
"Tapi Den, bukankah den Tora sangat menginginkan bayi itu lahir ke dunia?"
"Iya, aku sangat menginginkan anakku agar bisa lahir ke dunia untuk menemani hidupku yang sunyi ini. Tapi, nyawa Tami juga sangat berharga."
"Aku tidak bisa mengorbankan hidup Tami hanya karena keinginanku. Karena Tami juga berhak bahagia dengan hidupnya kelak."
"Dokter, selamatkan istriku."
"Baik, Mas. Jika itu pilihannya, tolong tanda tangan kertas ini," ucap dokter itu sambil menyodorkan selembar kertas putih yang berisikan pengakuan atas apa yang telah kedua belah pihak sama-sama sepakati.
Tora tidak menunggu lama lagi. Dia langsung menandatangani surat tersebut. Dokter itu kembali masuk ke dalam, lalu menutup pintu ruang tersebut setelah mendapat apa yang dia inginkan.
Sementara itu, Tora yang telah melakukan pilihan sesuai dengan kata hatinya, kini bersandar di tembok dengan wajah yang sangat sedih. Lalu, tiba-tiba tubuh itu jatuh merosot ke bawah. Bukan karena menyesal dengan apa yang sudah dia pilihkan. Tapi karena merasa sedih dengan takdir yang seakan tidak pernah bersahabat dengannya. Selalu memberikan dia pilihan yang sulit, dan selalu membuat dia harus kehilangan lagi dan lagi.
Mama Tora segera menghampiri anaknya. Lalu, menarik tubuh lemah itu ke dalam pelukan hangat agar bisa meringankan beban yang sang anak derita.
"Sabar, Nak. Mungkin ini cobaan untuk kamu agar kamu bisa lebih dewasa lagi. Kamu adalah laki-laki tangguh yang pasti akan mendapatkan kebahagiaan kelak. Mama dukung apa yang kamu pilih. Karena mama tahu, pilihan kamu pasti yang terbaik."
"Ma ... rasanya sakit sekali berada di situasi sulit seperti ini. Aku menyayangi dia. Tapi ... dia berhak bahagia. Karena selama ini, dia sudah banyak menderita karena aku."
"Jangan ingatkan hal itu dulu. Anggap saja ini hanya ujian. Cobaan untuk menjadi laki-laki kuat lagi nantinya. Lagian, kamu masih muda, Nak. Jalan yang akan kamu tempuh juga masih sangat panjang bukan."
Tora tidak menjawab. Dia hanya diam dengan membenamkan wajahnya ke dalam pelukan sang mama. Entah berapa lama dia diam di dalam pelukan hangat yang membuat dia sedikit merasakan kenyamanan, yang jelas, dia merasa tidak ingin melepaskan pelukan hangat itu.
Tapi tiba-tiba, mereka yang ada di depan ruang persalinan itu dikagetkan dengan suara tangisan bayi yang cukup keras. Sontak saja, wajah sedih tak bersemangat yang mereka perlihatkan langsung berganti dengan wajah kaget dan penuh tanda tanya. Mereka saling pandang satu sama lain dengan wajah yang benar-benar kebingungan.
__ADS_1
"Mama .... " Tora berucap dengan nada penuh semangat.
Karena rasa penasaran, juga rasa takut yang sedang menghampiri hatinya, Tora segera bangun. Lalu, tanpa pikir panjang lagi, dia langsung menerobos masuk ke dalam ruangan tersebut. Itu terjadi karena Tora tidak bisa menguasai dirinya lagi karena rasa penasaran sudah menguasai hati.
"Tora." Mama berusaha mencegah. Tapi sayang, sudah terlambat. Tora sudah masuk ke dalam sebelum panggilan mama terucap.
Langkah Tora terhenti seketika saat matanya melihat sesuatu yang begitu menghangatkan hati. Tubuh yang dia miliki seakan membeku tanpa bisa berucap satu patah katapun. Air mata perlahan merembes jatuh melintasi pipi. Tora menangis. Benar-benar menangis.
Tapi, itu bukan tangisan sedih karena kehilangan sesuatu. Melainkan, tangisan harus akan apa yang sedang dia lihat saat ini. Bagaimana tidak? Dia sedang melihat Tami yang sedang mendekap bayi mungil di atas tubuhnya. Dan, Tami melihat dia dengan senyum manis yang terukir lebar di bibir.
Ya, Tami melahirkan anaknya dengan selamat. Baik dia maupun anaknya, tidak ada yang cacat sedikitpun. Dia selamat melahirkan tanpa harus dipilih salah satu dari mereka untuk di selamatkan atau dikorbankan.
Hal itu karena semangat juga keinginan Tami yang besar untuk menyelamatkan calon anak mereka agar bisa dia lahir kan dengan selamat. Keinginan juga semangat yang besar itu karena Tami mendengar ucapan Tora. Tami mendengar dengan jelas pembicaraan dokter yang sedang menangani persalinannya dengan Tora saat dokter meminta Tora memilih.
Awalnya, Tami tidak menyangka kalau Tora akan memilih dirinya untuk di selamatkan. Karena selama ini, yang dia tahu, Tora hanya menginginkan anak yang dia kandung. Tapi kenyataan barusan telah membuka mata Tami. Dia sadar, kalau pikirannya tentang Tora itu sebenarnya agak salah. Karena itulah, Tami bersikeras untuk melahirkan anak itu tanpa ada yang di korbankan.
Tora menyeka air mata bahagia itu sambil membalas senyum yang Tami berikan. Perlahan, kaki itu terasa ringan untuk dia gerakkan. Tora berjalan semakin mendekat ke arah Tami yang masih terbaring lemah.
"Tami."
"Tora."
Tora tidak mampu menjawab lagi. Dia jatuh bersimpuh di samping Tami dengan air mata yang terus mengalir. Hatinya benar-benar luluh saat melihat bayi mungil yang terus bergerak dalam dekapan Tami saat ini.
"Hei ... kenapa malah menangis, hm? Lihatlah ini! Dia cantik bukan?" Tami berucap dengan nada yang cukup pelan. Tapi Tora masih bisa mendengar ucapannya.
__ADS_1
Tora segera menyeka air matanya. Dia tersenyum penuh rasa haru. Walau sudah dia tahan, air mata itu tetap saja tumpah.
"Cantik? Dia perempuan?" tanya Tora sambil tersenyum.
"Hm ... iya. Dia perempuan."
Belum sempat Tora menjawab perkataan Tami, salah satu suster yang ada di sana langsung menghampiri mereka.
"Maaf, Mas. Sebaiknya tunggu di luar saja. Biarkan kami menyelesaikan tugas kami terlebih dahulu. Ibu dan bayi masih perlu perawatan. Tunggu beberapa waktu lagi, kami akan pindahkan ke ruang rawat. Baru bisa di temui lagi."
"Baiklah. Saya akan keluar sekarang."
"Tami, terima kasih banyak. Aku tunggu kamu di luar."
Tami hanya mengangguk pelan. Rasa bahagia kini menyelimuti hatinya. Ada banyak kebahagiaan yang menghampiri setelah keberhasilannya melahirkan bayi mungil itu. Dan, kebahagiaan lainnya datang lagi saat dia melihat wajah Tora yang begitu tulus menangis haru.
Tora pun akhirnya keluar. Mama dan papa menyambut dia dengan senyuman bahagia. Tidak ada kata yang terucap, hanya wajah penuh kebahagiaan yang mereka perlihatkan saat ini.
Beberapa saat menunggu, akhirnya, pintu ruangan yang ditutup rapat kini dibuka juga. Dua orang suster sedang membawa Tami keluar dari ruangan tersebut. Lalu, di belakangnya dokter perempuan langsung menyusul dengan menggendong bayi.
"Dokter, apakah akan memindahkan menantu saya?" tanya mama Tora dengan cepat.
"Iya. Kami akan memindahkan ibu dan bayi ke ruang rawat sekarang juga. Kalian bisa menjenguk pasien di sana."
"Ee ... dokter. Bagaimana keadaan menantu saya? Apa dia baik-baik saja?" tanya pala Tora pula.
__ADS_1
"Sungguh luar biasa. Tidak ada kendala sedikitpun. Ibu dan bayi keduanya baik-baik saja. Ini sungguh keajaiban yang luar biasa yang pernah kami alami."
"Syukurlah kalau gitu," ucap papa Tora dengan nada lega sambil mengelus dadanya.