Korban Diri Demi Cinta

Korban Diri Demi Cinta
Part *51 (ekstra)


__ADS_3

Lima tahun kemudian.


"Papa, bisakah Elsa minta sesuatu pada papa dan mama?" tanya gadis kecil dengan tatapan penuh harap pada papanya.


"Katakan saja kamu ingin apa, sayangku! Papa akan kabulkan apa yang kamu inginkan. Tapi dengan catatan, jika papa dan mama sanggup mengabulkan apa yang kamu minta ya."


"Papa dan mama pasti sanggup kok. Elsa yakin itu, Pa."


"Ya sudah, langsung katakan saja apa yang Elsa mau. Jika memang papa dan mama bisa, maka akan kami berikan apa yang Elsa inginkan itu," ucap mamanya yang baru keluar dari rumah.


"Elsa ingin adik, Ma, Pa."


Sontak saja, kata-kata itu membuat kedua orang tua sang gadis kecil saling bertukar pandang satu sama lain selama beberapa saat. Lalu, papa sang gadis tersenyum sambil membelai rambut anaknya.


"Sayang, kalau untuk hal itu, papa sama mama mungkin gak akan bisa memberikannya buat kamu."


"Lho kenapa, Pa? Ma? Kenapa gak bisa? Temanku sudah punya adik. Kata temanku, mama dan papanya yang memberikan adik itu buat dia. Lalu, kata teman ku juga, jika aku ingin adik, aku bisa minta sama mama dan papa. Tapi kenapa sekarang mama dan papa bilang gak bisa?"


"Sayang, punya adik itu gak segampang yang kamu dan temanmu pikirkan lho. Butuh proses yang banyak. Juga butuh persiapan." Mamanya berucap dengan nada lembut.


"Iya, Nak. Lagian, punya adik itu gak enak lho. Kamu harus mengalah dalam segala hal. Kamu harus siap berbagi dalam segala hal juga. Pokoknya, gak enak lho ya."

__ADS_1


"Tapi temanku kok bilang enak punya adik, Pa?"


"Itu .... "


"Sayang, jangan mikir soal adik dulu ya. Oh ya, lebih baik kamu lihat taman mawar yang kamu dan bi Siah tanamkan kemarin. Sekarang, bi Siah sedang merawat taman itu lho, El."


"Benarkah?" Gadis itu bertanya dengan tatapan yang berbinar semang.


"Iya," ucap sang mama sambil mengangguk tanpa keraguan.


"Ya sudah kalo gitu, Elsa mau lihat bi Siah aja deh. Da mama ... papa .... Elsa ke sana dulu ya."


"Iya. Hati-hati yah. Jalan pelan jangan lari-lari."


Gadis kecil yang masih polos itupun pergi meninggalkan kedua orang tuanya. Setelah kepergian sang anak, Tora dan Tami saling pandang sebentar.


"Pa, kenapa kamu ngomong gitu pada, Elsa? Jangan buat kesan buruk soal permintaannya dong. Jika kamu gak ingin punya anak lagi, maka kamu harus cari alasan yang logis, yang bisa dia terima di usianya yang masih sangat kecil itu."


"Lagian, aneh kamu. Masa punya anak cukup satu aja," ucap Tami dengan wajah cemberut.


"Sayang, aku tidak ingin punya anak lagi karena aku gak mau lihat kamu menderita lagi. Kamu yang melahirkan dengan mempertaruhkan nyawamu, aku gak kuat lihatnya."

__ADS_1


"Tora .... "


"Sayang, aku harus jujur dengan apa yang aku rasakan, bukan? Aku tidak siap jika harus melihat kamu mempertaruhkan nyawamu untuk yang kedua kalinya. Aku benar-benar tidak siap," ucap Tora sambil memegang lembut tangan Tami.


"Bagiku, sudah cukup aku melihat kamu menderita waktu itu. Aku tidak mau lagi mengulanginya. Ada kamu dan Elsa, itu sudah sangat cukup buat membahagiakan hidupku ini."


Tami tidak mampu berucap lagi. Kata-kata yang Tora ucapkan sangat menyentuh hati terdalamnya. Ya walaupun kata-kata Tora itu sedikit berlebihan bagi orang yang mendengarnya. Namun, hal itu sangat menyentuh buat Tami.


Tami tidak bisa menahan diri untuk tidak menghambur ke dalam pelukan sang suami. Pelukan yang dulunya tidak pernah dia dambakan, tapi sekarang jadi pelukan yang begitu dia harapkan. Memberikan kehangatan, juga ketenangan yang sangat besar untuk hatinya.


Sudah lima tahun mereka hidup dengan penuh kasih sayang. Tidak ada yang berubah sedikitpun dengan perasaan masing-masing. Tidak ada yang merasa bosan, tapi malahan semakin bersemi cinta yang mereka tanam. Cinta yang berawal dari benci, namun berakhir dengan keindahan yang luar biasa.


Semuanya berubah ketika mereka belajar mencintai dengan saling terbuka satu sama lain. Itulah kenapa, hidup dalam rumah tangga harus ada yang namanya kejujuran, saling menghargai, juga saling terbuka dengan apa yang kita rasakan.


Karena pasangan kita bukan orang pintar yang tahu apa yang sedang kita rasakan. Sepeka apapun pasangan kita, tetap saja dia tidak mampu menebak apa yang ada dalam benak juga hati kita. Maka dari itu, saling terbuka adalah kunci utama nya.


________________________________________


See you ....


Babay ....

__ADS_1


Sampai jumpa di karya berikutnya teman-teman.


__ADS_2