Korban Diri Demi Cinta

Korban Diri Demi Cinta
Part *43


__ADS_3

Tora langsung menghampiri sang mama. Lalu, membaringkan kepalanya di atas pangkuan sang mama. Pangkuan ternyaman yang pernah ada. Sementara mamanya, langsung membelai lembut rambut hitam lurus yang anaknya miliki.


"Katakan sama mama, Tora. Ada masalah apa?"


"Mama benar tentang apa yang sudah mama ucapkan padaku waktu itu, Ma. Sekarang, aku mengakui kalau aku sudah termakan omonganku sendiri. Aku suka sama dia. Aku sudah jatuh cinta padanya. Tapi sayang, aku tidak bisa mengakui apa yang sedang aku rasakan. Antara aku dan dia, sudah terlalu jauh. Kami seperti terpisah oleh dua samudera yang tidak mungkin untuk aku renangi, mama."


"Tidak ada yang tidak mungkin untuk kamu lakukan, Tora. Jika kamu punya tekad dan keinginan yang kuat, kamu pasti akan berusaha dengan apapun cara agar kamu bisa melewati rintangan yang sedang kamu hadapi."


"Nak, dengarkan mama. Jika kamu memang tidak bisa melewati samudera dengan cara berenang. Maka kamu masih punya cara yang lain. Masih banyak cara yang bisa kamu tempuh. Salah satunya, dengan kapal. Tidak ada samudera yang tidak bisa kapal lewati, bukan?"


Tora terdiam. Dia tidak tahu apa maksud dari kata-kata yang barusan mamanya ucapkan. Yang ada dalam benaknya saat ini adalah, Tami itu tidak mencintai dirinya. Bagaimanapun dia menggapai, dia juga tidak akan mendapatkan hasil apapun. Karena semakin dia mencoba meraih, maka Tami seakan semakin menjauh.


"Tora, dengarkan mama! Kamu hanya perlu membuktikan ketulusan mu padanya. Cobalah untuk saling terbuka, Nak. Ucapkan apa yang kamu rasakan padanya dengan penuh kesungguhan. Mama yakin, jika kamu memang bersikap tulus, dia juga akan luluh. Apalagi sekarang, diantara kalian sudah ada buah cinta. Kalian akan semakin mudah untuk dekat dengan adanya buah cinta itu."


"Aku tidak yakin dengan semau itu, Ma. Aku merasa kalau semua itu mungkin sudah terlambat."


"Makanya, bersikaplah jujur. Berani bicara kejujuran padanya, maka kamu akan tahu apa hasil yang akan kamu dapatkan."


Tora kembali terdiam. Dia ingat akan kejujurannya yang tidak menghasilkan apa-apa. Bukannya semakin baik, dia malah semakin terjebak dalam masalah yang semakin rumit saja saat dia mengatakan sebuah kejujuran.


"Bagaimana jika kejujuran itu malah semakin memperburuk keadaan, Ma?"


"Jujur itu memang sulit, Tora. Tapi, hasilnya pasti akan sangat baik. Mungkin kamu akan merasa kesulitan saat pertama kamu jujur. Namun, dikemudian hari, kamu akan merasakan kemanisan dari kejujuran yang kamu lakukan."


"Aku tidak tahu, Ma. Aku sangat pusing sekarang."

__ADS_1


"Ma, bisakah aku nginap di sini malam ini? Untuk malam ini saja."


"Lho, bagaimana dengan Tami yang sedang hamil, Tora? Dia kamu tinggal di rumah sendirian saja, begitu?"


"Dia tidak sendirian, Mama. Ada bi Siah yang tinggal di rumah bersamanya. Lagipula, dia akan semakin baik jika tanpa aku di dekatnya. Karena ketidakhadiran aku akan membuat hatinya semakin tenang."


Mama Tora melepas napas berat.


"Terserah kamu saja. Mama tidak bisa melarang kamu untuk tinggal di sini. Karena semua keputusan ada di tangan kamu."


Tora tidak menjawab. Ucapan sang mama membuat dia merasa sedikit tenang. Dia lalu memilih menutup matanya di pangkuan sang mama.


Sementara itu, di rumah, Tami sedang duduk di meja makan. Dia sedang memperhatikan mangga muda yang baru saja bi Siah kupas.


"Aku tiba-tiba sudah tidak menginginkan mangga nya lagi, bik. Rasanya, aku tidak punya selera sama sekali untuk memakan mangga ini."


"Hm ... ya sudah kalau tidak ingin makan. Bibi simpan saja dulu. Jika sudah punya selera, non Tami bisa ambilkan mangga nya nanti."


"Iya bik. Oh ya, apa Tora sudah ada menghubungi bibi? Sudahkah dia memberitahu di mana keberadaannya sekarang? Dia pergi sudah cukup lama, bukan. Sekarang, hari sudah semakin sore saja. Kenapa dia masih belum pulang?"


Bi Siah tersenyum kecil menanggapi pertanyaan itu. Pertanyaan yang bernada cemas itu tentu saja membuat hati bi Siah merasa sedikit bahagia. Bagaimana tidak? Kedua majikannya ini saling mengkhawatirkan satu sama lain. Hanya saja, bersikap pura-pura tidak peduli jika saling berdekatan.


"Bi Siah. Ada apa? Kenapa malah senyum-senyum sendiri?"


"Eh, ti--tidak ada, non. Maaf, bibi tidak langsung menjawab pertanyaan non Tami. Habisnya, bibi tiba-tiba ingat drama Korea yang bibi tonton tadi pagi. Makanya, bibi senyum-senyum sendiri."

__ADS_1


"Oh ya, kalo untuk pertanyaan non Tami barusan, maaf, den Tora sama sekali tidak ada menghubungi bibi. Nomornya juga gak aktif tadi. Bibi udah coba menghubungi den Tora satu jam yang lalu. Oh ya, kenapa non Tami gak coba hubungi juga. Mana tahu diangkat sama Den Tora."


"Jika gak aktif, maka aku hubungi juga akan sama bik. Pasti gak akan aktif juga." Tami berucap dengan nada kesal dan kecewa.


"Ke mana dia sebenarnya? Kenapa belum pulang juga?" Tami berucap pelan sambil menggigit ujung jarinya dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat cemas.


_____


Brak! Ina memukul meja yang ada di hadapannya. Dia menatap Alif dengan tatapan yang sangat menakutkan seperti ingin menerkam laki-laki itu bulat-bulat.


"Kak Alif kenapa bodoh banget sih ha? Kakak gak mikir apa sebelum mengatakan semua rahasia besar yang sudah kita lakukan pada orang itu. Mana kakak bawa-bawa nama aku lagi dalam pengakuan kakak itu. Benar-benar bego tau gak!"


"Aku tidak punya cara lain, Ina. Mereka mengancam aku. Jika aku tidak bicara, maka orang tuaku yang ada di kampung akan mereka habisi. Lagipula, aku tidak bisa terus-terusan hidup dengan rasa bersalah yang aku tanggung selama ini. Sejak kejadian itu, aku tidak bisa merasakan ketenangan barang sedikitpun."


"Bodoh! Itu urusan kakak tahu gak. Jika kakak merasa bersalah juga takut akan keselamatan orang tua kakak. Kenapa kakak gak masuk penjara sendiri saja, ha? Kenapa malah bawa-bawa nama aku. Itu yang aku permasalahkan."


"Mereka itu orang-orang kuat. Tanpa aku sebut nama kamu juga mereka akan tahu. Lagipula, semua kejadian itu adalah kesalahan kamu, Ina. Sudah seharusnya kamu yang bertanggung jawab. Kamu sudah bunuh orang dengan cara kamu. Maka kamu wajib dapat balasan dengan mempertanggung jawabkan semuanya."


"Persetan dengan apa yang kak Alif katakan. Jika kak Alif merasa bersalah, maka kak Alif harus bertanggung jawab sendiri. Jangan minta aku untuk ikut. Karena aku tidak merasa bersalah sedikitpun."


"Ina! Kapan kamu akan insyaf, hah!"


"Diam, kak! Jangan pernah lagi kamu bentak aku. Kamu ingin tanggung jawab, maka lakukan. Sedangkan aku, tidak mau."


Selesai berucap, Ina langsung ingin beranjak meninggalkan Alif yang sedang duduk di atas ranjang sempit kamar kosannya. Namun, langkah Ina tertahan karena Alif memegang tangan Ina dengan cepat.

__ADS_1


__ADS_2