Korban Diri Demi Cinta

Korban Diri Demi Cinta
Part *45


__ADS_3

Bi Siah hanya bisa menggeleng-geleng kan kepalanya saja. Karena sebenarnya, dia sudah tahu kalau Tami sedang cemas memikirkan Tora yang masih tidak pulang padahal sudah jam sembilan malam.


"Non, sebaiknya istirahat di kamar saja. Ini sudah agak larut malam lho. Gak baik buat kesehatan nona Tami jika duduk terlalu lama. Oh ya, tadi ibuk telepon bibi. Dia bilang, den Tora gak akan pulang malam ini. Dia nginap di rumah ibuk."


Mendengar ucapan itu, Tami segera menoleh ke arah bi Siah.


"Tora ada di rumah mama, bik?"


"Iya, non. Ada di sana. Katanya nginap sana malam ini."


"Oh, iyalah. Terserah dia saja. Mau nginap di manapun itu hak dia bukan?"


"Non Tami kesal karena den Tora gak pulang ya?" tanya bi Siah dengan nada mengejek.


"Hah? Apa yang bibi katakan? Siapa yang kesal sih bik? Aku? Tentu saja tidak. Yang ada, aku makin bahagia jika dia gak ada di rumah ini."


"Ya sudah, aku mau langsung istirahat ke kamar ya bik. Bibi juga istirahat," ucap Tami langsung beranjak meninggalkan ruang tamu.


Bi Siah kembali menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecil.


"Dasar pasangan aneh. Kalian saling mengharapkan kehadiran satu sama lain. Tapi kalian saling mempertahankan ego kalian. Sampai kapan kalian begini non? Den? Ah ... ya Tuhan .... "


Sementara itu, Tora yang berada di kamar rumah mamanya, juga sedang memikirkan Tami. Bukannya bikin tenang, dia malah semakin merasa gelisah karena telah meninggalkan istrinya yang hamil di rumah tanpa laki-laki.


"Semoga Tami baik-baik saja. Semoga bi Siah bisa aku handal kan dalam menjaga Tami juga calon anakku."


Karena tidak bisa tidur, Tora terus saja mengirim pesan pada bi Siah. Dia terus mengingatkan bi Siah untuk menjaga istrinya sampai dia capek sendiri lalu terhanyut ke dalam alam mimpi karena kelelahan.


Tora bagun sedikit kesiangan. Alarm yang dia buat untuk berangkat ke bandara juga sudah berbunyi. Hal itu membuat Tora sibuk sendiri. Sampai-samapi, dia tidak sempat mandi hanya karena takut terlambat untuk sampai ke bandara.


Tora memilih mengakhiri permusuhan antara dia dengan Dicky mulai dari detik ini. Karena hal itu, dia sama sekali tidak ingin terlambat datang.


Saat Tora sampai ke bandara, dia dibuat bingung karena tidak punya nomor ponsel Dicky. Dia tidak mungkin menemukan Dicky di tengah-tengah keramaian bandara yang sangat sibuk.

__ADS_1


Tora merasa putus asa. Dia duduk dengan hati yang kesal di salah satu bangku kosong yang ada bandara tersebut.


"Ya ampun, aku tidak mungkin menemukan dia di tengah-tengah keramaian seperti ini. Ini terlalu sibuk. Bagaimana aku bisa memperhatikan wajah orang yang ada di sini satu persatu untuk menemukan dirinya? Tora-Tora. Sudahlah, mungkin dia sudah berangkat," ucap Tora sambil ingin bangun dari duduknya.


Tapi tiba-tiba, bahunya ditepuk oleh seseorang. Sontak, tepukan itu membuat Tora langsung membatalkan niatnya untuk bangun. Dia lalu menoleh ke belakang untuk melihat orang yang sudah berani menyentuh pundaknya


"Dicky." Tora berucap dengan nada riang.


"Iya, ini aku. Kamu datang, aku anggap kalau permusuhan di antara kita sudah berakhir, Tora."


Dicky langsung membuka lebar-lebar kedua tangannya. Tora paham apa maksud dari apa yang Dicky lakukan sekarang. Dicky ingin mereka saling berpelukan. Dan Tora tidak membiarkan apa yang Dicky inginkan menjadi hampa. Tora langsung menghambur ke dalam pelukan Dicky.


Mereka akhirnya saling berpelukan setelah sekian lama menjauh karena permusuhan. Keduanya tidak menghiraukan ada banyak mata yang melihat. Mereka tetap sibuk dengan apa yang mereka lakukan.


Setelah dirasa cukup melepas rindu, akhirnya, pelukan itu usai juga. Meski masih ada sedikit rasa canggung dalam hati masing-masing, namun mereka sepertinya sudah berusaha sekuat mungkin untuk mengembalikan perasaan yang dulu. Perasaan yang saling menghargai, menghormati, dan menyayangi satu sama lain.


"Kapan kamu berangkat?" tanya Tora memulai obrolan kembali.


"Kapan aku mau saja."


"Kamu lupa siapa aku?"


"Tidak-tidak. Aku tidak lupa siapa kamu, pangeran sultan."


"Nah, jangan ucapkan itu lagi atau aku akan jadi pusat perhatian semua yang ada di bandara ini."


"Dasar. Kamu ternyata masih tetap sama. Tidak berubah sedikitpun."


"Aku tidak akan berubah, Tora. Sama halnya dengan kamu, bukan? Sama seperti dulu."


"Sudah-sudah, jangan ingatkan aku soal masa lalu. Karena masa lalu tidak bisa kita ulang kembali."


"Kamu benar, tuan Tora. Sekarang, ayo ikut aku!"

__ADS_1


"Ikut kamu? Ke mana?"


"Jet."


"Jet?"


"Iya." Dicky berucap sambil mengangguk.


"Ngapain?"


"Sarapan. Aku yakin kalau kamu belum sarapan apapun saat bangun tidur tadi. Dan ... sepertinya, kamu juga belum menyentuh air barang setitik pun."


"Jangan ucapkan hal itu atau aku akan jadi pusat perhatian semua orang yang ada di sini."


Selesai Tora berucap, keduanya langsung sama-sama tertawa lepas. Itulah hubungan keduanya sebelum permusuhan itu terjadi. Saling melengkapi satu sama lain. Ada banyak humor yang terjadi jika mereka bersama.


Sesaat, Tora melupakan masalah antara dia dan istrinya. Dia langsung menyetujui perkataan Dicky yang meminta dia datang ke jet pribadi milik keluarga Prasetya.


Sementara itu, di sisi lain, mama Tora sedang berada di rumah anaknya. Dia sedang duduk di taman bersama sang menantu sambil menikmati udara pagi yang terasa sangat asri di temani teh dan cemilan pagi.


"Tami, sebenarnya, ada yang ingin mama bicarakan dengan kamu, Nak. Ini soal hubungan kamu dengan Tora. Tapi sebelum itu, mama minta maaf karena telah lancang ikut campur dalam perjalanan rumah tangga kalian. Namun, mama melakukan hal ini semata-mata demi kebaikan kalian berdua."


"Tami, kamu tidak keberatan bukan, jika mama ikut bicara menasehati kalian tentang urusan rumah tangga yang kalian jalani, Nak?"


Tami tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menjawab dengan anggukan pelan tanda dia tidak keberatan dengan apa yang mama mertuanya akan katakan.


"Terima kasih, Tami."


"Sebenarnya, mama ingin minta kamu pikirkan baik-baik hubungan kalian kedepannya mau seperti apa. Mama juga ingin minta padamu supaya merendahkan ego yang ada dalam hatimu. Pikirkanlah calon anak yang nantinya akan sangat membutuhkan kedua orang tua untuk dia tumbuh kembang."


"Tami. Sebenarnya Tora anak yang baik. Hanya saja, setelah kematian Yura, dia mendadak berubah seratus persen dari sikap asli sebelumnya."


Mendengar nama Yura yang mama mertuanya sebut, Tami mendadak melihat sang mertua dengan tatapan penasaran. Dia memang sangat penasaran dengan orang yang bernama Yura. Karena nama itu pernah Tora sebut beberapa kali sebelumnya.

__ADS_1


Tapi sayang, dia tidak bisa menanyakan siapa pemilik nama itu pada orang yang menyebutnya. Karena waktu itu, status antara dia dengan Tora sangat berbeda jauh. Hubungan mereka begitu buruk waktu itu.


__ADS_2