Korban Diri Demi Cinta

Korban Diri Demi Cinta
Part *29


__ADS_3

Mendengar ucapan itu, papanya langsung menatap tajam wajah Tora. Ingin sekali rasanya dia membentak anak yang tidak tahu sopan santun itu. Tapi, dia tahan. Jika dia tunjukkan sifat galaknya. Itu terlihat sama saja antara dia dengan anaknya. Sama-sama tidak punya etika.


"Santi. Katakan pada manajer mu, kalau kita belum bisa mulai rapat karena ada orang yang lebih penting yang sedang kita nantikan kedatangannya sekarang. Dan katakan juga, kalau bukan dia yang kita tunggu untuk rapat di sini," ucap papanya bicara pada Santi.


Santi adalah asisten manajer. Yaitu, asisten pribadi Tora di kantor ini. Dia awalnya adalah anak magang. Namun, karena kinerjanya yang luar biasa, dia diangkat menjadi asisten tetap oleh Tora.


Sebenarnya, bukan hanya kinerja Santi yang bagus saja yang Tora pertimbangkan untuk dia jadikan Santi sebagai asisten tetap nya. Melainkan, Santi yang tidak terlalu suka banyak bicara, juga tidak membuka aurat yang dia punya. Hal itulah yang membuat Tora mengangkat dia menjadi asisten tetap nya.


"Baik, pak. Akan saya sampaikan," ucap Santi penuh hormat.


"Tidak perlu, Santi. Aku tidak tuli, jadi aku bisa mendengarkan dengan sangat baik apa yang ketua perusahaan ini katakan. Tidak perlu membuang waktumu untuk mengulangi apa yang dia ucapkan tadi."


Belum sempat papanya membuka mulut untuk menjawab apa yang Tora ucapkan barusan, ponsel Tora tiba-tiba berdering. Hal itu membuat perhatian semua orang berubah.


Tidak ingin terlalu ambil pusing dengan tanggapan semua orang, Tora langsung mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya. Dia keluar dengan membawa ponsel itu tanpa permisi sama sekali.


Papanya tidak bisa berucap apa-apa saat melihat tingkah putra tunggalnya itu. Entah ke mana perginya sopan santun juga etika yang dia ajarkan. Dia juga tidak tahu. Yang bisa dia lakukan saat ini hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah keterlaluan dari si putera satu-satunya itu.


Sementara itu, Tora yang ada di luar sedang bicara dengan salah satu polisi yang sedang dia minta menangani kasus kematian orang tua Tami. Dia terlihat sangat putus asa setelah mendengar apa yang polisi itu katakan. Bagaimana tidak? Sudah lebih dari satu minggu dia melaporkan kejadian itu, tapi polisi masih belum mendapatkan bukti tentang kecelakaan tersebut. Bahkan sekarang, polisi ingin menutup kasus itu dengan alasan, itu hanya kecelakaan yang tidak ada unsur kesengajaan sama sekali.

__ADS_1


"Agh .... " Tora sangat kesal.


Sangking kesalnya dia, dia sampai memukul tembok batu yang ada di sampingnya dengan sekuat tenaga. Hasilnya, tangan Tora luka dan mengeluarkan darah secara perlahan.


"Sial! Kenapa semuanya jadi begini, ha? Kenapa sangat sulit untuk menemukan bukti kalau bukan aku yang melakukan semua ini."


Tora melemah sekarang. Dia menyadarkan tubuhnya di tembok, dan akhirnya, kakinya perlahan tidak kuat menahan beban. Tubuh itupun merosot jatuh ke bawah.


Tiba-tiba saja, dalam keputusasaan itu, dia ingat akan seseorang. Seseorang yang terlalu banyak berjasa dalam hidupnya selama bertahun-tahun, tapi tiba-tiba dia ubah menjadi musuh. Dan akhirnya, orang itu pergi jauh meninggalkan dia tanpa pesan atau bahkan tanpa kabar berita di mana keberadaannya sampai saat ini.


Tora lalu mengusap kasar wajahnya.


'Dicky, jika ada kamu di sini, masalah yang sedang aku hadapi sekarang, tidak akan ada artinya buat aku. Karena kamu sang pangeran yang berkuasa, pasti akan melakukan apa saja buat bantu aku keluar dari masalah sebesar apapun.'


"Bodoh kamu, Tora. Bodoh! Kenapa malah mikir dia yang telah mengambil orang yang kamu sayang. Jika dia ada di sini, dia tidak akan pernah membantu kamu. Dia malahan akan menertawakan kamu karena merasa bahagia akan penderitaan yang kamu hadapi sekarang.


Dia juga akan menganggap kamu tidak akan bisa lepas dari masalah tanpa ada bantuan dia."


Tora marah pada dirinya sendiri. Dia menyesali pikirannya yang tiba-tiba memikirkan Dicky, teman yang telah menjadi musuh bebuyutannya sampai kapanpun.

__ADS_1


Tapi, sebalik rasa marah akan apa yang dia pikirkan, hatinya merasa begitu merindu sang sahabat. Ingin rasanya dia melihat sang sahabat walau sebentar saja. Berharap, hubungan mereka akan sama seperti dulu lagi. Tidak ada permusuhan, yang ada hanyalah kebahagiaan karena saling melengkapi satu sama lain.


Setelah merasa cukup melepas emosi yang dia miliki, Tora segera bangun dari duduknya. Dia ingin kembali ke ruang rapat. Tapi, tiba-tiba saja dia terbelalak kaget ketika melihat ke arah lorong.


Di sana ada beberapa orang yang sedang berjalan mendekat. Salah satu dari mereka adalah orang yang dia kenali. Cukup kenal, dan baru saja dia omongin.


Orang itu adalah Dicky. Dia berjalan bersama dengan beberapa orang yang tidak Tora kenali dengan gagah. Mereka semakin mendekat menuju ruang rapat. Menyadari hal itu, dia yang tidak siap dengan pertemuan itu bergegas masuk ke dalam raung rapat duluan.


Papanya menatap Tora dengan tatapan aneh. Tora tidak ingin menghiraukan tatapan itu. Dia sibuk membenahi diri agar tidak terlihat gugup saat bertemu Dicky beberapa saat nanti.


Pintu ruang rapat akhirnya terbuka. Dicky langsung masuk bersama senyum manis di bibirnya. Semua orang langsung bangun dari duduk untuk menyambut kedatangan sang direktur ternama dari luar negeri itu dengan sangat hormat.


Sementara Tora, dia hanya diam di tempat duduk saja. Bukan tidak ingin menyambut kedatangan Dicky ke perusahaannya. Hanya saja, hati juga perasaannya masih belum siap untuk bertatap muka.


Melihat Tora tidak menyambut kedatangannya, Dicky biasa saja. Dia bahkan sudah tahu akan kejadian ini pasti dia dapatkan saat bertamu di sini. Karena dia tahu bagaimana hati Tora. Keras hati sang sahabat, tidak mudah untuk di cairkan.


Mereka langsung membahas soal kerja sama antara dua perusahaan. Ternyata, direktur luar negeri yang selalu perusahaannya banggakan selama ini tak lain adalah Dicky. Hal itu membuat Tora tak banyak bicara. Tidak seperti rapat-rapat pada waktu sebelumnya. Yang akan bicara panjang lebar menjelaskan semuanya adalah Tora. Tapi kali ini, semuanya dia serahkan pada asistennya sebagai perwakilan.


Selesai rapat, semua orang bersiap untuk meninggalkan ruangan tersebut. Tak terkecuali Tora. Dia bahkan orang yang paling ingin segera meninggalkan ruang rapat secepatnya.

__ADS_1


Tapi, tiba-tiba saja langkahnya tertahan karena mendengarkan ucapan dari orang yang paling tidak ingin dia ajak bicara.


"Manajer, Tora. Bisa tinggal di ruangan ini sebentar? Ada yang ingin saya bahas bersama anda. Hanya berdua saja. Bisakah?"


__ADS_2