
Mendapat omelan pedas itu, Tora tidak langsung menjawab. Dia malah menutup matanya, lalu memijat dahinya dengan satu tangan.
"Tora! Kamu tidak dengar apa yang aku katakan, ha?"
"Aku dengar, Pa."
"Jika dengar, kenapa kamu tidak jawab apa yang aku katakan? Sampai kapan kamu harus mengesampingkan kepentingan kantor ini, Tora? Aku sudah tua. Kantor ini akan aku serahkan padamu tidak lama lagi. Tapi kenapa kamu begitu tidak peduli dengan kelanjutan dari kantor ini?"
"Pa, aku punya urusan yang sangat penting di rumah. Jadi .... "
"Aku tidak mau tahu. Jika kamu masih butuh uang untuk melanjutkan hidup, maka datang ke kantor sekarang juga. Jika tidak datang, aku akan pecat kamu sebagai manajer."
Setelah berucap kata-kata itu, papanya langsung memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu sang anak menjawab terlebih dahulu. Tora terlihat sangat gusar ketika sambungan telepon itu sudah terputus. Dia juga memanggil-manggil papanya beberapa kali dengan nada kesal.
"Dasar papa gak pengertian. Kenapa harus maksa aku buat datang. Semua pekerjaan sudah aku selesaikan, apa dia tidak bisa rapat sendiri tanpa ada aku. Aggh .... "
Tora menarik panas dalam-dalam, lalu melepaskan secara perlahan. Dia melakukan hal itu untuk meredam emosi yang sedang menguasai hatinya saat ini.
Setelah dia rasa cukup, dia langsung menghampiri Tami yang masih duduk manis di tempat sebelumnya.
"Tami, aku harus ke kantor sekarang juga. Aku harap kamu tidak melakukan hal-hal yang tidak-tidak. Tolong jaga anak ini baik-baik. Aku akan tepati janjiku padamu. Kamu tenang saja."
Tora langsung mengangkat tubuh mungil itu dari atas lantai. Lalu, dia pindahkan ke atas kasur dengan sangat hati-hati dan penuh kasih sayang.
"Aku pergi sekarang. Tolong jangan bertingkah yang tidak-tidak selama aku tidak ada di rumah. Selalu ingat satu hal jika kamu tidak bisa menguasai emosimu. Yang salah bukan anak ini, tapi aku. Jika memang emosi, lampiaskan saja semuanya padaku. Aku siap menerima. Katakan saja apa yang kamu inginkan dari aku, maka aku akan lakukan."
__ADS_1
Tami masih tidak menjawab. Tora memperhatikan istrinya selama beberapa saat.
Ingin rasanya dia memberikan sebuah ciuman buat sang istri sebelum dia tinggalkan. Tapi, dia takut untuk melakukan hal itu. Dia takut jika tindakan yang terlaku berlebihan akan memancing emosi Tami bangkit kembali.
Tapi, hati itu begitu ingin memberikan kecupan hangat nan mesra. Karena hasrat yang tidak bisa dia bendung, Tora meletakkan tangannya ke bibir sendiri. Lalu, dia kecup kan tangannya itu. Kemudian, baru dia tempelkan tangan itu ke kening Tami.
"Aku pergi dulu. Baik-baik di rumah," ucap Tora sambil tersenyum sesaat. Lalu kemudian, dia beranjak meninggalkan kamar tersebut.
Setelah kepergian Tora meninggalkan kamar itu, Tami kembali menitikkan air mata. Dia membelai lembut perutnya yang datar seperti sebelumnya.
"Anakku, maafkan mama, Nak. Mama adalah orang tua yang sangat kejam dan tidak punya perasaan."
"Aku malu pada papamu, Nak. Demi mempertahankan kamu, dia rela mengorbankan dirinya sendiri untuk aku lukai. Benar-benar tidak pernah aku banyangkan. Ternyata, dia mampu melakukan hal sebesar ini."
"Tapi ... dia adalah orang yang telah merusak hidupku. Dia telah merenggut semua kebahagiaan yang aku punya. Dia sudah menggambil semua hal berharga yang aku miliki. Apakah dia layak berkorban seperti itu demi kamu?"
"Dia layak, sayang. Sangat layak. Dia mencintai kamu. Karena rasa cinta itu, dia rela melakukan apapun, termasuk, mengorbankan dirinya sendiri buat melindungi kamu."
"Sekali lagi, maafkan mama, nak. Jika papamu mampu melakukan hal besar hanya untuk kamu, maka aku sebagai mamamu pasti akan melakukan hal yang sama. Atau bahkan, akan lebih."
"Untuk itu, kamu tidak usah cemas ya, Nak. Tetap melakukan tugasmu dengan baik. Jangan hiraukan apa yang telah terjadi antara mama dan papamu. Karena di sini, tempat kamu di hati kami sangat spesial."
Bi Siah yang berada di balik pintu, mendengarkan ucapan itu. Dia tersenyum bahagia. Sambil berdoa dengan penuh harap, kalau kehadiran anak itu mampu mengubah kehidupan keluarga majikannya menjadi lebih baik.
Bi Siah lalu mengetuk pintu kamar setelah selesai berdoa. Sementara Tami, dia segera menghapus air matanya saat mendengar pintu kamar di ketuk oleh seseorang.
__ADS_1
"Masuk saja! Pintunya tidak di kunci kok, Bik."
Terdengar suara serak Tami dari dalam kamar. Tanpa berucap lagi, bi Siah langsung memutuskan untuk membuka pintu kamar tersebut. Dengan senyum manis, dia menyapa Tami yang masih duduk lemah sambil menyandarkan tubuh di kepala ranjang.
"Tami, ini sup sayur yang Den Tora minta aku buatkan tadi. Sebaiknya kamu makan dulu sup ini selagi panas."
Bi Siah berucap sambil menyodorkan sup sayur yang dia bawa ke arah Tami. Belum sempat Tami menerima sup tersebut, aroma dari sup itu sudah membuat isi perutnya bergolak. Dia dengan cepat menutup hidungnya sambil menghindar dari sup yang bi Siah bawa.
"Uek .... " Tami tidak kuat menahan apa yang perutnya perintahkan.
Melihat hal itu, bi Siah merasa kaget. Dia meletakkan sup tersebut ke atas nakas. Lalu, menghampiri Tami dengan cepat.
"Tami, ada apa? Apa yang kamu rasakan? Kamu sakit lagi?"
"Cepat bawa pergi sip itu, Bik. Aku tidak mau memakannya. Jangankan makan, mencium saja aku tidak mau, bik."
Meski tidak pernah merasakan yang namanya hamil, tapi bi Siah mengerti. Karena dulu, dia pernah merawat salah satu keluarga yang sedang hamil saat masih diam di kampung.
"Baiklah, Tami. Aku akan bawa pergi sup itu sekarang juga. Katakan padaku jika ada yang ingin kamu makan. Aku akan buatkan sesegera mungkin nanti."
Tami hanya bisa mengangguk sambil menutup hidung dan mulutnya. Dia benar-benar merasa mual saat mencium aroma sup yang sebelumnya sangat dia sukai.
Sementara itu, di sisi lain, Tora baru saja sampai ke kantor dengan membawa wajah kesalnya. Dia terlihat sangat tidak enak di pandang sekarang. Wajah kesal itu membuat dia terlihat sangat galak sampai tidak ada yang berani menyapanya. Semua karyawan merasa takut. Mereka bahkan berusaha menghindari Tora sekarang.
Tora tidak menghiraukan semua itu. Dia langsung berjalan menuju ruang rapat di mana papanya sedang menantikan kedatangan dia sekarang.
__ADS_1
"Permisi. Aku sudah datang sekarang. Mulai rapatnya sekarang juga," ucap Tora langsung tanpa menyapa yang hadir di sana terlebih dahulu.
Mendengar ucapan itu, papanya langsung menatap tajam wajah Tora. Ingin sekali rasanya dia membentak anak yang tidak tahu sopan santun itu. Tapi, dia tahan. Jika dia tunjukkan sifat galaknya. Itu terlihat sama saja antara dia dengan anaknya. Sama-sama tidak punya etika.