Korban Diri Demi Cinta

Korban Diri Demi Cinta
Part *37


__ADS_3

Dicky malah tertawa mendengarkan apa yang Tora ucapkan barusan.


"Kamu lucu Tora. Bukankah kamu yang memberi peringatan, tapi kamu juga yang melanggar peringatan itu. Tenang saja, aku tidak akan bertanya lagi padamu soal siapa perempuan tadi."


"Oh ya, aku tidak punya banyak waktu lagi sekarang. Aku harus segera kembali karena ada masalah yang harus aku selesaikan dengan perusahaan yang bekerja sama dengan aku. Aku tunggu kamu di rumah besok pagi. Jika kamu datang, aku anggap masalah kita sudah selesai, Tora. Tapi, jika kamu tidak datang, maka aku anggap, kamu masih tidak mau melupakan masalah yang terjadi diantara kita."


"Jika aku sibuk?"


"Itu pertanyaan yang bagus. Aku tahu, kamu pasti akan datang. Karena kamu punya kesempatan banyak buat menemui aku. Jika tidak di rumah, setidaknya, bandara masih punya tempat. Aku akan berangkat pukul tujuh dengan pesawat Eks Air. Bandara bunga melati. Semoga kamu tidak lupa dengan apa yang aku katakan. Aku pergi sekarang."


Dicky langsung beranjak setelah berucap kata-kata itu. Sementara Tora, dia tidak menjawab apapun yang Dicky katakan sebelum pergi. Tapi, semua kata-kata yang Dicky ucapkan sudah dia simpan baik-baik dalam ingatannya.


Sementara itu, di sisi lain, tepatnya di rumah Tora. Tami sedang duduk sambil melihat ponselnya. Tiba-tiba, dia melihat makanan yang terbuat dari buah mangga. Mendadak, dia sangat menginginkan apa yang dia lihat di dalam gawai tersebut.


"Bi Siah .... Bi." Tami memanggil bi Siah sambil berjalan cepat menuju dapur.


"Iya, Tami. Ada apa? Eh, maksud bibi, non. Maaf, bibi sudah terbiasa panggil kamu dengan nama. Dan sekarang ... den Tora minta bibi panggil kamu dengan sebutan nona. Jadi, agak butuh waktu buat bibi membiasakan panggilan baru ini."


"Gak masalah, bi. Sebenarnya, aku juga tidak ingin bibi panggil dengan sebutan, non. Terlalu berlebihan. Tapi, Tora meminta bibi memanggil aku dengan panggilan itu. Yah ... mau gimana lagi. Yang berkuasa di rumah inikan hanya dia."


"Oh ya, lupakan saja soal panggilan-panggilan yang tidak terlalu penting itu, bi Siah. Aku panggil bi Siah sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan."


"Oh iya, apa itu, Non? Apa yang ingin non Tami bicarakan?"


"Aku jadi geli dengan panggilan baru ini, Bik."

__ADS_1


"Lah, kok masih bahas soal panggilan lagi sih? Bukannya tadi bilang gak perlu bahas ya."


"Eh, iya. Maaf, lupa. Soalnya, berasa geli sendiri aku saat dengar bibi panggil dengan sebutan baru."


"Sebenarnya, aku ingin tanya sama bibi, di mana bisa dapatkan mangga kampung di kota ini ya, bik? Rasanya, aku begitu ingin makan manisan mangga sekarang. Tapi, bukan mangga biasa yang ada di kota. Melainkan, manisan mangga yang berasal dari desa."


"Wah, ini agak sulit, non Tami. Mangga kampung itu adalah mangga musiman. Tidak sembarang waktu dia bisa berbuah. Gak sama dengan mangga kota yang bisa berbuah kapan saja. Hanya perlu memperhatikan cara merawatnya, maka mangga kota gampang berbuah tidak perlu nunggu musim lagi."


"Tapi aku maunya mangga kampung, bi Siah. Tidak mau mangga kota," ucap Tami dengan nada sedih.


Bi Siah terdiam. Dia memperhatikan wajah Tami yang benar-benar terlihat sedang sangat kecewa sekarang.


'Ya Tuhan ... dia sedang berada di fase ngidam sekarang. Bagaimana caranya aku bisa bantu dia buat temukan mangga kampung yang dia inginkan. Mana minta mangga kampung yang dibuat manisan lagi. Ah, harus hubungi den Tora sekarang juga. Aku harus bicara dengan den Tora.'


"Non Tami, sebaiknya istirahat dulu aja sekarang. Soal mangga kampungnya, biar bibi ya urus ya."


"Tentu saja. Serahkan semua sama bibi. Bibi akan usahakan buat mencari mangga yang non Tami inginkan. Jangan cemas soal apapun, karena bibi juga datang dari kampung. Jadi bibi tahu semua tentang mangga kampung yang non Tami maksud."


"Ya sudah. Aku percaya sama bi Siah. Semoga hasilnya tidak mengecewakan aku ya, bik. Aku ke kamar dulu."


"Ya, non. Tenang saja. Selamat istirahat."


"Iya." Tami berucap sambil beranjak meninggalkan bi Siah.


Setelah kepergian Tami meninggalkannya, bi Siah segera mengeluarkan gawai dari saku baju daster yang sedang dia pakai. Dengan cepat, tangan keriput itu mengutak-atik gawai tersebut. Dan ... selanjutnya, terdengarlah suara seseorang dari benda pipih yang sedang dia tempelkan di telinganya itu.

__ADS_1


"Iya, bik. Ada apa?" tanya seseorang yang ada di seberang sana. Orang itu tak lain adalah Tora yang masih berdiri tegak di taman tempat dia berada sebelumnya.


"Den Tora ada di mana? Bibi mau bicara sama den Tora sekarang."


"Aku sedang ada di taman, bi. Mau bicara apa? Katakan saja sekarang. Soalnya, aku mau ke rumah mama sebentar lagi."


"Oh, gitu ya? Sebenarnya, bibi mau bicara hal penting. Ini soal non Tamu, den."


"Apa! Ada apa dengan dia bik? Cepat katakan! Jangan buat aku takut dan cemas di sini. Aku pulang sekarang," ucap Tora dengan nada cemas.


"Eh, tidak perlu pulang, Den. Tidak ada yang terjadi dengan non Tami. Bibi cuma mau bilang kalau non Tami sedang berada di fase ngidam pertamanya saat ini. Dia ingin mangga kampung yang dibuat manisan."


"Tami ... ngidam, bik? Mau mangga kampung? Baiklah. Aku akan carikan sekarang," ucap Tora dengan penuh semangat.


"Tapi ... masalahnya, den Tora mau nyari mangga kampung di mana saat sekarang, Den? Mangga kampung itu adalah mangga musiman. Tidak akan ada jika tidak tepat pada musimnya. Sedangkan sekarang, bukan musim mangga kampung berbuah."


Mendengar hal itu, Tora terdiam mematung. Dia yang lahir di kota sama sekali tidak mengerti soal mangga kampung atau sebagainya. Karena yang dia tahu, ada mangga ya tinggal di makan. Kenapa harus repot mikir soal musiman atau tidak?


"Den Tora. Apa den Tora masih ada di sana?"


"Eh, iya bik. Aku masih dengar apa yang bibi katakan kok. Jadi, di mana aku bisa dapatkan mangga yang Tami inginkan. Di manapun, di kampung mana saja, aku pasti akan cari mangga yang dia mau."


"Itu dia masalahnya, Den. Bibi juga tidak tahu harus dapatkan mangga itu di mana. Soalnya, kalau di kampung bibi, saat musim mangga itu berbuah, baru dia ada. Dan musim mangga itu berbuah pasti akan sama dengan kampung tetangga yang berada di sekita kampung bibi."


"Ya Tuhan ... bagaimana ini? Ya sudah kalau gitu bik. Biar aku coba cari sendiri lewat sosial media. Semoga saja aku temukan kampung yang ada mangga kampungnya berbuah di musim sekarang."

__ADS_1


"Baik, Den. Semoga ketemu."


"Iya, bik."


__ADS_2