Korban Diri Demi Cinta

Korban Diri Demi Cinta
Part *40


__ADS_3

Pertanyaan itu sontak membuat Dicky menaikkan alisnya. Dengan tatapan tak percaya juga penuh dengan pertanyaan, dia menatap wajah Tora yang terlihat begitu serius melihat dirinya.


"Apa maksudmu dengan pertanyaan itu? Apa kamu ingin bertanya, apakah aku tidak berniat untuk bertemu dengan Nining istrimu? Begitu kah?"


Tora menatap lekat wajah Dicky. Lalu, dia mengangguk pelan sambil terus melihat Dicky dengan tatapan ingin tahu.


Dicky tersenyum. Lalu, dia mengubah pandangannya dari melihat Tora beralih menatap lurus ke depan.


"Tidak, Tora. Aku tidak pernah berpikir untuk bertemu dengan Nining walau sebentar saja."


"Kenapa, Dic? Apa alasan kamu tidak ingin bertemu dengannya? Apa karena dia sudah menikah dengan aku yang jelas-jelas adalah musuh kamu? Apa karena kamu masih marah padanya karena dia telah memutuskan kamu dan memilih aku?"


"Dicky. Asal kamu tahu, dia menikah dengan aku itu demi kamu. Karena dia tidak ingin aku merebut perempuan yang kamu cintai lagi, makanya dia menjebak aku di malam tunangan kami. Dan, aku terpaksa menikah dengannya dua hari setelah malam pertunangan itu. Kenapa kamu tidak ingin bertemu dengannya, padahal dia sudah berkorban besar buat kamu? Dia rela mengorbankan dirinya hanya demi cinta yang dia miliki untukmu. Apakah kamu tidak punya rasa kasihan buat dia?"


"Tora, kenapa kamu bersikeras ingin aku bertemu dengan istrimu, padahal jelas-jelas kamu menyimpan api cemburu buat aku di matamu saat kamu minta aku bertemu dengannya barusan."


Mendengar kata-kata itu, Tora segera mengalihkan pandangannya dari Dicky. Dia berusaha mengubah wajahnya agar terlihat seperti tidak terjadi apapun. Padahal iya, dia merasakan rasa sakit saat bicara barusan.


"Aku ... tidak. Aku tidak cemburu. Jangan coba-coba menggali topik penting pembicaraan kita dengan kamu yang menuduh aku cemburu padamu, Dicky. Karena tuduhan mu itu sama sekali tidak benar."


"Tora, aku tahu kamu. Kita sudah seperti saudara sebelum kamu memilih memusuhi aku. Sadarilah, kalau kamu sekarang sudah jatuh cinta pada orang yang sedang menjadi istrimu sekarang. Akui cinta itu sebelum terlambat."


"Oh ya, jika kamu bilang aku marah padanya atau padamu. Jawabannya adalah tidak. Aku tidak marah pada kalian. Sedikitpun aku tidak marah. Aku tidak ingin bertemu dengannya karena aku sangat menghargai perasaan istriku. Aku tidak ingin menggores sedikitpun goresan pada hati istriku. Karena aku yakin, jika aku bertemu dengan Nining walau hanya sekejap saja, istriku sudah pasti akan merasa kecewa padaku walau hanya sedikit. Karena yang aku temui itu adalah mantan kekasihku. Orang yang pernah singgah dalam hatiku."


"Satu hal yang harus kamu ketahui, Tora. Hati perempuan itu sangat-sangat rapuh. Sedikit saja kesalahan yang kamu perbuat, maka dia akan merasa itu duri buat hatinya. Sulit untuk dihilangkan, dan tidak mudah untuk di sembuhkan rasa sakitnya. Jadi, aku harap kamu mengerti akan apa yang aku katakan barusan."


"Oh ya, jika kamu pulang nanti, titipkan saja salam ku buat istrimu. Katakan aku minta maaf karena telah menjadi kenangan pahit manis dalam hidupnya. Katakan juga, pernikahan kalian adalah anugerah. Karena takdir tidak akan pernah salah."


"Buat kamu, aku sarankan kamu menjaga istrimu dengan sangat baik. Kau sudah jatuh cinta. Hanya saja, ego mu terlalu tinggi untuk menyadari apa yang di namakan rasa cinta. Karena cinta itu sangat halus sekali. Singkirkan ego yang ada dalam hatimu, maka kamu akan menyadari rasa cinta yang kau miliki itu."


Belum sempat Tora menjawab perkataan panjang lebar yang Dicky ucapkan, pak Mamat datang menghampiri mereka dengan gawai di tangannya.


"Maaf mengganggu, Tuan muda. Saya ke sini untuk mengantarkan ponsel tuan muda yang sudah berbunyi sejak tadi."

__ADS_1


"Ah, iya kah? Ya Tuhan ... aku melupakannya. Aku meninggalkan ponselku di kamar tadi. Siapa yang telah menghubungi aku, pak Mamat."


"Nyonya muda, Tuan muda."


"Mm ... Tora, maaf. Aku harus bicara dengan istriku sebentar."


"Silahkan."


"Pak Mamat, tolong temani tamuku dulu ya."


"Baik, tuan muda."


"Tidak perlu, Dicky. Aku akan pulang sekarang."


"Pulang? Kenapa buru-buru?"


"Ada seseorang yang menanti aku di rumah. Aku akan bawakan apa yang dia inginkan secepatnya."


Dicky tersenyum.


"Pak Mamat, tolong ambilkan semua mangga muda yang ada di pohon itu untuk tamuku."


"Baik, tuan muda."


"Eh, tidak perlu semuanya. Itu terlalu banyak. Aku hanya minta beberapa saja. Dia tidak ingin banyak."


"Ya sudah, ambilkan sebanyak yang dia mau saja ya, pak Mamat."


"Baik, tuan muda."


"Oh ya, Tora. Aku juga punya sesuatu untuk kamu. Ini." Dicky menyerahkan map coklat yang dia ambil dari atas meja yang mereka duduki tadi.


Tora menerima dengan rasa penasaran.

__ADS_1


"Apa ini?"


"Lihat saja nanti. Maka kamu akan tahu apa isi dari map cokelat yang aku berikan."


"Oh ya, istriku sudah menunggu lama. Aku harus menghubunginya sekarang juga."


"Ah, satu hal lagi. Kau datang pagi ini hanya untuk mangga ya. Tidak untuk urusan pribadi kita yang aku katakan kemarin. Aku tunggu kamu di bandara yang sudah aku katakan besok pagi. Jika kau datang, maka permusuhan diantara kita sudah berakhir."


Dicky lalu masuk ke dalam rumah setelah memperlihatkan senyumnya pada Tora. Sementara Tora, dia diam mematung sambil memikirkan apa yang Dicky katakan barusan. Map cokelat itu membuat dia merasa penasaran. Tapi dia tidak bisa membukanya sekarang. Karena dia harus memperlihatkan kesabarannya di sini. Tepatnya, di depan pekerja yang sedang memetik mangga untuknya.


Lalu, tanpa dia sadari, orang suruhan Dicky yang ditugaskan untuk menggambil mangga sudah selesai melakukan tugasnya. Laki-laki paruh baya itu membawa setengah goni mangga di tangannya.


"Mas, ini mangga nya," ucap laki-laki itu sambil mengangkat goni.


"Ya Tuhan. Banyak sekali pak Mamat. Aku hanya minta beberapa buat aja kok. Gak perlu sampai sebanyak ini." Tora berucap dengan nada kaget.


"Gak papa, Mas. Nanti juga gak akan ada yang memakannya kalo dibiarkan di sini. Soalnya, yang suka mangga kampung itu nyonya muda. Lah sekarang, nyonya muda nya gak ada di rumah ini. Jadi, akan mubazir begitu saja kalo sudah masak nanti."


"Ah, ya sudah kalo gitu. Terima kasih banyak. Bisa bantu saya bawa sampai ke mobil gak?"


"Bisa, Mas. Saya antar kan sekarang ya."


"Ya. Ayok!"


Tora lalu mengikuti langkah kaki pak Mamat menuju mobil. Dia melihat rumah itu sebelum dia benar-benar pergi.


"Terima kasih, pak Mamat. Sudah mau bantu saya."


"Iya, Mas. Sama-sama."


"Oh ya, sampaikan juga ucapan terima kasih saya pada Dicky. Terima kasih banyak buat semuanya."


"Baik, Mas. Akan saya sampaikan apa yang mas katakan pada tuan muda saya."

__ADS_1


__ADS_2