
Beban berat yang hatinya terima kembali membuat dia lupa akan diri sendiri. Lagi, dia tidak bisa mengontrol tubuh sehingga dia kembali terkulai tak berdaya.
Nining kembali tak sadarkan diri. Kali ini, dia jatuh ke dalam pelukan mama mertuanya. Melihat hal itu, Tora langsung mengambil alih tubuh mungil yang terlihat begitu memprihatinkan itu. Dia kembali menggendong tubuh itu untuk dia bawa pergi.
Awalnya, mereka ingin menginap di rumah orang tua Nining malam ini. Tapi, Tora berubah pikiran. Dia memilih membawa Nining yang sedang pingsan kembali ke rumah mereka di kota.
Perubahan pikiran itu diperkuat dengan kata-kata yang mbak Yah ucapkan saat mereka baru kembali dari pemakaman. Kata mbak Yah, Nining tidak punya keluarga lagi sekarang. Ibu dan ayahnya sama-sama anak tunggal. Sedangkan Nining sendiri juga anak tunggal di keluarganya.
Karena ucapan mbak Yah tersebut, Tora memilih langsung membawa Nining kembali ke rumah saat dia masih pingsan. Dengan begitu, dia bisa merawat Nining di rumah mereka nantinya.
Mereka menempuh perjalanan malam hari tanpa kenal lelah. Akhirnya, mobil yang Tora kendarai sampai juga di rumah setelah beberapa jam melintasi jalan raya.
Ketika sampai ke rumah, Nining masih belum sadarkan diri. Mungkin karena terlalu lelah akibat banyak mengeluarkan air mata, dia jadi sulit untuk sadar dari pingsannya.
Tora lalu memindahkan tubuh mungil itu ke atas ranjang. Dia juga meminta mamanya menggantikan pakaian Nining dengan pakaian yang baru.
Sejujurnya, dia begitu cemas akan keadaan istrinya saat ini. Tapi, mamanya menguatkan dia dengan berpikiran positif. Hal itulah yang mampu membuat hati Tora sedikit tenang.
Tora terus memegang tangan Nining yang terasa begitu hangat. Dia tatap perempuan manis yang sedang terlelap dengan wajah sayu itu dengan penuh perasaan.
"Aku tidak tahu entah sampai kapan kebencian yang ada dalam hatimu itu baru akan pergi. Bisa-bisanya kamu mikir aku yang telah mencelakai orang tuamu. Aku memang biadab selama ini. Tapi aku juga punya hati. Aku tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Aku tidak akan tega mencelakai orang, apalagi melenyapkan. Karena aku tahu bagaimana rasa kehilangan, Tami."
Tora akhirnya ikut tertidur walau dengan posisi yang tidak enak. Dia tidur sambil duduk di samping Nining dengan tangan dia lipat kan ke perut. Karena terlalu lelah, dia yang berniat menjaga Nining, malah ikutan tidur.
Adzan subuh berkumandang. Sayup-sayup menyentuh telinga Nining. Mendengar lantunan merdu itu, dia akhirnya bangun. Dengan memaksakan diri, dia membuka mata secara perlahan.
"Aduh ... di mana ini?" Nining berucap lirih sambil mengerjap-ngerjapkan matanya yang terasa masih sangat berat untuk dia gerakkan.
__ADS_1
Saat kesadaran yang dia miliki sudah terkumpul sempurna, dia menyadari kalau dirinya sedang berada di kamar saat ini. Kamar yang beberapa bulan ini dia tempati.
"Kamar? Ini kamarku? Apa ... apa yang telah terjadi kemarin itu cuma mimpi? Ya Tuhan .... "
"Tami, kamu sudah bangun?" Tora langsung berucap saat dia membuka mata dan melihat Nining yang sudah sadar.
"Tora. Kamu .... "
"Maaf, aku langsung bawa kamu pulang. Aku harap kamu bisa sedikit melupakan apa yang telah terjadi jika kamu tinggal di sini."
Mendengar kata-kata itu, Nining kembali terisak. Dia menutup mulutnya dengan satu tangan. Tora yang melihat hal itu langsung bagun dari duduknya. Dia berniat menghampiri Nining untuk membuat perempuan itu tenang.
Tapi, Nining dengan cepat menolak. Dia mengangkat satu tangannya untuk menahan gerakan Tora.
"Tidak. Tolong jangan mendekat. Aku tidak sudi kamu sentuh aku mulai dari sekarang. Aku benci kamu, Tora! Aku benci kamu! Pergi dari sini sekarang juga! Pergi!"
"Tami, kenapa kamu harus benci aku? Aku sama sekali tidak melakukan apapun padamu. Kenapa kamu tuduh aku, Tami? Kenapa?"
"Tami .... "
Saat itu, mama Tora yang kebetulan menginap langsung datang ke kamar Nining. Orang tua itu terbangun akibat teriakan keras Nining barusan.
"Tora, Tami. Apa yang terjadi? Kenapa kalian malah ribut pagi-pagi begini? Tidak baik, Nak."
"Mama, aku tidak ingin melihat anak mama lagi. Tolong, minta dia pergi dari kamar ini. Jika tidak mau pergi, biar aku yang pergi. Karena rumah ini adalah rumahnya."
"Ma, kenapa kalian bawa aku pulang? Aku tidak ingin pulang ke sini lagi. Aku ingin tinggal di kampung. Tinggal di rumah peninggalan orang tuaku. Kenapa kalian tega padaku, Ma?"
__ADS_1
Tora ingin menjawab, tapi mamanya dengan cepat menahan. Dia juga meminta anaknya untuk segera keluar dari kamar itu.
"Tapi, Ma .... "
"Tora, dengarkan apa yang mama katakan. Keluar sekarang! Jangan membantah."
Tidak punya pilihan lain selain mendengarkan apa yang mamanya katakan, Tora langsung beranjak keluar. Sementara sang mama memilih langsung duduk di samping Nining yang masih duduk di atas kasur.
"Ma .... "
"Tami, mama tahu apa yang kamu rasakan. Kamu sedih, kecewa, dan sangat terluka. Kami bawa kamu kembali karena kami tidak ingin kamu semakin terpuruk di sana karena memikirkan kenangan-kenangan kalian. Mama harap kamu mengerti dengan keputusan kami, Tami."
"Aku tidak ingin tinggal di sini bersama Tora, Ma. Dia memang anak mama, mama sudah sewajarnya bela dia. Tapi, aku benar-benar tidak sanggup untuk tinggal satu rumah dengan dia."
"Dia suami kamu, Tami. Semua kebutuhan kamu adalah tanggung jawab dia. Meskipun kamu tetap berpikir dia adalah pembunuh orang tua kamu, tapi kamu juga tidak bisa langsung meninggalkan dia. Ingat Tami, istri adalah tanggung jawab suami."
"Aku tahu mama pasti bela dia. Dia adalah mama soalnya."
"Bukan masalah bela siapa dan anak siapa, Tami. Tapi apa yang mama katakan itu adalah kebenaran. Ya sudah, gini saja kalau kamu memang tidak ingin tinggal bersama Tora, kamu bisa tunggu pulih sepenuhnya baru pergi. Itu pilihan terakhir yang kamu punya."
Selesai bicara dengan nada kesal itu, mama Tora langsung bangun dari duduknya. Dia langsung beranjak meninggalkan Nining tanpa menunggu perempuan itu menjawab kata-kata yang dia ucapkan.
Di depan kamar, Tora sudah menunggu sang mama. Dia begitu kesal dengan keputusan yang mamanya ambil.
"Ma, apa yang mama katakan barusan? Mama biarkan Tami pergi jika sudah sembuh? Mama yang benar saja dong."
"Tora, itu yang dia inginkan. Mama bisa apa. Dia begitu tidak ingin tinggal satu atap dengan kamu, dan tetap bersikeras nuduh kamu sebagai pembunuh. Ya kita bisa apa? Biarkan saja dia hidup sesuka hatinya. Tinggal di mana yang dia inginkan. Itu bukan salah kamu lagi sebagai suami. Toh yang mau dia."
__ADS_1
"Tapi, Ma .... "
"Cukup Tora. Mama sudah kesal, jadi tolong jangan tambah rasa kesal mama lagi. Biarkan saja dia melakukan apa yang dia inginkan."