
Semalam, Alianora tidak bisa tidur. Meskipun tubuhnya berubah-ubah posisi 360 derajat, dia tetap tidak bisa pergi ke alam mimpi.
Pikirannya sama sekali tidak bisa diajak istirahat biar sejenak, sibuk sendiri memikirkan hal-hal aneh yang sama sekali tidak bisa dia pahami. Pertama tubuh Thalia, lalu kelakuan adik tersayang Thalia, Estelle, itu membuatnya tidak bisa untuk tidak memikirkannya. Akibatnya, dia baru bisa tertidur ketika matahari sudah mulai terbit, dan belum juga dia selesai bermimpi, Mary sudah mengetuk pintu kamarnya.
Entahlah, dia sudah sangat lelah dengan semua hal itu, tapi di satu sisi dia juga mendapati ini semua sangatlah menarik, terutama tenntang karakter Estelle itu.
"Ha...rasanya aku sudah mulai gila.", gumam Alianora sambil tersenyum
"Nona, maafkan jika saya lancang tapi...apakah ada yang bisa saya bantu?" Mary bertanya dengan hati-hati sambil hendak memasangkan gaun biru tua padanya.
"Huh? Tidak ada, Mary. Semua baik-baik saja. Tidak ada yang perlu diperhatikan."
Mary meneliti ekspresi Alianora untuk sesaat sebelum menghela napas lembut, "Baiklah nona, jika Anda membutuhkan bantuan apapun maka Anda bisa memberitahu saya."
Alianora hanya mengangguk saja sambil bertanya apakah Mary mendengar omongannya yang sebelumnya.
Setelah kejadian tadi malam, Alianora tidak bisa lagi mengabaikan karakter Estelle si gadis lemah-lembut dan polos itu. Kalau mau dibilang, dia sama sekali tidak ada polos-polosnya, ini bukan pertama kali Alianora rasakan tapi sudah kedua kalinya sejak dia pertama kali melihat memori kehidupan Thalia.
Sepanjang itu, Alianora melihat kalau Estelle sering melakukan hal yang sama seperti yang dia alami tadi malam. Dimana Thalia sedang bersedih sendiri di kamarnya, entah itu ketika dia dihukum atau setelah mengalami hal buruk, Estelle selalu disana menemaninya, memeluknya, memegang tangannya, dan juga mengatakan kalimat-kalimat menenangkan, seperti apa yang Alianora dengar, lalu Thalia yang terpuruk selalu merasa terhibur dengan itu semua.
Alianora menggelengkan kepalanya.
Bagaimana bisa ada seseorang yang merasa terhibur setelah mendengar kalimat-kalimat seperti itu?
Alih-alih merasa terhibur, Alianora malah merasa sebaliknya.
Dia mendapati itu bukan suatu hiburan, melainkan ejekan, bahwa didunia ini Thalia tidak mungkin bisa mendapatkan cinta dari siapapun, bahkan orang tuanya saja mencampakannya.
'Thalia kau sungguh malang, sangat menyedihkan.', lebih tepatnya itu yang ingin anak itu katakan, bukan? , pikir Alianora dalam hati.
Estelle mengejek Thalia, dan dia melakukannya sambil memasang wajah simpatik serta senyumannya.
Thalia, bagaimana kau bisa melewatkan semua itu?
Heh, dari dulu sampai sekarang manusia memang tidak pernah berubah.
"Mary, katakan apakah 'aku' selalu seperti ini?"
Mary terdiam sejenak, "...Nona, maaf tapi...apa yang baru saja Anda tanyakan?"
Alianora berbalik menghadap Mary, sorot matanya jernih.
"Jujur saja, kau pasti selama ini berpikir kalau 'aku' ini bodoh kan?"
Mary membelalakan matanya dan dia membungkukkan badannya yang mulai gemetaran dihadapan Alianora.
"A-ah...maafkan saya, nona, t-tapi bagaimana bisa saya...saya tidak mungkin berani berpikir demikian, nona..."
"Hm? Kenapa tidak? Aku berpikir hal yang sama tuh, dan aku yakin semua orang juga, termasuk kau."
Alianora tersenyum sambil menatap lurus ke arah Mary, yang sudah memalingkan wajahnya, tidak berani menatap atau menanggapi omongan Alianora.
" 'Aku' ini bodoh, dan aku tidak ingin menjadi seperti 'ku'. Mulai sekarang, aku akan mengubah segalanya, dan kau Mary harus membantuku. Kita akan jadi satu tim, kau mengerti?"
Mary masih belum mengerti sepenuhnya, tapi dia berusaha untuk mengikuti arah pembicaraan Alianora.
"B-baik, nona, apapun itu pasti akan saya lakukan."
Mendengar itu, Alianora tersenyum dan bergerak mendekati Mary. Dia menarik tangan Mary, mengisyaratkan agar Mary berjongkok yang dengan mudah dilakukan Mary.
"Hm, jawaban bagus, seperti yang diharapkan oleh pelayan pilihanku. Kalau begitu, aku harap kau tidak akan mengecewakanku, oke?"
Mary seketika mengangguk tanpa memecah kontak matanya dengan Alianora.
Perasaanya sungguh bingung, kemarin nonaya mengatakan kalau dia harus bersikap santai saja tapi sikap nonanya sekarang sama sekali membuatnya tidak bisa santai.
__ADS_1
Dia merasa gugup kembali, namun di sisi lain dia bangga.
Akhirnya setelah sekian lama, nona yang dia layani bisa menjadi sosok yang kuat seperti ini.
"Oke, sekarang sebagai hal pertama yang mengubah hidupku, bagaimana kalau kita jalan-jalan keluar, hm?"
*****
Alianora bersama Mary berjalan menyusuri koridor panjang rumahnya.
Jujur, semenjak kebangkitannya kemarin di rumah mewah ini, dia sama sekali belum pernah melihat bagaimana pemandangan diluar kamarnya, dan dia sudah sangat ingin melakukannya.
Sayangnya, kemarin pikirannya sedang memproses semua informasi yang dia dapatkan ditambah lagi dirinya harus melewati beragam peristiwa ini-itu, membuatnya lupa untuk berkeliling-keliling.
Sekarang dia berniat untuk jalan-jalan, tapi perutnya yang belum menerima apa-apa hari ini berbunyi nyaring, sampai Mary yang berjalan dibelakangnya sedikit tersentak.
Akhirnya, dia terpaksa menuju ke ruang makan, dengan sangat berat hati.
Namun yang membuatnya sedikit terganggu adalah pandangan para pelayan dan prajurit Kastil Nauchwanstein kepadanya. Setiap kali dia berpapasan dengan para pelayan, para butler, atau para prajurit, meski dia tidak menatap langsung ke arah mereka, Alianora tahu kalau mereka memang mempergunakan mata mereka dengan maksimal ke arahnya.
Dari ujung ke ujung, mereka mengamatinya berjalan dengan tatapan yang penuh keterkejutan, adapula yang memandanginya seperti sedang melihat hantu.
Alianora merasa heran dengan semua itu, tatapan yang orang-orang kastil ini berikan pada Thalia harusnya tidak seperti ini. Dia masih ingat tatapan jijik dan rendah dari para pelayan itu di kepalanya, dan untuk melihat ekspresi mereka sekarang itu sangat aneh.
Tapi Alianora tidak peduli. Mereka bisa menatapnya sesuka hati mereka, yang penting mereka tidak mengganggunya saja.
"Nona, sampai disini dulu."
Alianora mengangkat kepalanya dan langsung menatap dua daun pintu besar berukiran emas.
Setelah menyuruh Mary kembali, Alianora melirik ke arah dua prajurit disamping kanan dan kiri pintu.
Sorot mata mereka datar, tapi Alianora bisa melihat bagaimana bola mata mereka yang lurus bergerak sedikit dengan rasa penasaran,
Mereka mencoba untuk menghiraukan Alianora sama sekali, dan Alianora tahu itu.
Alianora menunjuk ke arah pintu dengan ekspresi datar,
"Hei, kenapa kalian tidak membukakan pintu untukku? Apa kalian ingin aku menunggu disini sampai besok?"
Salah seorang prajurit merespon dengan datar,
"Maaf, nona, tapi Duke dan Duchess serta Nona Estelle sedang sarapan sekarang, Anda bisa kembali nanti."
Oho, lihat itu! Sepertinya mereka juga butuh pelajaran. Thalia, kau bisa berterima kasih padaku nanti.
Alianora menarik napas perlahan dan wajahnya berubah gelap,
"Biar ku perjelas sekali lagi, sepertinya otak kalian yang tolol itu tidak bisa menangkap apa yang kuperintahkan tadi. Aku bilang, buka pintunya sekarang, paham?"
"N-nona, tapi-"
"Hei kalau kau menatapku seperti itu sekali lagi, aku akan mencongkel bola matamu dan memberikannya kepada anjing, kau mau?" Alianora berbisik kepada mereka dengan wajah sadis.
"Nona…!"
"Kau pikir aku tidak mampu?"
Tatapan Alianora begitu dingin dan kejam sampai membuat bulu badan kedua prajurit itu berdiri.
Dengan keringat dingin mengalir, mereka akhirnya membukakan pintu itu.
Sinar lampu dari dalam langsung membasuh wajah Alianora, membuatnya mengernyit.
Di hadapannya ada Duke dan Duchess Sheridan, serta Estelle yang menatapnya dengan raut wajah terkejut.
__ADS_1
Alianora memalingkan wajahnya dari ketiga orang yang masih terpaku menatapnya, ke arah salah satu kursi kosong di samping Estelle, kemudian duduk disana dengan manis sambil memanggil pelayan untuk meminta makanan yang sama seperti yang mereka makan.
"Selamat Pagi, Ayah, Ibu, dan juga Elle."
"Kakak....kau...disini?", ekspresi heran di wajahnya hampir membuat Alianora tersedak tawanya yang berhasil dia telan kembali.
"Ya, Elle, apa kau terkejut, hm?"
Kalisto menaruh kembali segelas wine merah di sampingnya, "Sedang apa kau disini?"
"Oh, tentu saja untuk sarapan pagi ayah. Apa saya tidak bisa berada disini?"
Elle dengan cepat menambah omongan Alianora, "A-ah, tidak, kakak. Tentu saja kakak bisa berada disini kapanpun kakak mau. Malah bagus jika kakak mulai makan bersama kami, kita sekeluarga bisa makan bersama setiap hari, iya kan ayah, ibu?"
"Hmph, buatlah sesuka hatimu."
Kali ini, perkataan dingin ini keluar dari mulut Annabeth yang bahkan tidak melirik ke arah Alianora sama sekali.
Kalisto juga kembali menyantap sarapannya dengan tenang.
Seperti yang sudah dia lihat dalam ingatan Thalia, orang tua Thalia sama sekali tidak ingin mengakui Thalia sebagai anak. Mereka bahkan menyembunyikan kebenaran pahit tentang kelahiran Thalia dari semua orang termasuk dari Thalia sendiri. Apapun yang dikerjakan Thalia, itu sama sekali bukan urusan mereka, dan mereka tidak akan pernah mau peduli.
Apalagi ditambah dengan bakat sihirnnya yang tidak ada, itu membuatnya semakin terabaikan oleh orang tuanya, dan karena itu Thalia mulai menutup diri perlahan-lahan dari dunia luar, yang pertama adalah dari orang tuanya. Dia mulai jarang terlihat keluar dari kamarnya, dan juga tidak pernah terlihat makan bersama keluarganya di ruang makan, dan orang tuanya sama sekali tidak peduli akan semua itu, karena memang mereka tidak pernah membuang waktu untuk melirik ke arah Thalia saat makan.
Alianora baru ingat akan semua itu, tidak heran semua pelayan tadi menatapnya seperti dia sudah tidak waras. Akan tetapi, Alianora merasa senang, dia merasa dirinya sudah membuat kemajuan. Langkah pertama yang bagus untuk mengubah jalan hidup Thalia.
Dia akan tetap menjadi Thalia, seorang putri bangsawan yang ramah dan lemah lembut, tapi dia tidak akan jadi Thalia yang bodoh dan polos, jalan itu sudah tiga kali di tempuh Thalia dan semuanya gagal.
Jadi mengapa tidak mencoba yang lain?
Saat sarapan Alianora tiba, Estelle yang sedari tadi diam saja, akhirnya mencoba untuk mencairkan suasana yang beku ini.
"Oh iya kak, besok adalah hari paling ditunggu-tunggu, hari pembaptisan kakak! Aku sudah tidak sabar, hehe! Kakak juga pasti begitu kan kak?"
Hari Pembaptisan?
.
.
.
Tunggu, apa tadi dia bilang besok?
"Elle, tidak boleh berteriak ketika makan."
Tapi Estelle hanya tertawa ke arah ibunya yang memandanginya dengan senyum pasrah.
Alianora masih tenggelam dalam pikirannya.
Tidak disangka bahwa hari penting pertama dalam hidup Thalia itu adalah besok.
Hari dimana seluruh anak bangsawan berumur sepuluh tahun, menerima berkat dari Dewa Cahaya Ilios.
Orang-orang menyebutnya Hari Pembaptisan.
Dulu ketika perang berakhir dan Kerajaan Agris telah terbentuk, Dewa Cahaya Ilios memutuskan untuk kembali ke surga, namun sebelum itu, dia tidak lupa memberkati seluruh penjuru Agris beserta orang-orang didalamnya.
Sejak saat itu, tradisi pemberkatan ini selalu dijalankan setiap tahun untuk memperingati hari itu, dan juga dianggap sebagai tradisi pembaptisan anak-anak.
Barulah setelah mereka dibaptis, mereka akan diakui sebagai salah satu anggota keluarga bangsawan Kerajaan Agris. Karena itu, acara pembaptisan ini juga dikenal sebagai debut pertama bagi para anak bangsawan.
Namun bagi Alianora, hari ini lebih pantas disebut permasalahan, sebab mulai dari hari itulah kemalangan Thalia dimulai.
Untunglah dia sudah mampu beradaptasi dengan kehidupan Thalia dalam sehari saja.
__ADS_1
Jika dia adalah manusia biasa dan bukan seorang dewa yang sudah memiliki pengalaman ratusan tahun dalam situasi genting, mungkin dia akan gagal untuk apapaun yang akan menimpanya besok.
Meski begitu, membayangkan bahwa besok dia harus menghadapi orang-orang, terutama bocah-bocah sepuluh tahun lainnya yang berisik itu membuat perasaannya kurang bagus.