Korban Diri Demi Cinta

Korban Diri Demi Cinta
Part *35


__ADS_3

"Kau ... su--dah, bangun?" tanya Tora dengan suara gelagapan yang terdengar begitu berat dan sulit untuk dia ucapkan.


"Maafkan aku yang begitu berisik sampai membuat kamu terbangun dari tidurmu saat-saat subuh begini."


"Katakan padaku, apakah sangat sakit sampai kamu harus mengigit tanganmu, Tora?"


Tora tidak menjawab. Dia hanya menatap Tami dengan tatapan sayu juga mata beratnya.


"Maafkan aku yang telah menyakiti kamu seperti ini," ucap Tami penuh sesal.


"Jangan bersedih. Jangan menyesal. Kau tidak menyakiti aku dengan sengaja, bukan?"


"Aku sungguh minta maaf, Tora. Untuk itu, karena rasa bersalah ini, aku akan merawat kamu sampai sembuh."


Tora bahagia sekaligus sedih saat mendengar kata-kata yang Tami ucapkan barusan.


'Ya Tuhan ... apakah hanya karena bersalah dia bersedia merawat aku? Apakah tidak ada rasa cemas yang datang tulus dan murni dari hati? Aku tidak ingin dia rawat hanya karena rasa bersalah. Aku ingin dia rawat karena rasa peduli.'


"Tidak perlu merawat aku, Tami. Aku pasti akan baik-baik saja dan akan sembuh dengan sendirinya nanti."


"Kau butuh dirawat, Tora. Jadi, jangan banyak bicara."


____


Karena paksaan dari Tami, Tora akhirnya membiarkan Tami melakukan apa yang Tami inginkan. Sementara Tami, dia melakukan tugasnya dengan sangat baik. Merawat Tora dengan penuh kasih sayang. Dan sekarang, sudah memasuki hari ketiga, Tora sudah pulih dari alergi yang dia derita.


Ya meskipun belum sembuh total. Tapi dia sudah tidak merasakan rasa sakit akibat alergi lagi Dia juga sudah bisa melakukan apapun tanpa bantuan orang lain seperti sebelumnya.


Sekarang, karena dia sudah sembuh, Tami tidak lagi berada di kamar itu. Dia sudah tidak merawat Tora lagi. Hal itu membuat Tora merasa kesal sebenarnya. Tapi tidak bisa dia ungkapkan secara langsung.

__ADS_1


Saat Tora melihat ponselnya untuk menghilangkan rasa kesal, ada banyak sekali chat juga panggilan masuk dari nomor yang dia tidak kenali. Karena rasa penasaran, dia langsung buka satu persatu chat tersebut.


Matanya membulat ketika dia tahu siapa pengirim dari chat-chat yang dia terima sekarang. Tora langsung bangun dari duduknya dengan perasaan kesal.


"Akhirnya, kamu muncul juga setelah hampir dua minggu lenyap bagai ditelan alam, Ina. Sekarang, aku akan bikin perhitungan dengan kamu," ucap Tora sambil menggenggam erat tangannya.


Ina menghilang sejak sore di mana setelah dia mengembalikan mobil yang dia pinjam pada Tora. Hal itu membuat Tora merasa curiga dengan kejadian yang orang tua Tami alami. Tapi sayang, dia tidak punya bukti kuat untuk langsung menuduh Ina yang telah membuat ulah.


Tora berusaha mencari Ina. Tapi sayang, perempuan itu tidak bisa dia temui di manapun. Ina menghilang begitu saja bak lenyap ditelan bumi tanpa sejak sedikitpun.


Dan sekarang, dia muncul kembali dengan sendirinya.


Untuk itu, Tora tidak ingin membuang waktu lagi. Dia bergegas menyetujui permintaan Ina untuk mengajaknya bertemu di salah satu taman tempat di mana mereka pernah bertemu


waktu itu.


****


Tora akhirnya sampai ke taman yang Ina maksud. Tapi, setelah dia berada di taman, dia sama sekali tidak menemukan Ina ada di taman itu. Hal itu membuat Tora merasa semkin kesal pada perempuan tersebut. Dia merasa, perempuan itu benar-benar ingin mempermainkannya habis-habisan.


"Sial! Di mana dia sekarang? Kenapa dia tidak ada di sini? Apa dia sedang bermain-main dengan aku? Awas saja jika dia mempermainkan aku. Dia akan tahu sedang berhadapan dengan siapa dia sekarang."


Tora memilih duduk di salah satu kursi yang berada tak jauh dari tempat dia berdiri. Sambil terus menggenggam erat tangannya, dia memikirkan apa yang harus dia lakukan selanjutnya.


Tapi, baru beberapa detik Tora duduk, dia sudah dikagetkan dengan pelukan dari belakang oleh seseorang. Sontak saja, Tora langsung melepaskan pelukan itu dengan cepat. Lalu, dia segera memutar tubuh untuk melihat orang yang sudah sangat berani memeluknya dari belakang.


"Ih, Tora kamu apa-apaan sih? Gak kangen sama aku ya?"


"Dari mana kamu? Kenapa baru muncul? Tadi kamu bilang sudah ada di taman ini sebelum aku datang. Tapi kenapa saat aku datang, kamu malah gak ada di sini, ha?"

__ADS_1


"Ih, kok kamu galak gitu sama aku. Emang aku sudah ada di taman ini sebelum kamu datang. Tapi, aku pergi cari toilet sebentar. Gitu aja kok marah sih?" Ina berucap dengan nada manja. Seolah-olah, tidak ada kesalahan yang telah dia buat.


"Jangan banyak bicara kamu, Ina. Aku datang ke taman ini hanya ingin bicara hal penting dengan kamu. Jawab dengan jujur apa yang akan aku tanyakan padamu! Ke mana kamu pergi selama hampir dia minggu ini, ha? Melarikan diri ke mana kamu?"


"Kamu bicara apa sih? Siapa yang melarikan diri coba? Aku nggak melarikan diri, Tora sayang. Aku itu ada urusan di kampung. Ada kerjaan yang harus aku selesaikan di kampung halamanku. Ya jadi, aku pergi deh."


"Eh, tunggu dulu deh. Kamu barusan mencemaskan aku ya? Kamu rindu padaku, iya, Tora?"


"Aduh, maaf ya Tora. Aku gak sempat kasi kabar buat kamu. Aku beneran sibuk banget tahu gak. Sibuk banget. Kamu gak marah sama aku, bukan?"


Tora terdiam. Dia tidak tega untuk menuduh Ina yang kelihatannya sama sekali tidak bersalah. Tapi, hatinya menginginkan hal yang berbeda. Ingin sekali meminta bibirnya bicara soal kecelakaan yang sudah orang tua Tami alami.


"Bener kan, kamu merindukan aku? Aku tahu itu."


"Jangan banyak berpikiran yang berlebihan, Ina. Aku sama sekali tidak merindukan kamu. Kamu juga tahu, kalau aku tidak tertarik sama kamu. Aku sudah punya istri. Dan sekarang, aku sedang sangat menjaga istriku. Dia sedang hamil soalnya."


Mendengar ucapan itu, Ina benar-benar tersentak kaget. Matanya melebar sambil menatap Tora dengan tatapan tak percaya. Kabar kehamilan itu membuat dadanya terasa sangat sesak bak terhimpit sesuatu yang sangat berat.


"A--apa? Istri ... kamu hamil?"


"Hm ... iya. Istriku sedang hamil saat ini. Jadi, tolong jangan berpikir yang tidak-tidak. Karena itu akan membuat kamu merasa kecewa saja nantinya, Ina."


Ina terdiam untuk beberapa saat lamanya. Tapi, itu tidaklah lama. Karena sesaat kemudian, dia kembali merangkul Tora sambil tersenyum manis.


"Aku tidak perduli soal itu, Tora. Karena laki-laki tidak masalah jika punya istri dua. Iyakan?"


Tora segera mendorong Ina kembali menjauh darinya. Dia tatap Ina dengan tatapan marah kali ini.


"Aku tidak suka perempuan gila seperti kamu, Ina. Jangan bermimpi untuk menjadi istriku, karena sampai kapanpun, aku tidak akan pernah menduakan istriku, paham?"

__ADS_1


__ADS_2