Korban Diri Demi Cinta

Korban Diri Demi Cinta
Part *36


__ADS_3

Ina menatap Tora dengan tatapan kecewa selama sesaat. Lalu kemudian, dia tertawa terbahak-bahak sambil melihat Tora.


"Ekspresi kamu luar biasa jeleknya lho, Tora. Benar-benar terlihat seperti seorang yang sedang ketakutan. Hei ... aku tidak serius dengan apa yang aku ucapkan, tau gak? Aku hanya bercanda saja. Tidak perlu menanggapi perkataan ku terlalu berlebihan seperti barusan."


"Apa maksud kamu?"


"Tentu saja tidak ada maksud lain selain bercanda. Aku hanya bercanda padamu karena kita sudah lama tidak bertemu. Aku pikir, tidak ada salahnya jika aku bercanda. Iyakan?"


Tora tidak menjawab. Dia hanya memberikan Ina tatapan tak mengerti atas semua yang Ina lakukan barusan. Sebenarnya, dia tidak ingin bicara terlalu lama dengan perempuan ini. Tapi, perempuan ini sungguh pandai menahan dia dengan kata-kata yang sama sekali dia tidak pahami entah mengapa bisa begitu membuat dirinya merasa kaku sampai tidak bisa melangkah.


"Ina. Jangan main-main dengan aku. Aku bukan laki-laki liar yang pernah kamu taklukan di luar sana. Kamu tidak bisa mengajak aku bercanda dengan perasaan. Karena aku tahu, kamu sedang mengelabui aku dengan kata-kata yang kamu anggap candaan itu."


Wajah Ina sedikit berubah. Dia tidak menyangka kalau Tora bisa berucap dengan kata-kata yang sama sekali tidak suai dengan apa yang dia pikirkan. Karena biasanya, para laki-laki yang pernah dia dekati, selalu bisa dia kuasai dengan trik ini. Mengubah keseriusan dengan candaan saat keseriusan itu tidak mendapatkan tanggapan positif.


Tapi kali ini, sepertinya dia gagal. Yang terjadi malah kebalikan dari apa yang dia harap juga pikirkan. Tora tidak bisa dia bohongi ternyata.


"Tora .... "


"Ina, aku datang ke sini karena ingin menanyakan hal penting padamu. Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya, jawab dengan jujur pertanyaan yang akan aku tanyakan padamu."


"Mau tanya apa sih, Tora? Dari tadi gak nanya-nanya juga. Kamu sengaja ya, ingin nahan aku biar lama-lama di .... "


"Ke mana kamu bawa mobil aku saat kamu pinjamkan waktu itu? Jawab aku dengan jujur!"


Ina sedikit merasa cemas. Dia berusaha sebisa mungkin untuk tetap tenang. Dia berikan senyum termanis yang dia miliki buat meluluhkan hati Tora yang sedang kesal.

__ADS_1


"Kan usah aku katakan saat aku ingin pinjam mobil kemarin. Aku pinjam mobil kamu buat pulang kampung. Kamu juga sudah tahu hal itu bukan? Jadi, kenapa kamu tanyakan lagi sekarang?"


"Kamu pulang kamu?"


"Iya. Aku pulang kampung. Kenapa? Ada yang salah?"


"Ada. Kampung siapa yang kamu datangi? Kampung kamu, atau kampung istriku?"


Ina menatap Tora dengan tatapan yang sulit untuk Tora tebak maksud dan artinya. Tapi, dia bisa melihat kalau perempuan itu sedang merasa gelisah.


Sementara Ina, dia memang sedang berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang. Padahal, dia memang sedang sangat gelisah sekarang.


'Mati aku kalau kayak gini. Tora sebenarnya sudah tahu atau belum semua yang terjadi itu karena ulahku? Jika iya, aku bisa dia seret ke kantor polisi sekarang juga. Tidak. Aku tidak boleh kalah sekarang. Hal besar yang sudah aku lalui hanya akan sia-sia jika aku kalah. Lagian, masa iya aku kalah hanya melawan perempuan jelek yang sama-sama datang dari kampung itu? Ah! Tidak-tidak. Tidak boleh dibiarkan seperti ini. Aku harus cari cara buat mundur terlebih dahulu. Baru kemudian maju lagi jika keadaan sudah aman.'


Mendengar ucapan Tora barusan. Ina malah tertawa. Dia sudah memikirkan apa yang harus dia lakukan sekarang soalnya.


"Ha ... ha ... ha ... kabur? Siapa yang ingin kabur? Aku? Ya jelas tidak. Lagian, untuk apa aku harus kabur? Orang aku tidak merasa punya salah apapun sekarang."


"Jangan pura-pura, Ina. Aku tahu kejahatan apa yang sudah kamu lakukan pada istriku. Untuk itu .... "


"Untuk itu apa? Hm? Apa Tora? Katakanlah!"


"Aku akan bawa kamu ke kantor polisi untuk mempertanggung jawabkan apa yang sudah kamu lakukan pada istriku. Sekarang juga."


"Hei ... kamu bicara yang benar saja Tora. Aku tidak pernah melakukan kejahatan apapun pada istrimu. Dan jika pun ada, maka kamu harus punya bukti untuk menyeret aku ke kantor polisi."

__ADS_1


"Aku menyesal bertemu kamu hari ini. Niatnya, aku bertemu untuk melepas rindu karena kita sudah lama tidak bertemu. Tapi, kamu malah bicara yang tidak-tidak di depan aku. Bicara hal yang sama sekali tidak aku mengerti. Benar-benar buang-buang waktuku saja buat datang ke sini. Aku pergi sekarang."


Selesai berucap, Ina segera melangkah meninggalkan Tora di taman itu. Tora tidak mencegah kepergian Ina barusan karena dia sedang sibuk memikirkan apa yang perempuan itu katakan barusan.


Dia mendadak kesal dengan dirinya sendiri yang sudah benar-benar tidak berguna. Memecahkan satu masalah yang sedang dia hadapi saja tidak bisa. Bagaimana jika ada banyak masalah yang datang? Apakah dia akan diam dengan menahan diri tanpa bisa melakukan apapun?


"Sial!" Tora berucap kesal sambil menendang kursi besi yang di sampingnya.


"Kenapa sungguh sulit sekali buat aku menyelesaikan masalah ini, ha? Apa memang tidak akan pernah bisa aku selesaikan sampai mati? Agh! .... "


Seseorang yang sedang mengamati Tora sejak pertama kali Tora datang ke taman ini, sekarang memilih turun dari mobil. Orang itu berjalan mendekat untuk menghampiri Tora yang sedang sangat gusar dengan masalah yang sedang dia alami.


Orang itu tak lain adalah, Dicky. Awalnya, dia marah dengan apa yang pertama kali dia lihat. Tapi, setelah sama-samar mendengar pembicaraan Tora dengan Ina dari dalam mobil, dan dia juga sudah melihat seperti apa wajah kesal yang Tora perlihatkan, dia pun memilih turun untuk menghampiri Tora.


Dicky sampai, dia langsung menepuk pelan bahu Tora. Hal itu sontak membuat Tora kaget, tapi tidak lama. Karena sebelumnya, dia sudah mendengar langkah kaki yang datang menghampiri dia.


"Untuk apa kamu datang ke sini? Apa kamu ingin menertawai aku, Dicky?"


"Apa yang kamu katakan? Bukankah aku sudah pernah bilang padamu untuk melupakan masalah yang telah terjadi diantara kita? Dan aku juga pernah bilang, bisakah kita berbaikan kembali seperti sebelumnya? Aku ingin mengakhiri permusuhan diantara kita sebelum aku kembali ke luar negeri, Tora."


"Kamu ingin kembali? Kapan?"


"Lusa. Untuk itu, aku datang nyari kamu. Tapi malah bertemu kamu di sini. Dan .... "


"Aku sedang punya masalah besar dengan perempuan itu. Sayangnya, aku tidak punya bukti untuk menjobloskan dia ke kantor polisi. Jadi, jangan bertanya siapa dia. Jawabannya, dia adalah musuhku."

__ADS_1


__ADS_2