Korban Diri Demi Cinta

Korban Diri Demi Cinta
Part *31


__ADS_3

Ingat akan istri yang dia tinggalkan di rumah takut bikin ulah lagi, Tora bergegas beranjak meninggalkan ruangan tersebut. Tanpa menyapa atau bicara dengan siapapun yang dia temui sepanjang jalan menuju pintu keluar perusahaan, dia bergegas pulang.


"Semoga dia tidak berulah lagi. Ya Tuhan ... jangan sampai dia hilang kendali lagi saat aku tiada. Jika tidak, aku tidak bisa memikirkan apa yang akan terjadi." Tora berucap pada dirinya sendiri. Lalu kemudian, dia menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi meninggalkan perusahaan tersebut.


Tidak membutuhkan waktu lama buat dia sampai ke rumah. Hatinya yang cemas berubah lega saat bi Siah menjelaskan kalau Tami tidak beranjak dari kamar sejak kepergian Tora meninggalkan rumah. Tami juga tidak terlihat ada melakukan hal-hal yang mencurigakan setelah kepergian Tora.


Tora langsung melepaskan napas lega.


"Huh ... syukurlah kalau seperti itu keadaannya, bik. Aku jadi sangat lega. Ya sudah, aku ingin melihat dia langsung sekarang. Aku ke kamar Tami dulu."


"Ya, Den."


Tora beranjak menuju kamar Tami. Tapi, baru beberapa langkah bergerak, dia langsung memutar tubuhnya kembali untuk melihat bi Siah.


"Mm ... bik, apa dia sudah makan sup sayur yang aku minta bibi bikini tadi pagi?"


"Tidak, Den. Tami tidak makan apapun selama kepergian Den Tora."


"Kenapa, bik? Apa dia tidak suka dengan sup sayur karena aku yang meminta bibi buatkan?"


Tora bertanya dengan nada sedih dan kecewa.


"Bukan, Den. Bukan. Bukan Tami tidak suka karena Den Tora yang minta buatkan. Tapi, karena dia yang sengaja tidak bisa makan."


Tora langsung mengangkat alisnya karena bingung dengan kata-kata yang bi Siah ucapkan barusan.


"Maksud bibi apa? Aku tidak mengerti, bik."


"Ih ... Den Tora ini tidak tahu bagaimana perempuan yang sedang hamil. Mereka yang sedang hamil itu sangat sensitif sekali. Penciumannya juga selalu bermasalah. Ah, bagaimana bibi mau menjelaskannya ya? Pokoknya, perempuan hamil itu berbeda dari yang biasanya. Den Tora bisa tanya ibuk, maksud bibi, mama Den Tora agar bisa mengerti. Jika bibi mau menjelaskan, bibi juga tidak terlalu memahami, soalnya, bibi juga belum pernah mengalami secara langsung."


Tora menarik napas panjang setelah mendengarkan penjelasan dari bi Siah. Penjelasan panjang lebar yang sama selaki tidak ia pahami apa maksudnya itu membuat benaknya di penuhi dengan rasa bingung.


"Huh ... baiklah, aku akan tanya mama nanti biar mengerti."

__ADS_1


"Iya, Den. Sebaiknya begitu."


"Hm."


Tora langsung melanjutkan langkah kakinya menuju kamar Tami. Sampai di depan pintu kamar, dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Itu dia lakukan karena tidak ingin menganggu Tami yang menurut pikirannya mungkin sedang beristirahat saat ini.


Tapi, saat dia masuk ke dalam. Dia melihat Tami sedang duduk membelakangi pintu sambil menatap bingkai foto di tangannya. Meskipun jarak antara pintu dengan ranjang agak jauh, tapi Tora masih bisa melihat orang yang ada di dalam bingkai foto itu dengan sangat baik. Dan dia mengenalinya.


Pemandangan itu membuat hati Tora tergores. Tapi, dia berusaha untuk tidak menghiraukan rasa perih akibat goresan itu. Dia berjalan semakin mendekat ke arah Tami.


"Kau masih mencintai dia, Tami?"


Pertanyaan itu sontak membuat Tami begitu kaget. Sampai-sampai, bingkai foto yang dia pegang jatuh ke lantai tanpa bisa dia cegah.


Brak! Kaca dari bingkai itu pecah berserakan.


Tami langsung melihat Tora dengan wajah cemas. Sementara Tora yang ikutan kaget, sebisa mungkin untuk tetap bersikap biasa dengan tidak menunjukkan wajah asli yang harinya rasakan saat ini.


"Tora." Tami berucap lirih sambil menggenggam erat seprai yang sedang dia duduki. Tapi itu tidak lama. Karena beberapa saat kemudian, Tami kembali mengalihkan pandangan matanya ke arah bingkai foto yang jatuh.


Tapi Tora tidak membiarkan Tami melakukan apa yang ingin dia lakukan.


"Tami, jangan!"


Teriakan itu sontak menghentikan gerakan Tami. Dia kaget, tapi tidak bisa berucap.


Sementara Tora, dia segera menghampiri Tami tanpa menghiraukan beling-beling berbahaya yang bisa menusuk kakinya.


"Jangan membungkuk. Biar aku yang ambil. Lagipula, ada banyak beling di sini, tanganmu bisa terluka."


Selesai berucap, Tora langsung segera memungut bingkai foto tersebut. Dia singkirkan serpihan kaca yang masih menempel di bingkai itu dengan tangannya.


Karena tidak hati-hati, salah satu jarinya tergores kaca. Tapi, dia sama sekali tidak menghiraukan goresan itu. Bahkan, dia tidak memperlihatkan ekspresi kalau sekarang, dia baru saja menderita akibat goresan.

__ADS_1


"Ini, Tami. Bingkainya memang sudah agak rusak. Nanti kamu bisa ganti dengan yang baru jika ingin. Titipkan saja pada bi Siah jika dia keluar."


Tami menerima bingkai itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Antara tak percaya, bahagia, juga entah mengapa ada rasa sedih yang menghampiri hatinya.


Namun, semua rasa itu tiba-tiba menghilang saat dia melihat ada goresan di salah satu jari tangan kiri Tora. Dan dia merasa semakin cemas saat melihat tangan kanan Tora yang memar akibat memukul tembok saat berada di perusahaan tadi.


"Tora. Tanganmu ... terluka."


Mendengar ucapan itu, Tora langsung menyembunyikan tangannya dari penglihatan Tami. Sedangkan Tami, dia menatap Tora dengan tatapan sayu dan cemas.


"Apakah itu tidak sakit? Kenapa kamu sembunyikan?"


"Tidak sakit. Aku tidak merasakan apapun untuk luka pada tangan ini. Kamu tenang saja. Karena luka ini masih belum seberapa dibandingkan luka pada hatiku. Goresan juga memar di dalam hatiku lebih parah dari yang ada di tangan. Jadi, aku tidak akan merasakan apapun untuk luka luar ini."


"Kamu baik-baik saja. Aku ingin panggilkan bi Siah untuk membersihkan beling-beling ini agar tidak melukai kamu."


Tami terdiam. Dia berusaha mencoba mencerna setiap kata yang Tora ucapkan padanya barusan. Hatinya juga merasakan keresahan saat mendengar kata-kata itu. Entah kenapa, tutur kata yang terdengar sedih itu juga menyakiti hatinya. Membuat dia ikut merasakan luka.


Bi Siah masuk sambil membawa sapu dan serok. Perempuan paruh baya itu membersihkan semua lantai dengan sangat hati-hati agar tidak meninggalkan serpihan kata lagi.


Selesai melakukan tugasnya, bi Siah langsung ingin meninggalkan kamar tersebut. Tapi Tami menahan langkah bi Siah dengan cepat.


"Bik, tunggu!"


"Ya. Ada apa, Tami? Apa yang kamu inginkan?"


"Tidak ada. Aku hanya ingin bilang, tolong obati tangan Tora. Dia terluka di kedua tangannya."


"Apa? Den Tora terluka?"


"Ya. Tolong obati dia. Tapi, jangan katakan aku yang minta bibi buat ngobatin dia. Dan, jangan katakan kalau bibi tahu dia terluka dari aku."


Bi Siah melihat Tami dengan tatapan aneh.

__ADS_1


'Sudah jelas-jelas perhatian juga sangat peduli. Tapi mengapa tidak ingin dilihat dan tidak ingin diketahui. Benar-benar aneh pasangan ini.'


__ADS_2