Korban Diri Demi Cinta

Korban Diri Demi Cinta
Part *30


__ADS_3

"Manajer, Tora. Bisa tinggal di ruangan ini sebentar? Ada yang ingin saya bahas bersama anda. Hanya berdua saja. Bisakah?"


Pertanyaan yang tidak pernah ingin Tora dengar dari sang mantan sahabat. Tapi, sayangnya, karena dia adalah orang yang paling berkuasa, Tora tidak bisa menolak.


Tora tidak langsung menjawab. Dia hanya diam saja sambil melihat wajah yang selama ini telah membuat dia merasa rindu.


"Tentu saja bisa, tuan direktur. Silahkan bicara empat mata dengan manajer perusahaan kami," ucap papa Tora dengan cepat saat melihat anaknya hanya diam saja tanpa berniat menjawab.


"Maaf, Pak. Direktur kami bertanya dengan manajer anda. Bukan dengan anda. Jadi, kenapa malah anda yang menjawab? Apa direktur anda tidak bisa menjawab pertanyaannya sendiri?" Salah satu anak buah Dicky berucap dengan nada kesal.


"Ah, maafkan saya. Saya pikir, tidak masalah untuk menjawab pertanyaan dari tuan direktur. Karena saya adalah ketua perusahaan di sini."


"Meskipun anda adalah ketua, tapi yang direktur kami tanyakan bukan anda. Jadi, kenapa anda yang menjawab?"


"Cukup. Kenapa kalian malah berdebat. Aku akan bicara dengan tuan direktur yang terhormat. Apa itu sudah cukup menjadi jawaban yang jelas buat kalian?"


"Dan kenapa kalian malah masih diam di sini? Apakah tidak ingin menghormati tuan direktur yang sangat kalian hormati ini?" Tora berucap lagi dengan tatapan tajam yang terlihat sedikit menakutkan.


"Kalian semua bisa pergi. Aku hanya ingin membahas sesuatu yang penting berduaan saja dengan manajer ini," ucap Dicky dengan santai.


"Baik, tuan muda. Kami permisi sekarang."


"Ya. Silahkan."


Semua pergi meninggalkan ruang rapat tersebut. Yang tersisa hanya Dicky dan Tora saja sekarang.

__ADS_1


"Apa kabar, Tora? Apa kamu baik-baik saja sekarang?" tanya Dicky memecah keheningan diantara mereka berdua.


"Seperti yang anda lihat, tuan direktur. Aku baik-baik saja. Sebenarnya, anda mau bicara apa dengan aku? Langsung pada pokok permasalahannya saja. Tidak perlu berbelit-belit. Aku masih punya banyak urusan lain yang harus aku urus soalnya."


Mendengar ucapan itu, Dicky tersenyum. Dia melihat wajah Tora yang sedang membuang pandangan dari dirinya.


"Kamu masih sama, Tora. Masih tidak berubah sedikitpun sejak dulu sampai sekarang. Aku masih bisa mengenali kamu dengan sangat baik walau kita sudah terpisah dalam waktu yang cukup lama."


"Anda kenapa bisa begitu sok kenal dengan aku tuan direktur? Apakah karena anda punya kuasa dan sangat ditakuti di sini? Sampai anda begitu percaya diri dan bahkan begitu merajalela di perusahaan orang."


"Tora-Tora. Kenapa harus terus bermusuhan dari dulu sampai sekarang? Apakah permusuhan diantara kita selama ini masih belum cukup? Apakah semua yang kamu lakukan padaku masih belum cukup buatmu? Kenapa masih tidak merasa puas, Tora? Kenapa?"


"Karena kamu tidak bisa mengembalikan nyawa orang yang aku sayang, Dicky. Kamu tidak bisa membuat adik kesayanganku hidup kembali. Karena itulah aku tidak pernah merasa puas dengan permusuhan ini."


"Oh, begitu kah? Lalu, apakah kamu mampu mengembalikan semua kebahagiaan ku yang telah kamu curi? Bisakah kamu menutupi semua luka yang telah kau gores kan dalam hatiku, Tora?"


Tora terdiam. Dia tidak punya kata-kata lagi untuk membela diri. Dia hanya mampu diam dengan pandangan yang sama seperti sebelumnya, menghindar dari melihat Dicky.


"Aku sampai harus pergi dari kota tempat aku dilahirkan, Tora. Itu semua karena kamu. Aku tidak ingin kamu ambil orang yang aku cintai lagi setelah kamu ambil orang yang paling aku cintai sebelumnya. Aku pergi dengan harapan, kamu puas karena telah memiliki dia. Tapi sayangnya, saat kita bertemu, kamu masih sama. Masih ada dendam dalam hatimu buat aku. Aku menyesali semua itu."


Kini, giliran Dicky yang menundukkan kepalanya. Dia merasa sedikit lega karena telah melepaskan semua unek-unek yang ada dalam hatinya selama ini. Ya meskipun apa yang dia harapkan ternyata tidak sama dengan kenyataan, tapi setidaknya, dia sedikit tenang.


Awalnya, Dicky datang ke perusahaan ini karena tahu ini perusahaan keluarga Tora. Dia tahu, sejak masih sekolah, perusahaan ini akan diwariskan pada Tora sebagai anak laki-laki pertama dan satu-satu dalam keluarga. Karena alasan itu jugalah, dia tidak pernah menyentuh perusahaan ini meski perlakuan Tora begitu menyakitkan buat hatinya.


Dia memilih bertahan dengan sakitnya. Dia juga tetap membantu perusahaan mantan sahabatnya itu walau tanpa sepengetahuan siapapun. Karena sampai kapanpun, Tora akan tetap jadi sahabat dalam hati Dicky.

__ADS_1


Setelah beberapa saat mereka saling diam, Dicky akhirnya memutuskan untuk pergi dari ruangan itu. Dia beranjak tanpa berucap sepatah katapun untuk meninggalkan Tora.


Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti saat Tora mengucapkan sesuatu.


"Apakah kamu masih mencintai dia, Dicky?"


Pertanyaan itu langsung membuat langkah Dicky terhenti. Dia diam beberapa saat, lalu kemudian memutar tubuh untuk melihat Tora.


"Siapa yang kamu maksud dia, Tora? Apakah istrimu?"


"Kau tahu siapa yang aku maksud. Jadi, kenapa harus bertanya?"


Dicky tersenyum.


"Aku tidak akan mau berebut lagi denganmu. Lagipula, aku sudah punya ratu di rumah. Untuk apa aku mau apa yang kamu miliki? Aku sudah punya segalanya. Ya meskipun tidak termasuk teman."


"Jangan bicara berbelit-belit, Dicky. Aku hanya bertanya satu kata, jadi kamu hanya perlu menjawab satu kata. Tidak perlu berlebihan memberi jawaban."


"Baiklah, untuk pertanyaan yang kamu tanyakan, maka aku akan jawab sesuai keinginan mu. Jawabannya adalah, tidak. Karena aku sudah punya ratu yang sangat aku cintai sekarang."


Tora tidak menjawab lagi, dia hanya diam sambil menatap Dicky yang sedang berdiri tegak dihadapannya.


"Ya sudah, jika tidak ada yang ingin kamu bicarakan lagi, maka aku mau pergi sekarang. Semoga kamu bahagia dengan dia. Aku tahu, kalian pasti hidup bahagia selama ini. Permisi, aku pergi sekarang."


Tora terus menatap kepergian Dicky meninggalkan ruangan tersebut. Hatinya ingin mengucapkan kata maaf pada sang mantan sahabat. Tapi sayang, bibir terlalu berat untuk berucap.

__ADS_1


Tora akhirnya memilih duduk di salah satu kursi yang ada tak jauh darinya. Dengan mengusap kasar wajahnya, benak terus memikirkan setiap kata yang Dicky ucapkan.


'Kau tidak tahu bagaimana sulitnya hidup yang aku dan dia lalui selama ini, Dicky. Perjalanan yang kami tempuh sungguh sangat mengguncang hati, menguji iman, dan kesabaran. Kami tidak sebahagia kamu dan pasangan spesial mu itu. Dan sekarang, aku sedang berada di tepi jurang yang dalam dengan permukaan yang sangat licin. Sedikit saja aku salah melangkah, maka hidupku akan hancur.'


__ADS_2