Korban Diri Demi Cinta

Korban Diri Demi Cinta
Part *23


__ADS_3

Tak kuat lagi menahan diri, Nining tiba-tiba langsung ambruk jatuh terkulai tak sadarkan diri. Untung saja Tora sangat sigap, dia tahan tubuh itu supaya tak jatuh ke bawah dengan cepat.


"Nining." Beberapa orang ibu-ibu berucap cepat saat melihat kejadian itu.


Mereka ikut merasa cemas dengan apa yang Nining rasakan saat ini. Tapi sayang, tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa melihat, menjadi penonton setia saja. Sementara Tora, dia langsung menggendong tubuh mungil sang istri untuk dia baringkan ke tempat yang layak.


Nining belum juga sadar, padahal, kedua orang tuanya sudah selesai dishalatkan. Mereka ingin segera membawa jenazah itu ke pemakaman. Tapi Tora tidak mengizinkan. Dia meminta para warga bersabar, menunggu sampai Nining sadar dari pingsannya.


"Tami, cepatlah bagun. Kamu sudah pingsan sangat lama. Kasihan jenazah ayah dan ibumu. Mereka harus segera di makamkan secepatnya. Aku tidak bisa membiarkan kamu bertambah sedih karena tidak punya kesempatan mengantarkan mereka ke peristirahatan terakhir. Tami, bangun."


Tora berucap lirih sambil terus memegang tangan istrinya. Dia terlihat ikut merasakan apa yang Nining rasakan. Bagaimana tidak? Dia sudah pernah melalui masa pahit seperti saat ini. Kehilangan orang yang dia kasihi. Itu rasanya teramat perih.


"Tora, apa tidak sebaiknya kita biarkan saja mereka memakamkan jenazah ini sekarang juga? Kasihan jika harus menunggu terlalu lama." Papa Tora berucap sambil menyentuh pundak anaknya.


"Tidak, Pa. Aku tidak ingin melihat Tami semakin sakit karena tidak bisa melihat pemakaman orang tuanya. Dia sudah sangat sakit sekarang. Jadi, kita tidak bisa membiarkan dia semakin sakit lagi."


"Tapi Tora .... "


"Mas, apa yang Tora katakan itu benar. Tami pasti ingin mengantar orang tuanya untuk yang terakhir kali. Jadi, kita harus tunggu dia sadar terlebih dahulu baru melakukan pemakaman." Mama Tora berucap cepat memotong perkataan suaminya.


Belum sempat papa Tora menjawab, akhirnya, Nining sadar dari pingsan. Semua orang pun akhirnya menunjukkan wajah lega mereka atas kesadaran Nining.


"Lepaskan aku!" Nining langsung menarik kasar tangannya yang Tora pegang.


"Tami, akhirnya kamu sadarnya. Kami sudah menunggu kamu sadar sejak tadi."

__ADS_1


"Di mana ayah dan ibu? Kalian tidak membawa mereka pergi tanpa aku kan? Tidak, jangan bawa mereka tanpa aku. Aku tidak rela."


"Tidak, Tami. Mereka masih ada. Kami menunggu kamu bangun baru mau bawa mereka pergi."


"Ayah, ibu." Nining langsung beranjak dari ranjang menuju ruang tamu rumahnya.


Berlari kecil agar dia segera sampai ke ruang tamu yang letaknya tidak terlalu jauh. Mengabaikan semua orang yang ada di sekitanya, dia langsung memeluk orang tuanya satu persatu.


"Nining, kita sudah lama menunggu kamu sadar. Ayo kita bawa orang tua kamu sekarang juga, Nak!" ucap salah seorang warga yang terlihat seperti tetua kampung.


Nining tidak menjawab. Namun dia mendengarkan apa yang tetua kampung itu katakan. Membiarkan orang-orang membawa kedua orang taunya pergi menuju peristirahatan terakhir.


***


Pemakaman akhirnya selesai juga, Nining sudah pun menabur bunga di atas pusara kedua orang tuanya. Dia di papah oleh mama mertuanya untuk pulang ke rumah. Namun, saat melewati warga yang melihat kejadian itu, dia mendengar apa yang warga itu katakan.


"Apa? Benarkah apa yang aku dengar ini?" tanya salah satu warga yang ikut mendengarkan apa yang di bicarakan warga tersebut.


Mendengar hal itu, Nining segera menghampiri warga yang berkumpul tak jauh dari pohon mangga samping pemakaman. Dengan wajah memerah juga air mata berderai, dia tatap wajah warga yang baru saja bicara soal Tora.


"Pak, katakan padaku apa yang kamu katakan tadi! Apakah kamu yakin dengan mobil dan orang yang telah menabrak orang tuaku."


"Nining. Itu .... "


"Katakan saja, Pak. Aku ingin mendengar kesaksian bapak dengan jelas. Agar aku bisa memasukkan dia ke dalam penjara."

__ADS_1


"Maaf, Nining. Aku memang melihat mobilnya, tapi tidak melihat orangnya."


"Katakan saja iya, Pak. Aku ingin memasukkan dia ke penjara agar dia menerima hukuman yang setimpal."


"Nining. Sabar, Nak. Kamu tidak bisa langsung menuduh dia melakukan semua ini begitu saja. Karena bukti yang kamu punya tidak kuat, Nak." Tetua kampung bicara dengan lembut.


"Apa kata-kata yang pak Tardi ucapkan tidak bisa dijadikan bukti, pak Tua? Aku rasa itu sudah cukup buat bukti kejahatan yang dia lakukan," ucap Nining sambil menunjuk ke arah Tora.


Sementara Tora yang berada di samping mamanya hanya diam saja. Mamanya meminta dia diam karena tidak ingin memperkeruh suasana. Makanya dia diam saat ini.


"Nining. Ucapan pak Tar tidak bisa kamu jadikan bukti. Karena ada banyak alasan yang bisa kita pertimbangkan kembali. Seperti, pertama, jika dia memang dalang dari kecelakaan yang menimpa orang tua kamu, maka dia tidak akan datang ke sini dengan mobil yang sama yang dia gunakan untuk melakukan kejahatan. Kedua, ada banyak mobil yang mirip di kota ini. Tidak hanya ada satu milik dia saja."


"Sedangkan untuk pak Tar. Apakah pak Tardi melihat nomor plat mobil yang telah menabrak orang tua Nining saat kecelakaan terjadi?"


Laki-laki paruh baya itu langsung menunduk.


"Tidak, pak Tetua. Saya tidak melihatnya. Saya hanya tahu kalau mobil yang suami Nining punya itu sama persis dengan mobil yang menabrak orang tua Nining tadi siang. Tapi, tidak tahu plat mobilnya sama atau tidak. Karena saya tidak memperhatikannya sama sekali."


"Sudah jelas sekarang, kalau ini semua belum bisa dikatakan sebuah bukti. Karena semua keterangan tidak terlalu jelas."


"Tidak, pak Tetua. Aku yakin kalau dia adalah dalangnya. Dia adalah orang yang telah melenyapkan orang tuaku. Aku sangat yakin dengan hal itu."


"Nining, bapak kenal kamu seperti apa. Selama kamu tinggal di kampung ini, kamu adalah gadis yang paling baik dan paling mengerti akan yang namanya fitnah. Setiap tuduhan tanpa bukti, itu namanya fitnah, bukan? Jadi, jangan fitnah suamimu melakukan hal keji ini selagi tidak ada bukti."


"Tami. Aku adalah mama Tora. Aku tahu jika anakku bukan manusia kejam yang mau bersikap sekeji itu. Dia mungkin laki-laki yang tidak baik selama menjadi suami kamu. Tapi, dia bukan orang keji yang tega membunuh orang yang tidak bersalah. Apalagi itu orang tua kamu, mertuanya sendiri."

__ADS_1


Nining kembali dilanda virus bingung. Kata-kata yang semua orang ucapkan itu tidak bisa membuat hatinya menerima sebuah kenyataan. Benaknya tetap menuduh Tora sebagai dalang dari kecelakaan yang orang tuanya alami.


__ADS_2