Korban Diri Demi Cinta

Korban Diri Demi Cinta
Part *50 (Last)


__ADS_3

Tami tersenyum. Lalu mengangguk pelan. Anggukan itu membuat Tora langsung memeluk Tami dengan erat.


"Katakan padaku, Tami! Anggukan barusan itu tidak bohong bukan?"


"Tentu saja tidak. Aku sudah punya anak bukan? Jadi, aku harus tetap bersama dengan anak dan suamiku agar anakku punya keluarga yang utuh. Dan ... lagipula ... aku juga sudah jatuh hati pada laki-laki galak yang entah kapan bisa membuat aku kehilangan hatiku dalam galaknya itu."


"Tami .... "


Tora benar-benar bahagia sampai tidak bisa berucap apa-apa selain memanggil nama sang istri yang penuh perasaan. Mereka sama-sama terhanyut dalam pelukan hangat. Tapi, Tora juga ingat kalau sang istri masih dalam keadaan sakit. Jadi, juga harus hati-hati dalam memberikan kehangatan.


"Kita saling cinta. Tapi kenapa tidak dari dulu kita ungkapkan?" tanya Tora sambil terus membelai rambut Tami dengan lembut.


"Lupakan soal masa lalu, Tora. Sekarang, kita harus mulai menata masa depan ya. Untuk kedepannya, kita harus saling terbuka agar kesalahan masa lalu tidak akan terulang kembali."


"Siap, nyonya. Akan aku ingat kata-kata yang nyonya ucapkan."


Sekarang, kebahagiaan keluarga itu terlihat sangat lengkap. Tora dan Tami sudah tidak saling menyimpan rasa. Mereka berencana menata masa depan dengan lebih baik lagi. Dengan menjadikan masa lalu sebagai pelajaran, mereka pasti akan mampu membangun rumah tangga bahagia yang penuh dengan cinta dan kehangatan.

__ADS_1


Sementara kedua orang tua Tora, mereka juga ikut merasakan kebahagiaan yang anak mereka rasakan. Mereka tersenyum sambil melihat kebahagiaan Tora dan Tami. Sesekali, mereka juga bertukar pandang dengan bibir yang masih menyimpan senyum manis penuh kebahagiaan.


___


Sementara itu, di sisi lain, tepatnya di sel kantor polisi. Ina sedang meringkuk sambil memegang perut. Dia menahan rasa sakit yang dia derita di bagian perut, juga beberapa bagian tubuh yang lainnya.


Rasa sakit itu dia dapatkan dari pukulan beberapa tahanan yang lain. Dia dipukuli oleh tahanan yang lain karena tidak patuh dengan apa yang tahan itu katakan.


Ini bukan yang pertama kalinya dia dipukuli. Dia sudah menderita akibat pukulan dari tahanan beberapa kali, tapi polisi penjaga seakan tidak mau ambil pusing akan keadaannya. Dia diabaikan begitu saja. Malah, ada yang bilang kalau itu salah dari dirinya sendiri.


Ina begitu menderita sekarang. Tidak punya teman, juga tidak ada saudara yang peduli. Tidak ada yang menjenguk dia sama sekali.


Keduanya mati ditempat akibat kecelakaan itu. Sementara orang yang menabrak kedua orang tua Ina hanya dapat hukuman penjaga beberapa bulan saja.


Itu karena bukan kesalahan dari orang yang menabrak, melainkan, kesalahan dari kedua orang tua Ina. Semua bukti dan saksi mata sudah benar-benar jelas. Makanya, orang yang menabrak hanya dikurung selama beberapa bulan, lalu dia dibebaskan tanpa syarat.


Ina kesal, sangat kesal juga sangat marah. Tapi sayangnya, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menyimpan amarah dalam hati sampai maut menjemput karena dia juga sedang terkurung dalam neraka dunia saat ini.

__ADS_1


Sementara Alif, dia sudah sadar setelah koma selama dua bulan. Dia sadar, tapi sarafnya tidak lagi berfungsi dengan baik. Akibat benturan itu, dia harus duduk di kursi roda tanpa bisa melakukan apa-apa. Dia juga tidak bisa bicara, hanya diam bak patung bernyawa.


Awalnya, dia juga sempat di penjara selama beberapa bulan. Tapi, Tami meminta dia di bebaskan karena kondisi Alif yang tidak memungkinkan untuk di hukum dalam kurungan besi yang menakutkan itu.


Tami juga merasa ragu akan keikutsertaan Alif dalam melakukan kejahatan yang menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi semua bukti lumayan kuat. Jalan satu-satunya agar alif bisa bebas, ya dengan maaf dari Tami. Maka dari itu, Tami berbesar hati untuk memaafkan Alif.


Tapi, keputusan itu awalnya membuat perdebatan antara Tami dengan Tora. Tora yang terbakar api cemburu, sedikitpun tidak setuju kalah Tami memaafkan Alif.


Namun pada akhirnya, karena beberapa alasan, Tora pun harus mengalah. Dia terpaksa menyimpan rasa sakit akibat prasangka yang dia pendam dalam hati.


Makanya, hubungan mereka tidak terlalu baik selama Tami hamil. Meskipun ada anak dalam rahim Tami, tapi tidak mampu membuat mereka bersatu. Itu semua karena mereka tidak ingin saling terbuka satu sama lain.


Tapi tidak dengan sekarang. Mereka sudah sepakat untuk saling terbuka agar hubungan mereka jadi lebih baik.


Mereka akan menjadikan masa lalu sebagai pelajaran. Karena pelajaran berharga, itu adalah masa lalu.


*****

__ADS_1


__________________SEKIAN___________________


__ADS_2