Korban Diri Demi Cinta

Korban Diri Demi Cinta
Part *34


__ADS_3

Mendengar ucapan itu, air mata tidak bisa Tami cegah untuk tidak jatuh. Dia menangis tanpa bersuara. Namun, berusaha dia sembunyikan tangisan itu dari Tora.


"Kenapa kamu mendadak jadi bodoh, Tora? Apa pikiranmu sudah tidak berfungsi dengan baik lagi sekarang, ha?"


"Kenapa kamu tidak bilang padaku kalau kamu alergi susu? Kenapa kamu bilang hanya tidak suka? Jika aku tahu kamu alergi, bukan tidak suka, maka aku tidak akan melakukan kesalahan dengan memaksa kamu minum. Kenapa tidak bilang yang sebenarnya, ha?"


"Tidak ada gunanya aku bilang sebuah kelemahan pada orang lain, Tami. Aku tidak akan dapat pertolongan, melainkan, hanya akan dapat ejekan juga hinaan."


"Apakah aku orang lain?" tanya Tami sambil menatap sayu wajah Tora.


Tora tidak menjawab. Dia tidak ingin mengatakan apa yang hatinya ingin katakan. Karena dia takut, jika kata-katanya salah, maka orang yang ada dihadapannya akan menjauh.


Sebenarnya, salah mereka hanya satu, tidak ingin saling terbuka satu sama lain. Tetap bertahan dengan ego yang mereka miliki dan tetap memilih percaya dengan pikiran sendiri tanpa mencoba memastikan dengan saling membuka diri.


"Pergilah, Tami. Aku akan baik-baik saja sendirian di sini. Air ini sangat dingin buat kamu. Apalagi, sekarang malam hari. Tidak baik jika kamu berada di sini terlalu lama. Ingat jaga kesehatan kamu juga anakku."


"Aku akan pergi. Tapi tolonglah jangan bodoh lagi lain kali. Anak ini butuh papanya. Jika kamu kenapa-napa, maka anak ini juga ikut merasakan sakitnya."


Saling menyayangi, tapi saling bersembunyi. Hal itulah yang terjadi pada Tami dan Tora. Mereka saling sayang sebenarnya. Tapi, saling bersembunyi dibalik kata anak yang sekarang ada dalam kandungan Tami.


Tami beranjak meninggalkan kamar mandi. Tapi tidak pergi meninggalkan kamar Tora. Dia berdiam diri di kamar itu dengan perasaan cemas.


Hampir satu jam lamanya Tora berada di kamar mandi setelah kepergian Tami. Akhirnya, dia keluar juga dengan tubuh yang basah kuyup. Tora berjalan dengan langkah yang tertatih-tatih. Dia kaget saat melihat Tami yang menyodorkan handuk padanya.


"Tami."


"Maaf, aku masih diam di kamar ini. Aku tidak bisa pergi karena rasa hati yang tiba-tiba cemas akan keadaan kamu. Cepat buka pakaianmu. Aku sudah siapkan pakaian kering agar kamu tidak masuk angin karena kedinginan."

__ADS_1


Tora tidak menjawab dengan kata-kata. Tapi dia mengikuti apa yang Tami katakan dengan cepat. Mengganti pakaian yang sedang dia pakai dengan yang baru di kamar mandi. Lalu, kembali masuk dan berbaring di atas ranjang.


"Sabar ya, Tora. Dokter sedang dalam perjalanan ke sini. Dia terjebak macet, makanya lama baru bisa sampai," ucap Tami sambil menyentuh tangan Tora yang terasa begitu dingin, tapi pemiliknya sedang gelisah dengan merasakan kepanasan.


"Sakit sekali. Haus .... "


"Kamu haus? Ingin minum?"


"Iya."


Mendengar kata itu, Tami segera memberikan gelas yang berisi air di dalamnya. Namun, tangan Tora terlalu gemetaran sampai tidak bisa memegang gelas.


"Biar aku saja yang memegang gelasnya. Aku bantu kamu minum sekarang."


Tami melakukan tugasnya dengan sangat hati-hati. Keadaan Tora saat ini benar-benar sangat memperihatinkan. Karena hal itu, Tami terpaksa mengesampingkan rasa marah juga bencinya pada Tora. Dia merasa bertanggung jawab untuk merawat Tora sekarang. Karena keadaan Tora bisa seperti sekarang adalah karena kesalahan yang dia buat.


Dokter Fahri akhirnya tiba. Dia langsung di bawa bi Siah masuk ke kamar Tora. Dia kaget saat melihat kondisi Tora yang terlihat sangat parah.


"Itu salah aku. Aku yang paksa dia buat minum susu tanpa campuran." Tami berucap dengan nada bersalah.


"Ya Tuhan ... niat sekali kamu menyakiti dia. Lihatlah hasilnya sekarang. Dia tidak akan sembuh dalam waktu satu hari, kau tahu. Dia butuh waktu paling cepat tiga hari baru bisa normal kembali. Sedangkan paling lama, mungkin satu minggu atau lebih."


"Jangan banyak bicara, Fahri. Lakukan saja tugasmu dengan baik." Tora berucap dengan nada kecil sambil terus menahan sakit.


"Kau sudah dibutakan oleh cinta, mas Tora. Rela mengorbankan diri demi cinta, itu gila namanya. Sudah tahu tidak bisa minum susu, tapi demi cinta, kau minun. Nah, sekarang kau tidak akan bisa tenang karena sakit ini. Benar-benar tak habis pikir aku sama kamu."


Tidak ada rasa takut-takutnya sama sekali dokter Fahri pada Tora. Meski sudah diperingati, dia tetap saja ngerocos tanpa henti sambil mengerjakan tugasnya.

__ADS_1


Lalu, dia memberikan Tora sebuah suntikan. Setelah mendapatkan suntikan itu, Tora langsung tenang secara perlahan.


"Apa yang terjadi? Apa yang kamu lakukan padanya?" tanya Tami dengan penuh selidik karena dia merasa begitu cemas akan keadaan Tora sekarang.


"Dia butuh istirahat. Aku hanya memberikan dia sedikit obat penenang agar dia bisa melupakan rasa sakitnya. Tapi, itu tidak lama. Besok pagi, saat dia bangun, dia masih akan merasakan sakit seperti sebelumnya. Untuk itu, tolong rawat dia. Berikan dia salep ini dengan cara di usap pada seluruh permukaan kulit agar rasa sakit itu bisa berkurang."


Dokter Fahri lalu menyerahkan sebotol salep yang berwarna putih ke tangan Tami. Tami langsung menerima salep itu dengan cepat.


"Aku permisi dulu. Selamat malam."


"Ya. Malam."


Setelah kepergian dokter Fahri, Tami beranjak duduk perlahan di samping Tora yang sedang terlelap. Dia tatapan wajah tampan dengan mata yang tertutup rapat itu dengan semua rasa bersalah yang ada dalam hatinya.


"Maafkan mama, Nak. Mama telah menyakiti papamu lagi. Semoga papamu tidak marah dengan mama," ucap Tami sambil mengusap perut datarnya.


Lalu, dia beralih kembali menatap Tora dengan tatapan sedih. Dia genggam tangan Tora dengan lembut.


"Maafkan aku Tora. Aku telah jahat padamu dengan menyiksa kamu seperti ini. Tapi, ketahuilah, kalau aku tidak bermaksud melakukan hal jahat ini. Aku menyesal melakukan semua ini."


Tami akhirnya ikut terlelap di samping Tora. Dia tidur dengan tangan yang masih menggenggam tangan Tora.


Tami terbangun ketika mendengar rintihan kecil di sampingnya. Saat dia membuka mata, dia melihat Tora yang sedang mengeluh kesakitan sambil mengigit kuat tangannya sendiri.


Tami kaget dengan apa yang Tora lakukan sekarang. Dengan cepat, dia berusaha menghentikan apa yang sedang Tora lakukan.


"Apa yang kamu lakukan, Tora! Berhenti! Jangan lakukan itu!"

__ADS_1


Tora melepaskan gigitannya. Dia berusaha senyum, tapi tidak bisa. Karena rasa sakit itu membuat dia tidak ingat bagaimana rasanya bahagia.


"Kau ... su--dah, bangun?" tanya Tora dengan suara gelagapan yang terdengar begitu berat dan sulit untuk dia ucapkan.


__ADS_2