Korban Diri Demi Cinta

Korban Diri Demi Cinta
Part *46


__ADS_3

Seakan mengerti apa yang menantunya pikirkan, mama Tora langsung tersenyum. Dia lalu mengalihkan pandangannya dari Tami.


"Kamu pasti belum tahu siapa Yura, bukan?


Dia adalah anak keduaku, adik satu-satunya yang Tora miliki. Dia mati karena bunuh diri akibat kekecewaan yang dia alami. Karena dialah Tora berubah. Dan karena dia jugalah, hubungan Tora dengan sahabat baiknya putus."


Lalu, tanpa menunggu Tami bertanya lagi, mama mertuanya langsung menceritakan semua yang terjadi di masa lalu. Dia menceritakan semuanya secara lengkap tanpa ada satupun yang terlewatkan.


"Jadi begitulah ceritanya, Tami."


Sekarang, Tami baru mengerti sepenuhnya duduk permasalahan yang terjadi antara Tora dan Dicky setelah mama mertuanya menceritakan cerita masa lalu itu dengan detail. Saat permusuhan Tora dan Dicky, dia tidak tahu penyebabnya. Dia hanya tahu, mereka bermusuhan, dan Tora akan merebut wanita yang Dicky cintai. Ternyata itu alasannya karena dia kehilangan orang yang dia cintai.


Tora ingin membuat Dicky merasakan hal yang sana dengan yang dia rasakan. Hal yang paling tidak masuk akal menurut pendapat Tami yang tidak bisa menerima perilaku Tora. Karena dia mengganggap, Tora tidak punya pikiran yang jernih.


"Tami, Tora akhir-akhir ini terlihat sangat banyak berubah. Dia juga mampu sedikit meredam emosinya sekarang. Itu semua karena kamu."


"Karena aku?" Tami berucap dengan nada tak percaya sambil mengangkat satu alisnya.


"Kenapa karena aku, Ma?"


"Karena dia ... sudah jatuh hati padamu."


Sedikit rasa kaget tentunya yang Tami rasakan saat mendengar ucapan dari mama mertuanya. Tapi, dia tidak percaya dengan kebenaran dari ucapan tersebut.


Tami tersenyum.


"Aku tidak yakin kalau dia jatuh hati padaku, Ma. Karena yang sedang dia pertahankan itu bukan aku, melainkan anaknya yang ada dalam kandunganku. Oh ya, mungkin juga dia merasa kalau aku ini sedikit mirip Yura adiknya. Dia minta aku pakai semua pakaian bekas milik Yura selama aku tinggal di sini, Ma. Maka dari itu, dia sedikit merubah sikapnya juga belajar meredam emosinya."


Mendengar kata-kata itu, mama Tora agak kaget. Dia tidak menyangka kalau Tami akan mengatakan kata-kata itu sekarang.

__ADS_1


"Tami .... " Mama Tora tak mampu untuk melanjutkan kata-kata, karena dia benar-benar bingung harus bicara apa untuk menjawab ucapan Tami barusan.


"Sudahlah, Ma. Tidak perlu membahas soal aku dan Tora lagi. Karena aku dan Tora, mungkin akan selamanya ada jarak pemisah diantara kami."


Mama Tora melepas napas kasar.


'Ya Tuhan ... aku kenapa bisa mendadak bingung begini sih? Kenapa tidak punya kata-kata lagi untuk aku ucapkan pada menantuku ini? Ah, sial sekali aku hari ini.'


'Ya sudahlah. Mungkin akan ada lain waktu untuk aku bicara panjang lebar dengan Tami. Karena sekarang, aku juga harus segera kembali agar Tora tidak tahu kalau aku datang buat bertemu dengan Tami. Dia pasti akan kesal jika aku ikut membantu dalam permasalahan pribadinya.'


"Ya Sudah, Tami. Sepertinya, mama harus segera pulang. Ada banyak urusan yang harus mama urus. Mama pamit sekarang."


"Iya, Ma. Hati-hati."


Tami mengantar mama mertuanya sampai ke mobil. Setelah mobil itu berjalan, dia memilih kembali ke taman untuk memikirkan apa yang baru saja terjadi dengan hatinya.


"Jika Tora suka aku, kenapa dia tidak bicara langsung? Kenapa harus mamanya yang mengatakan hal itu?"


Tami ingat apa yang Ina katakan waktu itu saat mereka bertemu. Tora hanya mengganggap Tami sebagai pengganti seseorang yang berharga. Jika tidak, mana mungkin Tami di minta memakai pakaian bekas? Jika Tami memang berharga, Tora pasti membelikan yang baru buat Tami. Bukan malah menyediakan pakaian bekas seperti yang dia pakai selama dia tinggal di rumah ini.


Hal itu semakin memperkuat prasangka Tami akan apa yang Tora pikirkan selama ini tentang dia. Untuk itu, dia tidak akan mengganggap serius apa yang mama mertuanya katakan tentang perasaan Tora padanya.


"Sudahlah, Tami. Lupakan saja. Kamu hanya dibutuhkan karena anak yang ada dalam kandungan mu. Tidak lebih."


Sementara itu, Tora sudah meninggalkan jet pribadi Dicky karena panggilan polisi yang meminta dia datang atas kasus yang sudah dia laporkan. Setelah tiba di kantor tersebut, dia langsung diajak membahas soal masalah yang dia laporkan. Dia juga di pertemukan dengan tersangka yang sudah dia tuduh.


"Tora, tolong aku. Lepaskan aku. Aku tidak bersalah, Tora." Ina berucap dengan nada memelas.


Bukannya kasihan, Tora malah semakin merasa jijik, karena nada memelas itu semakin menumbuhkan rasa benci dalam hatinya. Plak! Sebuah tamparan mendarat di wajah Ina dengan mulus. Baik Ina yang menerima juga polisi yang melihat kejadian itu sama-sama kaget dengan sikap berani Tora menampar Ina barusan.

__ADS_1


"Tora .... " Ina berucap dengan nada dan tatapan tak percaya sambil memegang pipi yang sakit akibat tamparan barusan.


"Kamu ... tampar aku? Kau sudah gila, Tora! Di mana hatimu, hah!"


"Kenapa kau tanyakan di mana hatiku, Ina? Seharusnya, pertanyaan itu tidak keluar dari mulut busuk mu, melainkan dari bibirku."


"Tapi, pertanyaan itu sepertinya tidak perlu aku tanyakan lagi. Karena aku sudah tahu apa jawabannya. Kamu terlahir tidak punya hati, jadi untuk apa aku tanyakan lagi pertanyaan itu bukan?"


"Tora!"


"Mohon diam! Jangan berisik karena ini bukan pasar. Ini kantor polisi, apa kalian paham?"


"Pak, masukkan saja perempuan ini langsung ke dalam sel bawah tanah agar dia tahu apa artinya penjara dalam kegelapan. Dia sudah membunuh orang, tapi malah tidak merasakan sedikitpun rasa bersalah. Dia perempuan gila, pak."


"Jika aku gila, maka sebaiknya, lepaskan saja aku, pak polisi. Karena aku tidak boleh di penjara. Bukankah orang gila itu tidak boleh di penjara?"


"Kamu!" Tora sangat kesal. Dia hampir saja menampar Ina untuk yang kedua kalinya.


Tapi, itu tidak terjadi karena ada polisi yang mencegahnya.


"Mohon tenang, mas Tora. Anda jangan ikut bikin keributan jika anda tidak ingin kami tahan."


"Maaf, pak polisi. Saya terbawa emosi."


"Bawa perempuan ini kembali ke tahanan," ucap polisi itu pada bawahannya.


"Baik, pak. Laksanakan."


"Ayo!"

__ADS_1


"Tidak! Lepaskan aku. Aku tidak ingin di tahan di sini. Aku tidak bersalah. Oh ya, aku ini orang gila. Kalian harus bebaskan aku karena tidak ada orang gila yang di penjara."


Ina berteriak sambil terus di seret oleh polisi itu untuk di masukkan ke dalam sel kembali. Sementara Tora, dia melihat dengan hati yang terasa sedikit puas.


__ADS_2