobatkan menjadi saint juga memiliki kesempatan untuk berkunjung ke kerajaan-kerajaan lain sebagai ‘wajah’ gereja Agris, untuk melakukan kegiatan sosial. Benar begitu kan? Nona Sheridan?”, Nona Ivory bertanya sambil tersenyum polos diseberangnya.
Alianora hanya tersenyum.
Hah, seperti menyelamatkan nyawa orang saja masih belum cukup membuat otakku pening, lalu ada pula kegiatan sosial merepotkan lainnya? Tidak terima kasih.
Tapi sebelum Alianora sempat memberi respon, seseorang memotongnya.
“Nona Ivory, maafkan aku tapi, berita bahwa Nona Sheridan adalah Jiwa Apostle itu belum dipublikasikan, apakah menanyakan hal itu tidak terlalu cepat?”, dari bangku sebelah kanannya, seorang gadis kecil berambut hijau terang dikuncir dua, meliriknya dengan tatapan merendah.
Nona Ivory yang merasa tidak enak meletakan kembali cangkir tehnya, “Ah, Nona Madeline, saya tidak bermaksud tidak sopan, tapi meski belum ada berita resmi, banyak orang telah menyaksikan bagaimana cahaya altar waktu itu berubah menjadi kuning emas kan?”
“Fufu~memang benar, tapi kalau hanya itu saja, kenapa sampai sekarang gereja belum mengeluarkan berita resmi? Hm, itu berarti, ada faktor lain yang membuat gereja belum yakin.”
Bocah perempuan disebelah Alianora menyahut, “Faktor lain?”
Nona Madeline tersenyum sarkas sambil mengangkat sebelah alis, “Ya, misalnya, sesuatu yang berkaitan dengan…sihir?”
Diam-diam, Alianora memutar bola matanya dengan malas.
Ah, jadi itu yang mau anak ini singgung dari awal? 'Seorang yang tidak memiliki sihir, tidak mungkin adalah Jiwa Apostle!', begitu kan?
Sejak berita bahwa Jiwa Apostle telah lahir terdengar sampai ke telinga keluarga kerajaan, Raja Tyrion berniat untuk langsung mengundang Alianora ke istana, namun pemimpin gereja, Pope Galatea tetap meminta agar berita ini jangan disebarkan ke masyarakat dulu. Itu dikarenakan latar belakang anak yang adalah Jiwa Apostle itu, Thalia La Sheridan yang tidak jelas, dan lebih dari itu, karena kondisi tubuhnya yang tidak memiliki kekuatan sihir.
Untuk itu, mereka memerlukan semacam penelitian lebih lanjut dengan mengundang Alianora ke katedral untuk melakukan semacam ritual penyucian dan pemberkatan dengan harapan agar apapun yang menghalangi mana dalam tubuh Alianora itu hilang.
Mereka juga menghujani Alianora dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting seperti sedang menginterogasi kriminal.
Bukannya Alianora kaget atau apa, sebab perlakuan yang dia terima jelas sama seperti yang diterima Thalia dulu. Hanya saja, Thalia menerima semua ini pada saat dia sudah cukup besar, sedangkan Alianora baru saja berumur 10 tahun.
Alianora masih mengingat bagaimana Thalia nantinya diperlakukan oleh para pendeta itu. Bukannya disembah seperti saintess melainkan dianggap seperti bukan manusia. Mereka, gereja dan para bangsawan itu, menggunakannya sebagai simbol kesucian dan keabsolutan gereja kepada rakyat biasa, sehingga mereka bisa memperoleh dukungan dan kepercayaan lebih banyak lagi.
Seumur hidup Thalia tidak pernah menerima perlakuan yang layak sebagai Jiwa Apostle, bahkan kalau bukan karena tidak sengaja menguping pembicaraan ayahnya dengan salah satu kardinal gereja, dia pasti tidak akan pernah tahu, kalau dia adalah Jiwa Apostle.
__ADS_1
Hidup sampai dewasa hanya untuk digunakan untuk kepentingan orang lain, lalu dibunuh karena dosa yang tidak diperbuat olehnya, dan apa yang gereja lakukan saat itu? Mereka menatapnya seperti pendosa, lebih hina dari binatang.
Kalau dia adalah Thalia pada saat itu, maka dia akan buat kontrak jiwa untuk membunuh semua pendeta itu dengan cara yang paling keji. Benar, dia pasti tidak akan mengampuni mereka sampai mati.
Jadi, semoga saja di masa depan nanti mereka tidak begitu.
Sekarang, paling tidak dia harus melakukan sesuatu terhadap bocah tengil tidak sopan bernama Madeline ini.
Alianora tiba-tiba menepuk tangannya lalu tersenyum polos, “Wah! Benar sekali, Nona Madeline!”
Semua orang di meja menatap Alianora dengan wajah seolah-olah Alianora sudah gila, namun melihat ini malah membuatnya semakin berantusias.
Hah, bocah kau pikir recehan seperti ini bisa mempengaruhiku?
Mengabaikan tatapan mereka semua, Alianora melanjutkan, “Aku tidak tahu bahwa beritanya sudah tersebar, kupikir hanya aku dan orang tuaku saja yang tahu, bahkan Elle saja tidak tahu apa-apa, jadi kupikir aku memang tidak perlu mengatakannya pada kalian. Tidak ku sangka, Nona Madeline ternyata sangat cepat mendapat informasi!”
Madeline hampir tidak bisa berkata-kata, dia sepertinya tidak menduga bahwa tanggapan Alianora melenceng jauh dari yang dia bayangkan.
“Ah...haha…be-benar, ayahku memiliki kenalan dengan pendeta jadi mengetahui bahwa kau tidak-”
“Hm, tapi apa itu benar? Dari apa yang aku dengar dari ayahku, gereja sekarang sedang melarang keras berita itu untuk disebarkan. Bahkan, keluarga kerajaan juga sependapat dengan gereja dan akan memberi sanksi yang berat bagi siapapun yang melanggar, baik itu pendeta sendiri maupun bangsawan. Tapi Nona Madeline sudah tahu, hm, bagaimana ya?”
Wajah Madeline langsung berubah pucat dan senyuman sinisnya terpasang kaku begitu juga wajah anak-anak perempuan lain disekitarnya, tidak terkecuali Ivory yang tampak gugup. Butuh seluruh keinginan Alianora untuk tidak tertawa saat itu juga ketika dia melihat dahi mereka mulai basah oleh keringat dan menjadi kinclong diterpa cahaya matahari.
Sore itu Alianora tidak punya jadwal berkunjung ke katedral, jadi dari rumah Marquess Ivory, Alianora langsung pulang dengan wajah berseri. Dia sudah tidak sabar untuk pulang ke rumah dan beristirahat pikirannya.
Setelah selesai meladeni sekumpulan bocah yang membuat pusing kepala, dia tidak ingin duduk manis didepan altar sambil mendengar lantunan doa-doa macam mantra. Dia bisa gila.
Untungnya hari itu para pendeta tidak lagi memanggilnya ke katedral seperti biasa, sehingga dia bisa beristirahat dengan tenang sambil memikirkan cara untuk secepatnya memulihkan sihir di tubuhnya.
Kemungkinan para pendeta itu juga sudah bosan untuk mendoakannya tanpa ada hasil.
Ha, tentu saja. Mereka pikir hanya dengan berdoa saja maka dewa akan segera mengabulkan keinginan mereka? Jika semudah itu, Thalia malang tidak akan susah-susah mengorbankan jiwanya untuk memanggilku.
Jika kau ingin sesuatu maka kau harus berjuang untuk mendapatkannya dengan kemampuanmu sendiri. Jangan menunggu sampai ada bantuan dari langit karena tidak peduli seberapa lama kau menunggu, itu tidak mungkin ada.
“Haahh, maksudku, terus-menerus pergi ke katedral itu jelas tidak berguna, mending waktu itu aku gunakan untuk sesuatu yang berguna, ya kan, Mary?”
Mary yang duduk di seberang Alianora saat itu memiringkan kepalanya, “Menurut saya, sebuah doa memang tidak langsung dikabulkan secara instan namun bertahap. Awalnya akan terlihat seperti tidak ada perubahan tapi siapa tahu, jika kita terus percaya maka niscaya Dewa Ilios yang agung pasti mendengarkan.”
“Dewa Ilios, heh? Lihat saja jika dia memang semulia itu.” Gumam Alianora sambil terkekeh pelan.
“Permisi, nona? Apakah Anda mengatakan sesuatu?”
“Haha, tidak, tidak. Aku hanya mengatakan, ya tentu saja. Dewa Ilios yang murah hati ini pastilah mengasihani diriku ini.”
Mary, “....”
Saat kereta menyusuri jalanan kota, hampir dekat dengan Kastil Nauchwanstein, dari kejauhan Alianora tidak sengaja melihat sebuah bangunan yang lumayan besar dan bertingkat. Bisa dibilang, bangunan itu adalah bangunan terbesar kedua setelah Kastil Nauchwanstein.
“Mary, bangunan apa itu?”
Mary menengok ke arah yang ditunjuk oleh Alianora, dia langsung menjawab dengan datar,
“Itu adalah gedung perpustakaan umum, nona. Perpustakaan itu terbuka bagi semua orang, baik itu rakyat biasa maupun-”, seketika Mary teringat akan sesuatu yang membuatnya melirik balik ke wajah nona mudanya yang telah kembali berseri dan bahkan dipenuhi oleh, apa yang dia rasakan sebagai, sesuatu yang membuat perasaanya tidak enak.
“Nona, Anda tidak berpikir untuk pergi ke sana bukan?”
Alianora menggigit bibirnya untuk menahan senyum, “Menurutmu?”
Menyadari apa yang direncanakan oleh nona mudanya, wajah Mary berubah serius, “Nona, Anda tahu bahwa jadwal anda sekarang sedang penuh. Besok Anda harus menghadiri acara-acara, lalu setelah itu-”
“Tut…tut…! Mary, urusan besok biar dipikirkan besok saja,oke? Lagipula, siapa yang mengatakan kalau aku akan pergi besok?”
Wajah Mary yang bengong menatap Alianora, langsung berubah kaku, “N-nona tunggu!”
Srak!
Alianora membuka jendela dengan kasar, lalu mencondongkan kepalanya keluar menghadap pak kusir yang menatapnya dengan mulut menganga.
Alianora tersenyum gelap kearahnya, “Hei, berhentikan keretanya sekarang.”
__ADS_1