Korban Diri Demi Cinta

Korban Diri Demi Cinta
Part *44


__ADS_3

Selesai berucap, Ina langsung ingin beranjak meninggalkan Alif yang sedang duduk di atas ranjang sempit kamar kosannya. Namun, langkah Ina tertahan karena Alif memegang tangan Ina dengan cepat.


"Mau ke mana kamu, Ina?"


"Lepaskan aku, kak Alif. Aku ingin segera pergi dari sini. Aku juga akan segera pergi meninggalkan kota ini. Aku akan menghilang selama beberapa saat. Ingat! Jangan libatkan aku dalam misi tanggung jawab kamu ini. Karena aku tidak merasa punya hutang tanggung jawab."


"Ina, sadarlah! Kamu tidak bisa pergi dari sini. Polisi mungkin akan kejar kamu ke manapun kamu pergi, Ina. Alangkah baiknya jika kamu menyerah. Mungkin, hukuman kita akan mereka ringankan sedikit."


"Kak Alif ini bodoh atau sudah tidak punya akal sehat lagi sih sebenarnya? Kita menyerah atau tidak, itu akan sama saja. Tidak ada yang namanya meringankan hukuman. Lebih baik aku pergi sekarang juga. Mungkin, aku bisa menyelamatkan diriku dari polisi. Karena polisi juga manusia. Dia tidak akan mampu menerawang keberadaan ku jika aku berada jauh dari kota ini dan bersembunyi sampai kasus ini mereka lupakan."


"Sekarang, lepaskan tanganku! Aku akan segera pergi sebelum polisi menemukan kita di sini. Tolong jangan jadi penghambat langkahku kak Alif. Karena aku tidak ingin di penjara."


"Tidak, Ina. Aku tidak akan membiarkan kamu pergi. Aku akan buat kamu ikut mempertanggung jawabkan perbuatan kita kemarin. Dengan begitu, aku akan merasakan sedikit kelegaan dalam rasa bersalahku pada Tami, karena sudah mampu membawa kamu menerima hukuman atas apa yang kamu lakukan pada orang tuanya."


"Apa kamu sudah benar-benar gila, Kak Alif. Lepaskan aku sekarang juga. Jika kamu bawa aku ikut bersamamu masuk penjara, Tami juga tidak akan mengganggap mu baik di matanya. Dia juga tidak akan memberikan maafnya buat kamu. Karena kamu adalah pembunuh dari kedua orang yang paling dia sayangi. Yang benar itu, kita kabur meninggalkan tempat ini. Pergi jauh, sejauh yang kita bisa. Setelah kasus ini terlupakan, kita baru kembali lagi ke sini. Setelah itu, baru kita susun rencana baru untuk mendapatkan apa yang kita inginkan selama ini. Itu baru benar, kak Alif."


"Tidak. Aku tidak akan pergi, juga tidak akan membiarkan kamu pergi. Meskipun Tami tidak akan memberikan maafnya padaku, tapi setidaknya, rasa bersalah yang aku derita akan sedikit berkurang. Untuk itu, aku akan tetap di sini menunggu polisi datang. Tentunya aku akan bawa kamu ikut bersamaku untuk menantikan kedatangan polisi ke sini."


"Tidak! Lepaskan aku, kak Alif! Aku tidak ingin bertemu polisi!" Ina berucap dengan nada tinggi sambil memberontak untuk melepaskan dirinya.


"Tidak akan! Aku tidak akan melepaskan kamu!"


"Kau sudah gila! Lepaskan aku!"


"Tidak aku bilang, tidak!"


"Dasar laki-kaki bodoh! Tidak punya pikiran. Lepaskan aku!"


Ina terus memberontak dengan sekuat tenaga. Sambil terus memberontak, tiba-tiba dia melihat gunting yang ada di atas meja tak jauh dari mereka.

__ADS_1


Dengan susah payah, Ina berusaha menggapai gunting yang dia lihat. Dan akhirnya, dia berhasil. Setelah gunting ada dalam. genggaman, Ina tidak membuang waktu lagi. Dia langsung menusukkan gunting itu ke perut Alif.


"Agh ....!"


Alif berteriak kesakitan. Seketika, genggaman tangannya yang menggenggam erat tangan Ina longgar, tapi belum terlepas sempurna. Merasa belum aman, Ina langsung mendorong tubuh Alif sekuat tenaga. Tubuh yang tidak kuat menahan sakit itu, langsung terhuyung dengan kepala duluan yang menabrak tembok beton.


"Agh!" Seketika, Alif jatuh tergeletak ke lantai dengan kepala dan perut yang mengeluarkan darah secara perlahan.


Ina terdiam untuk sesaat. Namun, itu tidak lama karena dia segera tersadar kalau dia harus segera pergi meninggalkan kos-kosan tersebut agar tidak ada yang tahu apa yang baru saja dia lakukan.


"Jangan salahkan aku, kak Alif. Jika kamu mendengarkan apa yang aku katakan, kamu tidak akan berakhir seperti ini. Semoga saja kamu mati agar tidak ada yang tahu kalau aku yang telah mencelakai kamu."


Selesai mengucap kata-kata itu, Ina ingin segera melangkah menuju pintu. Namun, alangkah kagetnya dia saat pintu yang ingin dia tuju malah langsung terbuka sebelum dia menyentuhnya. Ina membelalakkan matanya ketika dia melihat siapa yang ada di balik pintu itu.


"Jangan bergerak! Cepat berlutut sambil mengangkat tangan!"


"Po--polisi!" Ina berteriak kaget bukan kepalang.


"Jangan berpikir untuk kabur! Tempat ini sudah kami kepung. Menyerah atau kami tembak jika memilih melawan."


"Pak, saya tidak bersalah. Saya saksi juga .... "


"Tangkap dia!"


"Tidak, pak! Saya tidak bersalah! Tolong jangan tangkap saya, pak polisi. Saya tidak melajukan kejahatan."


Polisi tidak mendengarkan apa yang Ina katakan. Dia langsung menangkap Ina dengan sigap dan lincah. Lalu, Ina di pasang borgol di kedua tangannya.


"Tolong lepaskan saya. Saya tidak bersalah. Semua yang terjadi di sini bukan perbuatan saya."

__ADS_1


"Diam! Simpan penjelasan anda untuk menjelaskan semuanya di kantor polisi."


"Cepat bawa dia!"


"Baik, Pak."


Ina lalu di bawa ke mobil untuk di antar ke kantor polisi. Tapi, sebelum dia meninggalkan tempat itu, dia sempat mendengar percakapan polisi itu dengan polisi yang lainnya.


"Bagaimana keadaan pria itu?"


"Dia masih hidup, pak. Hanya saja, denyut nadinya begitu lemah. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit."


"Lakukan tugas secepat mungkin!"


Mendengar obrolan itu, Ina mendadak begitu merasa takut. Dia takut akan keselamatan Alif.


'Sial! Mengapa dia tidak mati langsung? Jika dia selamat, tamatlah riwayat hidupku.' Ina berucap dalam hati sambil terus berusaha memberontak walaupun dia tahu tidak akan ada hasilnya sama sekali.


****


Hari sudah malam. Tami terlihat semakin cemas dengan keberadaan Tora. Dia sekarang memilih duduk di ruang tamu dengan maksud bisa melihat pintu kalau-kalau Tora pulang ke rumah.


Bi Siah yang melihat Tami masih belum masuk ke kamar, dia langsung berjalan mendekat. Karena pada jam-jam begini, biasanya Tami sudah sejak tadi diam di kamar. Tapi karena Tora tidak pulang, dia malah diam di luar seperti ini.


"Non Tami, kok masih duduk di sini? Masih nunggu den Tora ya?"


"Ng--nggak kok. Siapa yang sedang nunggu Tora. Aku sedang istirahat aja."


"Lho, kok istirahatnya di sini sih? Biasanya juga kan istirahat di kamar, Non."

__ADS_1


"Malam ini kamar agak gerah, bik. Makanya duduk di luar."


Bi Siah hanya bisa menggeleng-geleng kan kepalanya saja. Karena sebenarnya, dia sudah tahu kalau Tami sedang cemas memikirkan Tora yang masih tidak pulang padahal sudah jam sembilan malam.


__ADS_2