
Dokter Fahri adalah dokter muda yang bekerja sebagai dokter pribadi keluarga Tora. Sebenarnya, antara Tora dengan dokter muda itu masih punya hubungan darah. Kakek mereka bersaudara. Makanya, dokter muda itu begitu dekat dengan Tora dan keluarganya.
"Mas Tora, apa yang terjadi dengan istrimu?"
"Jika aku tahu apa yang terjadi dengan dia, maka aku tidak akan memanggil kamu. Lagian, jangan panggil aku mas. Antara aku dengan kamu itu masih jauh tuaan kamu dari aku."
"Ya Tuhan, umur kita memang sedikit berbeda. Tapi aku harus menghormati kamu sebagai majikan ku."
Tora mendengus kesal. Dia tidak ingin berdebat lagi, karena dia sangat ingin tahu apa yang terjadi dengan Nining sekarang.
"Jangan terlalu berlebihan, dokter Fahri. Kamu bekerja di keluarga aku juga karena kamu yang ingin. Jadi, jangan banyak tingkah."
"Sekarang, cepat lakukan tugasmu. Tidak usah banyak bicara lagi."
"Baiklah, bos. Akan aku jalankan tugasku sebagai dokter. Aku akan periksa dengan baik nyonya mu ini."
Tora hanya bisa memberikan Fahri tatapan tajam atas ulah Fahri barusan yang sengaja mengusili dirinya. Karena Tora tahu, laki-laki yang menjabat sebagai dokter keluarganya ini memang terkenal sangat usil dan juga paling suka berdebat. Jika di ajak adu debat, dia akan tahan berjam-jam. Itu hal gila menurut Tora.
Sementara Fahri yang diberi tatapan tajam oleh Tora, dia tidak merasakan sedikit ketakutan sama sekali. Dia malah tersenyum nyengir kuda sambil berjalan melewati Tora.
Fahri lalu melakukan tugasnya sebagai dokter dengan di saksikan Tora. Tidak ada sedikitpun keraguan yang terlihat dari gerakan lihai Fahri saat menjalankan tugasnya. Dia begitu telaten dan benar-benar teliti.
"Bagaimana? Apa sebenarnya yang sedang dia alami, Fahri? Sakit apa dia?" tanya Tora dengan nada cemas saat Fahri baru saja selesai melakukan tugasnya.
"Mas Tora tenang saja. Dia sebenarnya tidak sakit sama sekali. Tidak ada yang perlu di cemaskan dari keadaan dia. Sebaliknya, aku punya kabar yang aku yakini kalau mas Tora akan bahagia saat mendengarkannya."
"Kabar apa yang bisa bikin aku bahagia? Cepat katakan padaku, Fahri! Jangan berbelit-belit kamu."
"Sabar, mas Tora. Kabar bahagia harus perlahan mengatakannya. Jika tidak, akan membuat yang mendengar jungkir balik atau mungkin bisa lompat-lompat gak jelas."
"Fahri .... " Tora memanggil nama Fahri dengan nada yang penuh penekanan. Itu menunjukkan kalau dia sedang tidak ingin diajak bercanda saat ini.
__ADS_1
Fahri paham dengan nada itu. Dia tersenyum dengan posisi yang masih tetap tenang sambil melihat Tora.
"Istrimu tidak sakit, melainkan, dia sedang hamil sekarang."
Mendengar kata-kata itu, Tora terbelalak kaget. Tenggorokannya terasa tidak bisa mengeluarkan satu katapun selama beberapa saat. Dia terdiam dengan tatapan mata yang menatap tak percaya pada Fahri yang masih berada di samping Nining.
"Fahri, katakan sekali lagi apa yang kamu katakan barusan! Aku ingin memastikan kalau aku tidak salah dengar apa perkataan mu barusan itu."
"Mas Tora, kamu tidak salah dengar. Istrimu sedang hamil sekarang. Ya meskipun usia kandungannya tergolong sangat muda. Baru dalam hitungan mau memasuki empat minggu saat ini. Tapi, istrimu benar-benar sedang hamil saat ini."
"Be--benarkah? Istriku ... benar-benar hamil?"
"Tentu saja benar, Mas Tora. Aku sudah memeriksa istrimu sebanyak dua kali hanya untuk memastikan hasil dari pemeriksaan ku. Jadi, itu benar."
"Tapi ... tubuhnya sangat lemah sekarang. Kamu harus menjaga baik-baik istrimu agar kandungannya tidak ada masalah."
Tora tidak menjawab. Namun, sudut matanya tiba-tiba menjatuhkan buliran bening tanpa bisa dia tahan. Meskipun saat buliran bening itu jatuh, Tora langsung menghapusnya. Tapi Fahri bisa melihat dengan cukup jelas kalau Tora sedang menangis.
"Sudah aku katakan, kamu akan bahagia saat mendengarkan apa yang aku katakan. Beruntung aku tidak mengatakan secara tiba-tiba tadi. Jika tidak, kamu bisa kena serangan jantung."
Fahri langsung berjalan setelah meletakkan obat di atas nakas. Namun, saat dia melewati Tora yang masih diam berdiri di tempat sebelumnya, tangannya Tora tahan.
"Ada apa lagi, Mas Tora?"
"Tidak ada. Terima kasih banyak."
Mendengar ucapan itu, Fahri terdiam selama beberapa detik. Dia menatap Tora dengan tatapan tak percaya.
'Untuk pertama kalinya setelah kepergian adik tercinta, aku baru mendengarkan kata maaf lagi dari mas Tora. Sepertinya, dia benar-benar bahagia sekarang. Semoga semua yang membuat dia bahagia tetap bertahan.'
Fahri bicara dalam hati. Lalu, dia tersenyum pada Tora sambil menepuk pundak Tora dengan satu tangan.
__ADS_1
"Sama-sama. Ada apa-apa, langsung hubungi aku. Aku pamit dulu."
Fahri pergi dengan diantarkan bi Siah menuju pintu. Sementara Tora, dia langsung menghampiri Nining yang masih belum sadar dari pingsannya tadi.
"Tami, kamu hamil. Kamu hamil anakku." Tora berucap sambil memegang erat kembali tangan Nining. Dia juga mencium tangan itu berklai-kali.
Bi Siah yang kebetulan mendengar ucapan Tora barusan, dia langsung masuk ke dalam kamar tanpa basa-basi.
"Apa? Tami hamil, Den Tora?"
"Bi Siah."
"Den, apakah yang bibi dengar tadi dengan barusan itu tidak salah. Awalnya, bibi tidak ingin percaya kalau Tami sekarang hamil, tapi .... "
"Iya, bik. Dokter Fahri bilang kalau Tami memang benar-benar hamil. Ya meskipun kehamilannya masih sangat muda."
"Awalnya, aku juga tidak percaya kalau tidak Fahri memeriksa sampai beberapa kali untuk meyakinkan aku, kalau pemeriksaannya tidak salah."
Tora begitu bahagia. Terdengar dari nada bicaranya yang benar-benar penuh semangat barusan. Dia juga memperlihatkan senyum manis pada bi Siah. Hal itu membuat bi Siah ikutan bahagia. Benar-benar merasa bahagia.
"Ya Tuhan ... ini berita yang paling membahagiakan. Semoga dengan kehadiran buah hati ini, hubungan Den Tora dan Tami akan lebih baik ya Den."
"Oh ya, bagaimana jika bibi berbagi kebahagiaan dengan orang tua Den Tora? Mereka pasti juga akan sangat-sangat bahagia dengan kabar ini Den."
"Sebaiknya jangan sekarang, Bik. Soal kabar ini, aku mau kasi kejutan buat mama papa nantinya. Jadi, aku tunggu cari waktu yang tepat dulu."
"Oh, ya sudah kalo gitu, Den. Bibi ikut saja apa yang Den Tora katakan. Karena bibi yakin, yang Den Tora katakan itu adalah pilihan terbaik."
"Ya, Bik. Oh ya, bisakah bibi buatkan sup sayur untuk Tami? Dia perlu makanan yang bergizi untuk kebutuhan gizi dia juga calon anakku."
"Bisa, Den Tora. Sangat bisa."
__ADS_1
"Bibi permisi dulu. Akan bibi buatkan sup sayurnya sekarang juga. Nanti, setelah Tami sadar, dia bisa langsung makan."
"Iya."