
Yosi dan Leo di beri tugas oleh Mawar ke sekolah tempat mengajar Ibu Janeta penghuni kamar no 1.
Yosi adalah polisi wanita yang sangat memikirakan apa yang dia kenakan, Yosi adalah anak pengusaha kaya . Yosi memilih menjadi polisi karena dia pernah kehilangan adiknya, tapi tak ada yang bisa menemukan adiknya. Bahkan ayahnya yang mempunyai banyak uang yang menyewa banyak detektif suwasta yang hebat pun tak bisa menemukan adik Yosi.
" Yos elo mau catwalk ?" tanya Leo yang heran ketika melihat Yosi baru keluar dari mobil BMW nya. Yosi mengenakan celana panjang ketat bermotif kotak-kotak bernuansa kuning merek bulgari, kemeja putih polos yang pasti bermerek. Jas semi Jaket warna kuning mustard Chanel , serta sepatu kets Chanel putih dan tas putih Dior.
" kenapa emang, penampilan itu yang utama !" kata Yosi sambil menyibakaan rambutnya di depan Leo.
Mereka berjalan bersama menuju gedung sekolahan dimana Janeta mengajar.
Leo dan Yosi sudah duduk di depan kepala sekolah.
" Janeta baru bekerja selama 8 bulan buk-pak !" kata kepala sekolah itu sopan.
" apa ada yang mencurigakan dengan nona Janeta !" tanya Leo ke kepala sekolah.
" engak ada pak !" jawab kepala sekolah itu ekspresi wajahnya seakan memaksa Leo dan Yosi untuk percaya.
" berapa gaji Nona Janeta perbulan di sini ?" tanya Yosi tegas, setelah melihat kepala sekolah ini mencoba membohongi mereka.
" sekitar 4-5 juta buk, tergantung jam kerjanya !" jelas Kepala sekolah itu masih dengan ekspresi yang sama.
" di kamar nona Janeta terdapat bayak barang bermerek dan mereka semua asli, dengan gaji segitu....ku rasa hanya cukup bertahan hidup dan menabung sedikit. !" kata Yosi to the poin.
" saya sama sekali ngak tau apa-apa bu ,!" ujarnya tanpa menatap Leo dan Yosi.
" aku berharap memang tidak ada apa-apa di antara kalian, tapi nona Janeta di bunuh dan siapapun bisa jadi tersangka !" Jelas Leo dengan penuh penekanan.
" ketua Yayasan yang merekomendasika nona Janeta padaku secara pribadi !" kata Kepala sekolah nada suaranya jadi gemetar.
Yosi dan Leo mendatangai Ketua yayasan di rumahnya. Ketua yayasan itu menemui mawar sendirian, Padahal ketua yayasan itu punya istri dan 2 orang anak di catatan negara.
" Anda tingal sendiri pak irawan !" tanya Yosi sopan.
" tidak anak dan istri saya sedang Amsterdam berlibur !" kata Pak Irawan dengan muka tak mencurigakan.
" apa bapak yang merekomendasikan ibu Janeta untuk bekerja di SMP PANUTAN ?" tanya Yosi lagi.
" iya mbak, dia dulu sekertaris ku tapi, dia keluar karena ingin menjadi guru karena itu aku merekomendasikan nona Janeta di SMP PANUTAN !" jelas Pak Irawan.
__ADS_1
" apa ibu janeta pernah ke berkunjung sini ?" tanya Yosi.
" dulu waktu nona Janeta masih menjadi sekertaris saya, dia pernah ke sini tapi tidak sering !" jelas Irawan.
" Oh ya sudah pak, maaf memgangu waktu bapak, kami pamit pulang !" kata Leo , Pak Irawan mengantar kami sampai pintu gerbang.
Di dalam mobil yang berjalan Leo dan Yosi berdiskusi.
" kenapa di sebuah rumah ada 2 ukuran sepatu wanita dewasa ?" tanya Yosi.
" kamu juga lihat !" tanya Leo.
" aku ngak buta Leo !" desah Yosi kesal,
" Sepatu itu gaya Janeta dan ukurannya sama dengan Janeta, mereka mungkin sudah lama dekat, tapi di lihat dari sepatu itu yang di letakkan di tempat setrategis, pak Irawan tau tak akan ada yang mempermasalahkan barang itu !" analisis Yosi.
" ya dia tau istrinya tak akan pulang tiba-tiba !" kata Leo.
" bukan.... artinya istrinya tak akan melihat sepatu itu selamanya, istrinya meningal !" kata Yosi .
" wowwwww !, kamu gial !" kata Leo tak percaya.
Di rumahnya Pak Irawan merasa gelisah sambil memandangi halaman belakang rumahnya.
Flaseback.
Janeta baru lulus kuliah dan ingin bekerja, Janeta mengirim banyak CV ke berbagai perusahaan. Janeta adalah lulusan D3 lulusan universitas ternama.
Tiga bulan Janeta menunggu hasil lamaran kerjanya dengan membantu ibunya berjualan baju di toko. Akhirnya Janeta di terima di perusaan pak Irawan yang bergerak di bidang solial. Perusahaan Pak Irawan meliputi sekolah bernama Panutan dan Rumah sakit Panutan, cabangnya ada di mana-mana.
Waktu Janeta mulai berkerja di sana pak Irawan masih menjabat sebagai Direktur perencana. Awal bekerja Janeta tak merasa ada yang aneh, sampai saat Janeta sudah di bekerja di sana sekitar 3 bulan, Janeta sering di suruh lembur dengan pak Irawan dan beberapa kariawan lain.
Suatu hari Janeta mendapat pemberitahuan dari pak Irawan di suruh lembur. Janeta saat itu merasa aneh, karena waktu dia balik ke kantor tak ada orang.
Janeta mau menelvon temannya tapi Pak Irawan langsung muncul dan menyuruhnya masuk.
" kok ngak masuk ke dalam Net..!" tegur pak Irawan.
Janeta hanya tersenyum dan mengikuti pak Irawan masuk, pak Irawan membuka pintu kantornya dan mempersilahkan Janeta untuk masuk. Janeta yang masih polos ya biasa aja.
__ADS_1
Sampai di tengah-tengah lembur pak Irawan menghampiri Janeta.
" mau kopi ?" tanya pak Irawan.
" ehhhh engak pak, !" kata Janeta kaget.
Di ruangan pak Irawan ini ada mesin membuat kopi dan pemutar piringan hitam.
" ngak usah sungkan Net, kalo jadi sekertaris aku emang harus gini !" kata pak Irawan membelai rambut Janeta.
Sebenarnya Janeta sangat suka pada pak Irawan yang tampan dan tinggi serta pintar, tapi waktu itu Janeta sadar pak Irawan milik orang lain.
Pak Irawan berjalan ke dekat mesin pembuat kopi dan membuat kopi, serta memutar musik klasik.
" Neta sini duduk sini dulu kita minum kopi, kerja ya kerja tapi ngak boleh stres. Kita lepasin stres kita dulu. !" Ujar pak Irawan yang sudah duduk di sofa panjang.
Janeta menurut saja, mereka berbincang musik Klasik. Janeta yang tak terlalu tau hanya mendengar saja. Pak Irawan terus bercerita sambil beberapa kali membelai rambut Janeta yang membuat suasana jadi cangung.
" pak maaf tapi ...!" kata Janeta gugup.
" kamu kenapa Neta ?" tanya pak Irawan.
" ini ngak benar pak, bapak punya istri !" kata Janeta rikuh.
" kita coba dulu saja kalau kau ma kita lanjutin, kalau ngak ya engak papa !" bisik Pak Irawan lembut, di telinga Janeta. Janeta merinding dan membuang nafas panjang.
Merasa dapat lampu hijau pak Irawan mencium telinga Janeta, Janeta kaget mencoba mendorong tubuh Pak Irawan tapi ciuman pak Irawan di telinga kirinya membuatnya sama sekali tak bertenaga.
" akkkk pakkkkk jangannnn ahhhh !" hanya suara desahan yang keluar Dari mulut Janeta.
Tangan Pak Irawan juga mulai bergerilya di dada Janeta yang membusung. Janeta seakan terbang di pelukan bosnya itu.
Pak Irawan memandang Janeta dengan nafas mengebu begitu juga Janeta. Janeta baru sadar pakaian atasnya sudah terlepas dari tubuhnya. Pak irawan langsung mencium bibir Janeta, karena sudah di kuasai nafsu Janeta juga membalas ciuman pak Irawan.
Tangan pak Irawan dengan lincah membuka semua pakaian Janeta tanpa melepas ciumannya ke Janeta. Kini tubuh indah Janeta yang bak model majalah pria itu tak tertutupi sehelai benang pun.
Pak Irawan melepas bajunya sambil melihat tubuh Janeta yang telanj*** sedang mengerang menahan kenikmatan.
" sayang kita lalui malam ini dengan hot ya !" kata pak Irawan yang sudah di atas tubuh Janeta sama-sama tak berbaju.
__ADS_1