Korban Diri Demi Cinta

Korban Diri Demi Cinta
Part *47


__ADS_3

"Mas Tora, kami minta anda datang karena ingin mengatakan kalau kami akan mempercepat persidangan untuk tersangka."


"Di percepat, pak polisi?"


"Iya. Karena semua bukti sudah lengkap, ditambah kejahatan lain yang tersangka lakukan, kami akan mempercepat persidangan untuk tersangka."


"Baiklah kalau begitu, Pak. Semoga perempuan itu dihukum mati nantinya. Atau paling tidak, dia dihukum penjara seumur hidup supaya bisa mengintropeksi diri."


"Semua hukuman yang akan diberikan pada tersangka, tergantung hasil persidangan nanti, mas Tora. Tapi, kami pastikan kalau dia akan dihukum sesuai dengan kejahatan yang dia buat. Mas Tora tenang saja."


"Terima kasih banyak, Pak. Semoga hasilnya tidak mengecewakan pihak kami."


"Tidak akan. Tenang saja."


Tora pun beranjak meninggalkan kantor polisi setelah pembicaraannya dengan polisi itu selesai. Dengan membawa hati yang cukup lega, Tora melajukan mobil menuju rumah.


Tidak butuh waktu lama buat Tora mengendarai mobil dengan kecepatan sedang untuk sampai ke rumah. Setelah mobil dia parkir kan, ia segera berjalan masuk ke dalam.


Ketika dia berjalan masuk untuk menuju lantai atas, dia melewati kamar Tami. Tepat saat itu juga, Tami membuka pintu kamarnya.


Tora menghentikan langkah kakinya karena melihat Tami. Sementara Tami, dia juga tidak bergerak dari tempat sebelumnya. Mereka saling tatap untuk beberapa saat. Tapi pada akhirnya, Tami memilih mengabaikan Tora dengan berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun buat Tora.


______


Sudah delapan bulan berlalu. Kehamilan Tami sudah memasuki usia sembilan bulan dan sebentar lagi akan melahirkan anak yang dia kandung.


Hubungan keduanya masih seperti biasa. Tidak ada perubahan sedikitpun. Masih tetap seperti dulu tanpa ada kemajuan barang sedikitpun. Keduanya masih tetap mempertahan ego yang tinggi dalam hati masing-masing. Juga, tidak saling terbuka satu sama lain. Yang jelas, hubungan mereka masih sama. Masih mengandalkan ego juga pikiran sendiri.


Pagi ini, Tami di rumah bersama Tora karena bi Siah pergi belanja ke pasar. Meskipun masih meninggikan ego dalam hati, tapi Tora selalu memberikan perhatian yang penuh buat Tami juga calon anaknya. Dia tidak akan membiarkan Tami sendirian di rumah. Apalagi dengan kondisi Tami yang sekarang ini. Tora selalu waspada akan segalanya.


Tora sedang berada di ruang tamu ketika dia mendengar suara rintihan yang berasal dari kamar Tami. Dengan cepat, dia berlari menuju kamar sang istri untuk memeriksa keadaan.

__ADS_1


"Tami. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Tora sambil berusaha untuk membuka pintu.


Tidak ada jawaban sama sekali. Yang dia dengar hanya rintihan yang semakin kuat saja.


Takut akan sesuatu hal yang buruk terjadi pada istrinya, atau mungkin ini saatnya sang istri akan melahirkan, Tora langsung berusaha membuka pintu dengan cara mendobrak pintu tersebut. Usaha tidak akan mengkhianati hasilnya. Itulah yang orang-orang katakan selama ini. Dan sekarang, Tora akhirnya berhasil membuka pintu kamar Tami.


Ketika pintu terbuka, dia semakin panik dengan apa yang sedang dia lihat. Tami sedang merintih di lantai sambil memegang perutnya.


"Tami." Tora berucap sambil merebut tubuh mungil dengan perut buncit itu.


"Tora. Sakit ... sakit sekali."


"Ayo kita ke rumah sakit sekarang juga, Tami! Kamu harus kuat. Bersabarlah."


Butuh waktu untuk Tora bisa membawa Tami sampai ke rumah sakit. Mulai dari kepanikan akan Tami yang terus merintih saat dia menyetir mobilnya, sampai dengan jalanan yang tiba-tiba macet karena ada kecelakaan kecil di depan mereka.


Untung saja, semua itu berhasil Tora lalui. Dan akhirnya, mereka tiba di depan rumah sakit yang ingin mereka tuju sebelumnya.


Tora langsung membawa Tami turun dengan cara menggendongnya. Lalu, ketika masuk ke dalam, ada beberapa suster yang membantu Tora untuk membawa Tami ke kamar persalinan.


Satu jam sudah berlalu. Tapi Tami masih belum melahirkan anak mereka. Suara rintihan masih terdengar dengan jelas dari kamar tersebut oleh Tora yang sedang menunggu di depan pintu.


Bi Siah dan kedua orang tua Tora juga sudah ada di sana. Mereka semua sama-sama memasang wajah cemas dan takut.


"Ma, apakah selama ini proses persalinan pada umumnya?" tanya Tora tiba-tiba pada mamanya.


Pertanyaan itu mengalihkan perhatian semua yang ada di dekatnya. Tora tiba-tiba jadi pusat perhatian oleh orang tua juga bi Siah yang ada di depan kamar itu.


"Ini masih belum lama, Tora. Kamu tidak tahu berapa lama kamu baru bisa aku lahir kan ke dunia, bukan? Aku hampir menghabiskan waktu dua hari dua malam untuk melahirkan mu ke dunia ini."


"Mama apa-apaan sih? Kok malah ungkit-ungkit soal mama melahirkan Tora di saat seperti ini."

__ADS_1


"Eh, aku gak ungkit-ungkit kok, Pa. Cuma ngomong aja."


"Iya ngomong. Tapi ngomong yang gak tepat pada waktunya. Tora sedang cemas, kita juga. Jadi, gak usah ngomong masalah yang semakin bikin hati dan perasaan tertekan, mama."


Mama Tora terdiam. Dia baru sadar apa yang dia katakan barusan semakin menambah wajah cemas juga rasa takut dan tidak enak dalam hati anaknya. Untuk itu, dia langsung berusaha menjernihkan suasana kembali.


"Gak semua orang juga kok kayak gitu. Ada yang gampang dalam proses persalinannya. Tidak butuh banyak waktu, mereka bisa melahirkan dengan selamat."


Belum sempat Tora menjawab apa yang mamanya katakan, pintu ruang persalinan itu terbuka. Dari pintu tersebut muncul dokter perempuan yang sedang menangani persalinan Tami.


"Dokter, bagaimana keadaan Tami? Apa dia baik-baik saja? Apa anak kami sudah di lahir kan?" Tora langsung menghujani dokter tersebut dengan banyak pertanyaan.


Tidak langsung menjawab, dokter itu malah memperlihatkan wajah cemasnya. Tora juga masih mendengar suara rintihan dalam kamar tersebut. Rintihan yang menandakan kalau Tami masih belum menyelesaikan perjuangannya untuk melahirkan anak yang dia kandung.


"Dokter .... "


"Mas ini suaminya, bukan?"


"Iya, Dok. Saya suaminya."


"Keadaan istri anda sedang sangat tidak baik sekarang. Kami harus memilih salah satu diantara keduanya untuk kami selamatkan. Siapa yang anda ingin kami selamatkan? Ibunya, atau anaknya."


Tora kaget bukan kepalang. Pertanyaan itu bagai batu besar yang tiba-tiba jatuh lalu menimpa tubuhnya.


Dengan tatapan penuh luka, dia tatap dokter tersebut.


"Selamatkan saja mamanya." Tora berucap tanpa ragu meski terdengar begitu sedih.


Bi Siah yang mendengar kata-kata itu, langsung menatap Tora dengan tatapan tak percaya.


"Den Tora, apa den Tora yakin dengan pilihan den Tora barusan?"

__ADS_1


"Aku yakin, bik. Sangat yakin."


"Tapi Den, bukankah den Tora sangat menginginkan bayi itu lahir ke dunia?"


__ADS_2