Korban Diri Demi Cinta

Korban Diri Demi Cinta
Part *32


__ADS_3

Bi Siah melihat Tami dengan tatapan aneh.


'Sudah jelas-jelas perhatian juga sangat peduli. Tapi mengapa tidak ingin dilihat dan tidak ingin diketahui. Benar-benar aneh pasangan ini.'


Bi Siah pergi sambil menggelengkan kepalanya tanda tak mengerti.


'Ya Tuhan, apakah pasangan muda sekarang semua seperti ini? Benar-benar membingungkan saja,' kata bi Siah lagi dalam hati.


Bi Siah lalu mencari keberadaan Tora untuk mengikuti apa yang Tami katakan. Karena tidak menemukan Tora dilantai bawah, bi Siah langsung naik ke lantai atas. Tempat tujuannya adalah kamar Tora.


Sampai di sana, dia tidak langsung mengetuk pintu kamar. Dia melihat Tora sedang duduk termenung di samping ranjang dari celah pintu yang sedikit terbuka.


'Kasihan sekali Den Tora sekarang. Sepertinya, beban berat yang sedang dia pikul terlalu berat sampai dia tidak sanggup untuk bangun. Andai saja aku bisa bantu, mungkin akan lebih baik. Tapi sayangnya, aku tidak bisa.'


Bi Sial langsung mengetuk pintu kamar sambil berucap, "Den, apa bibi boleh masuk sekarang?"


"Masuk saja, Bik. Pintunya tidak aku kunci," ucap Tora tanpa beranjak juga tidak menoleh sedikitpun.


Tanpa berucap kata-kata lagi, bi Siah langsung masuk ke dalam kamar. Dia membawa kotak obat di tangannya sekarang. Hal itulah yang membuat Tora sedikit tertarik untuk mengetahui maksud dan tujuan dari kedatangan bi Siah ke kamarnya.


"Ada perlu apa, bik? Kenapa nyari aku sampai ke kamar? Dan, untuk apa kotak obat itu?"


"Ini .... "


'Aduh, bagaimana cara ngomongnya ya? Tami minta aku jangan bilang apa-apa. Tapi cara bilang pada Den Tora itu bagaimana jika aku tidak bawa nama Tami? Haduh ... bikin pusing aja deh egonya kalian ini pasangan muda.'


Tora melihat bi Siah yang diam dengan menggantungkan kalimatnya. Hal itu membuat dia semakin tak sabar lagi untuk mengetahui maksud dari asisten rumah tangganya itu.


"Bibi. Kenapa diam?"


"Eh, tidak. Maaf, Den Tora. Bibi ... aduh. Itu ... lukanya."


"Luka?"


"Ya, luka pada tangan Den Tora itu. Sini, biar bibi obat kan."

__ADS_1


"Tahu dari mana bibi kalau aku ada luka pada tangan?"


"Itu .... Oh, tidak tahu dari siapa-siapa. Bibi lihat sendiri tadi. Makanya, bibi berinisiatif sendiri untuk membantu mengobati luka Den Tora."


Tora tersenyum kecut. Dia sesungguhnya sudah tahu kalau bi Siah datang bukan atas kemauan sendiri. Melainkan, atas permintaan seseorang yang tidak ingin terlihat perhatian pada dirinya.


"Aku harus katakan satu hal buat bibi. Bi Siah, bibi tidak pintar dalam berbohong. Jadi, jangan bohong, bik."


Seketika, wajah grogi bi Siah berubah jadi merah karena takut. Dia begitu tidak enak hati karena sudah ketahuan oleh majikannya kalau dia sedang berbohong.


"Den .... "


"Gak papa, Bik. Aku gak akan marah sama bibi atau sama siapapun. Tapi, maaf. Aku tidak ingin bibi obati lukaku ini. Biar saja dia mengering dengan sendirinya. Dan, jika ada orang yang peduli dengan keadaanku, maka aku ingin dia sendiri yang turun tangan buat menunjukkan perhatiannya padaku. Biarkan dia sendiri yang ngobatin lukaku ini."


"Baiklah kalau gitu, Den. Bibi pamit sekarang. Biar bibi urus masalah kerjaan bibi yang sedang menumpuk saja dulu ya."


"Ya, bik. silahkan."


Tora kembali melanjutkan apa yang dia lakukan sebelumnya setelah kepergian bi Siah dari kamarnya. Dia kembali menerawang dengan pikiran yang penuh beban menatap lurus menembus jendela kamarnya.


'Tuhan ... sampai kapan aku harus hidup dengan luka seperti ini? Apakah tidak ada kata bahagia buat aku barang sedikit saja? Aku juga ingin bahagia, Tuhan.'


***


Sebelum makan malam, Tora menyempatkan diri untuk merawat Tami terlebih dahulu. Dia datang ke kamar itu dengan segelas susu dan sepiring nasi yang sudah bi Siah sediakan di dalam napan.


Pintu yang tertutup rapat membuat Tora tidak ingin Tami kaget lagi. Dia langsung mengetuk pintu kamar itu sebelum masuk ke dalam.


"Masuklah. Pintu tidak dikunci," ucap Tami dengan nada pelan.


Tora langsung mengikuti apa yang pemilik kamar katakan. Dia masuk ke dalam sambil berusaha menenangkan hati agar tidak terlihat seperti orang yang sedang banyak pikiran.


"Tami, waktunya makan malam. Kamu harus makan yang banyak agar kamu dan janin mu sehat."


Tami memperhatikan wajah Tora, lalu beralih melihat apa yang Tora bawa.

__ADS_1


"Makan? Aku tidak ingin makan sekarang. Tidak punya selera."


"Tami, ayolah. Makan sedikit saja agar kamu punya tenaga. Pikirkan anak yang ada dalam kandungan mu itu. Dia butuh asupan makanan agar bisa berkembang."


"Jangan paksa aku, Tora. Apa kamu tidak dengar apa yang aku katakan barusan? Aku tidak ingin makan karena aku tidak punya selera sekarang. Apa kamu mengerti dengan apa yang aku katakan ini?"


"Tami, sedikit saja."


Tami merasa sangat kesal karena paksaan itu. Dia tatap Tora yang sedang berada di sampingnya dengan tatapan tajam.


"Baiklah, aku akan makan. Tapi dengan satu syarat. Jika kamu penuhi syarat yang aku ajukan, maka aku akan makan."


"Baik. Katakan apa syaratnya. Aku akan turuti jika mampu."


"Aku ingin kamu minum susu itu. Kamu tidak suka susu, bukan? Jadi, jika kamu minum, maka aku akan makan. Kita impas."


Tora menatap Tami dengan tatapan yang tak bisa Tami pahami. Lalu, dia memindahkan pandangannya dari Tami ke gelas susu yang ada di hadapannya.


"Kamu yakin ingin aku minum susu ini, Tami? Apakah nantinya kamu tidak akan merasa menyesal?"


"Pertanyaan seperti apa itu, Tora? Tentu saja aku yakin. Sudah aku katakan kalau kita akan impas jika kamu minum susu itu, maka aku makan makanan yang kamu bawa."


"Baiklah. Aku akan minum susu ini. Tapi, tolong jangan ingkar janji. Harus makan makanan mu sampai habis. Biar kamu dan calon bayiku punya gizi."


"Hm .... "


Tora lalu mengambil gelas itu dengan sangat gemetar. Dia tatap gelas itu sesaat, lalu dia kembali melihat Tami yang sekarang tidak sedang memandang dirinya.


'Jika ini yang kamu inginkan, maka aku akan penuhi keinginan itu. Meskipun aku sendiri yang akan jadi korbannya.'


Selesai berucap kata-kata itu dalam hati, Tora segera meneguk susu yang ada di tangannya. Dia minum dengan mata tertutup sambil memaksakan diri supaya bisa menelan susu putih tersebut tanpa memuntahkannya.


Susu itu berhasil Tora habiskan tanpa tersisa.


"Aku sudah selesai. Sekarang giliran kamu buat makan. Tapi sepertinya, aku tidak bisa menemani kamu makan. Aku harus keluar sekarang juga."

__ADS_1


__ADS_2