Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke

Kontrak Jiwa Putri Palsu Duke
Chapter 28 : Acara Yang Terlupakan


__ADS_3

Saat hari sudah mulai menjelang sore, Alianora sudah kembali ke Kastil Nauchwanstein sambil membawa dua buah kotak berukuran sedang yang berisi dua pasang seragam latihan.


Tidak disangka, kalau harga baju-baju di Butik Miah tidak terlalu mahal. Benar kata Mary, bajunya berkualitas lumayan, dan bisa di beli oleh rakyat biasa dan juga bangsawan. Akibatnya, Alianora tidak perlu menahan diri, dan langsung membeli dua pasang, untuk dipakai secara bergantian nanti ketika latihan. Meski begitu, uang dalam kantongnya masih tersisa sekitar 3000-an sol.


3000 sol, jika dia berhasil mendapatkan pedang cantik yang tadi dia lihat itu, mungkin saja sekarang dia tidak akan menyisakan apa-apa di kantongnya, tapi sebagai gantinya pedang cantik itu bisa dia bawa pulang. Mungkin dia juga bisa menggunakannya untuk melawan bocah Eathen itu nanti kalau dia bertemu dengannya lagi di area pelatihan.


Oh, dia akan sangat bangga jika dia bisa memiliki pedang bagus begitu.


Tapi sayangnya, karena bocah tidak sopan yang tidak jelas asal-usulnya, Alianora jadi kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pedang itu. Pedang yang seperti itu cuma ada satu pula, Alianora bahkan tidak tahu kapan barang yang sama akan ada lagi di sana.


Hanya gara-gara uang, dia kalah. Gara-gara barang duniawi seperti itu?


Rasanya harga diri Alianora seperti di injak-injak.


Hah, rasanya dia ingin sekali mengutuk bocah satu itu.


Ketika Alianora hendak akan memasuki kamarnya, samar-samar dia mendengar suara para pelayan di lantai bawah yang membukakan pintu untuk seseorang.


Penasaran, Alianora mendekati ke susuran tangga untuk menengok siapa yang datang, tapi mengejutkannya, itu hanya Estelle, yang masuk sambil menebar senyumnya.


Sama seperti Alianora, Estelle juga mengenakan mantel panjang berwarna gelap, tapi dia dikawal oleh dua pelayan pribadinya itu dan juga satu pengawal yang membawa beberapa kotak dengan ukuran beragam.


"Nona, apa ini saya langsung bawa ke kamar Anda?"


Estelle mengangguk.


"Iya, tolong ya, Sir Ivan."


Estelle hendak menaiki tangga namun matanya tidak sengaja bertemu dengan mata Alianora.


Kedua mata mereka sama-sama terbelalak, namun Estelle, layaknya seorang adik yang manis, langsung melambaikan tangannya pada Alianora.


"Kakak!"


Melihat itu, Alianora hanya bisa pasrah. Inginnya dia tidak mau berlama-lama lagi di sana dan langsung ke kamar untuk ganti baju, tapi dia kembali harus meladeni Estelle.


"Hai, Elle."


jawab Alianora sambil tersenyum.


Saat Estelle sudah berdiri tepat dihadapan Alianora, dia langsung melihat Alianora dari kepala sampai kaki, lalu mengatupkan kedua tangannya.


"Wah, kakak habis dari luar juga ya? Habis dari mana, kak?"


"Oh, aku habis dari pasar, jalan-jalan sebentar, kalau kamu Elle?"


"Aku tadi habis dari Artemis, untuk membeli beberapa dress baru dan juga beberapa aksesoris."


Elle mengatakan itu sambil menunjukan ke arah pengawal dan kedua pelayannya.


Oho, tentu saja Butik Artemis. Tentu saja tempat itu.


Alianora melirik mereka, kedua pelayan itu, yang Alianora sudah kenal, membuang muka, sedangkan pengawal itu menatap Alianora dengan sombong.


"Hm, begitu."


"Oh iya, kakak keluar untuk beli dress-dress juga kan? Tapi kenapa aku tidak melihat kakak di Artemis."


Itu karena Kalisto, ayahmu yang tidak tahu diri, tidak memberiku uang jajan yang banyak, nona.


"Aku tidak keluar untuk membeli dress, Elle. Hanya membeli beberapa baju rumah yang nyaman."


'Baju yang nyaman untuk latihan pedang di rumah', tentu saja dia tidak baru saja berbohong kan?

__ADS_1


"Eh, baju rumah, hm...kakak kekurangan baju rumah?"


Lalu, di belakang Estelle, pengawal pria yang sedari tadi menatap Alianora dengan tidak enak, mendengus sambil tersenyum mengejek.


"Nona Estelle, dari semenjak Nona Thalia tinggal di sini, Nona Thalia belum pernah membeli dress dari Butik Artemis, jadi tidak heran jika Anda tidak melihat Nona Thalia di sana."


Kedua pelayan di sebelah pengawal itu langsung tersentak bersamaan dan mereka semakin membuang muka, Alianora bisa melihat bahwa kedua tangan mereka agak sedikit gemetar ketika memegang box belanjaan Estelle.


Ah, apakah dia se menyeramkan itu sekarang? 


Padahal, Alianora tidak berencana buat macam-macam pada mereka di hadapan Estelle, tapi mereka sudah takut duluan.


Melihat Alianora yang tidak memberi reaksi sama sekali, pengawal itu akan menambahkan ocehannya tapi langsung di cegat oleh Estelle.


"Sir Ivan, Anda tidak boleh bicara begitu tentang kakakku. Kakak memang memilih untuk tampil sederhana, iya kan kak?"


Meski sebenarnya ini adalah teguran, tapi karena Estelle mengatakannya dengan nada imut, itu malah terdengar tidak serius. Pengawal itu hanya meminta maaf, ala kadarnya, dan tidak lagi bicara namun masih terkekeh.


Seperti mereka, mengejekku secara tidak langsung, hm.


Alianora hanya membalas Estelle dengan tersenyum.


"Eh, tapi, kakak sama sekali tidak membeli dress?"


"Iya, memangnya kenapa Elle?"


"Kakak tidak tahu? Kalau minggu depan adalah ulang tahun Pangeran Roberto."


Mata Alianora langsung membulat.


Ulang tahun Pangeran Roberto?


.


.


.


Ini karena dia sudah terlalu terlena dengan jalan takdir yang mulai berubah dari kehidupan-kehidupan sebelumnya. Dia lupa kalau ada beberapa poin yang tidak akan pernah berubah, salah satunya acara ulang tahun ini.


Ulang tahun pangeran pertama kekaisaran Agris yang ke 13.


Tapi apa ada hal penting yang akan terjadi dalam acara ini nanti?


Alianora masih belum mengingatnya.


"Ah, ya aku hampir saja lupa, terima kasih sudah mengingatkanku Elle."


Estelle mengangguk namun wajahnya masih menampakan kekhawatiran.


"Tapi apakah kakak sudah mempersiapkan dress?"


"Hm, tidak, sepertinya aku akan memakai dress yang ada dalam lemariku."


Seketika pengawal di belakang Estelle tertawa, kedua pelayan itu hanya mengatupkan kedua bibir mereka agar tidak mengeluarkan suara.


Sedangkan Estelle, wajahnya masih terlihat khawatir tapi samar-samar, Alianora bisa melihat kalau salah satu ujung bibirnya itu terangkat sedikit.


"Ah, hm, sebenarnya kalau kakak ingin begitu juga tidak masalah, tapi ini kan acara yang digelar oleh keluarga kerajaan kak. Semua mata akan melihat keluarga kita, jadi setidaknya kita harus tampil bagus!"


Mendengar perkataan Estelle ini, pengawal itu terus tertawa kecil tanpa memperdulikan kalau Alianora bisa mendengar jelas suaranya. Estelle juga berlagak seperti dia tidak mendengar apa-apa.


"Bagaimana kalau kakak pinjam bajuku saja, ya? Aku masih punya banyak baju bagus di lemari, kakak boleh ambil yang kakak suka."

__ADS_1


Alianora menatap Estelle, lalu ke arah pengawal yang mencemoohnya, dan juga pada kedua pelayan yang terus menghindari tatapannya. Senyum masih tertanam di wajahnya, tapi kedua matanya sama sekali tidak tersenyum.


Orang-orang di hadapannya ini benar-benar sudah keterlaluan. Dia sampai tidak bisa berkata-kata.


Bukan, bukan karena dia terbawa emosi, yah dia memang emosi sekarang, tapi bukan itu yang utama.


Dia kagum bagaimana kata-kata yang terdengar manis ini, bisa lebih menusuk dari pada bilah pedang.


Setidaknya, bilah pedang hanya memberikan luka gores fisik, yang sudah tidak akan sakit lagi jika diberi obat, atau sihir penyembuh. Tapi jika luka di hati yang disebabkan oleh kata-kata ini, apakah bisa dihilangkan?


Thalia yang mendengar kata-kata macam ini terus-menerus dari mulut ke mulut, mungkin dia terlalu bodoh untuk bisa paham keseluruhan maknanya, tapi paling tidak sebagian maknanya dia pahami. Buktinya, dia tumbuh menjadi wanita yang penakut dan tidak percaya diri seperti itu.


Untung sekarang yang ada dalam tubuhnya saat ini adalah Alianora. Kata-kata seperti itu tidak ada efek baginya.


Dengan tawaran Estelle yang seperti menghinanya saja dia berhasil menolaknya dengan mulus.


"Tidak, terima kasih. Aku memang sudah dikenal sebagai putri yang sederhana, jadi sebaiknya, aku harus tampil sederhana seperti yang orang lain harapkan."


Setidaknya itu sudah cukup.


Sekarang, untuk urusan acara ulang tahun Pangeran Roberto, sejujurnya Alianora tidak tahu apa yang harus dia persiapkan.


Di kehidupan sebelumnya, Thalia tidak pernah mengikuti acara ulang tahun Pangeran Roberto.


Itu karena, Thalia saat itu tidak berani ke tempat-tempat umum seperti itu, dia juga dilarang oleh Kalisto karena di cap pembuat onar. Tidak berguna.


Namun sekarang, sepertinya Alianora harus ikut menghadiri acara ini, dan itu membuatnya sedikit was-was.


Tapi, semoga saja tidak ada hal aneh yang membuatnya harus berpikir banyak-banyak.


Dia hanya ingin duduk manis di sana sambil menyantap makanan lezat, lalu pulang kalau bisa.


Oh  ya, dia juga berharap mungkin bisa melihat sedikit rupa Pangeran Noah disana.


Pastinya, untuk acara seperti itu, dia hadirkan? Semoga.


Tiba-tiba, Mary mengetuk pintu kamar Alianora.


"Permisi, Nona?"


"Ya, ada apa Mary?"


"Tuan dan Nyonya, sedang menunggu anda untuk makan malam di ruang makan."


Alianora mengernyit. Menunggunya? Memangnya ada apa lagi?


"Hah, baiklah aku akan segera ke sana."


Setelah berganti baju, Alianora bersama Mary, berangkat menuju ruang makan.


Jika mereka berdua ingin bertemu seperti ini dengannya, tentu saja ada sesuatu yang penting yang mau di bahas.


Entah itu menyuruh-nyuruhnya melakukan sesuatu, atau menginterogasinya akan sesuatu.


Tentu saja bukan hal yang tulus.


Jika hari-hari biasa, mana mungkin mereka mau mengundangnya untuk makan malam bersama, kalau bukan Alianora yang asal masuk saja tanpa izin.


Ketika pintu ruang makan terbuka untuk Alianora, dia melihat Kalisto, Annabeth, dan Estelle sudah duduk  makan di kursi mereka seperti biasa. Alianora dengan acuj tak acuh, memilih tempat duduk di sebelah Kalisto.


Saat makanan sudah dihidangkan, mereka masih belum berbicara apa-apa.


Mereka hanya melakukan percakapan biasa, kebanyakan dengan Estelle, dan seperti biasa, tidak menghiraukannya. Tapi, ketika para pelayan sudah pergi, barulah Kalisto mulai bicara.

__ADS_1


"Minggu depan, akan ada acara ulang tahun ke 13 Pangeran Roberto, apa kau sudah tahu?"


__ADS_2