Korban Diri Demi Cinta

Korban Diri Demi Cinta
Part *41


__ADS_3

Tora pun bergegas meninggalkan rumah Dicky. Dia sudah tidak sabar lagi untuk menyerahkan mangga yang dia dapatkan pada Tami. Sepanjang perjalanan, dia memikirkan bagaimana kebahagiaan Tami saat menerima mangga yang dia bawa.


Hampir tiga puluh menit Tora mengendarai mobil dengan kecepatan sedang cenderung tinggi, akhirnya, dia sampai juga ke rumah. Saat dia sampai, dia melihat ada mobil orang tuanya yang terparkir. Dengan rasa penuh penasaran, dia segera masuk ke dalam. Tentunya, dengan membawa mangga dengan susah payah.


Ketika baru saja menginjakkan kaki keruang tamu, dia langsung dapat tatapan tajam dari kedua orang tuanya yang kebetulan duduk berdekatan dengan menghadap ke arah pintu.


Sedikit merasa tidak enak. Tapi Tora tetap melangkah maju seolah tidak terjadi apa-apa dengan perasaannya setelah dapat tatapan tajam dari orang tuanya itu.


"Mama, papa, kapan kalian datang? Kenapa tidak menghubungi aku dulu sebelum kalian datang ke sini?"


"Kamu anak kurang ajar ya, Tora. Kabar besar saja tidak kamu kasi tahu sama kami. Dan sekarang, kamu malah minta kami memberi tahukan kamu jika kami ingin datang. Anak seperti apa dirimu ini, ha?" Papanya berucap dengan nada kesal.


"Maksud ... papa?"


"Kenapa kamu tidak bilang kalau Tami sedang hamil sekarang? Kenapa hal bahagia ini kamu rahasiakan dari kami, ha? Apa kamu tidak menganggap kami ada, Tora?" Mamanya pula ikut ngomel.


Tora hanya bisa memasang wajah tidak enak sambil nyengir kuda.


"Aku juga ingin kasi tahu kalian sebenarnya. Tapi, nunggu waktu yang tepat baru. Mama sama papa tidak perlu marah seperti itu. Aku juga tidak sengaja."


"Tidak sengaja tidak sengaja. Kamu memang anggap kami ini tidak penting bagi kamu. Makanya tidak langsung kasi tahu saat dapat kabar bahagia. Kami tidak akan tahu jika bi Siah tidak bicara soal kehamilan Tami. Benar-benar deh kamu ini."


"Maaf ya, Ma, Pa. Sekarang, kalian sudah tahu. Tidak jadi kejutan lagi deh nantinya. Dan ... tolong jangan marah-marah lagi. Nanti, aku bisa pingsan akibat amukan dari mana dan papa. Oh ya, di mana Tami sekarang?"

__ADS_1


"Dia ada di kamar. Kami suruh istirahat karena dia kelihatan sedang tidak enak badan. Juga wajahnya seperti sedang menahan rasa kecewa."


"Ya sudah kalo gitu, aku ke kamar sekarang ya, Ma, Pa." Tora berucap sambil melangkah.


"E ... e ... eh. Cek-cek. Dasar anak ini." Papanya berucap sambil menggelengkan kepalanya.


Tora sampai ke kamar Tami. Dia langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Saat dia masuk, dia melihat Tami sedang duduk terdiam di samping ranjang dengan wajah murung tanpa ada kebahagiaan sedikitpun.


Melihat hal itu, Tora langsung memilih ikut duduk di samping Tami dengan menyimpan rasa penasaran akan ekspresi murung yang Tami perlihatkan sekarang. Dia tatap wajah itu sesaat, lalu, ingin menyentuh tangan Tami dengan lembut. Tapi, Tami segera melarikan tangannya.


"Ada apa lagi, Tami? Apa yang salah sekarang?"


"Tidak ada yang salah. Hanya saja, aku sedikit kecewa dengan sikapmu yang tidak mengatakan soal kehamilan ini pada orang tuamu. Bukankah kamu yang minta aku mempertahankan anak ini, Tora? Lalu kenapa kamu tidak bilang pada orang tuamu soal anak ini? Apa kau tidak ingin dia diakui sebagai cucu?"


Tora kini memegang kedua bahu Tami dengan lembut.


"Lihat aku, Tami. Aku tidak bohong padamu. Aku akan menjaga anak kita dengan sepenuh jiwa dan ragaku. Akan aku buat dia merasakan kasih sayang yang penuh dari semua keluarga kita."


"Bagaimana dengan janjimu untuk melepaskan aku setelah anak ini lahir? Apa itu masih berlaku?"


Pertanyaan Tami barusan sontak membuat tangan Tora melemah. Tangan yang awalnya menegang pundak, kini jatuh terkulai lemah seperti tidak ada tenaga sedikitpun.


Tora langsung bagun dari duduknya.

__ADS_1


"Apakah kamu memang ingin meninggalkan aku dengan anak kita setelah dia lahir? Apakah keputusan itu susah bulat, Tami? Jika memang iya, aku tidak akan menahan kamu. Aku akan melepaskan kamu seperti apa yang telah aku janjikan padamu sebelumnya."


Selesai berucap, Tora langsung beranjak meninggalkan kamar tersebut. Ada rasa sakit yang tidak bisa dia ucapkan dengan kata-kata yang bersarang dihatinya kini. Sementara Tami, dia hanya bisa menatap sendu pundak yang pergi menjauh darinya hingga hilang di balik pintu kamar.


'Sadarlah, Tami. Dia hanya ingin anak yang ada dalam kandungan mu. Dia tidak ingin kamu. Seharusnya, kamu tahu itu. Kamu tidak ada artinya buat dia. Tidak ada arti sedikitpun. Dia tidak berniat menahan kamu sedikitpun. Bahkan hanya sekedar basa-basi saja tidak. Dia hanya ingin anaknya, ingat itu.'


Tami menyeka air mata yang perlahan mengalir tanpa bisa dia tahan. Dia terluka karena apa yang dia harapkan tidak sedikitpun terwujud.


Sementara itu, Tora berdiam diri di kamar setelah mengantarkan kedua orang tuanya sampai ke mobil. Dia sedih akan kehidupan yang sepertinya tidak ada sedikitpun kebahagiaan yang menghampiri.


Dalam kesedihan itu, dia tiba-tiba ingat dengan map coklat yang Dicky berikan sebelum dia pulang tadi. Dia ambil map tersebut yang sebelumnya dia letakkan di atas nakas. Lalu, dengan rasa penasaran, dia segera membuka map itu.


Mata Tora melebar saat dia melihat isi map yang baru saja dia buka. Itu adalah hasil dari penyelidikan tentang kecelakaan orang tua Tami. Semua bukti lengkap di dalam map tersebut.


Dalam map tersebut juga ada flash disk. Tora tidak ingin membuang waktu lagi, dia segera memasang flash disk tersebut ke laptop yang ada di atas nakas samping tempat tidurnya.


Tora menggenggam erat tangannya ketika mendengar pengakuan dari rekaman seorang laki-laki yang ada di dalam flash disk tersebut. Dia sangat kesal sampai tidak bisa berucap kata-kata lagi. Hampir saja dia banting itu laptop jika tidak ingat kalau orang yang dia lihat itu cuma rekaman saja. Tidak benar-benar orang aslinya.


Tora berusaha menguasai diri setelah beberapa menit lamanya, akhirnya dia berhasil. Dia angkat laptop itu dengan cepat untuk dia bawa ke kamar Tami.


"Tami. Kamu harus lihat ini sekarang," ucap Tora sambil membuka pintu.


Saat dia masuk, dia melihat Tami sedang menangis. Tora menatap iba perempuan yang jelas-jelas adalah istrinya saat ini. Tapi sayangnya, dia bukan suami yang istrinya inginkan. Jangankan memberikan bahu sebagai tempat bersandar, mengangkat tangan untuk menyeka air mata yang istrinya jatuhkan saja dia tidak mampu.

__ADS_1


__ADS_2