Korban Diri Demi Cinta

Korban Diri Demi Cinta
Part *33


__ADS_3

Tora langsung berjalan cepat meninggalkan kamar Tami. Dia terlihat sedang menahan sesuatu yang entah apa pada dirinya saat ini. Sementara Tami yang melihat kepergian Tora, hanya menatap sekilas lalu tersenyum sinis.


"Cih. Pasti sudah tidak tahan ingin memuntahkan susu yang baru saja dia minum. Tidak kuat, tapi pura-pura kuat. Terimalah akibatnya sekarang."


Tora bergegas berjalan menuju anak tangga untuk naik ke lantai atas. Namun tiba-tiba, langkah kaki Tora terhenti seketika. Tubuhnya terasa begitu panas seperti baru tersiram air yang sedang mendidih. Hal itu membuat dia tidak kuat untuk melangkah.


"Bi Siah ...." Tora memanggil dengan nada yang cukup pelan sampai hampir tidak bisa di dengar.


"Bi .... Tolong aku."


Beruntung, bi Siah masih berada di sekitaran dapur, dan rumah juga sangat sepi. Hal itu mampu membuat bi Siah mendengar suara Tora walau berucap dengan nada yang cukup pelan.


"Den Tora! Den, kenapa bisa seperti ini?" tanya bi Siah dengan nada sangat kaget ketika melihat Tora dengan kulit yang memerah di semua bagian tubuh yang bisa dia lihat.


"Ya Tuhan ... apa yang sudah terjadi, Den?"


"Tolong, bik. Aku sudah tidak kuat lagi.


Tolong antar kan aku ke kamar."


"Baik, Den Tora."


Bi Siah segera membantu Tora naik ke lantai atas untuk menuju kamar. Sampai di kamar, Tora berbaring di atas kasurnya. Sedangkan bi Siah segera masuk ke kamar mandi.


Tanpa Tora berucap apa-apa, Bi Siah tahu apa penyebab Tora bisa seperti saat ini. Karena sejak kecil, laki-laki itu dialah yang membantu merawatnya.


Sekarang, Tora sedang mengalami alergi. Penyebabnya adalah karena dia minum susu. Sejak kecil, Tora tidak bisa minum susu. Tubuhnya tidak menerima zat itu masuk ke dalam dirinya.

__ADS_1


Susu akan membuat Tora seperti saat ini. Kulitnya akan memerah bak terbakar api. Itu tidak akan ada obatnya melainkan hilang sendiri. Namun, hilangnya alergi itu butuh waktu beberapa hari.


Cara untuk menenangkan rasa panas hanya dengan merendam diri di dalam bak mandi. Hal itulah yang sedang bi Siah siapkan sekarang. Bergegas menuju kamar mandi untuk menyiapkan air buat Tora berendam di dalamnya.


"Den, ayo!"


"Bik, panas sekali. Aku tidak kuat."


"Bibi tahu, untuk itu, ayo kita ke kamar mandi. Bibi sudah siapkan air di sana buat Den Tora menyejukkan diri."


Tora tidak berucap lagi. Dia langsung beranjak dengan dibantu bi Siah buat berjalan. Sampai di kamar mandi, dia langsung masuk ke dalam bak yang sudah berisikan air dingin di dalamnya. Tora berdiam diri di dalam bak tersebut sambil menutup matanya rapat-rapat.


"Den, bibi pergi sebentar. Ada yang ingin bibi lakukan."


Tora hanya menjawab dengan anggukan saja. Bi Siah langsung meninggalkan majikannya dengan langkah cepat.


Saat membuka pintu, bi Siah menemukan Tami sedang menatap piring yang berisikan nasi di dalamnya. Dia terlihat sangat enggan untuk menyentuh nasi tersebut.


"Bi, ada apa? Kenapa bibi tiba-tiba datang ke kamarku? Apa Tora yang minta bibi datang buat mengawasi aku makan? Katakan padanya, tidak perlu. Aku tidak akan melanggar kesepakatan yang telah aku buat."


"Maaf, Tami. Aku datang bukan karena permintaan Den Tora, tapi karena keinginanku sendiri. Barusan kamu ngomong apa? Kesepakatan? Kesepakatan soal apa? Apa soal makanan?" Bi Siah bertanya dengan nada penuh selidik. Dia terlihat sangat kesal saat melihat Tami barusan.


"Maksud bi Siah apa sih sebenarnya? Kenapa bibi juga terlihat sangat kesal padaku sekarang? Apa ada yang salah?"


"Ada. Aku ingin tanya satu hal padamu, Tami. Apa kamu barusan minta Den Tora untuk minum susu? Apa itu kesepakatan yang kamu maksudkan barusan?"


Tami terdiam. Dia semakin bingung dengan nada bicara yang bi Siah perlihatkan padanya sekarang. Apakah harus sekesal itu hanya karena segelas susu. Dia tidak memaksa, tapi hanya membuat kesepakatan. Jadi kenapa bibi pembantu itu benar-benar ambil pusing.

__ADS_1


Bi Siah melepas napas kesal dengan mendengus pelan. Akhirnya, dia sadar juga siapa dirinya di sini. Dia hanya seorang asisten rumah tangga yang tidak punya hak untuk mencampuri urusan majikan.


"Tami, aku hanya ingin bilang satu hal padamu, kalau sebenarnya, Den Tora itu alergi susu. Dan sekarang, karena susu yang baru saja dia minum, dia berada di kamar mandi untuk meredakan rasa sakit yang tubuhnya derita."


Tami kaget bukan kepalang. Dia langsung membulatkan matanya dengan mulut yang terbuka saat mendengar perkataan bi Siah barusan.


"Ap--apa? Tora alergi susu? Tapi ... tapi dia tidak bilang kalau dia alergi. Dia bilang padaku, kalau dia tidak suka. Bukan alergi."


"Dia tidak akan menunjukkan kelemahannya pada orang lain. Terutama padamu. Tidak akan pernah kamu lihat kelemahan dia jika kamu tidak berniat mencarinya sendiri."


"Ya sudah. Aku hanya ingin mengatakan hal itu saja padamu, Tami. Selebihnya, terserah padamu apa yang ingin kamu lakukan. Aku permisi sekarang."


Setelah kepergian bi Siah meninggalkan kamarnya, Tami bergegas turun dari ranjang. Tujuan hatinya sekarang tak lain adalah kamar Tora. Dia akan datang ke kamar itu untuk melihat kebenaran dari kata-kata yang bi Siah ucapkan barusan padanya.


Ketika sampai di depan pintu kamar, dia sedikit merasa canggung. Namun, rasa itu mampu di kalahkan oleh rasa ingin tahu juga rasa peduli yang lebih besar yang ada dalam hatinya.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Tami langsung membuka pintu kamar tersebut. Dia sama sekali tidak menemukan Tora ada di kamar. Saat dia ingin kembali, dia baru ingat akan kata-kata yang bi Siah ucapkan tadi. Tora sedang berada di kamar mandi untuk meredakan rasa sakit akibat alergi yang dia derita.


Tanpa pikir panjang lagi, Tami langsung membuka pintu kamar mandi. Dan, apa yang dia lihat benar-benar membuat hatinya merasakan rasa sedih akan keadaan Tora.


Tora sedang merintih sambil menutup mata di dalam bak yang berisikan air dingin. Tubuh Tora yang memerah, terlihat samar-samar dalam genangan air yang hanya menyisakan kepalanya saja yang tidak ia rendam.


Tami menghampiri Tora dengan wajah bersalah.


"To--Tora."


Suara berat itu sungguh Tora hafal siapa pemiliknya. Dia segera membuka mata dan berusaha untuk tidak menunjukkan rasa sakit yang ia derita. Walau pada kenyataannya, dia tidak mampu bersikap biasa untuk menyembunyikan apa yang sedang dia rasakan saat ini.

__ADS_1


"Tami ... ke--napa ... kamu ke sini? Kembalilah ke kamarmu sekarang, Tami. Di sini tidak akan baik untuk kesehatanmu."


__ADS_2