
"Tami." Tora berucap lirih dengan nada berat.
"Ada perlu apa lagi kamu datang ke sini, Tora? Cepat katakan langsung. Jangan bertele-tele," ucap Tami dengan suara parau.
"Kenapa kamu menangis, Tami? Itu tidak baik buat bayi yang ada di dalam kandungan mu. Kamu .... "
"Aku tidak akan membahayakan anakmu, Tora. Langsung katakan saja apa tujuanmu datang ke kamarku. Aku tidak ingin bicara lama-lama dengan kamu. Aku mau istirahat soalnya."
Tora melepas napas berat. Dia lalu membuka laptopnya untuk menunjukkan rekaman itu pada Tami. Bukan tidak ingin peduli dengan apa yang Tami rasakan. Tapi Tora sungguh tidak ingin berdebat terlalu panjang dengan Tami, teruntuk di saat seperti ini.
"Aku datang ingin membuktikan kalau aku tidak ada hubungannya dengan kecelakaan yang orang tuamu alami, Tami. Bukankah kamu bersikeras menuduh aku, dan sekarang, aku bawa buktinya. Kamu bisa memaafkan aku, karena aku tidak bersalah."
Tora lalu membuka rekaman vidio yang ada di laptop tersebut. Sontak saja, ketika melihat wajah laki-laki yang ada di dalam vidio tersebut, Tami langsung kaget dengan tangan menutup mulut.
"Kak Alif? Tidak! Ini tidak mungkin. Aku tidak percaya ini, Tora." Tami menatap Tora dengan tatapan tajam.
"Jangan jadikan orang lain sebagai kambing hitam atas kesalahan yang kau buat, Tora! Jangan buat aku semakin membenci kamu. Aku tidak percaya kalau kak Alif yang melakukan semua ini. Dia tidak akan pernah melakukan hal keji seperti ini karena dia adalah laki-laki baik-baik."
Tora membelalak, kaget bukan kepalang. Dia tidak menyangka kalau Tami akan menanggapi kebenaran yang dia bawa dengan ketidak percayaan.
"Kamu ... masih tidak bisa mempercayai aku, Tami?"
__ADS_1
"Tidak! Aku tidak akan percaya padamu sampai kapanpun. Karena aku tahu, orang yang kau tuduh itu tidak akan pernah melakukan hal keji dengan membunuh orang tuaku."
Tora tertawa lepas menangapi perkataan Tami barusan. Sesungguhnya, hati Tora saat ini begitu sakit. Sangking sakitnya, dia lupa akan dirinya sendiri untuk beberapa saat.
"Ternyata, kau begitu mengenali laki-laki itu rupanya, Tami. Kau kenal dia, dan sangat mengerti bagaimana dia lebih dari siapapun. Aku salut pada penilaian yang kamu miliki."
"Bagimu, semua tentang aku selalu buruk. Sedangkan tentang laki-laki asing itu, selalu baik. Oh, maaf. Dia bukan laki-laki asing buat kamu ya? Dia mungkin lebih dekat dari kekasih atau bahkan, dia calon suamimu kelak setelah kau pisah dari aku."
"Selamat, Tami. Tapi mohon bersabar, kamu belum bisa lepas dari aku sebelum kau melahirkan anakku ke dunia ini. Setelah dia lahir, segeralah pergi untuk bersama laki-laki yang kamu harapkan itu."
Tora langsung beranjak ingin meninggalkan kamar tersebut. Namun, baru beberapa langkah dia beranjak, dia kembali menghentikan langkah kakinya, dan segera menoleh.
"Semoga kamu tidak dikecewakan oleh laki-laki yang sangat kamu percayai itu, Tami. Karena kau sangat-sangat percaya padanya, untuk itu aku minta maaf, aku akan bawa bukti ini ke kantor polisi agar usaha Dicky tidak sia-sia."
"Dicky?" Tami berucap dengan nada bingung penuh dengan rasa ingin tahu.
"Iya, Dicky. Kenapa? Kaget? Tak percaya? Mau bilang kalau aku bohong lagi padamu? Terserah saja apa yang ingin kamu pikirkan tentang aku. Aku sudah tidak perduli lagi sekarang,Tami. Asal kau tahu, bukti yang aku bawa untukmu itu adalah bukti yang Dicky berikan padaku. Dia yang membantu aku menyelidik semuanya."
"Dan ... aku juga bawa mangga kampung yang kamu inginkan. Itu datang dari rumah Dicky. Sayangnya, dia tidak ingin bertemu kamu karena dia sangat menghargai istri kesayangannya. Sejujurnya, aku salut pada kesetiaan yang dia miliki. Benar-benar menghargai perempuan yang dia sayangi."
Selesai bicara kata-kata itu, Tora kembali melanjutkan langkah kakinya meninggalkan kamar tersebut. Tami yang mendengarkan ucapan Tora barusan seperti sedang berada di antara dua danau. Yang satu dangkal dan sangat keruh airnya. Sedangkan yang satu lagi jernih bak kaca. Tapi sayangnya, terlalu dalam sehingga tidak mungkin dia renangi.
__ADS_1
Dia berada di dalam dilema yang kuat. Sebagian hatinya merasa senang dengan kabar pertemuan Tora dengan Dicky. Sedangkan sebagian hatinya lagi merasa begitu terluka akan kata-kata Tora tentang Dicky yang tidak sudi untuk bertemu dengannya.
"Tuhan ... kenapa aku masih merasa sakit. Bukankah ini pilihan yang aku ambil sendiri. Memilih bersama Tora hanya karena agar Dicky bahagia. Sekarang, dia sudah bahagia. Harusnya aku ikut bahagia karena kebahagiaan yang dia rasakan. Tapi ... tapi mengapa aku malah merasa sakit saat Tora bilang dia tidak bertemu dengan aku. Sebenarnya, yang membuat hati ini sakit itu yang mana? Kata-kata Tora atau niat Tora untuk mempertemukan aku dengan dia? Tuhan .... "
Tami merintih kembali mengingat apa yang baru saja dia alami. Hari ini, dia begitu banyak dapat kejutan. Mulai dari misteri kematian orang tuanya, sampai pertemuan Dicky dengan Tora yang sepertinya sudah memutuskan permusuhan diantara mereka. Semua itu terasa seperti mimpi sampai sulit untuk dia terima dengan pikiran normal yang dia miliki.
Ingat anak yang ada dalam kandungannya, dia memutuskan untuk melupakan semua beban yang sedang dia pikul secara perlahan. Tami memilih merebahkan tubuhnya di atas kasur. Lalu, dia memejamkan matanya agar semua yang dia pikirkan ikut menghilang.
Sementara itu, di sisi lain, Tora sedang berada di kantor polisi untuk memberikan bukti kuat tentang pelaku tabrak lari yang dialami oleh orang tua Tami. Polisi bersedia membuka kembali kasus yang sudah mereka tutup karena bukti itu.
Tanpa menunggu lagi, pihak kepolisian langsung bergerak untuk melacak keberadaan tersangka. Sedangkan Tora, dia meninggalkan kantor polisi dengan hati yang sedikit tenang.
Mengingat kejadian yang dia alami di rumahnya tadi, dia memilih pulang ke rumah orang tuanya sekarang. Dia ingin memberikan waktu tengang buat mereka berdua untuk berpikir jernih.
Saat dia sampai ke rumah orang tuanya, hanya sang mama yang sedang berada di rumah. Mamanya sedang duduk di ruang tamu sambil mengutak-atik gawai dengan lincah.
Sontak, sang mama kaget saat melihat kedatangan anaknya. Apalagi anaknya yang datang itu dengan membawa wajah kusut bak pakaian yang belum di setrika selama berabad-abad.
"Tora. Kamu kenapa? Ada masalah apa sih? Kenapa wajah kamu gak enak dilihat kek gini?"
"Ma, boleh aku baring dipangkuan mama?"
__ADS_1
Mendapat pertanyaan langka dari sang anak. Mama Tora langsung mengangguk pelan. Dia tahu betul bagaimana sifat anak laki-lakinya ini. Jika tidak teramat sangat berat beban yang dia pikul, maka dia tidak akan datang mengeluh pada orang tuanya.