Korban Diri Demi Cinta

Korban Diri Demi Cinta
Part *49


__ADS_3

Mereka pun ikut di belakang dokter untuk mengantar Tami ke ruang perawatan.


***


Tami sudah bisa di jenguk sekarang. Keadaannya memang masih lemah, tapi sudah lebih baik dari sebelumnya.


Tora menatap Tami dengan tatapan penuh rasa cinta sambil terus memegang lembut tangan sang istri. Sementara bayi mereka, sedang jadi rebutan mama dan papa Tora. Kedua orang tua itu terlihat sangat bahagia bisa melihat cucu mereka yang sangat cantik lahir dengan selamat tanpa ada cacat sedikitpun.


"Ma, ayolah. Berikan dia padaku! Kamu sudah menggendongnya sangat lama. Aku belum menyentuhnya sama sekali," ucap papa Tora pada sang istri.


"Tidak akan. Aku tidak akan memberikannya padamu. Karena aku baru menggendongnya sebentar. Lagian, enak banget kamu bilang belum menyentuhnya sama sekali. Padahal, kamu sudah berkali-kali menyentuh pipi cucuku, Pa."


"Hei, dia itu bukan hanya cucumu, Ma. Tapi, dia juga cucuku. Lihat, dia sedikit mirip Tora saat kecil yah."


"Tentu saja mirip. Tora itukan papanya. Jika tidak mirip dia, maka mirip siapa cucuku ini, ha?"


"Tentu saja bisa sedikit mirip aku. Aku kan juga tampan."


"Ha? Tampan? Ya Tuhan ... tampan dari mana kamu ini, Pa? Gak ada tampan-tampannya. Udah tua dan keriput, mana ada tampan."


"Hei, aku saat muda dulu tampan, tahu gak? Jika tidak, bagaimana aku bisa memikat kamu samai jadi istriku?"


"Saat itu mataku sedikit tidak berfungsi dengan baik. Makanya bisa milih kamu. Lagian, aku tidak ungkit soal kamu masih muda dulu. Perasaan, aku ungkit soal kamu yang sudah tua keriput sekarang deh tadi."


"Kamu ini ya."


"Jangan banyak bicara, berikan dia padaku, Ma. Aku juga ingin menggendongnya."

__ADS_1


"Akan aku berikan nanti. Tidak sekarang karena dia masih nyaman berada dalam gendongan aku."


"Ya Tuhan ... mama."


Sementara kedua orang tua itu berdebat, Tora dengan Tami hanya bisa mendengar sambil tersenyum kecil. Anak pertama mereka jadi rebutan, samapi-sampai, Tora sebagai papa saja belum bisa menggendong anaknya.


Namun, itu tidak membuat Tora merasa sedih. Dia malahan merasa sangat bahagia dengan perdebatan itu. Karena perdebatan itu membuat dia merasa punya keluarga yang utuh sekarang. Apalagi, di sampingnya ada sang istri yang masih butuh perhatian lebih karena baru selesai melahirkan dengan mempertaruhkan nyawa. Maka dia tidak terlalu memikirkan soal dia yang belum bisa memeluk buah hatinya.


"Tami, terima kasih banyak. Maaf, selain kata terima kasih, aku tidak tahu harus berkata apa lagi padamu sebagai ungkapan rasa bahagia yang sekarang sedang aku rasakan. Kamu telah memberikan aku kebahagiaan yang paling luar biasa dalam hidupku saat ini. Tapi sayangnya, aku tidak punya apapun yang mampu aku tukar dengan kebahagiaan yang kamu berikan padaku. Maafkan aku, Tami. Dan, terima kasih lagi."


"Apa yang kamu katakan, Tora. Tidak perlu berterima kasih padaku. Kebahagiaan yang aku berikan untukmu, itu bukan hanya untuk kamu, melainkan, untuk aku juga, atau lebih tepatnya, untuk bersama."


Tora terdiam dengan benak yang terus berusaha mencerna apa yang Tami katakan barusan. Matanya menatap manik mata Tami yang terlihat sangat indah bercahaya.


"Tami, bolehkah aku minta satu hal padamu lagi sekarang?"


"Aku minta kamu tetap bertahan jadi istriku selama-lama. Tami, aku cinta padamu. Tolong jangan pergi tinggalkan aku sampai kapanpun."


Tora berucap dengan cepat tanpa memberi jeda sedikitpun. Kata-kata itu dia ucapkan hanya dengan satu napas. Itu dia lakukan agar Tami tidak memotong apa yang akan dia katakan.


Seketika, kamar rawat itu menjadi hening. Tami yang mendengar ucapan itu tidak mampu menjawab kata-kata Tora. Sedangkan kedua orang tua Tora, juga ikut terdiam sambil melihat Tora dengan tatapan tak percaya juga tatapan aneh.


"Tora, barusan kamu bilang apa?" Tami bertanya dengan nada pelan.


Bukan tidak mendengarkan apa yang Tora katakan barusan, hanya saja, dia ingin memastikan apa yang dia dengar itu murni ungkapan perasaan dari hati terdalam atau hanya sekedar ucapan di bibir saja.


Tora semakin menundukkan wajahnya. Dia menggenggam erat tangan Tami dengan penuh perasaan takut kehilangan.

__ADS_1


"Tami, aku memang terlalu rakus karena terlalu banyak minta padamu. Tapi, aku benar-benar tidak ingin kehilangan kamu. Sekarang aku sadar, kalau aku benar-benar mencintai kamu. Aku pendam rasa ini selama kita bersama. Aku tidak ingin jadi laki-laki naif sebenarnya. Tapi sayangnya, aku tidak bisa menahan rasa cinta ini lagi. Aku cinta padamu, Tami. Sangat mencintai kamu. Maaf, jika aku terlihat sangat berlebihan atau terlihat sangat kaku dalam mengutarakan perasaan. Tapi itulah aku. Tidak bisa bersikap romantis atau lebih manis lagi."


Tami tersenyum. Linangan air mata yang sedari tadi mengenang, akhirnya tumpah juga. Dia tidak bisa menahan rasa harus yang kini menghampiri hati. Karena sejujurnya, dia juga merasakan hal yang sama dengan yang Tora ungkapkan barusan. Sangat mencintai, tapi malah memilih memendam rasa untuk diri sendiri.


Pluk. Air mata Tami jatuh mengenai tangan Tora yang sedang menggenggam tangannya. Melihat air itu, Tora segera mengangkat wajahnya.


"Tami! Kenapa kamu menangis? Apa karena kata-kata yang aku ucapkan?" Tora berucap sambil bangun. Dengan wajah panik, dia menyeka air mata Tami yang jatuh.


"Tolong jangan nangis, Tami. Aku tidak akan membiarkan kamu bersedih lagi. Aku tidak akan memaksa kamu agar mau menerima cintaku. Karena aku tidak akan membuat kamu sakit lagi sekarang."


"Tidak. Aku menangis bukan karena aku sakit atau tidak ingin menerima cintamu, Tora. Tapi ...."


"Tora, katakan padaku! Apa kamu meminta aku tinggal di sisimu selamanya."


Tora tidak langsung menjawab. Dia menatap mata Tami dengan tatapan penuh harap. Sambil menganggukkan kepala, dia menjawab.


"Iya. Aku ingin kamu tinggal di sisiku selamanya. Jika saja aku adalah Tora yang dulu, mungkin aku akan paksa kamu untuk mendengarkan apa yang aku katakan. Tidak akan aku biarkan kamu pergi dariku satu langkah pun. Tapi .... "


Tora kini menundukkan kembali wajahnya dengan raut sedih. "Aku bukan Tora yang dulu Tami. Tidak bisa memaksa kamu untuk mengikuti apa yang aku inginkan. Aku ingin kamu tinggal di sisiku selamanya, tapi sayangnya, kamu .... "


"Aku apa?"


"Kamu mungkin tidak akan bersedia."


"Siapa bilang aku tidak bersedia?"


Pertanyaan itu sontak membuat Tora langsung menatap Tami dengan tatapan penuh harap. Cahaya indah juga kini muncul kembali di manik mata Tora yang hitam.

__ADS_1


"Tami ... barusan itu ... kamu ingin bilang kamu setuju untuk tetap tinggal bersamaku?" Tora berucap dengan suara penuh harap.


__ADS_2