
Sebenarnya, dia bukan orang lain dengan Ina. Mereka adalah adik dan kakak sepupu yang sama-sama tinggal di kampung saat kecil. Setelah Ina pindah ke kota, Alif ikut menyusul untuk mencari nafkah di kota yang sama.
Sayangnya, Ina memanfaat Alif sebagai kaki tangan untuk melakukan hal-hal yang dia sukai. Contohnya saja, mata-mata. Ina menjadikan kakak sepupunya sendiri sebagai mata-mata agar dia bisa melakukan sesuatu yang dia sukai secara bebas.
Anehnya, laki-laki itu mau saja dijadikan kacung oleh Ina. Entah dia yang terlalu polos sampai menjadi orang bodoh. Atau dia memang terlahir sebagai orang bodoh yang tidak bisa berpikir mana yang baik dan mana yang buruk. Mau-mau saja di pengaruhi oleh Ina dengan kata-kata manis yang perempuan itu miliki.
Akhirnya, mereka sampai ke tempat yang ingin mereka tuju. Yaitu, kampung halaman Nining. Rencana besar yang sudah Ina rencanakan dengan matang dalam waktu singkat, akan dia lakukan di tempat ini.
"Kak Alif sudah pastikan dengan benar target kita bukan? Jangan sampai kita salah target. Nanti, yang rugi kita berdua juga lho."
"Kamu tenang aja, Na. Aku sudah pastikan dengan sangat baik segala sesuatunya. Aku tahu persis tempat ini. Karena sebelumnya, Ina pernah cerita padaku soal kampung dan pekerjaan orang tuanya. Saat aku pulang kampung kita kemarin, aku sempatkan mampir ke kampung ini sebentar. Jadi aku sudah paham dan tahu betul seluk beluk kampung ini. Ya meskipun tidak cukup baik."
"Bagus deh kalo kayak gitu. Itu akan memudahkan kita menjalankan rencana yang aku punya."
Ina menepikan mobil di persimpangan yang tak jauh dari jalan besar. Seperti sedang menunggu sesuatu di sana, dia terlihat terus memperhatikan jalan raya yang ada di hadapan mereka.
"Kak Alif yakin kalau ini jalan satu-satunya yang akan dilewati oleh orang tua, Tami?"
"Tentu saja aku yakin. Mana ada jalan lain buat pergi ke sawah selain jalan ini."
"Tapi kok gak ada kelihatan orang-orang yang lewat ya? Jalan ini terlalu sepi lho, kak."
"Jam segini mana ada orang lewat. Tunggu saja sebentar lagi, pasti bakalan ramai. Hm ... kayak gak pernah tinggal di kampung aja kamu ini, Na. Nyari orang lewat jam segini. Ya jelas gak akan ada lah. Orang pulang dari sawah itu jam makan siang, tahu gak?"
"Iya aku tahu. Cuma, gak mikir ke sana aja. Habisnya, rada-rada cemas sih sekarang."
__ADS_1
"Cemas? Kenapa? Kamu takut ya?"
"Ih, bukan takut. Tapi .... "
Tiba-tiba, Ina menghentikan kata-kata yang dia ucap saat matanya melihat sepasang manusia sedang mengendarai motor dari arah kejauhan yang berada di depan mereka.
"Kak Alif, lihat itu. Ada orang yang sedang mengendarai motor di depan sana. Kamu bilang, orang tua Tami pergi ke sawah pakai motor, bukan? Apa itu mereka? Perhatikan baik-baik."
Alif yang rada bego langsung melakukan apa yang Ina katakan. Memperhatikan dengan seksama orang yang ada di hadapan mereka saat ini.
"Bukan."
"Hah? Bukan? Kak Alif yakin kalau itu bukan orang tua Tami? Bagaimana kalau salah? Rencana kita bakalan gagal, kak."
Seketika, perhatian keduanya terfokuskan pada dua orang anak manusia yang sedang menyusul motor yang sudah lewat barusan. Melihat hal itu, Ina tidak ingin banyak bicara lagi. Dia langsung menyalakan mesin mobil dan langsung menginjak gas.
Mobil yang mereka kendarai melaju kencang melintasi jalan perkampungan yang terkesan sedikit sempit. Lalu ... brak! Bunyi keras yang diakibatkan benturan dua benda memecah keheningan di jalan tersebut.
Motor yang Ina tabrak terpental dengan kedua penumpangnya jatuh berguling-guling. Ina sempat menghentikan mobil sejenak setelah menabrak motor tersebut. Lalu, dia langsung menjalankan kembali mobil itu dengan cepat ketika dia melihat ada orang yang berteriak ke arah mereka.
Salah satu warga yang melihat kejadian itu segera memanggil warga yang lain. Sementara mobil yang berusaha mereka kejar, sudah lolos dari kejaran karena menghilang entah ke mana.
Ina terus mengemudikan mobil itu sampai melewati perbatasan kota. Dia begitu lega ketika mobil yang dia kendarai telah terbebas dari kampung tempat di mana dia melakukan kejahatan.
"Huh ... akhirnya lepas juga," ucap Ina santai seperti sedang melepas beban berat.
__ADS_1
Alif yang melihat wajah lega seperti tanpa beban itu menggelengkan kepala. Dia benar-benar tak habis pikir dengan apa yang baru saja Ina lakukan.
"Kamu ... kenapa kamu benar-benar menabrak motor orang tua Tami, Ina? Bukankah kamu bilang cuma ingin menyenggol motornya saja. Tidak akan melukai pemiliknya."
"Aku juga hanya ingin menyenggol saja tadi, kak. Tapi, tidak bisa. Aku kelewatan."
"Ina. Kamu benar-benar sudah gila. Ini tidak sama dengan apa yang kamu rencanakan. Kamu benar-benar menabrak orang itu. Bagaimana jika mereka mati, Ina. Apa yang akan kita lakukan?"
"Mereka tidak akan mati, Kak Alif. Jika pun iya mereka mati, anggap saja ini sudah takdir."
"Ya Tuhan ... enteng sekali kamu berucap, Ina. Bagaimana bisa kamu begitu tega." Alif benar-benar terlihat sedang merasa takut. Dia sampai berkeringat sekarang.
Andai saja dia tahu kalau Ina memang benar-benar menabrak orang tua Nining, maka dia tidak akan ikut dalam rencana gila ini. Ina telah membohonginya. Dalam rencana yang Ina katakan, Ina hanya ingin menyenggol motor yang orang tua Nining kendarai. Dengan begitu, orang tua Nining pasti akan marah pada mertuanya. Dan, orang tua Nining pasti akan meminta anak mereka di ceraikan.
Tapi tidak tahunya, Ina memang benar-benar menabrak motor itu sampai si pengendara terpental dan berguling-guling. Hal itu sangat membuat Alif merasa begitu ketakutan.
"Kau sudah gila, Ina. Sudah sangat gila," ucap Alif lagi sambil mengusap kasar wajahnya.
"Kak Alif ini ngomong apa sih? Aku juga tidak sengaja melakukan hal itu. Sudah aku katakan, ini tidak di sengaja. Jadi tolong, jangan bahas soal ini lagi."
Alif diam. Dia tidak berniat menjawab apa yang adik sepupunya katakan. Dengan membuang wajah melihat keluar mobil, Alif merasa sangat-sangat menyesal.
Sementara Ina, dia tersenyum sambil melirik Alif yang sedang gelisah.
'Maafkan aku kak Alif. Aku tidak biasa mengatakan padamu rencana sebenarnya yang aku miliki. Aku memang ingin membunuh orang tua Tami. Aku lakukan itu untuk memberikan dia sebuah pelajaran berharga agar dia tahu, aku bukan lawan yang mudah untuk dia taklukan. Salah sendiri, kenapa dia tidak mau mengalah dari aku. Kenapa dia pilih tetap melawan aku padahal aku sudah berikan dia peringatan sebelumnya."
__ADS_1