Korban Diri Demi Cinta

Korban Diri Demi Cinta
Part *22


__ADS_3

Nining sedang menanti kedatangan bi Siah di teras rumah ketika ponsel yang dia punya berdering. Nining segera menjawab panggilan dari salah satu tetangga yang dekat dengan rumah orang tuanya di kampung. Tetangga tempat dia sering menanyakan kabar dari orang tuanya jika orang tuanya tidak menjawab panggilan darinya.


"Halo, mbak Yah."


"Halo, Ning. Mbak punya kabar duka buat kamu."


Deg, jantung Nining berdetak sedikit kencang.


"Kabar duka apa, mbak? Jangan bikin aku takut."


"Maaf, Ning. Mbak harus katakan kabar perih ini pada kamu. Karena kamu sebagai anak wajib tahu. Ning, orang tuamu sudah tidak ada lagi. Mereka ... mereka sudah meninggal."


Bak tersambar petir di siang hari, Nining tidak mampu berucap sepatah katapun lagi. Ponsel yang awalnya berada dalam genggaman, kini terjatuh perlahan bersama air mata yang tumpah tak terbendung lagi.


"Tidak. Ini tidak mungkin." Nining berucap lirih sambil tubuhnya perlahan terjatuh ke bawah.


"Tidak ....!"


Nining berteriak histeris. Bi Siah yang baru saja turun dari taksi online itu bergegas berlari untuk melihat apa yang terjadi. Dia mengabaikan barang bawaan yang dia bawa dari kampung halamannya.


"Kenapa, Tami? Ada apa? Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis seperti ini?"


Nining mengangkat kepalanya untuk melihat bi Siah.


"Bi Siah. Orang tuaku ... orang tuaku, bik. Mereka sudah pergi."


"Apa?" Bi Siah terlihat kaget. Dia langsung memeluk Nining dengan erat. "Sabar, Tami. Sabar. Kuatkan hatimu, Nak."


Tidak bisa berucap apa-apa lagi, Nining hanya bisa menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan bi Siah. Mereka berpelukan beberapa menit lamanya dengan bi Siah yang terus berusaha menenangkan Nining sekuat yang dia bisa.


Setelah beberapa lama, Nining pun akhirnya sedikit tenang. Dia bergegas bagun dari pangkuan bi Siah untuk bersiap-siap pulang kampung.


"Kamu langsung pulang sekarang, Mi? Tidak nunggu Den Tora lagi?"

__ADS_1


"Tidak, Bik. Aku langsung pulang sekarang saja. Aku tidak yakin kalau Tora bersedia ikut aku pulang. Jadi, untuk apa aku tunggu dia?"


"Tapi .... "


"Aku pergi sekarang, Bik." Nining berucap cepat sambil melangkahkan kakinya keluar dari rumah.


"Iya. Hati-hati dijalan, Tami."


Nining hanya menjawab dengan anggukan saja. Dia terus berjalan cepat menuju taksi online yang dia pesan beberapa menit yang lalu.


Bi Siah terus melihat kepergian Nining sampai taksi yang Nining tumpangi tidak terlihat lagi. Saat dia memutuskan untuk masuk ke dalam rumah, tiba-tiba mobil Tora memasuki halaman. Bi Siah terpaksa membatalkan niatnya buat masuk ke dalam. Dia menunggu Tora sampai keluar dari mobil tersebut.


"Den Tora."


"Di mana Tami sekarang, Bik? Apa dia masih ada di dalam?"


"Tami sudah pergi, Den. Baru saja."


"Ya Tuhan ... aku telat ternyata. Kenapa dia tidak nunggu aku pulang dulu baru pergi sih, bik? Kan aku sudah bilang sama bibi untuk katakan pada Tami tunggu aku pulang."


"Ya Tuhan ... apa perempuan itu tidak tahu bahasa yang aku gunakan? Sudah jelas-jelas aku bilang tunggu aku, itu tandanya, aku ingin ikut pulang dengan dia. Ya ampun."


"Maafkan Tami, Den. Dia sedang sangat terpukul. Jadi, tolong salahkan dia. Dia sedang tidak bisa berpikir dengan baik saat ini."


"Aku tidak akan menyalahkan dia, bik. Aku hanya sedikit kesal dengan sikapnya yang tidak bisa diajak baik. Oh ya, dengan apa dia pulang?"


"Taksi online, Den."


"Ya sudah. Aku juga harus segera pergi, Bik. Semoga aku bisa menemukan dia. Bilang sama mama papa, aku pergi duluan. Maaf aku terpaksa merepotkan bi Siah untuk ngomong. Aku gak punya waktu buat pegang ponsel sekarang."


"Tidak masalah, Den. Bibi tidak merasa direpotkan oleh Den Tora. Pergilah, hati-hati dijalan. Semoga bertemu dengan Tami."


"Ya, Bik."

__ADS_1


Tora langsung menjalankan mobil meninggalkan halaman rumahnya. Dia mengendarai mobil dengan kecepatan sedang melintasi jalan raya yang ramai.


"Sial! Jika tidak menunggu Ina mengembalikan mobil, aku sudah pasti pulang sejak tadi. Aku tidak akan ditinggalkan Tami seperti ini. Ah ... semoga tidak terjadi apa-apa dengan dia di jalan."


***


Akhirnya, mobil yang Tora kendarai sampai juga di kediaman orang tua Nining. Saat mobil itu baru saja terparkir di halaman rumah, Tora juga masih belum keluar, salah seorang warga langsung menghampiri mobil Tora. Warga itu memperhatikan dengan seksama mobil tersebut.


Tapi, dia tidak langsung bicara. Dia menyembunyikan apa yang dia tahu karena merasa tidak enak untuk membuat keributan.


Sementara itu, Tora langsung turun dari mobil. Saat dia baru saja menginjakkan kakinya di depan pintu rumah, Nining yang sedang menangis langsung menatap tajam ke arah Tora.


Nining sudah sampai di rumah hampir setengah jam yang lalu. Dia sudah diceritakan bagaimana kejadian dan sebab meninggalnya ayah dan ibunya.


Saat mendengarkan cerita dari mbak Yah, orang yang telah menghubungi dia tadi, dia langsung memutuskan siapa tersangkanya. Dia memikirkan kalau Tora adalah pelaku dari kecelakaan yang orang tuanya alami. Karena sejak kemarin, hanya Tora yang selalu mengancam dia dengan keselamatan orang tuanya.


"Pembunuh! Kamu telah membunuh orang tuaku!" Nining berteriak keras sambil bangun dari duduknya.


Nining langsung menghampiri Tora dengan tatapan tajam. Lalu ... plak! Sebuah tamparan keras dia hadiahkan buat Tora.


"Pergi kamu sekarang juga! Kamu telah membunuh orang tuaku, bajingan!"


Nining langsung mendorong Tora sekuat tenaga. Tenaga yang datang bersama emosi itu terasa cukup kuat. Tora sampai harus mundur beberapa langkah ke belakang karena dorongan itu.


"Tami, cukup! Aku tidak membunuh orang tuamu. Jangan sembarangan bicara kamu ya."


"Kamu tidak mau mengaku, ha? Orang tuaku meninggal bukan karena kecelakaan biasa. Tapi, karena ditabrak oleh orang. Sengaja ditabrak! Kamu paham!"


"Aku tidak ada musuh selain kamu, Tora. Orang tuaku juga tidak punya salah dengan siapapun. Tidak akan ada yang mau mencelakai orang tuaku jika bukan kamu. Karena selama ini, hanya kamu yang terus mengancam aku dengan keselamatan orang tuaku. Sekarang ...."


"Cukup, Tami! Jangan teruskan kata-kata gila yang tidak punya perasaan itu. Aku bukan musuh mu, Tami. Aku suami kamu. Hampir satu tahun kita menikah, kenapa sekarang baru orang tuamu meninggal? Padahal aku sudah ancam kamu sejak awal pernikahan kita bukan?"


"Karena sekarang kamu baru punya kesempatan."

__ADS_1


"Tidak ada artinya kata-kata itu, Tami. Aku hanya mengancam, tapi aku tidak melakukan. Karena aku masih waras, tidak gila seperti kamu. Main tuduh suami sendiri tanpa berpikir apa yang orang lain pikir tentang aku."


"Kamu bukan suamiku. Kamu musuh ku, Tora. Musuhku."


__ADS_2