Korban Diri Demi Cinta

Korban Diri Demi Cinta
Part *38


__ADS_3

Tora sedang sangat gusar sekarang. Dia terlihat begitu kesal sampai tidak ada selera buat makan siang. Bagaimana tidak? Dia sudah bulak-balik pasar buah, pasar tradisional, dan pasar-pasar apa saja yang bisa dia lihat, dia singgahi. Tapi sayangnya, mangga kampung yang dia inginkan tidak dia jumpai barang satu buah pun.


Sementara di sosial media, dia juga tidak mendapatkan hasil apapun. Dia hanya dapat saran dari para pengguna sosial media untuk mencari di pasar. Sedangkan sebagian lagi ada yang hilang, kalau dia tidak akan menemukan mangga yang dia cari karena memang belum musimnya. Hal itulah yang membuat dia pusing dan kesal setengah mati.


"Ya Tuhan ... tolonglah aku. Bagaimana bisa aku tidak mendapatkan apa yang Tami inginkan. Mana ini ngidam yang pertamanya lagi. Ahg!"


Tora pada akhirnya memilih pulang setelah hari semakin sore. Dia membatalkan niatnya untuk datang ke rumah orang tuanya karena masalah mangga kampung yang tidak dia temukan.


"Gimana den Tora? Apa ada kabar baik soal mangga kampung yang non Tami minta?" tanya bi Siah saat melihat wajahnya ketika dia duduk beberapa menit di ruang tamu.


"Gak ada kabar baik, bik. Aku masih belum bisa menemukan apa yang Tami mau. Ah, rasanya terlalu sulit untuk mencari buah itu, bik."


"Tetap semangat, Den. Karena apa yang non Tami inginkan itu adalah permintaan dari calon anak den Tora yang ada dalam kandungan. Orang hamil ngidam, itu memang hal yang agak aneh-aneh, Den. Terkadang, juga ada yang mustahil sampai tidak terpikir oleh akal kita orang normal ini. Namun, harus di dapatkan. Katanya, jika tidak di dapatkan, anaknya nanti akan ileran gitu."


"Ah! Ya Tuhan ... jangan bikin aku takut, bi Siah. Uh ... semoga saja aku dapatkan apa yang Tami mau. Tidak! Jangan semoga, melainkan, aku harus dapatkan apa yang Tami mau, bik."


***


Malam harinya, Tora sampai tidak bisa tidur hanya karena mangga kampung yang Tami inginkan belum bisa dia dapatkan. Dia bahkan mencari mangga itu dengan sebuah pengumuman dengan harapan akan ada orang yang datang membantu.


Namun, sampai tengah malam pun tidak ada hasil dari usaha yang dia buat. Pengumuman yang dia sebarkan satupun tidak ada tanggapan dari orang-orang yang melihat. Harapannya kembali pupus.


Tapi, saat Tora ingin menutup gawai nya, ada seseorang yang menanggapi pengumuman itu.


Tanggapan dari orang yang tidak dia ketahui itu membuat hatinya mendadak merasa kembali bersemangat.

__ADS_1


*Anda sedang mencari mangga kampung ya, mas Tora? Jika ingin, datang saja ke rumahku besok pagi.*


Itulah bunyi tanggapan dari orang yang sama sekali tidak Tora tahu siapa. Karena, orang itu tidak punya identitas sama sekali. Tidak ada nama, juga tidak ada foto profil di akunnya.


Tora terdiam sejenak sambil membaca ulang kata-kata yang orang itu kirimkan. Hatinya merasa tidak yakin dengan apa yang orang itu katakan. Maklum, sosial media terkadang membuat orang selalu merasa was-was akan apa yang orang yang tidak kita kenali katakan. Terlebih, orang itu tidak kita ketahui sedikitpun identitas pemilik akunnya.


*Apakah yang anda katakan ini benar? Iya, saya memang sedang mencari mangga kampung. Dan saya sangat membutuhkannya. Tolong jangan bermain-main dengan saya, karena saya sangat mengharapkan apa yang saya cari sekarang.*


*Anda tenang saja, mas Tora. Saya bukan orang yang suka berbohong dengan orang lain. Apalagi di sini khusus pengumuman. Mana bisa sembarang masuk orang. Dan mana ada orang yang bisa main-main di sini, mas.*


*Baiklah. Saya coba percaya apa yang anda katakan. Kirimkan alamat lengkap anda sekarang. Besok pagi saya akan datang ke tempat anda. Ingat satu hal! Jika anda terbukti mempermainkan saya, maka saya tidak akan segan-segan laporkan anda ke pihak yang berwajib. Anda tahu sendiri apa maksud saya.*


Orang itu lalu mengirimkan emoji tertawa pada Tora. Lalu kemudian, dia mengirimkan alamat lengkapnya. Tora terdiam sesaat melihat alamat itu. Dia merasa seperti tahu di mana alamat yang orang itu kirimkan. Tapi, karena rasa senang juga rasa lelah telah menyatu, dia tidak lagi menghiraukan apa yang sedang dia pikirkan. Dia langsung merebahkan diri di atas kasur empuk yang dia miliki dengan senyum manis yang terus mengembang.


____


Pagi-pagi lagi, sebelum sarapan, Tora sudah meninggalkan rumah. Dia tidak sempat sarapan karena sudah tidak sabar untuk menemukan mangga kampung di rumah orang yang sama sekali tidak dia ketahui siapa.


Saat Tami keluar dari kamar, dia merasa ada yang janggal saat tidak menemukan Tora ada di meja makan. Karena biasanya, Tora sudah ada di meja makan saat dia keluar dari kamar setelah mandi pagi.


"Bi Siah, di mana Tora? Kok belum turun juga sekarang?"


"Den Tora bukan belum turun, Non Tami. Tapi, dia sudah pergi keluar sejak sepuluh menit yang lalu."


"Pergi? Kok gak sarapan dulu?"

__ADS_1


"Dia sedang terburu-buru, non. Katanya, sarapan di luar saja."


"Pergi ke mana dia begitu terburu-buru?" Tami berucap dengan nada kecil sambil terus memperhatikan makanan yang ada di atas meja.


Sementara itu, Tora sudah sampai di alamat yang ingin dia tuju. Rumah indah dengan dua lantai yang berada di tengah-tengah perkomplekan elit kota yang ramai. Namun, rumah itu terlihat cukup sepi seperti tidak ada penghuninya sekarang. Tapi, pemandangan rumah itu masih sangat asri dengan taman dan sekitaran rumah yang benar-benar bersih terawat.


Tora melihat rumah itu beberapa saat. Ada sedikit rasa tidak yakin juga hati yang agak berat untuknya masuk ke halaman rumah itu. Tapi, demi mangga kampung yang dia cari, dia paksakan kaki melangkah terus masuk ke dalam.


Tiba-tiba, seorang laki-laki paruh baya datang menghampirinya.


"Cari siapa ya, mas?" tanya laki-laki itu sambil memperhatikan Tora dari atas sampai bawah dengan seksama.


"Cari ... pemilik rumah. Apa bapak pemilik rumah ini?"


Laki-laki itu tidak langsung menjawab. Dia kembali memperhatikan Tora lagi dengan cara yang sama.


"Untuk apa mencari pemilik rumah? Ada perlu apa?"


"Keperluan pribadi. Bapak pemilik rumah atau bukan?" tanya Tora mulai kesal dengan sikap tidak ramah dari laki-laki paruh baya yang ada dihadapannya sekarang.


Belum sempat laki-laki itu menjawab perkataan Tora, terdengar suara seseorang dari arah belakang.


"Jika ada yang datang ingin bertemu dengan aku, langsung bawa ke taman belakang aja, pak Mamat. Tidak perlu diinterogasi. Dia tamuku. Sudah janjian sebelumnya."


Suara itu terdengar cukup familiar di telinga Tora. Tapi, dia tidak ingin menebak. Dia takut kalau apa yang dia tebak salah nantinya.

__ADS_1


__ADS_2