Korban Diri Demi Cinta

Korban Diri Demi Cinta
Part *27


__ADS_3

Setelah kepergian bi Siah meninggalkan kamar tersebut, Tami akhirnya membuka mata. Perlahan tapi pasti, mata berat itu akhirnya dia buka juga.


Sontak saja, setelah sadar dari pingsan itu, Tami langsung menarik tangannya yang ada dalam genggaman Tora. Sedangkan Tora, dia begitu bahagia saat melihat istrinya sudah bangun.


"Tami. Kamu sudah sadar?" Tora berucap sambil ingin menyentuh tangan Tami. Namun, secepat yang dia bisa, Tami menghindarkan tangannya dari Tora.


"Jangan sentuh aku! Aku jijik sama kamu."


"Tami. Tolong jangan banyak gerak dulu. Kamu harus jaga kondisi tubuhmu dengan baik. Karena kamu tidak sendirian sekarang. Dalam rahimmu ada malaikat kecil kita."


Sontak saja, Tami kaget bukan kepalang. Dia sampai terbangun dari baringnya akibat sangat kaget. Tidak perlu dijelaskan panjang lebar lagi apa maksud dari kata-kata yang Tora ucapkan barusan. Dia sudah sangat-sangat paham dengan kata-kata itu.


Tami menatap Tora dengan tatapan tak percaya. Lalu, dia menatap perutnya yang masih terlihat datar seperti sebelumnya.


"Ya, Tami, kamu hamil. Baru memasuki usia yang ke empat minggu sekarang. Jadi, memang tidak akan terlihat perubahan di tubuhmu. Karena usia kandungan mu masih sangat muda."


"Tidak! Aku tidak percaya kalau aku sedang hamil sekarang. Karena aku tidak ingin hamil. Apalagi hamil anak kamu, Tora. Tidak! Aku tidak mau."


Tami menangis sambil berusaha memukul perutnya yang datar. Namun, pukulan itu tidak terjadi. Karena Tora segera menahan tangan Tami, lalu membawa Tami ke dalam pelukannya.


"Jangan sakiti anak itu, Tami. Dia tidak tahu apa-apa. Dia tidak bersalah. Kau benci aku, bukan anak itu."


Mendengar ucapan itu, Tami semakin merasa kesal. Dia mendorong tubuh Tora yang sedang memeluknya hingga tubuh itu terjatuh ke bawah.


"Aku benci kamu, juga benci anak ini," ucap Tami sambil menunjuk ke perutnya.


"Karena ini anak kamu. Maka aku membencinya. Dia tidak layak berada di rahimku. Karena dia benih dari kamu."

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan, Tami? Sadarlah. Dia bukan cuma anak aku, tapi dia anak kita. Anak kamu juga."


"Tidak. Aku tidak ingin punya anak dari seorang pembunuh seperti kamu. Dia tidak pantas berada di rahimku karena dia anak seorang pembunuh," ucap Tami dengan tatapan tajam ke arah Tora.


Tami langsung bangun dari duduknya. Dia turun dari kasur, kemudian langsung menghampiri nakas yang ada di samping ranjang. Tami membuka nakas itu, lalu mengeluarkan pisau yang ada di dalam laci nakas.


Tora kaget bukan kepalang saat melihat Tami mengeluarkan pisau dapur dari nakas.


"Apa yang ingin kamu lakukan, Tami? Jangan macam-macam. Jangan gila, Tami. Sadarlah."


"Aku memang sudah gila sejak lama, Tora. Sejak menikah dengan kamu. Dan sekarang, aku akan jadi semakin gila. Aku tidak ingin menyimpan benih kamu di rahimku. Untuk itu, aku akan bunuh anak ini agar dia tidak lahir ke dunia nantinya. Biar dia tidak tahu bagaimana sifat dan perilaku orang tuanya."


"Jangan! Tolong jangan lakukan itu, Tami. Aku mohon. Jangan lakukan itu."


Tora ingin bergerak mendekat ke arah Tami. Tapi, Tami dengan cepat mengarahkan pisah itu ke arah perutnya.


"Tami, tolong sadarlah. Yang salah aku, bukan anakku. Jangan bunuh dia, Tami. Dia tidak bersalah."


Tora jatuh bersimpuh di lantai. Dia memohon pada istrinya agar mau mendengarkan apa yang dia katakan.


"Aku yang salah, Tami. Bunuh lah aku jika kamu merasa benci padaku. Tapi, biarkan anak itu tinggal di rahimmu sampai waktunya tiba. Aku tidak ingin kamu membunuh anak itu hanya karena kesalahan dari orang tuanya. Karena dia tidak bersalah. Jika kamu memang tidak ingin menjaganya, kamu bisa tinggalkan dia setelah dia lahir nanti."


Tora lalu merentangkan kedua tangannya. Dia juga menutup matanya rapat-rapat.


"Aku siap, Tami. Tusuk lah tubuhku di mana kamu mau. Aku tidak akan menghindar, apalagi melawan. Jadi, kamu bebas membalaskan dendam hatimu padaku."


Hati keras Tami tiba-tiba melunak. Dia tidak kuat menahan dirinya lagi. Air mata pun jatuh berderai dengan sangat deras membasahi kedua pipi. Pisau dapur yang dia pegang, tiba-tiba jatuh ke lantai begitu saja.

__ADS_1


Kaki Tami juga tidak kuat menahan beban berat tubuhnya lagi. Tubuh itu ikut ambruk secara perlahan ke atas lantai. Tami benar-benar menangis untuk mengeluarkan emosi yang menguasai dirinya beberapa saat yang lalu.


Tora langsung membuka mata ketika mendengar isak tangis dari arah depannya. Di sana, dia melihat Tami yang sedang menangis sambil terduduk di atas lantai. Tora merasa sangat bersalah. Tanpa pikir panjang lagi, dia langsung beranjak mendekati istrinya.


Tidak memikirkan lagi apa reaksi yang akan Tami perlihatkan. Tora langsung memeluk tubuh itu dengan penuh kasih sayang.


"Tami, jangan menangis lagi. Semua kesalahan yang terjadi, akulah penyebabnya. Maafkan aku," ucap Tora dengan suara kecil yang terdengar penuh dengan penyesalan.


"Kamu tenang saja, Tami. Aku akan lepaskan kamu setelah kamu melahirkan anakku. Kamu bisa pergi ke mana yang kamu inginkan. Kamu bisa melakukan apa yang kamu mau. Tapi tolong, izinkan anakku tinggal di rahimmu sampai waktunya dia bertemu aku."


"Jika kamu tidak bisa merawatnya karena dia adalah anakku, maka kamu bisa anggap dia tidak pernah ada setelah dia lahir ke dunia ini.


Aku tidak akan menuntut banyak padamu, Tami. Kamu tenang saja."


Tami tidak berucap satu patah katapun untuk menjawab kata-kaya yang Tora ucapkan. Dia juga tidak berontak saat Tora semakin mengeratkan pelukan ke tubuhnya. Dia bahkan menikmati pelukan yang Tora berikan. Ikut merasakan ketenangan juga kenyamanan, dia memilih menutup matanya sambil terus berada dalam dekapan hangat yang Tora miliki.


Perlahan, Tami tiba-tiba merasakan setitik air bening mengalir ke bahunya. Air itu terasa hangat saat menyentuh permukaan kulit.


'Dia menangis?' Hanya kata itu yang tergerak untuk Tami pikirkan. Tapi tidak siap untuk melihat juga menghapus air mata itu. Dia memilih mengabaikan apa yang Tora lakukan saat ini.


Mereka terus berpelukan selama beberapa menit. Sampai akhirnya, ponsel Tora tiba-tiba berdering yang membuat perhatian mereka tiba-tiba teralihkan.


Terasa begitu egan buat hatinya melepaskan pelukan itu dari Tami. Tapi, dia harus melakukan apa yang hatinya tidak ingin lakukan. Dia langsung mengangkat panggilan masuk yang tertera di layar ponsel tersebut.


"Halo, Pa." Tora langsung menjawab panggilan itu di kamar tersebut.


"Di mana kamu sekarang, Tora? Kenapa kamu tidak datang ke kantor? Apa kamu sudah lupa dengan tanggung jawab kamu di sini? Hari ini kita ada rapat penting, kenapa kamu malah tidak datang, ha? Apa urusan rumah tangga mu lebih penting dari kantor yang akan menjadi sumber kehidupan kamu ke depannya."

__ADS_1


__ADS_2