Korban Diri Demi Cinta

Korban Diri Demi Cinta
Part *25


__ADS_3

Tora terdiam. Sementara Nining, dia terus menangis di dalam kamar kamar. Dia mendengarkan dengan sangat baik apa yang Tora dan mama mertuanya bicarakan. Tapi, hati marahnya buat Tora tetap sama. Tetap tidak berubah sedikitpun.


____


Satu minggu telah berlalu. Dia masih tetap berada di rumah itu karena beberapa alasan. Namun, dia seperti sedang sangat menjaga jarak dengan Tora. Tidak pernah sedikitpun bicara dengan laki-laki itu. Dia selalu saja menghindar dari Tora bagaimanapun caranya.


Tapi, dia masih tetap melakukan tugasnya dengan baik. Walaupun sekarang, dia hanya sebatas membantu bi Siah mengerjakan semua tugas itu saja.


Seperti pagi ini, Nining sibuk membantu bi Siah memasak sarapan di dapur. Namun, saat bi Siah menumis bawang, Nining tiba-tiba merasa tidak enak pada perutnya. Dia terdiam seketika dengan satu tangan yang memegang perut, sedangkan satu tangan lagi memijat kepalanya sendiri.


Bi Siah yang menyadari perubahan itu, segera mematikan kompor gas untuk menunda pekerjaannya. Dengan cepat, dia menghampiri Nining.


"Tami, apa kamu baik-baik saja? Jika tidak enak badan, kamu bisa istirahat sekarang," ucap bi Siah sambil menyentuh pundak Nining dengan lembut.


"Aku gak papa kok, Bik."


"Beneran kamu gak papa, Mi? Tapi aku lihat, wajah kamu sangat pucat beberapa hari ini."


"Beneran, bik. Aku gak papa. Aku cuma kelelahan saja. Mungkin, wajahku pucat sekarang akibat kurang tidur. Tidak perlu di pikirkan."


Obrolan antara bi Siah dengan Nining itu di dengar oleh Tora yang baru saja sampai ke meja makan. Dia yang ingin duduk, langsung membatalkan niatnya. Dia terus berdiri sambil memperhatikan istrinya yang tidak menganggap dia ada sekarang.


"Lanjutkan saja lagi masaknya, Bik. Jangan hiraukan aku. Aku gak papa."


"Ya sudah. Jika tidak enak badan, langsung bilang padaku ya."


"Iya. Tidak perlu cemas."


Bi Siah kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Nining, dia mencoba beranjak dari tempat di mana dia berdiri sebelumnya. Namun, pandangannya yang tiba-tiba berkunang-kunang membuat tubuhnya terhuyung seketika.


"Tami!" Tora berteriak sambil berlari untuk menyambut tubuh mungil itu.


Namun, Nining yang masih setengah sadar itupun segera menahan langkah Tora dengan mengangkat satu tangannya.

__ADS_1


"Jangan mendekat! Aku tidak ingin kamu menyentuh aku."


"Kamu sedang tidak sehat, Tami. Tolong lupakanlah sebentar saja perselisihan diantara kita."


"Aku baik-baik saja. Tidak ingin kamu sentuh sedikitpun. Tolong minggir. Aku ingin lewat."


"Tami."


"Minggir, Tora. Aku tidak suka bicara dengan kamu. Apalagi lagi kamu menyentuh aku. Apa kamu mengerti?"


Tora menarik napas dalam-dalam. Lalu melepaskan napas itu perlahan. Itu dia lakukan agar hatinya bisa sabar dengan perlakuan Nining yang selalu tidak menganggap ada dirinya.


"Silahkan." Tora berucap sambil beranjak dari hadapan Nining.


Nining tidak ingin membuang waktu. Dia ingin segera meninggalkan dapur karena Tora ada di sana. Namun, tiba-tiba saja, pandangannya kembali berkunang-kunang. Bahkan, sekarang semakin kuat dan akhirnya, dia hilang kesadaran.


Tubuh mungil itu terjatuh begitu saja sesaat setelah pemiliknya berhenti melangkah. Tora yang kebetulan ada di belakang Nining, langsung memutar tubuh untuk menahan tubuh itu agar tidak terjatuh ke lantai.


Tora berusaha menyadarkan Nining dengan menyentuh lembut pipi perempuan itu. Tapi, itu tidak akan berhasil. Karena sekarang, Nining sama sekali tidak bisa mendengarkan apapun yang dia katakan.


"Den Tora, apa yang telah terjadi dengan Tami? Kenapa dia bisa pingsan seperti ini?"


"Aku juga tidak tahu, Bik. Sekarang, bibi panggilkan dokter Fahri. Minta dia datang ke sini buat memeriksa keadaan, Tami. Aku akan bawa Tami ke kamarnya sekarang."


"Baik, Den."


Tora langsung mengangkat tubuh mungil itu dengan menggendongnya. Dia akan memindahkan tubuh istrinya ke kamar sang istri. Karena kamar itu tidak terlalu jauh dan masih berada di lantai dasar.


Setelah meletakkan tubuh sang istri ke atas kasur, dan dia selimut kan dengan selimut, Tora langsung menyentuh dan menggenggam erat tangan sang istri. Dia tatap wajah sayu yang sedang terlelap itu dengan penuh rasa sedih.


"Kenapa, Tami? Kenapa kamu tidak pernah mau percaya apa yang aku katakan padamu? Kenapa kamu terus memusuhi aku? Sudah jelas-jelas aku bukan dalang dari kecelakaan yang orang tuamu alami. Tapi kamu tidak pernah mau percaya."


"Kau tahu, aku sungguh sakit saat ini. Sangat-sangat sakit sekali."

__ADS_1


Tora lalu mencium tangan itu dengan penuh kasih. Kesedihan juga kesakitan terlihat dengan sangat jelas di raut wajah yang Tora perlihatkan saat melihat wajah sang istri yang sedang terbaring lemah di hadapannya.


"Sekarang, apa lagi yang kamu alami? Tubuhmu terlihat semakin kurus saat ini. Wajahmu begitu pucat seperti orang yang tidak memiliki aura kehidupan. Kau terluka. Aku tahu itu. Tapi, kamu juga harus kuat. Harus menjalani hidup dengan baik, Tami."


"Kau tahu, dirimu sudah tiga kali pingsan selama kepergian orang tuamu. Hal itu membuat aku merasa sangat takut. Aku takut akan apa yang tidak diinginkan terjadi pada dirimu. Tolong, mengertilah aku. Jangan buat aku merasa cemas lagi dan lagi."


Tora terus bicara dengan Nining yang tidak akan pernah menjawab apa yang dia katakan.


Tanpa dia sadari, bi Siah sudah memperhatikannya sejak tadi.


Bi Siah juga memasang wajah sedih. Dia seakan ikut merasakan kesedihan yang Tora rasakan saat ini.


'Kasihan Den Tora, Tuhan. Apa tidak bisa memberikan Den Tora sedikit kebahagiaan? Aku sangat sedih melihat nasibnya yang terus-terusan merasakan kesedihan selama dia hidup di dunia ini. Dia sudah cukup menderita saat kehilangan adik yang paling dia sayangi. Dan sekarang, apa dia harus disiksa lagi dengan kehidupan rumah tangganya yang berantakan dan kacau balau seperti ini?' Tolong jangan. Aku mohon.' Bi Siah berucap dalam hati sambil terus memperhatikan dan mendengarkan apa yang Tora ucapkan.


Bunyi klakson mobil membuat bi Siah segera beranjak menuju pintu. Dia begitu bersemangat membukakan pintu tersebut untuk menyambut kedatangan dokter Fahri yang beberapa saat dia hubungi tadi.


Benar saja, dokter Fahri yang datang. Bi Siah langsung mempersilahkan dokter Fahri masuk.


"Di mana Mas Tora, Bik?" tanya dokter tersebut sambil tersenyum manis.


"Den Tora di kamar istrinya, dokter."


"Kamar istrinya? Maksud bibi?"


"Tidak ada. Maksud bibi itu, di kamar. Maaf, kelewatan nyebut. Panik soalnya," ucap bi Siah beralasan.


"Oh. Bikin deg-degan aja si bibi ini."


"Maaf, dokter. Oh iya, ini kamarnya. Kita sudah sampai."


"Den, dokter Fahri sudah sampai," ucap Bi Siah mengingatkan Tora yang masih diam di depan sang istri yang sedang terbaring pingsan.


Tora langsung bangun dari duduknya. Dia meletakkan tangan Nining di atas perut, kemudian langsung menyapa dokter Fahri.

__ADS_1


__ADS_2