
Laki-laki paruh baya itu menjawab dengan penuh hormat. Lalu, dia mengajak Tora pergi ke taman belakang seperti yang suara itu katakan barusan.
Sampai di taman belakang, Tora begitu kaget dengan apa yang dia lihat. Ada banyak pohon mangga yang sedang berbuat di taman tersebut.
"Mas bisa tunggu di sini. Tuan muda sebentar lagi datang. Saya permisi dulu," ucap laki-laki itu kini sudah mulai sedikit bersahabat.
"Iya, baiklah." Tora berucap tanpa menoleh. Karena perhatiannya sudah terfokuskan pada apa yang membuat hatinya begitu bahagia.
Beberapa saat kemudian, terdengar langkah kaki yang berjalan semakin mendekat. Tora juga tidak menghiraukan hal itu. Karena dia sedang sangat fokus dengan mangga kampung yang lumayan lebat pada pohon yang terbilang sangat kecil.
"Ambillah sebanyak yang kamu inginkan. Karena nanti, juga tidak akan ada yang memakannya," ucap seseorang yang tiba-tiba membuat Tora merasa kaget.
Sontak saja, Tora langsung menoleh untuk memastikan orang yang ada di dekatnya sekarang. Dia kaget saat matanya menangkap sosok yang sangat-sangat tidak asing lagi bagi matanya.
"Dicky."
"Hm .... "
"Jadi ... orang itu kamu? Ini rumah kamu?"
"Iya. Ini rumah aku."
"Mm ... ayo duduk minum teh bersamaku, Tora. Lalu, kamu bisa ambil mangga sebanyak yang kamu mau. Lagipula, aku juga punya sesuatu untuk kamu."
"Kenapa kamu bantu aku?"
__ADS_1
"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku bantu karena kamu butuh bantuan aku."
"Kamu bantu aku, bukan karena ingin bantu Tami, kan? Maksudku, Nining."
Dicky tertawa mendengarkan kata-kata yang Tora ucapkan barusan.
"Kamu bicara soal apa sih, Tora? Sudah pasti aku bantu kamu itu karena kamu. Kenapa harus karena Nining? Tunggu! Kamu tidak berpikir aku masih menyimpan rasa buat istrimu kan? Kalau iya, tenang saja. Aku tidak punya rasa apapun lagi. Karena seperti yang telah aku katakan padamu sebelumnya, aku sudah punya ratu saat ini. Dia sudah menguasai hatiku seutuhnya. Aku juga sudah punya putera tampan yang menghiasi hari-hari kami. Jadi, tidak perlu takut akan aku yang merebut istrimu. Karena itu tidak akan pernah terjadi."
"Kamu ... sudah punya anak?" tanya Tora dengan nada sedikit bahagia.
"Iya. Aku sudah punya anak. Untuk itu, kamu tidak perlu cemas padaku lagi ya."
"Aku tidak cemas. Kamu jangan berlebihan, Dicky. Aku datang ke sini karena aku tidak tahu kalau orang itu adalah kamu. Jika aku tahu .... "
Sementara itu, Dicky malah tersenyum melihat Tora yang diam. Dia merasa kalau mantan sahabatnya ini sudah mulai goyah sekarang. Tidak terlihat lagi kalau sang mantan sahabat ingin melanjutkan perang. Hanya saja, ego masih bertahta, sehingga sulit untuk mengakui apa yang hati inginkan.
"Oh ya, untuk apa kamu begitu gencar mencari buah mangga kampung yang langka jika tidak pada musimnya ini? Mm ... apa ada seseorang yang begitu menginginkannya?" tanya Dicky dengan nada penuh godaan.
"Itu ... itu bukan urusan kamu, Dicky. Aku nyari untuk seseorang atau bukan, itu tidaklah penting. Yang terpenting, aku harus mendapatkan apa yang aku cari karena aku sangat membutuhkannya."
"Mm ... terserah kamu saja kalo gitu. Aku juga tidak ingin ambil pusing soal itu. Yang jelas, kamu bisa ambil mangga yang ada di pohon itu sebanyak apa yang kamu inginkan."
"Terima kasih. Tapi, aku merasa aneh dengan mangga yang ada di taman rumahmu ini. Kenapa mangga di sini bisa berbuah, padahal tidak ada musimnya. Aku jadi was-was akan mangga kampung yang kamu maksudkan ini. Beneran mangga kampung, atau bukan sih sebenarnya?"
Dicky malah tertawa karena kata-kata yang Tora ucapkan barusan itu.
__ADS_1
"Ha ... ha ... ha .... Kamu tetap saja selalu waspada, Tora. Masih tidak berubah dari dulu sampai sekarang. Tapi, hal itu sangat bagus sih sebenarnya. Pertanyaan yang menurut aku sangat luar biasa."
"Jika kau ingin tahu kenapa mangga kampung yang ada di tamanku ini berbuah tidak pada musimnya, itu karena cara penanaman juga perawatan mangga ini berbeda dari mangga kampung pada umumnya."
"Itu semua berawal dari istriku yang sangat suka makan buah musiman tapi tidak tepat pada musimnya. Aku kasihan saat dia menginginkan sesuatu, tapi tidak bisa dia miliki. Karena hal itulah, aku memilih mendatangkan ilmuan dari luar negeri untuk menemukan cara agar buah musiman bisa berbuah tidak pada musimnya. Dan, inilah hasilnya, seperti yang dapat kamu lihat sekarang."
Tora merasa kagum pada mantan sahabatnya yang begitu mementingkan hati sang istri. Hanya karena suka akan sesuatu, dia sampai melakukan hal besar untuk membuat istrinya mendapatkan apa yang sang istri inginkan. Benar-benar diluar logika yang Tora pikirkan saat ini.
Tora melirik Dicky sesaat. Lalu kemudian, dia mengubah kembali pandangannya lurus ke depan.
"Kamu benar-benar menyayangi dan mencintai istrimu yang sekarang ya, Dic?"
"Pertanyaan macam apa itu, Tora? Tentu saja aku sangat menyayangi dia. Bagiku, hanya dia wanita satu-satunya yang ada di mataku saat ini. Dan aku juga akan berusaha menjadikan dia satu untuk selama-lamanya."
"Benarkah apa yang kamu katakan barusan ini?"
"Tentu saja benar. Tidak perlu kau tanyakan lagi soal hatiku untuk istriku. Sudah pasti kau tahu jawabannya."
"Aku salut padamu, Dicky. Kau mampu mencintai istrimu dengan sepenuh hati. Dan yang paling aku kagumi dari kamu adalah, kau mampu mengubah hati dari perempuan yang kamu cintai ke perempuan yang lain. Itu luar biasa."
"Kau sedang memuji, atau menyindir aku barusan itu, Tora? Dengarkan baik-baik apa yang akan aku katakan. Mencintai satu orang, itu tidak sulit sebenarnya. Jika kau mampu menutup hatimu agar tidak melayang-layang ke yang lain, itu tandanya kamu berhasil. Dan, mengganti seseorang dengan orang yang lain, itu juga tidak sulit. Hanya saja, jika kau ingin mengganti, kau harus punya alasan yang teramat sangat kuat agar itu mudah buat kau lakukan. Ya, meskipun semua itu butuh waktu, tapi aku yakin, hasilnya akan luar biasa. Sama persis dengan apa yang kau harapkan."
Tora terdiam. Dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja tanda setuju dengan apa yang Dicky katakan barusan. Lalu, dia teringat akan satu hal. Tepatnya, kejadian waktu itu, kejadian di mana Tami sedang menatap foto Dicky di kamar.
"Oh ya, Dic. Apa kamu tidak pernah terbersit pikiran untuk bertemu orang yang dulu pernah singgah di hatimu? Bertemu sebentar saja hanya untuk melihat dia atau bicara satu atau dua patah kata saja. Apa tidak pernah muncul pikiran itu dalam benakmu?"
__ADS_1